UINSGD.AC.ID (Humas) — Disetiap kali memulai thawaf, hal yang selalu nampak adalah pemandangan tentang rebutan mencium Hajar Aswad. Sebuah batu yang sejak berabad-abad lalu menjadi bagian penting dari sejarah Ka’bah.
Tentu saja, Hajar Aswad bukan sekadar benda yang ditempatkan di salah satu sudut Ka’bah. Ia pernah menjadi saksi bahwa manusia bisa bertengkar bukan karena kehilangan sesuatu, melainkan karena sama-sama ingin menjadi orang yang paling berhak mendapat kehormatan.
Kisah itu terjadi ketika kaum Quraisy akan membangun kembali Ka’bah. Ketika pembangunan sampai pada tahap peletakan Hajar Aswad, persoalan sederhana berubah menjadi konflik. Setiap kabilah merasa paling berhak memperoleh kehormatan meletakkan batu tersebut. Perselisihan berlangsung cukup lama hingga nyaris membawa mereka kepada pertumpahan darah.
Di tengah konflik, mereka sepakat menyerahkan keputusan kepada orang pertama yang memasuki Masjidil Haram. Takdir membawa Muhammad bin Abdullah datang lebih dahulu. Mereka mengenalnya sebagai al-Amin. Maka kepadanya persoalan itu diserahkan.
Muhammad tidak memilih satu kabilah untuk menang dan kabilah lain untuk kalah. Ia meminta sehelai kain. Hajar Aswad diletakkan di atasnya. Para pemimpin kabilah diminta memegang setiap ujung kain dan mengangkatnya bersama-sama.
Setelah sampai di tempatnya, Muhammad sendiri meletakkan batu itu pada sudut Ka’bah. Dengan cara sederhana itu, semua pihak memperoleh ruang untuk berpartisipasi, sementara konflik diantara kabilah kehilangan alasan untuk dilanjutkan.
Dalam perspektif teori conflict resolution, cara tersebut menarik karena tidak sekadar mencari siapa yang menang, tetapi menciptakan solusi yang dapat diterima semua pihak. Kajian mutakhir bahkan membaca tindakan Muhammad dalam peristiwa itu melalui prinsip netralitas, keadilan, pemahaman terhadap kepentingan pihak yang berkonflik, dan kreativitas dalam menemukan jalan keluar.
Dalam konteks kekitaan, Hajar Aswad, telah berganti bentuk menjadi jabatan, popularitas, sertifikat penghargaan, kursi kepemimpinan, panggung, gelar, jumlah pengikut, bahkan sekadar tanda “like” di media sosial. Kita hidup dalam zaman validasi.
Banyak orang tidak cukup hanya menjadi baik; mereka ingin diakui sebagai orang baik. Tidak cukup bekerja; ingin diketahui bahwa dialah yang paling berjasa. Tidak cukup memiliki ilmu; ingin disebut paling berilmu. Bahkan kebaikan pun kadang terasa kurang sempurna jika tidak sempat difoto dan diumumkan.
Pada kutub inilah pemikiran Erving Goffman dalam “The Presentation of Self in Everyday Life (1959) tentang kehidupan sosial sebagai panggung terasa relevan. Manusia sering mengelola penampilan dirinya di hadapan orang lain agar memperoleh kesan tertentu.
Di era media sosial, panggung itu semakin luas: identitas dapat dikonstruksi, dipoles, dan dipertontonkan kepada publik. Masalahnya, ketika pengakuan menjadi tujuan, manusia mudah lupa pada substansi. Kita sibuk berebut siapa yang paling layak terlihat, sementara semakin sedikit yang bertanya apakah kita memang layak dipercaya.
Muhammad mendapatkan pengakuan bukan karena ia memintanya. Ia dipercaya sebelum meminta untuk dipercaya. Legitimasi itu lahir dari integritas, bukan dari klaim tentang diri sendiri. Mungkin inilah pesan Hajar Aswad untuk Indonesia hari ini, jangan terlalu sibuk berebut batu kehormatan sampai lupa bahwa yang jauh lebih berharga adalah menjadi manusia yang dapat dipercaya. Ingatlah, sebuah kehormatan tidak harus direbut dengan mengalahkan orang lain. Kehormatan justru dapat dibangun dengan membuat semua orang merasa dihargai. Anda pasti bisa.
Aang Ridwan, Pembimbing Haji Khusus dan Umrah Khalifah Tour, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Bandung

