UINSGD.AC.ID (Humas) — Ada satu kalimat yang semakin populer dalam percakapan generasi hari ini: “In this economy…” Kalimat tersebut sering digunakan dengan nada bercanda, sinis, bahkan pasrah. “In this economy, siapa yang masih mampu membeli rumah?” “In this economy, punya pekerjaan saja sudah harus disyukuri.” “In this economy, kita harus punya side hustle.” “In this economy, healing pun mahal.” Sekilas, ini adalah sekedar ungkapan populer di media sosial. Namun jika dilihat dari perspektif ilmu ekonomi dan manajemen, in this economy sesungguhnya merepresentasikan sesuatu yang jauh lebih besar, yakni perubahan cara manusia memandang uang, pekerjaan, konsumsi, keberhasilan, keamanan, bahkan kehidupan.
Hari ini kita sedang hidup dalam ekonomi yang sangat berbeda dari beberapa dekade lalu. Teknologi berkembang sangat cepat. Artificial intelligence mengubah pekerjaan. Platform digital mengubah cara berbisnis. Gig economy melahirkan bentuk pekerjaan baru. Creator economy membuat seseorang dapat menghasilkan pendapatan dari pengetahuan, kreativitas, dan personal branding. Ekonomi hijau membawa isu lingkungan ke dalam keputusan bisnis. Generasi muda mulai mempertanyakan budaya kerja lama.
Namun di tengah kemajuan tersebut muncul paradoks. Manusia memiliki lebih banyak pilihan, tetapi tidak selalu memiliki lebih banyak kepastian. Teknologi membuat pekerjaan lebih cepat, tetapi manusia lebih sering merasa kekurangan waktu.
Informasi semakin mudah diperoleh, tetapi keputusan semakin membingungkan. Produk semakin banyak, tetapi kepuasan tidak selalu meningkat. Pendapatan mungkin meningkat, tetapi rasa aman belum tentu ikut meningkat. Maka pertanyaan ekonomi modern tidak lagi cukup berhenti pada “berapa banyak yang kita miliki?” Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: “Untuk apa semua itu kita kejar?”
Ekonomi yang Berubah, Manusia yang Berubah
Ilmu ekonomi pada dasarnya bermula dari persoalan kelangkaan. Sumber daya terbatas, sedangkan kebutuhan dan keinginan manusia tidak terbatas. Karena itu, manusia dituntut melakukan pilihan. Namun dunia modern telah mengubah bentuk kelangkaan.
Dahulu, manusia menghadapi kelangkaan barang dan informasi. Sekarang kita hidup dalam kelimpahan barang dan informasi. Kita dapat membeli hampir apa saja melalui telepon genggam. Kita dapat mengakses ribuan buku, jurnal, video, kursus, dan informasi hanya dalam beberapa detik. Tetapi muncul kelangkaan baru, waktu, perhatian, ketenangan, kepercayaan, kualitas hubungan, dan makna. Inilah paradoks ekonomi modern. Kita tidak selalu kekurangan sesuatu untuk dimiliki. Kita justru sering kekurangan kemampuan untuk menentukan apa yang layak dimiliki.
Karena itu, konsep scarcity perlu dibaca kembali. Kelangkaan abad ke-21 bukan hanya kelangkaan sumber daya material, tetapi juga kelangkaan makna. Manusia dapat memiliki banyak hal sekaligus tetap merasa tidak cukup. Di sinilah teori ekonomi bertemu dengan dimensi psikologis, sosial, filosofis, bahkan spiritual.
Dari Homo Economicus menuju Homo Meaningful
Teori ekonomi konvensional banyak menggunakan asumsi homo economicus, yaitu manusia yang rasional dan berusaha memaksimalkan kepuasan atau utilitas. Asumsi tersebut penting dalam membangun model ekonomi. Namun kehidupan manusia jauh lebih kompleks daripada persamaan matematis.
Jika manusia hanya mengejar keuntungan, mengapa seseorang memilih pekerjaan dengan gaji lebih rendah tetapi memberikan makna? Mengapa konsumen bersedia membeli produk ramah lingkungan yang lebih mahal? Mengapa seseorang meninggalkan pekerjaan korporasi dan memilih menjadi pengusaha sosial? Mengapa ada orang yang rela mengurangi pendapatan demi memiliki lebih banyak waktu bersama keluarga? Karena manusia tidak hanya mencari utility.
Manusia mencari meaning. Saatnya kita mengenal konsep yang dapat disebut sebagai homo meaningful, adalah manusia yang dalam keputusan ekonominya mempertimbangkan makna, nilai, identitas, hubungan sosial, keberlanjutan, dan tujuan hidup.
Manusia modern tidak hanya bertanya, “Apa manfaatnya bagi saya?” Tetapi juga: “Apakah ini sesuai dengan nilai saya?” “Apa dampaknya bagi orang lain?” “Apakah kehidupan saya menjadi lebih baik?” Perubahan tersebut tentu membawa implikasi besar bagi manajemen.
Dalam manajemen klasik, manusia sering ditempatkan sebagai salah satu sumber daya organisasi. Manusia berada dalam kerangka man, money, material, machine, dan method.
Namun paradigma tersebut semakin tidak memadai. Di era pengetahuan dan kecerdasan buatan, manusia bukan hanya faktor produksi. Manusia adalah pencipta nilai, pembuat kreativitas, pemilik pengalaman, intuisi, pengetahuan, empati, kepemimpinan, dan kemampuan mengambil keputusan.
Karena itu, organisasi modern harus mengubah pertanyaan. Bukan lagi, “Bagaimana mendapatkan produktivitas maksimal dari karyawan?” Tetapi, “Bagaimana menciptakan lingkungan yang memungkinkan manusia menghasilkan nilai terbaiknya?” sebuah perubahan fundamental dari human resource management menuju perspektif human capital dan human-centered management.
Seorang karyawan tidak semestinya dipandang hanya sebagai biaya, namun investasi. Bahkan istilah human capital perlu dipahami secara hati-hati. Manusia bukan benda yang dimiliki perusahaan. Manusia adalah subjek yang memiliki kehendak, martabat, aspirasi, dan tujuan hidup. Maka organisasi masa depan harus mampu menggabungkan tiga hal, performance, purpose, dan people. Kinerja penting. Tujuan penting. Tetapi manusia tetap menjadi pusatnya.
“In This Economy” dan Krisis Makna Kerja
Generasi sebelumnya mengenal pola kerja yang relatif sederhana. Sekolah lalu kuliah dan mendapat pekerjaan. Bekerja selama puluhan tahun dan kemudian pensiun. Namun pola tersebut semakin berubah. Hari ini seseorang dapat memiliki pekerjaan utama sekaligus freelance, bisnis digital, investasi, konsultasi, content creation, atau side hustle.
Identitas profesional menjadi lebih cair. Seseorang tidak lagi hanya bertanya, “Apa pekerjaan saya?” Tetapi, “Apa yang bisa saya ciptakan?” terjadi pergeseran dari job based economy menuju skill based economy, bahkan menuju value based economy.
Nilai seseorang semakin ditentukan oleh kemampuannya menciptakan solusi. Tetapi perubahan juga memiliki sisi lain. Ketika manusia selalu dituntut produktif, muncul pertanyaan, Apakah manusia harus selalu menghasilkan sesuatu agar dirinya merasa berharga? Jika jawabannya iya, maka manusia berisiko menjadi budak produktivitas. Padahal manusia bukan mesin. Ada waktu untuk bekerja.
Ada waktu untuk belajar. Ada waktu untuk beristirahat. Ada waktu untuk keluarga. Ada waktu untuk berpikir. Dan bahkan ada waktu untuk tidak melakukan apa-apa. Karena tidak semua waktu yang tidak menghasilkan uang berarti tidak memiliki nilai.
Kehadiran artificial intelligence semakin memperkuat pertanyaan tersebut. AI dapat melakukan banyak pekerjaan yang sebelumnya dilakukan manusia, dapat menganalisis data, membuat teks, menghasilkan gambar, membantu pemrograman, merangkum dokumen, bahkan membantu mengambil keputusan. Maka pertanyaan popular, “Apakah AI akan menggantikan manusia?” sebenarnya bukan pertanyaan paling penting. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: “Manusia seperti apa yang tetap memiliki nilai ketika mesin semakin pintar?” Jawabannya bukan manusia yang mampu melakukan pekerjaan repetitif lebih cepat daripada mesin.
Nilai manusia semakin berada pada kemampuan yang sulit direduksi menjadi algoritma, judgment, empathy, wisdom, ethics, creativity, leadership, relationship, dan contextual intelligence. Karena itu masa depan bukan semata-mata Human vs AI melainkan Human + AI. Dan teknologi seharusnya memperbesar kemampuan manusia, bukan menghilangkan kemanusiaan manusia.
Dalam paradigma bisnis lama, keberhasilan sering diukur melalui profit. Profit memang penting.
Tanpa profit, organisasi sulit bertahan. Namun profit tidak seharusnya menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan. Organisasi modern harus melihat value creation secara lebih luas.
Nilai dapat berupa nilai ekonomi, nilai pelanggan, nilai sosial, nilai lingkungan, nilai pengetahuan, nilai karyawan, dan nilai institusional. Karena itu pertanyaan manajemen seharusnya berubah. Bukan hanya, “Berapa besar profit yang kita hasilkan?” Tetapi, “Berapa besar nilai yang kita ciptakan?” Dan yang tidak kalah penting, “Untuk siapa nilai tersebut diciptakan?” Di sinilah terjadi pergeseran dari shareholder orientation menuju stakeholder orientation.
Konsumsi, Apakah Memiliki Lebih Banyak Berarti Hidup Lebih Baik?
Ekonomi modern sangat bergantung pada konsumsi. Konsumsi menciptakan permintaan. Permintaan menggerakkan produksi. Produksi menciptakan pekerjaan. Pekerjaan menghasilkan pendapatan. Siklus tersebut menjadi bagian penting dari pertumbuhan ekonomi. Tetapi terdapat pertanyaan filosofis, Apakah semakin banyak konsumsi selalu berarti semakin baik kehidupan?
Tidak selalu. Manusia dapat membeli lebih banyak tetapi merasa semakin kosong. Manusia dapat memiliki rumah lebih besar tetapi semakin jarang menikmati rumah tersebut. Manusia dapat memiliki kendaraan lebih mahal tetapi semakin sedikit waktu untuk menikmati perjalanan.
Karena itu lahir gagasan conscious consumption. Konsumen tidak hanya bertanya, “Apakah saya mampu membeli?” Tetapi, “Apakah saya benar-benar membutuhkan?” “Apakah produk ini memiliki nilai?” “Bagaimana dampaknya terhadap lingkungan?” “Siapa yang memperoleh manfaat dari transaksi ini?” Konsumsi akhirnya tidak lagi sekadar tindakan ekonomi. Namun menjadi tindakan moral.
Perubahan paradigma ekonomi juga terlihat dalam meningkatnya perhatian terhadap ekonomi hijau dan keberlanjutan. Selama ini ekonomi sering berorientasi pada pertumbuhan. Namun pertumbuhan memiliki konsekuensi. Eksploitasi sumber daya alam, pencemaran, perubahan iklim, dan kerusakan ekosistem menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak dapat dilepaskan dari batas ekologis.
Berapa banyak pertumbuhan yang sebenarnya dapat ditanggung bumi? Ini bukan sekadar persoalan ekonomi. Ini adalah persoalan etika antar-generasi. Jika generasi sekarang mengambil seluruh sumber daya, apa yang tersisa untuk generasi berikutnya? Dengan demikian, keberlanjutan bukan hanya tentang menyelamatkan lingkungan, juga sebagai bentuk keadilan antargenerasi.
Menariknya, banyak gagasan dalam paradigma ekonomi modern yang berorientasi pada nilai juga memiliki kedekatan dengan prinsip ekonomi Islam. Dalam Islam, harta bukan tujuan akhir. Harta merupakan amanah. Aktivitas ekonomi tidak hanya dinilai dari hasil finansial, tetapi juga dari cara memperoleh dan menggunakannya. Ada prinsip keadilan (adl), kemaslahatan (maslahah), amanah, tanggung jawab, dan falah. Karena itu, ekonomi Islam menawarkan cara pandang bahwa keberhasilan tidak berhenti pada akumulasi kekayaan. Keberhasilan harus menghasilkan kehidupan yang baik dan bermakna.
Dari Wealth Creation menuju Well being Creation
Barangkali inilah perubahan terbesar yang perlu kita pikirkan. Ekonomi masa lalu banyak berbicara tentang wealth creation. Ekonomi masa depan perlu berbicara tentang well-being creation. Kekayaan tetap penting. Tetapi kekayaan seharusnya menjadi sarana untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Karena seseorang dapat kaya tetapi tidak sehat. Dapat sukses tetapi tidak bahagia. Dapat memiliki jabatan tetapi kehilangan keluarga. Dapat memiliki banyak pengikut tetapi tidak memiliki sahabat. Dapat memiliki banyak uang tetapi tidak memiliki waktu. Maka ukuran keberhasilan harus diperluas. Ekonomi yang sehat adalah ekonomi yang mampu menciptakan income, opportunity, dignity, security, sustainability, dan meaning.
Jika ekonomi mengalami perubahan paradigma, maka ilmu manajemen juga harus berubah. Manajemen tidak lagi cukup dipahami sebagai getting things done through people. Manajemen masa depan harus bergerak menuju creating sustainable value through human potential.
Lalu, Apa yang Sebenarnya Kita Kejar?
Kembali kepada kalimat sederhana: “In this economy…” Mungkin kita terlalu sering menggunakannya sebagai alasan mengapa hidup terasa sulit. Namun mungkin kalimat itu dapat kita ubah menjadi pertanyaan yang lebih dalam. In this economy, what do we really value?
Dalam ekonomi seperti ini, apa yang sebenarnya kita nilai? Apakah rumah? Apakah jabatan? Apakah uang? Apakah followers? Apakah produktivitas? Apakah popularitas?
Atau kebebasan, kesehatan, keluarga, kebermanfaatan, ilmu, ketenangan, keberlanjutan, dan makna? Pertanyaan tersebut penting karena ekonomi pada akhirnya bukan hanya ilmu tentang uang. Ekonomi adalah ilmu tentang pilihan. Dan setiap pilihan menggambarkan nilai yang kita yakini.
Ekonomi untuk Manusia, Bukan Manusia untuk Ekonomi
Kita sedang memasuki era ketika teknologi semakin pintar, pasar semakin kompleks, pekerjaan semakin fleksibel, dan batas antara kehidupan ekonomi dan kehidupan personal semakin kabur.
Dalam situasi tersebut, manusia membutuhkan paradigma baru. Kita perlu bergerak dari scarcity menuju sustainability, dari profit menuju value, dari productivity menuju meaningful productivity, dari consumption menuju conscious consumption, dari human resource menuju human potential, dari wealth creation menuju well-being creation.
Sebab pada akhirnya, pertanyaan ekonomi terbesar bukanlah, “Berapa banyak yang dapat kita hasilkan?” Melainkan, “Untuk apa kita menghasilkan semua itu?” Bukan, “Seberapa cepat kita tumbuh?” Tetapi: “Kita sedang tumbuh menuju ke mana?” Dan bukan, “Berapa banyak yang mampu kita beli?” Tetapi, “Apa yang benar-benar layak kita perjuangkan?” Mungkin inilah makna terdalam dari ..’ in this economy….’ Bukan sekadar keluhan tentang mahalnya kehidupan. Tetapi sebuah undangan untuk mendefinisikan ulang arti keberhasilan. Karena ekonomi yang baik bukanlah ekonomi yang membuat manusia terus menerus mengejar lebih banyak. Ekonomi yang baik adalah ekonomi yang membuat manusia mampu berkata, “Saya memiliki cukup, saya memberi manfaat, saya hidup bermakna, dan apa yang saya bangun hari ini tidak menghancurkan kehidupan generasi esok.”
Dan ekonomi kembali kepada hakikatnya, bukan sekadar tentang bagaimana manusia memperoleh kekayaan, tetapi bagaimana kekayaan, pengetahuan, teknologi, dan organisasi digunakan untuk memuliakan kehidupan manusia. Wallahu’a’lam bis showaab.
Prof. Dr. Hj. Lilis Sulastri, S.Ag., MM., CPHRM., CHRA., Guru Besar Ilmu Manajemen FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung

