UIN Sunan Gunung Djati Bandung Gelar Simposium Cakrawala 2026 Bahas Agama dan AI

UINSGD.AC.ID (Humas) — Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung berkolaborasi dengan DEMA Fakultas Sains dan Teknologi menggelar Seminar Nasional “Simposium Cakrawala 2026” di Aula Abjan Sulaiman. Kegiatan ini menghadirkan ruang dialog antara disiplin keilmuan agama dan sains di tengah derasnya arus perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), yang kini semakin memengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia.

Simposium ini mengusung tema “Quo Vadis Agama di Era Disrupsi Sains: Keterpinggiran, Krisis Tafsir, atau Transformasi?” yang menggambarkan kegelisahan sekaligus refleksi terhadap posisi agama di tengah dominasi ilmu pengetahuan modern. Ketua pelaksana Dias Fahrezi Umam menegaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi forum akademik semata, tetapi juga sebagai ajakan kepada mahasiswa untuk lebih peka, kritis, dan adaptif dalam menyikapi perubahan zaman yang bergerak cepat akibat kemajuan teknologi.

Dalam sambutannya, pihak penyelenggara menyoroti bahwa kemajuan sains tidak bisa dihindari, namun perlu diimbangi dengan kekuatan nilai dan tafsir keagamaan agar tidak kehilangan arah. Hal ini sejalan dengan pandangan akademisi yang hadir, di mana Wakil Dekan Fakultas Sains dan Teknologi, Dr. Undang Syarifudin, mengungkapkan bahwa realitas saat ini menunjukkan meningkatnya ketergantungan manusia terhadap internet, yang bahkan mencapai rata-rata delapan jam per hari, sehingga menuntut adanya keseimbangan antara teknologi dan kesadaran manusia.

Dekan Fakultas Ushuluddin, Prof. Dr. Wahyudin Darmalaksana, menekankan pentingnya kolaborasi antara sains dan agama sebagai langkah strategis dalam menghadapi disrupsi. Menurutnya, integrasi kedua bidang ini dapat melahirkan pendekatan baru yang tidak hanya relevan secara akademik, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan masyarakat modern yang semakin kompleks dan dinamis.

Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, dalam kesempatan tersebut juga mendorong lahirnya inovasi akademik berupa skripsi tandem yang menggabungkan mahasiswa dari bidang sains dan agama. Ia menilai bahwa hubungan keduanya ibarat dua sisi yang tidak dapat dipisahkan, di mana sains memberikan kekuatan pada aspek empiris, sementara agama menghadirkan nilai etika dan makna, sehingga keduanya perlu berjalan beriringan.

Sebagai penutup, narasumber utama Sabrang Mowo Damar Panuluh (Mas Sabran) dan Prof. Dr. H. Munir, M.A., menegaskan bahwa sains dan agama sejatinya bukan dua kutub yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi. Di tengah perkembangan AI yang disebut sebagai “ekstensi akal manusia”, keduanya mengingatkan pentingnya transformasi tafsir keagamaan agar tetap relevan, sekaligus menjaga nilai kemanusiaan di tengah kemajuan teknologi yang semakin pesat.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *