UINSGD.AC.ID (Humas) — Kemampuan mengelola arsip menjadi salah satu fondasi penting dalam penelitian sejarah. Berangkat dari kesadaran itu, Program Studi (Prodi) Sejarah dan Peradaban Islam (SPI) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Seminar Praktik Mata Kuliah Kearsipan bertema “Kurasi, Inventarisasi, dan Pemanfaatan Arsip dalam Penelitian dan Penulisan Sejarah” di Aula Fakultas Adab dan Humaniora (FAH), Senin (25/5/2026).
Seminar menghadirkan sejarawan sekaligus alumni Bahasa dan Sastra Arab (BSA), Iip D. Yahya, yang berbagi pengalaman tentang pencarian, pengelolaan, dan pemanfaatan arsip dalam menghasilkan karya-karya sejarah.
Dekan Fakultas Adab dan Humaniora, Dr. H. Dedi Supriadi, M.Hum., menegaskan bahwa arsip merupakan sumber utama dalam kajian sejarah yang harus dipahami dan dikuasai oleh mahasiswa. Menurutnya, pembelajaran sejarah tidak cukup hanya bertumpu pada teori di ruang kelas, tetapi harus ditopang kemampuan mengakses, mengelola, dan memanfaatkan sumber-sumber primer secara profesional.
“Arsip merupakan salah satu sumber utama dalam kajian sejarah. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak memahami pentingnya arsip sebagai basis penelitian ilmiah sekaligus mengembangkan keterampilan praktis yang sangat dibutuhkan dalam dunia akademik. Fakultas Adab dan Humaniora terus mendorong lahirnya lulusan yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki kemampuan riset yang kuat dan berbasis sumber yang kredibel,” tegasnya.
Dekan FAH berharap seminar ini dapat memperkuat budaya akademik di lingkungan kampus serta melahirkan penelitian sejarah yang berkualitas, objektif, dan memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan maupun pelestarian khazanah sejarah bangsa.
Dalam pemaparannya, Iip D. Yahya mengaku senang dapat kembali ke kampus yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan akademiknya pada penghujung 1990-an, menjelang hingga pascareformasi.
Direktur Media Center PW NU Jabar mengapresiasi perkembangan Fakultas Adab dan Humaniora yang terus menunjukkan kemajuan.
“Saya merasa senang bisa kembali ke Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung, tempat yang memiliki banyak kenangan dalam perjalanan akademik saya. Pada kesempatan ini saya berbagi pengalaman praktis tentang bagaimana mencari, mengelola, dan memanfaatkan arsip sebagai sumber penelitian sejarah,” tuturnya.
Sebagai peneliti dan penulis, Alumni Pondok Pesantren Cipasung ini menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah membuka akses yang semakin luas terhadap berbagai sumber arsip digital. Karena itu, mahasiswa perlu memaksimalkan pencarian daring sebelum melakukan penelitian lapangan dengan memanfaatkan berbagai portal arsip dan surat kabar digital yang tersedia.
Selain kemampuan menelusuri sumber, Iip menekankan pentingnya pengelolaan data penelitian yang sering kali terabaikan. Kemampuan menyusun sistem penyimpanan dokumen secara rapi menjadi investasi penting bagi seorang peneliti.
“Salah satu hal yang sering terlupakan adalah foldering. Menyusun folder dan dokumen penelitian dengan baik akan sangat membantu proses riset dan penulisan di kemudian hari. Beberapa buku yang saya hasilkan ditulis berdasarkan data dan arsip yang tersimpan dalam folder lebih dari 10 hingga 20 tahun yang lalu. Karena itu, arsip tidak hanya harus ditemukan, tetapi juga harus dikelola dan dirawat dengan baik,” jelasnya.
Keberhasilan penelitian sejarah tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menemukan sumber, tetapi juga oleh kedisiplinan peneliti dalam mengorganisasi, menyimpan, dan memanfaatkan arsip secara berkelanjutan. Arsip yang terdokumentasi dengan baik hari ini dapat menjadi sumber berharga bagi penelitian dan karya ilmiah di masa mendatang.
Ketua Prodi Sejarah dan Peradaban Islam, Agus Permana, M.Ag., didampingi oleh Sekretaris Agung Punama, M. Hum menjelaskan Seminar yang dipandu oleh Dina Marliana, M.Ag. tersebut berlangsung interaktif. Mahasiswa peserta mata kuliah Kearsipan tampak antusias mengajukan berbagai pertanyaan mengenai teknik penelusuran arsip, pemanfaatan sumber digital, hingga pengelolaan data penelitian. Meski waktu diskusi terbatas, kegiatan ini menjadi ruang belajar yang memperkaya wawasan mahasiswa tentang pentingnya arsip sebagai fondasi utama penelitian dan penulisan sejarah.
Dengan adanya kegiatan ini, “Prodi SPI berharap mahasiswa tidak hanya memahami teori kearsipan, tetapi memiliki keterampilan praktis dalam mengelola dan memanfaatkan arsip untuk menghasilkan penelitian sejarah yang lebih berkualitas, akurat, dan berbasis sumber primer yang dapat dipertanggungjawabkan,” pungkasnya.
