Arafah, Mengenal Diri, Mengenal Tuhan

UINSGD.AC.ID (Humas) — Ada sesuatu yang ganjil namun sekaligus agung dalam peristiwa Arafah: jutaan manusia datang dari berbagai bangsa, bahasa, warna kulit, dan sejarah hidup, tetapi sesampainya di Padang Arafah mereka justru diminta menanggalkan seluruh penanda dirinya.

Tidak ada lagi kemewahan yang dapat dibanggakan. Tidak ada lagi status sosial yang benar-benar berarti. Semua larut dalam pakaian ihram yang serupa dan sederhana, seolah Tuhan sedang berkata kepada manusia: “Datanglah kepada-Ku bukan sebagai siapa-siapa, melainkan sebagai dirimu yang paling jujur.”

Barangkali di situlah Arafah menjadi lebih dari sekadar momen dan gerak ritual keagamaan. Ia adalah drama eksistensial manusia.

Menurut tutur historis, Arafah berkaitan dengan pertemuan agung antara Nabi Adam dan Hawa setelah keterpisahan panjang mereka dari surga. Sebagian riwayat menyebut bahwa kata “Arafah” berasal dari akar kata ‘arafa (mengenal, mengetahui, menyadari). Di tempat itu, Adam bukan hanya bertemu kembali dengan Hawa, melainkan juga mengenali dirinya sendiri sebagai makhluk yang rapuh, yang pernah tergelincir dalam dosa, namun tetap dicintai Tuhan melalui pintu taubat.

Dari hikayat itu, maka Arafah bukan tempat pertemuan antar manusia an sich. Atau letak geografis yang harus dikunjungi. Ia adalah ruang kesadaran. Axis mundi bagi manusia untuk mengenali dosa-dosanya, keterbatasannya, kerinduannya, sekaligus kemungkinan-kemungkinan ilahiah yang tersembunyi dalam dirinya.

Dalam perspektif sufistik, mengenal diri (ma’rifat an-nafs) konon bukanlah aktivitas psikologis biasa. Ia didaku sebagai jalan spiritual. Sebab manusia sering hidup sangat jauh dari dirinya sendiri. Ia mengenal dunia dengan rinci, tetapi asing terhadap kedalaman batinnya. Ia hafal dan mengenal wajah orang lain, tetapi tak pernah sungguh-sungguh melihat wajah ruhaninya sendiri.

Seorang penyair Sufi, Jalaluddin Rumi pernah menulis: “Kemarin aku cerdas, maka aku ingin mengubah dunia. Hari ini aku bijaksana, maka aku mengubah diriku.” Saya kira, kutipan ini menemukan relevansinya dalam peristiwa Arafah. Sebab wukuf pada dasarnya bukan gerak tubuh, melainkan perhentian jiwa. Manusia berhenti dari seluruh hiruk-pikuk ambisinya untuk sejenak mendengar suara terdalam dalam dirinya: siapa aku sebenarnya di hadapan Allah?

Di Arafah, manusia belajar bahwa problem terbesar hidup bukanlah kemiskinan, kegagalan, atau kehilangan, melainkan keterasingan dari diri sejati. Sungguh, kita terlalu lama membangun citra, tetapi lupa untuk membangun kesadaran. Sungguh, kita sangat sibuk untuk terlihat kuat, padahal jiwa kita sebenanya rapuh. Sungguh, kita sangat serius mengejar pengakuan manusia, namun senyatanya kita kehilangan pengenalan terhadap Tuhan.

Karena itu para sufi melihat bahwa perjalanan menuju Allah selalu melewati lorong pengenalan diri. Ada ungkapan terkenal yang sering kita dengar dan dikaitkan dengan tradisi tasawuf: “Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.” Kalimat ini tidak berarti manusia menjadi Tuhan, melainkan bahwa kesadaran terdalam tentang kelemahan diri justru membuka pemahaman tentang kebesaran Allah.

Dengan kata lain, aktivitas mengenal diri tidak bisadilihat sebagai aktivitas individualistik semata. Mengenal diri bukan berarti tenggelam dalam narsisme spiritual. Justeru semakin seseorang mengenal dirinya, semakin ia menyadari bahwa dirinya kecil dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Kesadaran inilah yang melahirkan sikap rendah hati. “Jika engkau mengenal dirimu hina, maka engkau akan mengenal Tuhanmu Maha Mulia,” begitu kata Abdul Qadir al-Jailani.

Di tempat lain, Al-Ghazali, konon pernah menjelaskan bahwa hati manusia itu ibarat cermin, dan dunia membuat cermin itu berdebu. Arafah adalah momen spiritual ketika debu-debu itu dibersihkan melalui taubat, doa, air mata, dan keheningan. Maka tidak mengherankan bila Hari Arafah disebut sebagai salah satu momentum paling agung tentang pengampunan Tuhan. Sebab pada saat itu manusia tidak sedang berpura-pura suci, ia justru datang membawa seluruh luka dan dosanya.

Yang menarik, Arafah juga mengandung paradoks spiritual. Jutaan manusia berkumpul, tetapi pengalaman yang paling mendalam justru sangat personal dan intens. Di tengah lautan manusia, seseorang bisa merasa amat sendirian bersama Tuhannya. Dan kesendirian semacam itu bukan kesepian. Ia adalah kepulangan batin. “Aku mencintai-Mu dengan dua cinta: cinta karena diriku, dan cinta karena diri- Mu,” begitu tutur Rabiah al-Adawiyah.

Pada titik tertentu, Arafah mengajarkan bahwa ibadah bukan lagi transaksi pahala semata. Ia bermetamorfosa menjadi kerinduan eksistensial. Manusia tidak lagi sekadar meminta surga atau takut neraka, tetapi ingin dekat dengan Tuhan karena hanya di sanalah jiwanya menemukan rumahnya.

Mungkin itulah sebabnya mengapa setelah Arafah, manusia diharapkan lahir kembali secara spiritual. Sebab yang pulang dari Arafah sejatinya bukan hanya tubuh yang selesai berhaji, melainkan kesadaran yang telah dibersihkan. Ia menjadi manusia yang lebih mengenal dirinya.

‘Alla kulli hal. Bagi saya, Arafah mengajarkan sesuatu yang sangat mendasar: bahwa hidup manusia bukan pertama-tama soal menjadi besar di mata dunia, tetapi tentang keberanian untuk mengenal dirinya sendiri sebelum ia mengenal dan kembali kepada Tuhan. Sebab sangat boleh jadi, tragedi terbesar manusia bukanlah karena gagal meraih dan menundukan dunia, melainkan pulang kepada-Nya tanpa pernah sungguh-sungguh mengenal siapa dirinya. Allahu a’lam bi-Showab.

 

Radea Yuli A. Hambali (Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *