UINSGD.AC.ID (Humas) — Penguatan tata kelola data akademik dan peningkatan kualitas pelaporan Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDIKTI) menjadi fokus Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung melalui Rapat Koordinasi dan Evaluasi PDDIKTI Tahun 2026.
Kegiatan yang berlangsung pada 5–7 November 2026 di Glamping Sabda Alam Resort, Garut, ini diarahkan untuk meningkatkan kapasitas operator fakultas dan program studi dalam mengelola layanan serta data akademik secara akurat, tertib, dan berkelanjutan.
Dengan menghadirkan narasumber Mohamad Erdda Habiby (Binus University) yang membahas tentang Materi bertajuk Keamanan Siber dan Integritas Data Akademik di Era Transformasi Digital: Menjaga Kedaulatan Data Perguruan Tinggi dari Ancaman Ransomware dan Kebocoran Data.
Dalam arahannya, Rektor UIN Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., mengingatkan pentingnya mendedikasikan diri bagi institusi dengan menekankan, “Kalau bukan gara-gara kampus ini, kita itu bukan apa-apa, kok,” ucapnya.

Pentingnya Sinkronisasi dan Garda Terdepan Akademik
Prof. Rosihon menegaskan bahwa pengelolaan data pada Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDIKTI) merupakan fondasi krusial bagi institusi. Sinkronisasi data yang akurat dan tepat waktu menjadi penentu utama agar tidak ada mahasiswa atau lulusan yang dirugikan akibat keterlambatan pelaporan, yang dampaknya dapat merembet pada kredibilitas almamater.
“Ini kan yang terpenting dari kita ini kan data… Jadi jangan sampai data ini tidak di-update. Kalau data tidak di-update itu, jadi kita banyak kekurangan,” ujarnya.
Pengelolaan, khususnya pengisian (entry) data PDDIKTI, merupakan kerja kolektif dari mulai dosen, tendik, mahasiswa, lembaga dan unit, serta pimpinan. Oleh karena itu, PDDIKTI harus menjadi concern dan tanggung jawab bersama.
Keberhasilan sistem akademik ini sangat bergantung pada sinergi seluruh lini, mulai dari pimpinan universitas, fakultas, kepala pusat, hingga para operator di tingkat prodi yang berperan sebagai mesin penggerak utama.
“Pengisian PDDIKTI bukan hanya berorientasi pada pemenuhan kuantitatif saja, tetapi harus berorientasi pada pemenuhan data yang akurat, valid, dan dapat dipertanggungjawabkan,” bebernya.
Dengan mengibaratkan sistem kerja organisasi seperti sebuah jam tangan, Rektor menjelaskan bahwa setiap komponen memiliki fungsi yang saling mengait; jika satu bagian mengalami hambatan, maka sistem pelayanan secara keseluruhan akan ikut lambat.
“Kita ini sebenarnya sama seperti jam tangan, kan? Ada yang fungsinya baterai… Tapi kan baterai tidak bisa menggerakkan semuanya. Setelah dikasih support, dipergerakkan semuanya. Kalau satu mager, ya sudah, masalah itu,” jelasnya.
Oleh karena itu, manajemen talenta berbasis kinerja kini diterapkan secara lebih terstruktur untuk memastikan setiap pegawai dan operator menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab. Evaluasi berkala dilakukan untuk mengukur kedisiplinan serta dedikasi aparatur, di mana peningkatan prestasi dan kecepatan layanan juga diiringi dengan apresiasi nyata bagi unit-unit terbaik.
Guru Besar Ilmu Tafsir ini turut menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh jajaran pengelola, “Pertama-tama tentu saya mengapresiasi atas kegiatan ini… para operator ini juga perannya juga sangat besar.”
Kehadiran rakor dan evaluasi di Garut ini, UIN Bandung menargetkan penyelesaian penataan layanan dalam kerangka “one day service” untuk pengaduan dan pemutakhiran data. Optimalisasi sistem berbasis digital ini diharapkan mampu mengeliminasi berbagai kendala administratif masa lalu, dengan memperkuat akuntabilitas institusi dalam menyongsong akreditasi internasional.
“PDDIKTI merupakan garda depan (front page) dari laporan proses akademik yang akan digunakan sebagai data base bagi UIN Bandung kementrian, Ban-PT, stakeholder, dan user para mahasiswa dan alumni,” jelasnya.
Sebagai penutup, Rektor mengingatkan seluruh sivitas akademika untuk senantiasa bekerja dengan tulus, menjaga integritas, dan saling mempermudah urusan antarpegawai. Berpesan agar prinsip saling membantu senantiasa dipegang teguh, sesuai dengan nilai spiritual yang diyakininya: “Siapa yang memperpermudah urusan orang lain, maka Allah mempermudah urusan kita. Tapi siapa yang mempersulit urusan orang lain, Allah akan mempersulit urusan kita,” tuturnya.
Peran Krusial PDDIKTI dan Evaluasi Kendala Lapangan
Dalam laporannya, Wakil Rektor I Prof. Dr. H. Dadan Rusmana, M.Ag menyampaikan rapat koordinasi yang diikuti 120 peserta dengan melibatkan pimpinan universitas, para wakil dekan I dari sembilan fakultas, perwakilan Pascasarjana, pengelola PDDIKTI, serta operator program studi dan unit kerja terkait.
Kehadiran berbagai unsur ini menjadi bagian dari upaya memperkuat koordinasi dan menyamakan pemahaman mengenai kebijakan serta mekanisme pengelolaan data akademik di lingkungan kampus.
“Pengelolaan PDDIKTI kini harus bergeser dari aspek kuantitatif menuju peningkatan mutu kualitas data,” ujarnya.
Secara kuantitatif koordinasi pelaporan telah rampung. Oleh karena itu, fokus evaluasi saat ini diarahkan pada kualitas akademik, termasuk ketepatan masa studi mahasiswa.
Dengan mendorong agar mahasiswa angkatan yang seharusnya lulus pada semester ini dapat diselesaikan tepat waktu, khususnya dalam memacu penyelesaian proposal, skripsi, hingga jurnal pada semester dasar atau semester akhir masa studi.
Pihak universitas terus menyisir dan menangani mahasiswa berstatus masa studi akhir guna memaksimalkan kelulusan mereka.
Prof. Dadan mengingatkan bahwa PDDIKTI merupakan garda depan dalam pelaporan universitas. Kesalahan sekecil apa pun pada data, bahkan dalam hal administrasi minimal seperti penulisan nama atau agama serta laporan yang tidak akurat dapat mendatangkan konsekuensi sanksi administratif bagi institusi.
Kendati demikian, dalam sesi curhat interaktif yang digelar bersama para operator, teridentifikasi beberapa tantangan utama yang masih dihadapi di tingkat fakultas, di antaranya:
– Keterbatasan dan Pergantian SDM: Sejumlah fakultas masih mengandalkan dosen pengabdi atau dosen pejuang untuk mengelola PDDIKTI. Pergantian tenaga pengelola ini kerap menimbulkan kendala pada transfer of knowledge.
– Sinkronisasi Sistem: Adanya dinamika penyesuaian data antara SIAKAD, Neofeeder, PDDIKTI, serta data pendaftaran awal mahasiswa di tingkat nasional yang menuntut ketelitian ekstra dari operator.
– Nilai Susulan: Keterlambatan input nilai susulan yang kerap menghambat proses penutupan periode pelaporan.
Prof. Dadan menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh operator fakultas atas kerja keras, ketekunan, dan dedikasi mereka dalam mengawal mutu data lembaga. Di tengah berbagai keterbatasan tenaga kependidikan dan kompleksitas sistem, semangat kebersamaan dan keikhlasan dalam mengabdi untuk UIN Sunan Gunung Djati Bandung harus terus dijaga demi kemajuan institusi ke depan.
Peserta melakukan pengecekan progres pelaporan PDDIKTI di masing-masing program studi bersama para wakil dekan I. Kegiatan dilanjutkan dengan praktik penyelesaian permasalahan data (troubleshooting), diskusi panel, serta pembahasan berbagai kasus yang dihadapi operator di tingkat fakultas dan program studi.
Sebagai tindak lanjut, peserta menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) pelaporan berdasarkan hasil evaluasi dan permasalahan yang ditemukan. Rencana tersebut kemudian dipaparkan dalam sesi pleno oleh perwakilan masing-masing kelompok sebagai bentuk komitmen bersama untuk memperbaiki kualitas pengelolaan dan pelaporan data akademik.
Dengan adanya kegiatan ini, UIN Bandung memperkuat sinergi antara pimpinan, pengelola akademik, dan operator dalam memastikan data pendidikan tinggi dikelola secara akurat, terintegrasi, aman, dan dapat dipertanggungjawabkan. Kualitas data PDDIKTI menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung tata kelola perguruan tinggi serta peningkatan mutu layanan akademik.

