Menjadi Boedi Oetomo Hari Ini

Ilustrasi Menjadi Boedi Oetomo Hari Ini AI

Retakan di Ruang STOVIA

UINSGD.AC.ID (Humas) — Jika kita memutar kembali jarum jam sejarah ke tanggal 20 Mei 1908, kita tidak akan menemukan kepulan asap mesiu, dentuman meriam, atau teriakan perang yang membakar tanah Batavia. Di sebuah ruang kelas STOVIA yang bersahaja, sekelompok anak muda bumiputera berkumpul dalam kegelisahan yang sama. Mereka tidak sedang memegang senjata laras Panjang, mereka memegang gagasan.

Hari itu, Boedi Oetomo lahir bukan sebagai sebuah gerakan fisik yang frontal, melainkan sebagai sebuah ledakan kesadaran epistemologis, sebuah keputusan radikal untuk mendefinisikan ulang siapa mereka dan ke mana sebuah bangsa yang belum lahir akan melangkah.

Lebih dari seabad kemudian, di tahun 2026, kita berdiri di sebuah lanskap yang sama sekali berbeda namun memiliki getaran kegelisahan yang serupa. Tema Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang sangat menghentak ‘ Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara’.

Tema ini bukan sekadar pemanis baliho atau jargon seremonial tahunan, namun sebuah alarm eksistensial, sebuah interupsi di tengah kebisingan algoritma yang memaksa kita untuk merenung. Lantas jika panggung sejarahnya sudah bergeser dari ruang kelas fisik ke ruang siber, bagaimana cara kita menjadi ‘ Boedi Oetomo’ versi hari ini?

Filsuf asal Jerman, Georg Wilhelm Friedrich Hegel, pernah menulis dalam mahakaryanya The Philosophy of History, bahwa sejarah adalah pergerakan kesadaran menuju kebebasan yang sejati. Hegel menyebutnya sebagai Volksgeist atau ‘Jiwa Bangsa’. Bagi Hegel, sebuah bangsa tidak akan pernah benar-benar bangkit hanya karena kemajuan materialnya, melainkan ketika Jiwa bangsa tersebut menemukan kesadaran kolektif. “A nation is not defined by its borders, but by the consciousness of its people who collectively decide to shape their own destiny.”

Bahwa sebuah bangsa tidak didefinisikan oleh batas-batas negaranya, melainkan oleh kesadaran rakyatnya yang secara kolektif memutuskan untuk membentuk takdir mereka sendiri.’ Di tahun 2026, tantangan terbesar Volksgeist Indonesia bukan lagi rantai kolonialisme fisik, melainkan bagaimana kita menjaga Tunas Bangsa, generasi Z dan generasi Alpha agar tidak kehilangan arah di tengah badai informasi, disorientasi karakter, dan penjajahan kesadaran gaya baru.

Pergeseran Episentrum Kedaulatan

Sejarah kolonialisme klasik adalah sejarah tentang perebutan ruang geografis, eksploitasi rempah-rempah, dan penundukan fisik manusia. Namun, di era Artificial Intelligence (AI) generasi lanjut, algoritma prediktif, dan realitas virtual yang kian bias hari ini, lanskap pertempuran telah bergeser secara total.

Kedaulatan sebuah negara tidak lagi hanya dipertaruhkan di batas wilayah terluar yang dijaga oleh militer, melainkan di dalam ruang-ruang siber, di dalam algoritma feed media sosial, dan yang paling krusial: di dalam wilayah kognitif atau isi kepala generasi mudanya.

Filsuf kontemporer Prancis, Michel Foucault, jauh-jauh hari telah mengingatkan kita tentang konsep Biopolitik dan Disiplin Kognitif. Menurut Foucault, kekuasaan modern tidak lagi bekerja melalui kekerasan fisik (sovereign power), melainkan melalui kontrol atas pengetahuan, informasi, dan cara berpikir (knowledge power). Siapa yang menguasai narasi, dialah yang menguasai subjek.

Ketika tunas bangsa hari ini terpapar oleh banjir disinformasi (infobesity), ketika hoaks mampu memecah belah persaudaraan dalam hitungan detik, dan ketika algoritma media sosial dirancang khusus untuk memanen atensi serta menciptakan polarisasi ekstrem, maka di sinilah letak kerentanan kedaulatan kita. Jika kita membiarkan ruang kognitif anak-anak muda kita dijajah oleh narasi luar yang destruktif, maka tanpa perlu ada invasi militer, sejatinya kita telah kehilangan kedaulatan masa depan kita.

Terdapat relevansi mendalam dari pesan Komdigi. Menjaga tunas bangsa bukan lagi sekadar tugas defensif atau proteksi moral yang pasif. Menjaga tunas bangsa adalah sebuah tindakan ofensif kebudayaan sebagai upaya sadar untuk memastikan bahwa masa depan Indonesia tidak dijajah oleh kebodohan digital, kedangkalan berpikir, dan krisis identitas.

Menjadi Boedi Oetomo hari ini berarti kita harus berani menjadi arsitek peradaban digital yang sehat, bukan sekadar menjadi konsumen peradaban yang pasif, reaktif, dan terombang-ambing oleh tren global.

Filosofi Kebangkitan

Untuk memahami mengapa menjaga generasi muda setara dengan menjaga kedaulatan negara, kita perlu menengok pemikiran filosofis tentang potensi kemanusiaan. Filsuf Yunani Kuno, Aristoteles, memperkenalkan konsep Actus et Potentia  yakni Aktualitas dan Potensi. Sebuah benih pohon atau tunas memiliki potensi untuk menjadi pohon raksasa yang menaungi bumi. Namun, potensi itu tidak akan pernah menjadi aktualitas jika benih tersebut ditanam di tanah yang beracun, gersang, dan tanpa perawatan.

Generasi muda Indonesia adalah tunas-tunas dengan potensi luar biasa. Mereka adalah talenta talenta digital, kreator konten, inovator teknologi, dan pemikir kritis yang siap membawa Indonesia menuju gerbang masa depan yang gemilang.

Namun, Aristoteles mengingatkan bahwa transisi dari potensi menuju aktualitas membutuhkan ekosistem yang tepat. Jika ruang digital kita dipenuhi oleh toksisitas, perjudian online, pornografi, penipuan siber, dan glorifikasi atas kedangkalan, maka kita sedang meracuni tanah tempat tunas tunas tersebut tumbuh.

Senada dengan ungkapan Filsuf pencerahan Prancis, Jean Jacques Rousseau, dalam karyanya Emile, or On Education, menyatakan bahwa anak-anak dan remaja ibarat tanaman muda yang membutuhkan perhatian khusus agar tidak layu oleh pengaruh buruk lingkungan sosialnya. Rousseau menulis, ‘ Plants are shaped by cultivation and men by education.’ bahwa tanaman dibentuk oleh budidaya, dan manusia dibentuk oleh Pendidikan atau asuhan.

Dalam konteks abad 21, ‘budidaya’ yang dimaksud tidak lagi terbatas pada dinding-dinding sekolah formal. ‘Budidaya’ terbesar hari ini terjadi di ruang digital, tempat di mana rata-rata anak muda menghabiskan waktu berjam jam setiap hari. Oleh karena itu, gerakan ‘Jaga Tunas Bangsa” adalah bentuk budidaya modern yang mewajibkan kita semua, pemerintah, orang tua, pendidik, dan komunitas untuk membersihkan gulma-gulma digital yang merusak mentalitas generasi penerus.

Tiga Manifesto Kebangkitan Modern

Untuk menghidupkan kembali spirit Boedi Oetomo 1908 dalam konteks hari ini, kita tidak bisa lagi menggunakan metode-metode konvensional yang usang. Kita memerlukan redefinisi perjuangan yang populis namun sarat akan nilai-nilai luhur (authentic values). Setidaknya ada tiga manifesto kebangkitan modern yang bisa kita suarakan bersama, yaitu ;

1) Menuju Literasi Radikal. Jika pada tahun 1928 persatuan bangsa dibangun lewat ikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, maka di tahun 2026, persatuan dan kedaulatan itu dijaga lewat jempol yang bijak dan pikiran yang kritis. Kita membutuhkan apa yang disebut sebagai Literasi Radikal bukan sekadar kemampuan membaca teks digital, melainkan kemampuan filosofis untuk membedakan antara kebenaran (truth) dan sekadar pembenaran (post-truth). Filsuf Jerman, Jurgen Habermas, terkenal dengan teorinya tentang Tindakan Komunikatif dan Ruang Publik (Public Sphere). Habermas berargumen bahwa demokrasi dan kedaulatan sebuah masyarakat hanya bisa tegak jika ruang publiknya diisi oleh komunikasi yang rasional, jujur, dan bebas dari distorsi kekuasaan atau manipulasi.

Dan hari ini, internet adalah ruang publik terbesar kita. Menjadi Boedi Oetomo hari ini berarti menghentikan laju kontaminasi di ruang publik tersebut. Ketika seorang anak muda memilih untuk menyaring informasi sebelum membagikannya (saring sebelum sharing), memutus rantai hoaks, dan menolak terlibat dalam pembunuhan karakter di media sosial, maka kita sedang menerapkan teori Habermas dengan menjaga kedaulatan kognitif bangsa dari kehancuran sosial.

2) Kedaulatan Berspirit Lokal di Era Kosmopolitan. Menjadi modern dan fasih dengan teknologi global adalah sebuah keharusan, namun kehilangan akar kebudayaan lokal adalah sebuah tragedi sejarah. Tunas bangsa hari ini tidak boleh menjadi generasi yang menderita amnesia sejarah.

Mereka harus mampu mengadopsi kecerdasan buatan, menguasai bahasa pemrograman tercanggih, dan berselancar di ekosistem global, namun dengan kompas moral yang tetap bersumber pada nilai-nilai luhur Pancasila dan kearifan Nusantara. Hal ini mengingatkan kita pada pemikiran Friedrich Nietzsche tentang konsep Kreativitas dan Tradisi.

Nietzsche menyatakan bahwa seorang manusia yang kuat (Übermensch) bukanlah mereka yang menghancurkan masa lalunya, melainkan mereka yang mampu menyerap sejarah dan tradisinya untuk dijadikan bahan bakar dalam menciptakan masa depan yang baru.

Anak muda Indonesia harus menjadi kreator, bukan plagiator. Kita butuh anak muda yang mampu melakukan koding masa depan dengan cita rasa lokal, seorang musisi yang mengeksplorasi instrumen tradisional dalam balutan musik modern, dan ilmuwan yang mencari solusi lokal atas problem ketahanan pangan atau energi nasional. Inilah esensi sejati dari kedaulatan budaya di abad digital.

3). Tanggung Jawab Kolektif Merawat Ekosistem. Tunas yang rapuh tidak akan pernah bisa tumbuh menjadi pohon beringin yang kokoh jika diletakkan di tanah yang gersang dan penuh badai asam. Menjaga tunas bangsa adalah tanggung jawab kolektif. Kita tidak bisa hanya menuntut anak muda untuk menjadi bijak secara instan, sementara ekosistem digital dan sosial di sekeliling mereka dibiarkan korup dan toksik.

Seorang Filsuf eksistensialis Prancis, Jean-Paul Sartre, dalam diktumnya yang terkenal, menegaskan tentang Tanggung Jawab Radikal. Menurut Sartre, manusia memang dikutuk untuk bebas, namun kebebasan itu selalu berjalan beriringan dengan tanggung jawab penuh atas sesama. “Man is condemned to be free; because once thrown into the world, he is responsible for everything he does.” Maka dalam konteks Harkitnas, kebebasan digital yang kita nikmati hari ini menuntut tanggung jawab radikal dari kita semua. Negara bertugas menciptakan regulasi dan infrastruktur digital yang aman dan adil.

Komunitas kreatif bertugas menyuplai konten konten yang bergizi secara intelektual. Sementara kita, sebagai warga digital, bertanggung jawab untuk menjaga atmosfer interaksi digital agar tetap manusiawi, empatik, dan mencerahkan.

Aksi Nyata Pahlawan Kontemporer

“Boedi Oetomo bukan sekadar organisasi yang beku di lembaran buku sejarah, ia adalah sebuah kata kerja. Ia adalah tindakan sadar untuk bangun dari tidur panjang ketidaktahuan.”

Salah satu kesalahan terbesar kita dalam memperingati Hari Kebangkitan Nasional adalah menganggap bahwa pahlawan adalah sosok-sosok masa lalu yang memegang keris atau bambu runcing, yang fotonya dipajang di dinding sekolah dengan bingkai kayu. Persepsi aristokratik dan kaku tentang kepahlawanan ini seringkali membuat anak muda merasa berjarak dari narasi kebangsaan mereka sendiri.

Di tahun 2026, kita perlu melakukan demokratisasi atas konsep kepahlawanan. Kita tidak perlu menunggu menjadi sesuatu untuk memulai sebuah kebangkitan nasional. Pahlawan-pahlawan kontemporer hari ini lahir dari Tindakan tindakan kecil yang konsisten di ruang ruang digital dan komunitas lokal mereka,

a) Para Guru Digital dimana  mereka yang memanfaatkan platform video pendek untuk menyebarkan materi sains, matematika, dan sejarah secara gratis, menarik, dan mudah dipahami oleh anak-anak di pelosok negeri.

b) Para Programmer Muda yakni  mereka yang menghabiskan malam malam panjang untuk menulis baris kode demi menciptakan aplikasi deteksi dini bencana, platform distribusi pangan untuk petani lokal, atau sistem keamanan data nasional.

c) Para Content Creator Inisiator, adalah mereka yang menolak memproduksi konten clickbait murahan demi adsense, dan memilih menyuarakan isu isu lingkungan hidup, kesehatan mental, dan pelestarian budaya lokal.

d) Para Netizen Bijak, adalah Mereka yang memilih untuk menggunakan kolom komentar sebagai ruang diskusi yang sehat, memberikan apresiasi pada karya orang lain, dan menyebarkan optimisme di tengah pesimisme kolektif.

Mereka semua adalah manifestasi hidup dari Boedi Oetomo hari ini. Mereka tidak mengangkat senjata, tetapi mereka sedang mengangkat harkat, martabat, dan kapasitas kognitif tunas-tunas bangsa agar tidak jatuh ke dalam jurang kebodohan modern.

Tantangan Masa Depan

Kita sering mendengar narasi optimis tentang ‘Indonesia Emas 2045’, di mana negara kita diprediksi akan menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia berkat bonus demografi. Namun, bonus demografi tersebut bisa berubah menjadi bencana demografi. Tanpa literasi yang kuat, proteksi yang memadai, dan pembentukan karakter yang kokoh, limpahan jumlah generasi muda hanya akan menjadi barisan konsumen pasif yang rentan dimanipulasi oleh kepentingan geopolitik dan ekonomi global.

Filsuf dan sosiolog Prancis, Jean Baudrillard, dalam teorinya tentang Simulakra, memperingatkan risiko hidup dalam dunia di mana realitas telah digantikan oleh tanda, citra, dan ilusi optik digital. Jika anak-anak muda kita lebih peduli pada jumlah likes di media sosial ketimbang kualitas nyata dari keterampilan mereka, jika mereka lebih fasih berdebat tentang drama selebriti internet ketimbang memikirkan solusi atas problem air bersih di desa sebelah, maka ‘Indonesia Emas’ dikhawatirkan hanya akan menjadi simulacra, sebuah ilusi kemajuan yang indah di atas kertas, namun rapuh di dunia nyata.

Oleh karena itu, menjaga tunas bangsa berarti menarik mereka keluar dari jebakan simulakra digital tersebut dengan mengembalikan orientasi mereka pada realitas yang substansial, pada kreativitas yang menghasilkan dampak nyata, pada inovasi yang menyelesaikan masalah konkret masyarakat, dan pada rasa empati sosial yang tidak dibatasi oleh sekat sekat algoritma.

Meneruskan Estafet Cahaya

Kebangkitan nasional bukanlah sebuah monumen mati yang selesai dibangun pada tahun 1908, 1928, atau 1945. Kebangkitan nasional adalah sebuah proses yang bersifat kontinu, dinamis, dan selalu memperbarui dirinya sendiri di setiap tikungan zaman dan sebuah estafet spiritualitas kebangsaan yang apinya tidak boleh dibiarkan redup, apalagi padam.

Filsuf eksistensialis legendaris asal Aljazair-Prancis, Albert Camus, dalam esainya The Myth of Sisyphus, berbicara tentang perjuangan manusia yang tiada henti. Namun dalam karya lainnya, The Rebel, Camus menegaskan bahwa ketika manusia berani bangkit dan melawan ketidakadilan atau kegelapan pada zamannya, di sanalah manusia menemukan makna eksistensinya yang sejati.

Camus menulis: “I rebel, therefore we exist.” Aku bangkit melawan, maka kita ada’. Dalam konteks keindonesiaan kita di tahun 2026, diktum Camus ini bisa kita maknai ulang, ‘Kita bergerak menjaga tunas bangsa, maka kedaulatan negara ini akan tetap ada’.

Anak-anak muda STOVIA tahun 1908 telah menyelesaikan tugas sejarah mereka dengan sangat gemilang. Mereka telah menyalakan lilin pertama di tengah kegelapan kolonialisme. Tugas sejarah itu kini beralih ke pundak kita yang hidup di era modern. Kita tidak diminta untuk mati muda di medan pertempuran fisik, kita hanya diminta untuk hidup dengan penuh kesadaran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap masa depan generasi penerus berikutnya.

Melalui tema ‘Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara’, mari kita jadikan momentum Hari Kebangkitan Nasional ini bukan sebatas rutinitas upacara semata. Namun sebagai ikrar kebudayaan baru. Jagalah tunas-tunas bangsa dengan seluruh daya literasi yang kita punya, bentengi mereka dengan karakter luhur yang kokoh, dan fasilitasi mereka dengan ruang digital yang sehat dan mencerahkan.

Sebab, pada setiap pasang mata anak muda yang tercerahkan, pada setiap jempol netizen yang bijak, dan pada setiap baris kode inovatif yang diciptakan oleh anak bangsa, di sanalah kedaulatan Indonesia sedang ditenun dengan kuat. Di tangan mereka, Indonesia tidak hanya akan sekadar bertahan melewati badai zaman, melainkan akan berdiri tegak, mandiri, berdaulat, dan memancarkan cahayanya di atas panggung peradaban dunia yang lebih bernilai.

Selamat Hari Kebangkitan Nasional. Mari bangkit, mari menjaga, mari berdaulat!

 

Prof. Dr. Hj. Lilis Sulastri., S.Ag., MM., CPHRM., CHRA, Guru Besar Ilmu Manajemen FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Kota Bandung, Sekretaris Departemen Penguatan SDM Lembaga Keuangan Syariah MPP ICMI

 

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *