HomeBeritaBeritaPerkuat Karakter dan Jejaring Global

Perkuat Karakter dan Jejaring Global

Perkuat Karakter dan Jejaring Global

FST UIN Bandung Gelar Seminar Moderasi Beragama Bareng Dubes RI untuk Oman dan Yaman

 

UINSGD.AC.ID (Humas) — Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia (LBBP RI) untuk Kesultanan Oman merangkap Republik Yaman, Andi Rahadian, SH, LLM, menegaskan bahwa moderasi beragama bukan sekadar nilai kultural bangsa, melainkan instrumen vital dalam memperkuat diplomasi serta misi perlindungan Warga Negara Indonesia (WNI) di kancah global.

Pernyataan ini disampaikan Dubes Andi Rahadian saat menjadi narasumber dalam Seminar Moderasi Beragama bertajuk “Menjadi Muslim di Tengah Dunia yang Beragam” (Lessons on Faith, Diversity, and Humanity from a Diplomatic Journey) yang diselenggarakan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Sunan Gunung Djati Bandung di Aula Abjan Soelaeman, Kamis (15/10/2026).

Memperluas Jejaring Global, Memperkuat Diplomasi Keagamaan

Dalam sambutannya Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas terselenggaranya kegiatan strategis ini. Seminar ini menjadi pemantik bagi universitas untuk terus memperluas jejaring global dan memperkuat peran diplomasi keagamaan dalam ikut menciptakan perdamaian dunia. Dengan mempertegas reputasi kampus sebagai pusat integrasi keilmuan Islam yang inklusif, ramah, dan berorientasi pada kemaslahatan global.

Prof. Rosihon secara khusus menggarisbawahi kaitan erat antara seni berdiplomasi dan nilai moderasi. “Diplomasi mengajarkan untuk membangun komunikasi, dialog, dan kesepahaman, sedangkan moderasi mengajarkan sikap adil, toleran, menghargai perbedaan, dan kemaslahatan. Moderasi beragama berarti kita memegang teguh keyakinan kita dan tetap menghargai orang lain yang berbeda dengan kita,” tegasnya.

Rektor secara terbuka melaporkan capaian indeks keberagamaan kampus kepada Dubes Andi Rahadian, “Dan izin Pak Dubes, saya laporkan, untuk indeks keberagamaan mahasiswa UIN Bandung tahun 2026 ini nilainya sekarang 84. Tepuk tangan semuanya. UIN Bandung itu memiliki mahasiswa aktif kurang lebih 35.000. Lalu kemudian dihitung indeks moderasinya dan dapat nilai 84. Artinya masih ada sisa ya, untuk 100%. Mudah-mudahan ini akan semakin ditingkatkan. Jadi kalau dalam diri kita ada perasaan untuk menghargai keragaman, perasaan apa namanya mentalitas keberagamaan kita untuk menghormati perbedaan beragama, memiliki komitmen kebangsaan yang bagus, lalu menghormati tradisi, ya itu moderasi beragamanya berarti sudah bagus,” jelasnya.

UIN Bandung memiliki Rumah Moderasi Beragama di kampus 3. Kampus 3 itu di daerah Cileunyi, itu ada Rumah Moderasi Beragama. “Jadi moderasi beragama itu dikasih rumah khusus, beneran. Namanya Rumah Moderasi Beragama, ada di gedung tersendiri. Itu tugasnya adalah memantau Rumah Moderasi Beragama itu untuk mengkaji dan untuk memastikan moderasi beragama betul-betul berjalan. Dan saya berharap begitu mahasiswa keluar nanti sudah memiliki 4 indikator moderasi beragama,” jelasnya.

Hari ini kita sangat beruntung kita telah hadir di tengah-tengah kita Bapak Duta Besar Oman dan Yaman yang tentu nanti akan memberikan insight wawasan perbandingan barangkali begitu ya antara moderasi beragama di Indonesia dan moderasi beragama di negara-negara Timur Tengah. “Jadi saya harap ini tidak semua mahasiswa dapat kesempatan seperti ini ya, jadi beruntung kalian semua hadir pada kesempatan ini. Dan saya minta menyimak dengan baik karena waktu beliau ini agak panjang ya, untuk menyimak dengan baik. Sekali lagi, saya menghaturkan terima kasih kepada Pak Duta Besar, Bu Dekan, dan semuanya. Mudah-mudahan kegiatan kuliah umum ini salah satu ikhtiar kita untuk terus memperkuat nilai-nilai moderasi beragama khususnya di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Dan mari kita buka acara ini sambil memohon pertolongan dari Allah SWT dengan bersama-sama membaca ummul Qur’an, ‘ala hadzihin niyyah wa ‘ala kulli niyyatin sholihah, al-fatihah,” ujarnya.

Membangun Karakter, Mengedepankan Dialog

Dalam laporannya, Dekan Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Prof. Dr. Hasniah Aliah, M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan seminar moderasi beragama merupakan salah satu agenda rutin yang dilaksanakan oleh FST sebagai bentuk komitmen institusi dalam menanamkan nilai-nilai toleransi, inklusivitas, saling menghormati, dan penguatan kerukunan antarumat beragama di lingkungan perguruan tinggi.

Di hadapan sekitar 850 peserta seminar, Dekan FST menegaskan bahwa moderasi beragama bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari upaya membangun karakter sivitas akademika yang berintegritas, terbuka terhadap perbedaan, serta mampu mengedepankan dialog dan sikap saling menghargai dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Pelaksanaan seminar ini merupakan bentuk dukungan Fakultas Sains dan Teknologi terhadap program prioritas Kementerian Agama Republik Indonesia, khususnya dalam penguatan moderasi beragama sebagai landasan untuk mewujudkan kehidupan beragama yang harmonis, damai, adil, dan seimbang. “Melalui kegiatan ini, fakultas berupaya mengintegrasikan nilai-nilai moderasi beragama ke dalam pendidikan, pengembangan karakter mahasiswa, budaya kerja, serta kehidupan akademik sehari-hari,” tuturnya.

Prof. Hasniah menyampaikan bahwa pemahaman mengenai moderasi beragama perlu diperluas melalui perspektif internasional. Oleh karena itu, seminar kali ini menghadirkan narasumber dari perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kesultanan Oman dan Yaman agar peserta memperoleh wawasan mengenai kehidupan masyarakat di negara-negara yang memiliki keragaman tradisi, adat istiadat, dan latar belakang sosial budaya.

Melalui pengalaman dan perspektif diplomatik para narasumber, peserta diharapkan dapat memahami bagaimana nilai-nilai agama dijalankan dalam konteks budaya yang beragam, bagaimana masyarakat menjaga keharmonisan sosial, serta bagaimana dialog dan penghormatan terhadap perbedaan berkontribusi dalam membangun hubungan yang damai.

Dengan berharap kegiatan ini dapat memperkuat wawasan global mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi, sehingga mereka tidak hanya unggul dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi memiliki karakter yang moderat, toleran, adaptif, dan mampu berkontribusi positif bagi masyarakat di tingkat nasional maupun internasional.

Kehadiran seminar yang diikuti oleh Kepala Biro AUPK Dr. H. Ajam Mustajam, M.Ag., para Wakil Dekan, Ketua Jurusan dan Sekretaris, Kepala Bagian, Laboratorium, dosen dan tenaga kependidikan di lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) ini bertujuan untuk: Pertama, Meningkatkan pemahaman sivitas akademika mengenai konsep dan praktik moderasi beragama dalam kehidupan masyarakat yang beragam. Kedua, Mendukung program prioritas Kementerian Agama Republik Indonesia dalam penguatan moderasi beragama. Ketiga, Memberikan wawasan internasional mengenai kehidupan beragama, tradisi, dan budaya masyarakat di Oman dan Yaman.

Keempat, Mendorong sikap toleran, inklusif, dan saling menghormati di tengah perbedaan keyakinan dan adat istiadat. Kelima, Memperkuat peran perguruan tinggi sebagai ruang dialog akademik yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, perdamaian, dan kerukunan. Keenam, Membentuk mahasiswa yang memiliki kompetensi keilmuan, wawasan global, serta karakter yang menjunjung tinggi nilai-nilai moderasi beragama.

Berbagi Pengalaman Diplomasi, Menjunjung Tinggi Wasathiyah

Gayung bersambut, Dubes Andi Rahadian dalam paparannya membagikan pengalaman faktual di ranah diplomasi internasional. Dengan mencontohkan bagaimana citra Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim besar yang menjunjung tinggi nilai wasathiyah (pertengahan, moderat) dan politik luar negeri bebas aktif berdampak nyata pada misi perlindungan WNI.

Salah satu bukti nyatanya adalah keberhasilan KBRI mengevakuasi 72 mahasiswa Indonesia dari kota Mocha (Mokha), Yaman, di tengah ketegangan konflik bersenjata. “Sikap Indonesia yang netral, moderat, dan tidak berpihak membuat posisi kita sangat dihormati oleh berbagai pihak yang berkonflik. Karena modal kepercayaan itulah, proses negosiasi dan perlindungan WNI dapat terlaksana dengan baik,” ungkapnya.

Sambil memaparkan potret moderasi di Oman yang menjamin kesetaraan di depan hukum dan kebebasan beragama bagi komunitas Muslim (Ibadhi, Sunni, Syiah) maupun non-Muslim melalui Dekrit Kesultanan. Kerukunan tersebut tercermin dari berdirinya rumah ibadah yang berdampingan secara damai di Muscat.

Menariknya, Andi mengisahkan kekaguman Imam Besar Masjid Agung Sultan Qaboos Muscat yang pernah menjadi imam salat berjemaah di Indonesia di hadapan makmum yang mayoritas bermazhab Sunni tanpa adanya friksi.

Selain membedah tugas diplomatik merujuk Konvensi Wina 1961, Dubes Andi mengingatkan mahasiswa agar bijak mengelola rekam jejak digital (digital footprint). Menurutnya, etika bermedia sosial menjadi tolok ukur integritas generasi muda di era keterbukaan informasi dan kecerdasan buatan (AI).

Pada sesi interaktif, Dubes Andi memaparkan peluang nyata bagi lulusan sains dan teknologi, baik melalui penjajakan perluasan beasiswa studi lanjut S2 di Oman, hingga peluang kerja tenaga terampil (skilled labor) di bidang teknik elektro, informatika, dan perawatan pesawat terbang melalui kemitraan Garuda Maintenance Facility (GMF AeroAsia) bersama maskapai Oman.

Kegiatan seminar yang mewajibkan kehadiran mahasiswa angkatan 2025 ini turut dihadiri para wakil dekan, kepala bagian, serta jajaran sivitas akademika universitas. Acara ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif, penyerahan cenderamata kenang-kenangan karikatur dari pihak fakultas, serta foto bersama seluruh peserta.

Deangan adanya perpaduan visi kepemimpinan kampus dan rekam jejak diplomasi narasumber, seminar ini pada akhirnya mengukuhkan pesan kunci bahwa moderasi beragama bukan sekadar narasi teoretis, melainkan modalitas strategis bangsa di panggung dunia. Dari Aula Abjan Soelaeman, para mahasiswa FST UIN Sunan Gunung Djati Bandung tidak hanya diajak menguasai sains dan teknologi mutakhir, tetapi ditempa menjadi duta-duta perdamaian yang berwawasan global, pribadi Muslim yang moderat, adaptif, dan berintegritas yang siap membawa nilai inklusivitas keislaman Indonesia bagi kemaslahatan kemanusiaan sejagat.

 

 

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *