Pancasila 1 Juni Arah Tamadun

UINSGD.AC.ID (Humas) — Setiap tanggal 1 Juni, kita sebenarnya sedang diajak berhenti sejenak dan bertanya “Indonesia ini berdiri ke arah mana sih?”

Jawabannya ada pada satu kata yang sudah sangat akrab: Pancasila.

Secara bahasa, kata Pancasila berasal dari bahasa Sanskerta. Panca artinya lima, dan sila artinya prinsip, dasar, atau pedoman hidup. Jadi Pancasila itu bisa dipahami sebagai lima pegangan hidup. Awalnya istilah ini sudah dikenal dalam tradisi lama di Asia Selatan, tapi di Indonesia maknanya berubah menjadi dasar arah hidup berbangsa.

Kenapa Pancasila begitu lekat dengan Soekarno? Karena pada 1 Juni 1945, beliau menyampaikan pidato penting dalam sidang BPUPKI. Di situlah Soekarno menawarkan lima prinsip dasar negara, dan memberi nama “Pancasila”. Tapi penting diingat, Pancasila itu bukan karya satu orang saja. Ia lahir dari diskusi panjang, perdebatan, dan kesepakatan banyak tokoh bangsa.

Kalau dipikir-pikir, fungsi dasar negara itu sangat penting. Ia seperti kompas hidup sebuah bangsa. Dia yang menentukan arah mau dibawa ke mana negara ini, nilai apa yang dijunjung, dan bagaimana cara kita hidup bersama. Tanpa dasar negara, sebuah bangsa bisa mudah pecah karena perbedaan pandangan, agama, atau kepentingan.

Menariknya, Pancasila itu punya ciri yang beda dibanding banyak negara lain.

Di beberapa negara ASEAN, dasar negara sering lebih dominan pada identitas tertentu, seperti agama resmi, etnis mayoritas, atau sistem politik tertentu. Di Indonesia, Pancasila justru memilih jalan tengah mengakui agama, tapi tidak menjadi negara agama; mengakui demokrasi, tapi tetap mengutamakan musyawarah; dan merayakan keberagaman sebagai kekuatan.

Kalau di sebagian negara Eropa, banyak yang lebih menekankan sekularisme dan kebebasan individu. Di sana, agama biasanya dipisahkan cukup tegas dari urusan negara. Sementara di Amerika Serikat, fokusnya lebih ke kebebasan individu dan hak-hak sipil yang sangat kuat.

Pancasila berbeda lagi. Ia tidak ekstrem ke salah satu sisi. Ia tidak terlalu individualistik, tapi juga tidak meniadakan kebebasan. Tidak terlalu sekuler, tapi juga tidak menjadikan satu agama sebagai dasar negara. Bisa dibilang, Pancasila itu jalan tengah khas Indonesia.

Makanya, 1 Juni itu bukan cuma soal peringatan sejarah. Tapi juga soal mengingat kembali, kita ini hidup bersama dalam perbedaan, dan tetap butuh nilai yang menyatukan.

Dan Pancasila adalah jawabannya, bukan hanya sebagai teks, tapi sebagai arah hidup bersama sebagai bangsa beradab dalam tamdun global.

S. Miharja, Dosen Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *