Dosen Mengabdi, Kenalkan Edukasi Sains Energi Terbarukan pada Santri Cilik di Lingkar Kampus

UINSGD.AC.ID (Humas) — Di atas hamparan karpet hijau ruang Ma’had Al Miraj, suasana belajar sore itu terasa begitu hidup dan riang. Puluhan santri cilik duduk melingkar mengelilingi meja-meja kayu kecil, menunduk penasaran mengamati rangkaian alat sederhana di depan mereka.

Tangan-tangan mungil itu tampak sibuk memegang kabel penghubung, sementara nyala lilin warna-warni mulai memanaskan pelat logam berpilar kawat. Di samping mereka, mahasiswa dan para ustadzah turut membungkuk, telaten menuntun jari-jemari santri menyambungkan kutub demi kutub.

Tak lama berselang, sorak takjub kecil pecah saat bilah kipas mini mulai berputar kencang tanpa colokan listrik, hanya bermodal perbedaan panas api dan dinginnya ice pack. Dari eksperimen fun sains yang nyata di depan mata, rahasia energi terbarukan perlahan dipahami bukan sebagai rumus rumit, melainkan keajaiban kecil yang bisa mereka rasakan sendiri.

Suasana belajar yang interaktif dan sarat praktik itu berlangsung di Ma’had Al Miraj, Manglayang, Cipadung, Cibiru, Kota Bandung, Kamis (24/9/2026). Sekitar 40 santri usia sekolah dasar tidak sekadar duduk mendengarkan ceramah teori, melainkan diajak menyentuh, bertanya, dan bereksperimen langsung melalui pendekatan learning by doing.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat (PkM) lingkar kampus yang digagas tim dosen bersama mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Melalui inovasi teknologi tepat guna Thermoelectric Generator (TEG), tim pengabdi mengenalkan bagaimana panas buang dapat dikonversi menjadi energi listrik terbarukan yang ramah lingkungan.

Ketua Tim Pengabdian, Tanti Dewinggih, M.Si. dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST), menjelaskan bahwa pendekatan praktik sengaja diutamakan agar sains tidak menjelma jadi momok hafalan rumus yang membosankan.

“Melalui modul TEG sederhana ini, anak-anak diajak melihat langsung fenomena sains saat perbedaan suhu panas dari lilin dan dingin dari ice pack diubah menjadi energi listrik hingga sanggup memutar kipas kecil. Kami ingin menumbuhkan literasi energi terbarukan sejak dini lewat cara yang kontekstual dan mudah dipahami,” jelas Tanti, Sabtu (26/9/2026).

Agar suasana kian cair, sesi demonstrasi dipadukan dengan permainan edukatif dan kuis interaktif. Anggota tim pengabdi FST, Inne Syafrian Putri, S.Pd., M.Si., menekankan pentingnya metode partisipatif bagi anak usia sekolah dasar.

“Edukasi sains untuk anak usia sekolah dasar perlu disajikan secara partisipatif. Oleh karena itu, demonstrasi alat ini kami kombinasikan dengan permainan edukatif dan kuis interaktif agar mereka aktif bertanya, mengamati, serta berdiskusi tanpa merasa dibebani teori yang rumit,” ungkap Inne.

Menariknya, program ini mengusung kolaborasi lintas disiplin ilmu. Dari bilah kipas yang berputar, santri cilik perlahan diajak memahami nilai keberlanjutan dan efisiensi energi. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), Dr. Yuda Septia Fitri, M.E., yang turut terlibat dalam kegiatan ini, memandang edukasi tersebut memiliki dampak jangka panjang.

“Pemanfaatan panas buang menjadi energi listrik ini bukan hanya mengajarkan prinsip dasar fisika, tetapi menanamkan kesadaran efisiensi energi dan wawasan teknologi tepat guna yang ramah lingkungan kepada generasi muda,” tutur Yuda.

Antusiasme anak-anak kian terasa saat praktik mandiri berlangsung. Enam mahasiswa Program Studi Fisika semester 5 yang tergabung dalam TIM Bolabot terjun langsung memandu teknis di setiap kelompok. Sinergi kian erat berkat pendampingan intensif dari tujuh ustadz dan ustadzah Ma’had Al Miraj yang berstatus mahasiswa UIN Bandung. Para ustadz mendampingi santri dengan tinggal menetap (mondok), sementara para ustadzah hanya hadir untuk aktivitas mengajar.

Pimpinan Ma’had Al Miraj, Ustadz Andri Al Jihad, menyambut hangat inisiatif edukatif ini. Menurutnya, kehadiran sivitas akademika UIN Bandung memberi warna baru yang berharga bagi proses belajar santri.

“Kegiatan ini memberikan pengalaman belajar yang sangat berharga dan menyenangkan bagi para santri kami. Kami menyambut positif kegiatan ini dan berharap jalinan kerja sama serta kolaborasi edukatif dengan UIN Sunan Gunung Djati Bandung dapat terus berlanjut ke depannya,” tutur Ustadz Andri.

Pengabdian sore itu pada akhirnya bukan semata-mata tentang modul TEG, lelehan lilin, atau kipas kecil yang berhasil berputar. Di balik itu semua, ada benih rasa ingin tahu dan keberanian bertanya yang tengah disemai. Dari ruang belajar sederhana di lingkar kampus UIN Bandung, sains hadir menyapa: dekat, hangat, dan menginspirasi kesadaran untuk menjaga bumi sedini mungkin.

 

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *