Pelajaran Demokrasi dari Michigan

Ilustrasi gambar AI

UINSGD.AC.ID (Humas) — Belum tentu dr. Abdul berhasil menjadi senator mewakili Michigan pada bulan November, namun keberhasilannya memperoleh nominasi dari Partai Demokrat menjadi pelajaran demokrasi yang penting. Dia mengalahkan calon senator yang sedang menjabat sebagai anggota DPR. Sang anggota DPR dimodali $ 65 juta oleh AIPAC, sedangkan dr. Abdul mengandalkan dukungan akar rumput dan segelintir politisi Demokrat penentang zionisme.

Selisih 15 ribu suara dari 8 juta pemilih menunjukkan beratnya kampanye dr. Abdul. Menjelang November perjuangannya akan lebih berat karena AIPAC berkomitmen melipatgandakan dukungan finansial untuk kampanye mengalahkan dr. Abdul.

Menghadapi tantangan itu, Dr. Yasir Qadhi mengajak warga Michigan dan AS pada umumnya untuk memilih calon yang benar, bukan calon yang mengalirkan APBN ke negara lain daripada menjamin kesehatan dan layanan publik lainnya bagi warga AS.

Yasir Qadhi mengingatkan pentingnya political engagement, hal ini tergolong fardhu kifayah bagi kaum muslimin. Kesampingkanlah perbedaan sektarian di antara kaum muslimin, bahkan ajaklah non-muslim bergabung melawan politisi yang berpura-pura American First. Bekerja sama dengan pihak yang berbeda keyakinan tidaklah salah, sepanjang sama-sama memperjuangkan kebenaran.

Hikmah untuk Demokrasi di Indonesia

Apa yang terjadi di Michigan, juga di Florida, Kota New York, dan tempat lainnya membuktikan bangkitnya kewarasan akibat perasaan muak atas kekejaman tiada tara dan kemunafikan yang telanjang. Entah itu di pelosok desa Islandia, jalanan Irlandia dan Spanyol, serta banyak kota di dunia sama-sama meneriakkan Free Palestine. Musuh bersamanya adah zionisme.

Apakah demokrasi Indonesia mempunyai musuh bersama? Tentu, yaitu KKN seperti yang digaungkan sejak awal Gerakan Reformasi tahun 1998.Tetapi mengapa banyak di antara kita yang merasa tertipu dalam pemilu? Rupanya kesadaran kritis belum merata dalam jiwa sekitar 100 juta pemegang hak pilih potensial.

Parpol besar dan kecil yang bermodal besar masih bisa menyuap dan/atau memberi harapan palsu. Jejaring penyuapan relatif efektif membeli suara jutaan pemilih yang lapar. Sementara itu jutaan pemilih pemula sebagai digital native diserbu kampanye melalui para pemengaruh, dibanjiri disinformasi dan distraksi. Kesadaran kritis para pemegang hak pilih semakin sulit ditumbuhkembangkan. Masih adakah harapan penyehatan demokrasi Indonesia?

Sesungguhnya di balik kesulitan ada kemudahan. Politik memang penting, namun iman jauh lebih penting. Siapa sangka pengaruh Zionisme yang dahsyat di berbagai bidang dapat terkikis di seluruh belahan dunia? Siapa kira militer AS yang terkuat di dunia menjadi bahan olok-olok setelah terkuras stok rudalnya, hancur belasan prasarana dan sarana militernya di Asia Barat, ribuan tentaranya kelelahan bertugas di kapal induk?

Jika korban puluhan ribu anak-anak dan perempuan di Gaza telah menyatukan hati nurani orang-orang waras di seluruh dunia, mengapa para korban selama Reformasi tidak dapat menumbuhkan kewarasan di Indonesia? Berapa banyak orang (di)hilang(kan) karena memperjuangkan demokrasi? Berapa juta rakyat yang sulit mendapatkan layanan kesehatan dan pendidikan? Berapa banyak penganggur yang mencemaskan masa depan mereka? Berapa sering terjadi tawuran dan pembegalan? Lantas bagaimana dengan para koruptor yang semakin hari kian terungkap?

Isu-isu itu selalu dijual selama kampanye pemilu, karena itu perlu perlawanan masif untuk membongkar kebohongan para politisi busuk. Para pemilih perlu diberi petunjuk jelas, mana politisi busuk dan mana politisi baik. Perlawanan itu dapat dimulai dengan menggunakan gawai masing-masing, optimalkan berbagai medsos untuk kampanye memilih calon anggota legislatif dan pejabat eksekutif yang benar.

Apabila berjumpa dengan para pendukung fanatik politisi busuk, jangan dimusuhi. Ajaklah secara baik-baik dan jika mustahil berdiskusi secara kritis, jujur dan beradab, do’akan saja. Hanya Tuhan yang mampu membolak-balikkan hati, maka mari berusaha dan berdo’a. Semoga Indonesia menjadi lebih baik. Aamiin 🤲

Subagio Budi Prajitno, Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung

 

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *