Thaif dan Seni Mengelola Luka

Sejarah kota Thaif. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

UINSGD.AC.ID (Humas) — Setelah wafatnya Sayyidah Khadijah dan Abu Thalib, dua figur yang selama ini menjadi penyangga emosional dan sosial dakwah, Rasulullah hijrah menuju Thaif. Beliau berharap menemukan ruang baru bagi dakwah Islam.

Namun harapan itu berhadapan dengan aksi konfrontasi. Penduduk Thaif bukan hanya tidak menerima dakwah beliau, tetapi juga mengusir dan menyakiti beliau. Dalam sejumlah riwayat, beliau bahkan dilempari batu hingga terluka dan berdarah.

Secara sosiologis, peristiwa ini menarik bila dibaca melalui konsep “othering” baik yang digagas oleh Gayatri Chakravorty Spivak ataupun Edward Said, yakni kecenderungan kelompok melihat pihak lain sebagai “yang berbeda” atau pihak “yang berbahaya” dan karena itu layak ditolak. Kehadiran Nabi di Thaif bukan semata persoalan pesan agama, tetapi juga berhadapan dengan struktur sosial, kepentingan, dan identitas kelompok yang telah mapan.

Dalam keadaan terluka, datang malaikat yang menawarkan kemungkinan untuk menghancurkan penduduk Thaif yang brutal itu. Secara manusiawi, tawaran tersebut sangat mudah dipahami. Bukankah mereka baru saja menyakiti seorang kekasih dan utusan Allah? Tetapi Rasulullah tidak memilih pembalasan. Beliau justru berharap agar kelak dari keturunan mereka lahir orang-orang yang menyembah Allah dengan sepenuh hati dan sedalam jiwa.

Dalam perspektif theory konflik sosial, manusia sering terjebak dalam apa yang disebut Johan Galtung, sebagai retaliatory cycle, siklus pembalasan. Satu luka melahirkan balasan, balasan melahirkan luka baru, dan akhirnya konflik diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Rasulullah memutus mata rantai tersebut bukan dengan kelemahan, melainkan dengan visi moral yang melampaui momentum kemarahan. Karena itu history tentang Thaif, bukan hanya story tentang kesabaran Nabi. Ia adalah pelajaran tentang mengelola luka.

Dalam konteks ini, ada sebuah tanya yang menggelitik, “Bukankah kehidupan Indonesia hari ini juga mengenal banyak “Thaif”? Ada orang yang ditolak karena berbeda visi dan pilihan politik. Ada kelompok yang dicurigai karena berbeda pandangan keagamaan. Ada seseorang yang dihujat di media sosial hanya karena satu pernyataan. Bahkan dalam ruang digital, sebuah kesalahan kecil dapat berubah menjadi penghakiman massal.

Ilustrasi gambar AI

Media sosial mempercepat apa yang oleh René Girard dapat dibaca melalui konsep kekerasan mimetik: manusia mudah meniru kemarahan kelompok dan menemukan kepuasan ketika seseorang dijadikan sasaran bersama. Dalam situasi demikian, kemarahan tidak lagi sekadar emosi personal; ia berubah menjadi energi komunal.

Padahal tidak semua penolakan harus dibalas dengan penolakan. Tidak setiap luka harus diwariskan menjadi dendam. Dan tidak setiap orang yang hari ini berseberangan dengan kita harus kita hapus dari kemungkinan menjadi lebih baik.

Maka, menjelang atau sepulang dari Tanah Suci, kita harus membawa pulang satu pelajaran berharga dari Thaif: bahwa haji dan umrah bukan hanya perjalanan geografis menuju tempat suci, tetapi perjalanan moral untuk memperluas hati. Kita boleh kecewa. Kita boleh terluka. Kita boleh menolak ketidakadilan. Tetapi jangan sampai luka membuat kita kehilangan kemanusiaan.

Sebab Rasulullah telah menunjukkan: kemuliaan bukan terletak pada kemampuan menghancurkan orang yang menyakiti kita, melainkan pada kemampuan mempertahankan kebaikan ketika kita memiliki alasan untuk membalas. Itulah ibrah dari Thaif: “ada kalanya dakwah ditolak hari ini, tetapi benih kebaikan yang kita tanam justru baru tumbuh pada generasi yang belum kita kenal”. Semoga.

 

Aang Ridwan, Pembimbing Haji Khusus dan Umrah Khalifah Tour dan Dosen FDK UIN Bandung 

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *