UINSGD.AC.ID (Humas) — Meningkatnya berbagai modus penipuan digital berbasis teknologi mendorong pentingnya literasi keuangan bagi generasi muda. Menjawab tantangan itu, PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) menggandeng Himpunan Mahasiswa Hubungan Masyarakat (HIMMAS) UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan menggelar webinar literasi keuangan bertajuk “Tantangan Mengelola Keuangan di Era Digital dan Mawas Terhadap Penipuan Digital,” Jumat (26/6/2026).
Kegiatan yang dilaksanakan secara daring ini diikuti mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan tujuan meningkatkan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan sekaligus membangun kewaspadaan terhadap berbagai bentuk kejahatan siber yang semakin berkembang di era digital.
Urgensi Literasi Keuangan
Mewakili Jurusan Ilmu Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Sekretaris Jurusan Ilmu Komunikasi, Dr. H. Enjang Muhaemin, M.Ag, menegaskan bahwa literasi keuangan menjadi salah satu kompetensi penting yang harus dimiliki mahasiswa di tengah derasnya perkembangan teknologi digital.
“Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, kemampuan mengelola keuangan secara bijak harus diimbangi dengan kewaspadaan terhadap berbagai modus penipuan yang semakin beragam. Literasi keuangan bukan hanya tentang mengatur penghasilan dan pengeluaran, tetapi juga tentang melindungi diri dari risiko kejahatan finansial yang dapat merugikan siapa saja, termasuk mahasiswa,” ujarnya.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Bank Neo Commerce atas kolaborasi yang terjalin dengan HIMMAS dan Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
“Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kolaborasi dan kesediaannya berbagi pengetahuan serta pengalaman kepada para peserta. Semoga kegiatan ini memberikan wawasan yang bermanfaat, meningkatkan kesadaran finansial, dan membekali kita semua agar semakin cerdas, bijak, dan aman dalam beraktivitas di dunia digital,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Hubungan Masyarakat UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Dyah Rahmi Astuti, S.Sos., M.Si., CPR, mengapresiasi kolaborasi yang dilakukan Bank Neo Commerce dengan dunia akademik.
“Kami mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi kepada Bank Neo Commerce yang telah berbagi pengetahuan mengenai pengelolaan keuangan di era digital. Kehadiran praktisi industri memberikan pengalaman nyata yang melengkapi pembelajaran teori di kelas sehingga mahasiswa memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif,” ujarnya.
Menurut Dyah, kegiatan seperti ini diharapkan menjadi awal dari kolaborasi yang lebih luas antara UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan Bank Neo Commerce dalam mendukung peningkatan kompetensi mahasiswa.
Ancaman Deepfake, Voice Cloning, dan Phishing
Sebagai narasumber, Fraud Operations Head PT Bank Neo Commerce Tbk, Vicky Valentino Frickel, memaparkan bahwa kemajuan teknologi digital membawa banyak kemudahan dalam bertransaksi, namun di saat yang sama juga dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan dengan berbagai modus baru.
“Generasi muda perlu memahami bagaimana mengelola keuangan secara bijak sekaligus mengenali berbagai bentuk kejahatan digital agar tidak menjadi korban penipuan,” ujar Vicky.
Ia menjelaskan, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan melalui berbagai modus, seperti pemalsuan suara (voice cloning), deepfake, perubahan wajah saat video call, hingga phishing yang masih menjadi salah satu metode penipuan paling sering digunakan.
“Sebagai pengguna teknologi, terutama aplikasi keuangan, kita harus memahami modus-modus yang digunakan para pelaku penipuan. Dengan mengenali ciri-ciri kejahatan siber, masyarakat akan lebih mudah menghindari kerugian,” jelasnya.
Penipuan Digital Rugikan Triliunan Rupiah
Public Relations Head PT Bank Neo Commerce Tbk, Puji Agung Budiman, mengatakan bahwa sebagai bank dengan layanan digital, Bank Neo Commerce memiliki komitmen untuk terus mendukung peningkatan literasi keuangan masyarakat sejalan dengan program pemerintah.
“Transaksi keuangan kini semakin mudah dilakukan melalui smartphone. Namun, kemudahan tersebut juga diikuti meningkatnya risiko kejahatan digital. Karena itu masyarakat perlu dibekali pengetahuan agar mampu mengenali dan menghindari berbagai modus penipuan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa Bank Neo Commerce secara konsisten menyelenggarakan berbagai program edukasi keuangan yang tidak hanya membahas pengelolaan keuangan, tetapi juga keamanan digital.
Urgensi literasi keuangan tersebut semakin nyata jika melihat data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Indonesia Anti-Scam Centre (IASC). Sejak mulai beroperasi pada 22 November 2024 hingga 11 November 2025, IASC telah menerima 343.402 laporan penipuan. Sebanyak 563.558 rekening dilaporkan terkait tindak penipuan dan 106.222 rekening di antaranya telah diblokir. Total kerugian yang dilaporkan korban mencapai Rp7,8 triliun, sementara dana yang berhasil diamankan melalui pemblokiran mencapai Rp386,5 miliar.
Perluas Edukasi Keuangan
Melalui kegiatan bersama HIMMAS UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini, Bank Neo Commerce juga mendukung Gerakan Nasional Cerdas Keuangan 2026 serta turut menyemarakkan Bulan Literasi Keuangan yang dicanangkan OJK
Vicky Valentino Frickel menegaskan komitmen Bank Neo Commerce untuk terus memperluas edukasi keuangan kepada masyarakat melalui kolaborasi dengan berbagai institusi pendidikan maupun komunitas.
“Kami berterima kasih kepada HIMMAS UIN Sunan Gunung Djati Bandung atas kerja sama dalam meningkatkan literasi keuangan masyarakat, khususnya di kalangan mahasiswa. Ke depan kami akan terus menghadirkan edukasi yang menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat,” tuturnya.
Selain melalui kegiatan literasi, Bank Neo Commerce menyediakan berbagai informasi mengenai pengelolaan keuangan, investasi, hingga keamanan digital melalui situs resmi, akun media sosial resmi, serta aplikasi neobank. Berbagai kanal tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat meningkatkan pemahaman finansial sekaligus memperkuat kewaspadaan terhadap kejahatan keuangan di era digital.