Cerita Awal Pengabdian Mahasiswa UIN Bandung di Lokasi KKN
UINSGD.AC.ID (Humas) — Kuliah Kerja Nyata (KKN) menjadi salah satu ruang belajar bagi mahasiswa untuk mengenal kehidupan masyarakat secara langsung. Semangat pengabdian membawa mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung melintasi batas wilayah Jawa Barat.
Pada pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) tahun ini, sejumlah mahasiswa mendapat kesempatan mengabdi di berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Jawa Tengah, Sumatera Barat, Lombok Barat, dan berbagai wilayah nusantara lainnya. Meski baru menyelesaikan pekan pertama, pengalaman tinggal bersama masyarakat telah menghadirkan cerita, tantangan, sekaligus pelajaran yang memperkaya perjalanan mereka sebagai calon sarjana.
Salah satunya dialami Reskia Fitri Ardinda, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, yang ditempatkan di Nagari Duo Koto, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Perjalanan menuju lokasi KKN menjadi pengalaman yang cukup menantang.
Estimasi perjalanan yang semula dua hari satu malam berubah menjadi tiga hari dua malam karena berbagai kendala selama di perjalanan. Kondisi tersebut membuat rombongan harus menempuh perjalanan lebih lama dari yang direncanakan.
Meski demikian, perjalanan tersebut justru menjadi kenangan yang berharga baginya.
“Biasanya saya naik bus dari Bandung untuk pulang ke kampung halaman seorang diri. Kali ini saya berangkat bersama teman-teman KKN, dan itu menjadi pengalaman yang sangat berarti bagi saya,” ujarnya, Kamis (30/7/2026).
Setibanya di lokasi, Reskia langsung merasakan kuatnya budaya Minangkabau yang masih dijaga masyarakat. Penggunaan gelar adat saat menyapa para pemimpin suku menjadi salah satu bentuk penghormatan yang harus dipahami mahasiswa pendatang. Dengan melihat kehidupan masyarakat yang religius serta lingkungan Nagari Duo Koto yang berada di kawasan Danau Maninjau memberikan suasana yang berbeda dari daerah asalnya.
Menurutnya, masyarakat menerima kehadiran mahasiswa KKN dengan sangat baik. Warga menyediakan posko, melibatkan mahasiswa dalam berbagai kegiatan, serta menganggap kehadiran mahasiswa sebagai kesempatan untuk saling belajar.
“Saya merasa masyarakat memiliki pandangan tersendiri terhadap mahasiswa UIN. Dari situ saya belajar untuk terus memperbaiki diri, bukan sekadar memenuhi harapan masyarakat, tetapi juga untuk menjadi pribadi yang lebih baik,” ucapnya.
Pengalaman serupa dirasakan Ahmad Rizqi Ramadhan, mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga, Fakultas Syariah dan Hukum, yang menjalani KKN di Desa Mesanggok, Dusun Dasan Ketujur Timur, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Kesempatan mengikuti KKN di luar Jawa Barat berawal dari ajakan seorang teman. Baginya, penempatan tersebut menjadi peluang untuk mengenal daerah baru sekaligus memperluas pengalaman di luar lingkungan yang selama ini dikenalnya.
“Saya merasa sangat senang dan antusias karena ini menjadi kesempatan untuk mengenal daerah baru, mempelajari budaya yang berbeda, serta memperoleh pengalaman yang belum pernah saya rasakan sebelumnya,” ujarnya.
Selama menjalani hari-hari pertama di Lombok, Ahmad merasakan perbedaan yang cukup mencolok, terutama dari sisi bahasa. Untuk pertama kalinya ia mendengar bahasa daerah masyarakat setempat secara langsung. Pengalaman tersebut menjadi tantangan sekaligus pembelajaran dalam membangun komunikasi dengan warga.

Meski baru beberapa hari berada di lokasi, Ahmad berharap keberadaan mahasiswa KKN mampu memberikan manfaat melalui berbagai program yang akan dilaksanakan. Di sisi lain, ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar beradaptasi, memperluas wawasan, dan memahami kehidupan masyarakat dari perspektif yang berbeda.
Mohamad Farhan Fadilah, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, ditempatkan di Desa Gumawang Kidul, Kecamatan Watumalang, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Bagi Farhan, pengalaman tinggal di dataran tinggi menghadirkan tantangan baru yang belum pernah dirasakannya sebelumnya.
Ia mengaku harus beradaptasi dengan suhu udara Wonosobo yang jauh lebih dingin dibandingkan daerah kampusnya. Udara pada pagi dan sore hari terasa cukup menusuk sehingga membutuhkan penyesuaian dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Selain kondisi alam, penggunaan bahasa Jawa khas Wonosobo yang masih sangat kental juga menjadi pengalaman baru selama berinteraksi dengan masyarakat.
Meskipun terdapat berbagai perbedaan, Farhan melihat kondisi tersebut sebagai kesempatan untuk belajar memahami karakter masyarakat dan menghargai keberagaman budaya yang dimiliki Indonesia. Pengalaman tersebut membuatnya semakin menyadari bahwa setiap daerah memiliki keunikan yang patut dipelajari selama menjalani masa pengabdian.
Meski berasal dari daerah dan latar belakang yang berbeda, ketiga mahasiswa tersebut memiliki pengalaman yang serupa. Pekan pertama KKN bukan hanya menjadi awal pelaksanaan program pengabdian, tetapi juga menjadi ruang untuk belajar beradaptasi, menghargai keberagaman budaya, serta memahami kehidupan masyarakat dari sudut pandang yang lebih luas.
Tentunya pengalaman ini, KKN menjadi lebih dari sekadar kewajiban akademik. Dari Tanah Pasundan hingga berbagai penjuru Nusantara, mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung membawa semangat belajar dan mengabdi, sembari menumbuhkan kepedulian, kemampuan beradaptasi, serta pemahaman bahwa keberagaman merupakan kekuatan yang memperkaya perjalanan mereka sebagai bagian dari masyarakat Indonesia.
Dengan mendapatkan pengalaman tersebut, semangat pengabdian tidak hanya diwujudkan melalui program kerja, tetapi juga melalui kesiapan mahasiswa untuk belajar, menghargai perbedaan, dan membangun kedekatan dengan masyarakat. Dari Tanah Pasundan hingga penjuru Nusantara, KKN menjadi ruang bagi mahasiswa untuk tumbuh sebagai insan akademik yang mampu menghubungkan ilmu pengetahuan dengan realitas kehidupan di tengah masyarakat.

