UINSGD.AC.ID (Humas) — Dharma Wanita Persatuan (DWP) UIN Sunan Gunung Djati Bandung didorong untuk terus bertransformasi dari organisasi yang aktif menjalankan kegiatan menjadi ruang pemberdayaan perempuan yang mampu melahirkan inovasi, beradaptasi dengan perubahan, dan memberikan dampak nyata bagi keluarga, institusi, serta masyarakat.
Pesan itu mengemuka dalam Pembinaan DWP UIN Sunan Gunung Djati Bandung bertema “Transformasi Peran DWP: Mengukuhkan Kepemimpinan Perempuan yang Inovatif, Adaptif, dan Berdampak” yang berlangsung di Gedong Bodas, Kampus II UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Rabu (23/9/2026).
Kegiatan menghadirkan Ketua DWP Kementerian Agama RI masa bakti 2024–2029 Ny. Sinarliati Kamaruddin Amin, Penasihat DWP Ny. Hj. Helmi Halimatul Udhmah Nasaruddin Umar, Ketua DWP UIN Sunan Gunung Djati Bandung Ny. Hj. Enung Supartini Rosihon, serta jajaran pengurus dan anggota DWP UIN Bandung. Turut membersamai dalam pembinaan itu Rektor Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., Wakil Rektor I Prof. Dr. Dadan Rusmana, M.Ag., Wakil Rektor III Prof. Dr. Husnul Qodim, S.Ag., M.A., Dekan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Prof. Dr. Hj. Hasniah Aliah, M.Si.

Dari Aktivitas Organisasi Menuju Pemberdayaan
Ketua DWP UIN Bandung, Ny. Hj. Enung Supartini Rosihon, menyampaikan bahwa transformasi DWP perlu diwujudkan melalui program yang tidak hanya memperkuat kebersamaan anggota, tetapi dapat meningkatkan kapasitas dan kemandirian perempuan.
DWP UIN Bandung telah menjalankan sejumlah program di bidang pendidikan, ekonomi dan sosial budaya. Salah satunya pengembangan usaha lewat Djatimart yang telah berjalan sejak 15 Mei 2024. Usaha Djatimart menjadi salah satu upaya untuk membangun kemandirian ekonomi dan mendukung kegiatan organisasi.
“Program-program yang sudah berjalan ini tentu akan terus kami kembangkan. Kami berharap dapat melahirkan program-program baru sesuai arahan dan kebutuhan anggota,” ujarnya.
Di bidang sosial budaya, DWP UIN Bandung menjalankan program berbagi yang dilakukan secara rutin. “Kegiatan Jumat berkah setiap sebulan sekali ini menjadi bentuk kepedulian sosial sekaligus upaya membangun budaya berbagi di lingkungan kampus,” jelasnya.
Berbagai program itu perlu terus dikembangkan agar DWP tidak hanya aktif secara kelembagaan, tetapi mampu memberikan manfaat yang lebih luas.

DWP Memiliki Modal Sosial yang Besar
Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., mengapresiasi kegiatan pembinaan tersebut. Menurutnya, DWP memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan sosial yang mendukung penguatan keluarga, institusi dan masyarakat.
“DWP memiliki modal sosial yang luar biasa. Potensi tersebut perlu dikembangkan menjadi kekuatan bersama sehingga keberadaan DWP tidak hanya dirasakan di lingkungan internal, tetapi juga dapat memberikan dampak positif kepada masyarakat,” ungkapnya.
Prof. Rosihon mendorong agar berbagai potensi yang dimiliki anggota DWP dikembangkan melalui kolaborasi. Keterampilan anggota di bidang ekonomi, sosial, pendidikan, maupun kegiatan lainnya dapat dihimpun menjadi kekuatan bersama.
Dengan membuka ruang agar program DWP dapat bersinergi lebih luas dengan unit kerja di lingkungan UIN Bandung. Segala program yang telah berjalan perlu diperkuat dengan dukungan institusi sehingga mampu berkembang dan memberikan manfaat yang lebih besar.
“Yang sudah baik tinggal dikembangkan. Bagaimana program-program yang ada dapat menjadi lebih kuat, lebih produktif, dan memberikan manfaat yang lebih luas sesuai dengan visi kampus rahmatan lil alamin atau berdampak bahasanya Kemenag,” ujarnya.

Perempuan Harus Menjadi Penggerak Perubahan
Dalam pemaparannya, Penasihat DWP, Ny. Hj. Helmi Halimatul Udhmah Nasaruddin Umar, menekankan bahwa perempuan tidak cukup hanya hadir dalam kegiatan organisasi, tetapi harus mampu menjadi penggerak perubahan.
Dengan mengapresiasi DWP UIN Bandung yang telah memiliki berbagai aktivitas, khususnya program ekonomi dan sosial. Keberadaan kegiatan itu menunjukkan bahwa DWP UIN Bandung telah memiliki fondasi yang baik untuk terus berkembang.
Secara khusus mengapresiasi program berbagi yang dilaksanakan setiap Jumat. Dari kegiatan yang terlihat sederhana dapat memberikan dampak luas apabila dilakukan secara konsisten.
“Pekerjaan yang dianggap kecil, tetapi dampaknya sangat luas. Inilah yang kita maksud dengan berdampak. Tidak harus sesuatu yang besar, tetapi bagaimana apa yang kita lakukan benar-benar memberikan manfaat,” tuturnya.
Helmi menilai kekuatan DWP UIN Bandung terletak pada potensi anggotanya yang beragam. Karena itu, mendorong agar keterampilan tersebut tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi dikolaborasikan menjadi program pemberdayaan yang lebih kuat.
Ada anggota yang memiliki keterampilan memasak, menjahit, mengelola usaha, mengajar, dan berbagai kemampuan lainnya. Seluruh potensi itu dapat menjadi modal sosial dan ekonomi apabila dikelola secara bersama.
“Kalau ibu-ibu punya kemampuan yang berbeda-beda, jangan berjalan sendiri-sendiri. Ada yang pandai memasak, ada yang menjahit, ada yang memiliki kemampuan lain. Kolaborasikan sehingga menjadi kekuatan bersama,” katanya.
Dengan mendorong agar produk yang dihasilkan DWP dapat dimanfaatkan lebih luas di lingkungan kampus. Misalnya, kebutuhan konsumsi berbagai kegiatan UIN Bandung dapat menjadi peluang bagi pengembangan usaha DWP.
Pola ini tidak hanya membantu pengembangan ekonomi anggota, tetapi menciptakan ekosistem kolaborasi antara DWP dan unit-unit kerja di lingkungan kampus.

Tiga Kata Kunci: Inovatif, Adaptif, Berdampak
Helmi mengajak anggota DWP menghayati tiga kata kunci yang menjadi tema utama pembinaan, yakni inovatif, adaptif, dan berdampak. Pertama, inovatif. Perempuan didorong untuk berani melahirkan gagasan baru dan tidak takut menyampaikan ide.
“Jangan takut menyampaikan gagasan. Kalau ibu mempunyai ide, sampaikan kepada ketua, kepada pengurus. Bisa jadi dari satu gagasan sederhana lahir sesuatu yang kemudian dilakukan bersama oleh DWP,” katanya.
Inovasi tidak selalu harus berupa program besar. Pemberdayaan ekonomi, pendidikan anak, kesehatan keluarga, kegiatan sosial, maupun program sederhana di lingkungan sekitar dapat menjadi ruang lahirnya inovasi.
“Perubahan besar sering kali dimulai dari sebuah gagasan kecil yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh,” ujarnya.
Kedua, adaptif. Perempuan, khususnya yang berada dalam lingkungan DWP Kementerian Agama, perlu mampu membaca perubahan zaman, terutama perkembangan teknologi dan informasi.
Namun, adaptif bukan berarti mengikuti seluruh perubahan tanpa pertimbangan. Perempuan perlu memilih perubahan yang memberikan manfaat dengan tetap berpegang pada nilai agama, moral, dan budaya.
“Perempuan pemimpin harus mampu membaca perubahan. Kita berada di era digital, tetapi bukan berarti semua perubahan harus diikuti. Kita harus mampu memilih perubahan yang baik tanpa kehilangan nilai-nilai yang menjadi pegangan,” jelasnya.
Dalam konteks keluarga, kemampuan beradaptasi menjadi penting dalam mendampingi anak-anak yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital.
Helmi mengingatkan agar orang tua tidak membiarkan anak menghadapi dunia digital sendirian. Orang tua perlu memahami teknologi, mendampingi penggunaannya, sekaligus menanamkan nilai agama dan moral.
“Jangan sampai anak-anak kita lebih cepat memahami dunia digital daripada orang tuanya. Kita harus hadir untuk memahami, mendampingi, dan mengarahkan,” katanya.
Ketiga, berdampak. Setiap kegiatan DWP perlu diukur dari manfaat yang dihasilkan, bukan hanya dari terlaksananya sebuah agenda.
Dengan mengajak anggota untuk selalu bertanya setelah mengikuti suatu kegiatan: apa yang diperoleh, apa manfaatnya, dan perubahan apa yang dapat dilakukan setelah kegiatan tersebut.
“Setiap kegiatan DWP harus kita tanyakan: apa manfaatnya? Setelah kita mengikuti kegiatan ini, apa yang berubah dan apa yang bisa kita lakukan?” ujarnya.

Perempuan dan Ketahanan Keluarga
Helmi menempatkan perempuan pada posisi strategis dalam membangun ketahanan keluarga. Perempuan memiliki peran penting dalam mendampingi pendidikan anak, menanamkan nilai agama dan akhlak, membangun komunikasi keluarga, serta menjaga kualitas kehidupan sosial dan emosional keluarga.
Peran itu tidak berarti perempuan harus berjalan sendiri. Dukungan dan kolaborasi dengan pasangan menjadi bagian penting dalam membangun keluarga yang kuat.
Sebagai bagian dari keluarga besar Kementerian Agama, anggota DWP diharapkan mampu menjadi teladan dalam kehidupan sosial. Nilai-nilai agama, kerukunan, dan penggunaan informasi secara bijak perlu diwujudkan mulai dari lingkungan keluarga.
Di tengah derasnya arus informasi, mengingatkan anggota DWP agar tidak mudah terpengaruh informasi yang tidak benar dan mampu menggunakan teknologi secara produktif.

Membangun Jejak yang Bisa Dilanjutkan
Helmi mengingatkan pentingnya membangun program yang tidak bergantung pada figur tertentu. Program DWP harus memiliki keberlanjutan sehingga dapat diteruskan oleh kepengurusan berikutnya.
“Kita ingin meninggalkan jejak, bukan sekadar menjalankan kegiatan. Apa yang kita bangun hari ini harus bisa dilanjutkan oleh kepengurusan berikutnya dan tetap memberikan manfaat,” ujarnya.
Oleh karena itu, mendorong DWP UIN Bandung untuk terus memperkuat kolaborasi dengan pimpinan universitas, fakultas, unit kerja, mahasiswa, dan masyarakat.
Kolaborasi itu dapat dikembangkan dalam berbagai bidang, mulai dari pemberdayaan ekonomi, pendidikan, kesehatan keluarga, kegiatan sosial, hingga pengembangan kapasitas perempuan.

Memperkuat Peran DWP di Lingkungan Kampus
Ketua DWP Kementerian Agama RI masa bakti 2024–2029, Ny. Sinarliati Kamaruddin Amin, turut mengapresiasi perkembangan DWP UIN Bandung yang menilai berbagai program ekonomi, sosial budaya, dan pendidikan yang telah berjalan menunjukkan bahwa DWP UIN Bandung memiliki fondasi yang baik untuk terus dikembangkan.
Dengan mendorong agar aktivitas ekonomi yang telah dimiliki tidak berhenti pada kegiatan internal, tetapi terus dikembangkan melalui inovasi dan pemanfaatan jaringan kelembagaan.
“DWP UIN Bandung sudah mempunyai usaha. Tinggal dilanjutkan dan dikembangkan dengan inovasi-inovasi yang lebih menarik,” katanya.
Sinarliati mengapresiasi kegiatan sosial seperti program berbagi yang dilakukan secara rutin. Menurutnya, kegiatan itu menunjukkan bahwa DWP mampu menghadirkan kepedulian yang konkret.
Mengingat pentingnya menjaga identitas kelembagaan melalui penggunaan atribut dan seragam DWP sesuai ketentuan. Hal tersebut merupakan bagian dari upaya membangun keseragaman dan identitas organisasi di lingkungan Kementerian Agama.
“Saya berharap DWP UIN Bandung dapat terus belajar, terbuka terhadap perubahan, dan mengembangkan program yang relevan dengan kebutuhan anggota serta masyarakat,” ujarnya.

Dari Kampus untuk Masyarakat
Pembinaan DWP UIN Bandung menjadi momentum untuk memperluas cara pandang mengenai peran perempuan dalam organisasi. DWP tidak hanya menjadi ruang silaturahmi dan pendampingan tugas suami, tetapi juga dapat menjadi wadah pengembangan kapasitas, pemberdayaan ekonomi, penguatan keluarga, serta penggerak kegiatan sosial.
Dengan dukungan pimpinan universitas dan potensi anggota yang beragam, DWP UIN Bandung memiliki ruang untuk memperluas program melalui kolaborasi lintas fakultas dan unit kerja.
Transformasi itu pada akhirnya diarahkan pada satu tujuan untuk memastikan setiap kegiatan yang dilakukan memiliki manfaat nyata. DWP UIN Bandung diharapkan terus tumbuh sebagai organisasi perempuan yang berani melahirkan gagasan, mampu beradaptasi dengan perubahan, dan konsisten menghadirkan dampak bagi keluarga, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, serta masyarakat luas.

