Jamaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah,
UINSGD.AC.ID (Humas) — Marilah kita memanjatkan puji dan syukur kepada Allah Swt. atas nikmat iman, kesehatan, kesempatan belajar, serta bumi yang menjadi tempat kita menjalani kehidupan. Air yang kita minum, udara yang kita hirup, dan makanan yang menguatkan tubuh merupakan karunia yang patut disyukuri melalui penggunaan yang bertanggung jawab.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad saw., keluarga, sahabat, dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.
Khatib berwasiat kepada diri sendiri dan seluruh jamaah agar meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menunaikan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Marilah kita hadirkan ketakwaan dalam ibadah, pekerjaan, kegiatan pendidikan, serta perlakuan terhadap lingkungan.
Di kampus, ketakwaan perlu menuntun cara kita mengajar, belajar, meneliti, dan mengabdi. Di sekolah, madrasah, dan pesantren, ketakwaan perlu tumbuh melalui keteladanan serta pembiasaan yang terpelihara. Ilmu yang Allah titipkan membawa tanggung jawab: digunakan untuk memperbaiki keadaan dan menjaga kehidupan.
Jamaah yang Dimuliakan Allah,
Pada Jumat, 6 November 2026 ini, marilah kita mempertemukan semangat pembaruan dengan amanah merawat bumi. Kemampuan manusia mengembangkan ilmu dan teknologi semakin besar. Bersamaan dengan itu, kita perlu semakin teliti mempertimbangkan akibat setiap tindakan.
Lembaga pendidikan memiliki kesempatan besar untuk menumbuhkan kesadaran tersebut. Di sanalah generasi belajar memahami alam, menggunakan sumber daya, mengembangkan karya, dan mengambil keputusan. Namun, ada keadaan yang patut menjadi bahan muhasabah.
Kita dapat menjelaskan pentingnya air, sementara keran di lingkungan sendiri dibiarkan mengalir. Kita dapat membicarakan kelestarian alam, sementara tanaman yang pernah ditanam tidak memperoleh perawatan. Kita dapat menyusun kegiatan lingkungan, sementara tindak lanjutnya belum terpelihara.
Karena itu, marilah kita bertanya: sudahkah ilmu yang kita ajarkan, penelitian yang kita kerjakan, dan inovasi yang kita hasilkan ikut menjaga bumi yang Allah amanahkan? Inilah pesan khutbah kita: “Ekoteologi dalam Inovasi, Pendidikan, dan Pengabdian.”
Ekoteologi menghubungkan kesadaran beriman dengan tanggung jawab manusia terhadap alam sebagai ciptaan Allah. Kesadaran ini memberi arah bagi inovasi, menjiwai proses pendidikan, dan membimbing pengabdian agar membawa kemaslahatan.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Inovasi mengembangkan cara untuk menjawab persoalan. Pendidikan menumbuhkan kemampuan dan tanggung jawab untuk melaksanakannya. Pengabdian mempertemukan kemampuan tersebut dengan kebutuhan kehidupan. Ketiganya memerlukan tuntunan iman agar manfaat yang dihasilkan tetap menjaga ciptaan Allah. Dari itu semua, marilah kita renungkan pesan tersebut melalui empat pelajaran;
Pertama, Menyatukan Kecerdasan dengan Tanggung Jawab Menjaga Bumi
Menyatukan kecerdasan dengan tanggung jawab menjaga bumi, berarti menggunakan pengetahuan, sains, dan teknologi tidak hanya untuk kemajuan manusia, tetapi juga untuk merawat kelestarian alam. Kecerdasan sejati tidak berhenti pada nilai akademik atau inovasi digital semata, melainkan mencakup kecerdasan ekologis—yakni kesadaran bahwa setiap tindakan manusia memiliki dampak bagi bumi dan generasi mendatang. Allah Swt. berfirman:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
Maknanya: Janganlah berbuat kerusakan di bumi setelah diperbaiki. Demikian penggalan QS. Al-A‘raf [7]:56.
Larangan ini perlu menjadi pengingat ketika kita menggunakan kemampuan dan mengembangkan pembaruan. Sebagai penerapannya dalam kehidupan akademik, setiap karya perlu dipertimbangkan manfaat serta dampaknya. Ketika menyusun proyek pembelajaran, tanyakanlah: kebutuhan siapa yang hendak dijawab? Bahan apa yang digunakan? Berapa banyak air dan energi yang diperlukan? Bagaimana sisa kegiatannya ditangani? Siapa yang akan merawat hasilnya?
Pertanyaan tersebut melatih peserta didik memahami bahwa setiap keputusan mempunyai akibat. Kemampuan mencipta perlu disertai kesediaan mempertanggungjawabkan hasilnya. Dosen dan guru dapat membimbing peserta didik menemukan persoalan lingkungan yang dekat dengan kehidupan mereka.
Mahasiswa dapat meneliti penyebab pemborosan air. Siswa dapat mempelajari cara mengurangi sampah makanan. Santri dapat mengembangkan pengolahan sampah organik sesuai kemampuan dan keadaan pesantren.
Dalam pembelajaran berbasis capaian atau Outcome-Based Education—OBE, tanggung jawab tersebut dapat diwujudkan melalui kemampuan yang terlihat: mengenali masalah, mengusulkan perbaikan, melaksanakan pekerjaan, dan menilai dampaknya.
Pengetahuan memperoleh makna ketika peserta didik mampu menggunakannya secara bertanggung jawab. Pimpinan lembaga pun memiliki amanah menghadirkan pengelolaan yang mendukung pembelajaran itu. Perbaikan saluran air, kebersihan ruang, dan pemeliharaan halaman merupakan bagian dari keteladanan kelembagaan. Marilah kita menjadikan ilmu sebagai bekal untuk memahami akibat, kemudian memilih tindakan yang membawa maslahat.
Jamaah yang Dimuliakan Allah,
Kedua, Menguatkan Kepedulian melalui Pembiasaan dan Keteladanan.
Menguatkan kepedulian sosial dan karakter tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan melalui proses berkelanjutan yang memadukan keteladanan nyata dari lingkungan sekitar dan pembiasaan harian yang konsisten; Rasulullah saw. bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا، أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا، فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ، أَوْ إِنْسَانٌ، أَوْ بَهِيمَةٌ، إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ
Maknanya: Seorang muslim yang menanam pohon atau tanaman memperoleh pahala sedekah ketika hasilnya dimakan burung, manusia, atau hewan. HR. Muslim, no. 1553a.
Hadis ini mempertemukan pekerjaan yang sederhana dengan makna ibadah yang luas. Menanam dapat menghadirkan manfaat bagi makhluk lain, dan manfaat tersebut menjadi sedekah bagi penanamnya. Di lembaga pendidikan, pesan ini dapat dihidupkan melalui pembiasaan.
Peserta didik memperoleh kesempatan menanam, menyiram, mengamati pertumbuhan, dan mencatat hasilnya. Mereka belajar bahwa kehidupan memerlukan perhatian yang berulang. Menanam mengajarkan permulaan. Merawat mengajarkan kesabaran. Memastikan tanaman tetap hidup mengajarkan tanggung jawab.
Karena itu, kegiatan penghijauan perlu dilengkapi pembagian tugas yang jelas. Tentukan siapa yang menyiram, kapan perawatan dilakukan, dan bagaimana kebutuhan tanaman dipenuhi ketika kegiatan belajar sedang libur.
Pembiasaan juga dapat dimulai dari tindakan sehari-hari: menutup keran setelah digunakan, mematikan lampu ketika ruangan selesai dipakai, mengambil makanan secukupnya, serta menjaga kebersihan tempat belajar. Pendidik perlu menyertai ajakan tersebut dengan keteladanan. Peserta didik melihat bagaimana gurunya menggunakan air, bagaimana dosennya menjaga ruang kuliah, dan bagaimana pimpinannya memperhatikan fasilitas bersama.
Pendampingan diperlukan agar mereka memahami alasan di balik tindakan itu. Setelah bekerja, ajaklah mereka melakukan refleksi: apa yang sudah baik, kendala apa yang dihadapi, dan perbaikan apa yang perlu dilakukan?
Dengan cara demikian, pembiasaan menjadi proses pendidikan yang menumbuhkan kesadaran, kemampuan, dan kesungguhan bertindak. Marilah kita mendidik melalui contoh yang dapat dilihat, pekerjaan yang dapat dilakukan, dan tanggung jawab yang dituntaskan.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Ketiga, Menumbuhkan Kasih Sayang terhadap Sesama Makhluk.
Adalah wujud nyata dari keimanan, kemanusiaan, dan kepekaan sosial yang membawa kedamaian dalam kehidupan. Sifat kasih sayang ini tidak hanya ditujukan kepada sesama manusia, tetapi juga mencakup hewan, tumbuhan, dan seluruh alam semesta. Allah Swt. berfirman:
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ
Maknanya: Hewan yang hidup di bumi dan burung yang terbang dengan kedua sayapnya merupakan umat-umat seperti kamu. Penggalan QS. Al-An‘am [6]:38.
Ayat ini mengajak kita merenungkan keberadaan makhluk lain dengan lebih hormat. Bumi menjadi ruang kehidupan bagi beragam ciptaan Allah. Tindakan manusia dapat memengaruhi makanan, air, dan tempat hidup mereka.
Dalam pendidikan, kesadaran ini perlu ditumbuhkan sejak dini. Anak-anak dibimbing mengamati hewan tanpa menyakitinya. Peserta didik diajak mengenali tumbuhan di sekitarnya dan memahami perannya bagi kehidupan. Kegiatan belajar hendaknya menumbuhkan rasa ingin tahu bersama kasih sayang.
Di lingkungan kampus, kepedulian dapat diwujudkan dengan menjaga pohon yang sehat, mempertimbangkan ruang hijau dalam pembangunan, dan mengelola sampah agar tidak mencemari lingkungan.
Dalam kegiatan penelitian atau praktik pembelajaran yang melibatkan hewan, tanggung jawab etis perlu dijalankan sesuai kaidah keilmuan dan ketentuan yang berlaku. Kebutuhan belajar harus dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh, disertai upaya mencegah penderitaan yang tidak diperlukan.
Kepedulian terhadap alam juga berkaitan dengan kepedulian terhadap manusia. Air yang tercemar memengaruhi kesehatan warga. Sampah yang menyumbat saluran dapat memperberat risiko genangan. Hilangnya tempat teduh memengaruhi kenyamanan orang yang beraktivitas.
Karena itu, ketika kita merancang pembangunan dan kegiatan pendidikan, pertimbangkanlah keadaan orang lain, termasuk mereka yang akan menggunakan lingkungan tersebut pada masa mendatang.
Anak-anak dan generasi setelah kita membutuhkan air yang layak, tanah yang terpelihara, serta lingkungan yang mendukung kehidupan. Keputusan hari ini ikut menentukan keadaan yang mereka terima kelak. Untuk hal itu, marilah kita mengembangkan kecerdasan yang disertai kepekaan hati, agar ilmu membimbing kita memperlakukan kehidupan dengan kasih sayang.
Jamaah yang Dimuliakan Allah,
Keempat, Menjaga Amanah agar Manfaat Inovasi Berkelanjutan.
Suatu program memerlukan gagasan yang baik, pelaksanaan yang sungguh-sungguh, dan perawatan yang berkelanjutan. Di sinilah amanah para pendidik, peneliti, pengelola, dan peserta didik dipertemukan. Allah Swt. berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا
Maknanya: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu agar menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” Penggalan QS. An-Nisa’ [4]:58.Dalam kehidupan akademik, perintah menunaikan amanah ini dapat diterapkan melalui kesungguhan mengelola ilmu, fasilitas, dana, dan kepercayaan masyarakat. Setiap tanggung jawab perlu ditunaikan dengan memperhatikan hak serta kebutuhan pihak yang menerima manfaatnya.
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Maknanya: “Amal yang paling dicintai Allah ialah yang paling berkesinambungan, meskipun sedikit.” Penggalan hadis riwayat al-Bukhari, no. 6464,Imam an-Nawawi, ketika menjelaskan hadis tentang kesinambungan amal dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, menyatakan:
وَفِيهِ الْحَثُّ عَلَى الْمُدَاوَمَةِ عَلَى الْعَمَلِ، وَأَنَّ قَلِيلَهُ الدَّائِمَ خَيْرٌ مِنْ كَثِيرٍ يَنْقَطِعُ
Maknanya: “Di dalamnya terdapat anjuran untuk terus-menerus beramal; amal sedikit yang berkesinambungan lebih baik daripada banyak yang terputus.”Jamaah yang Dirahmati Allah,Sebagai penerapan pesan kesinambungan amal tersebut, kegiatan lingkungan perlu dirancang sesuai kemampuan agar dapat dipelihara.
Kebun pendidikan yang sederhana dan terawat dapat menjadi tempat belajar yang terus berguna. Alat penghemat air yang diperiksa secara berkala dapat terus membantu mengurangi pemborosan. Pendampingan masyarakat yang dilakukan dengan tekun memberi kesempatan bagi warga untuk mengembangkan kemandiriannya.
Dalam penelitian, kejujuran menjadi dasar penunaian amanah. Catatlah keadaan sebagaimana adanya. Apabila hasil belum sesuai harapan, jadikan temuan itu sebagai bahan perbaikan. Data dan laporan harus menggambarkan pekerjaan yang benar-benar dilaksanakan. Kejujuran memungkinkan orang lain memahami persoalan dan melanjutkan ikhtiar dengan lebih tepat.
Dalam pengabdian kepada masyarakat, dengarkanlah kebutuhan warga. Libatkan mereka sejak perencanaan, sesuaikan kegiatan dengan kemampuan setempat, dan sepakati cara pemeliharaannya. Pengetahuan akademik perlu dipertemukan dengan pengalaman masyarakat agar hasilnya dapat digunakan serta dirawat bersama.Manfaatnya dapat diperiksa melalui pertanyaan sederhana: apakah pemakaian air berkurang? Apakah tanaman tetap hidup? Apakah sampah tertangani lebih baik? Apakah warga mampu melanjutkan kegiatan? Apakah peserta didik semakin bertanggung jawab?
Catatan, laporan bulanan, triwulanan, semesteran, dan tahunan hendaknya membantu kita melihat kemajuan serta menentukan tindak lanjut. Setiap evaluasi menjadi kesempatan memperbaiki pelaksanaan amanah. Untuk hal itu, Marilah kita menjaga amanah sejak merancang gagasan hingga memelihara hasilnya. Dengan niat yang ikhlas, pelaksanaan yang jujur, dan perawatan yang berkesinambungan, semoga inovasi menjadi jalan pengabdian yang terus menghadirkan maslahat.
Semangat Ikhlas Beramal dapat kita wujudkan melalui pekerjaan yang dilakukan dengan niat baik, cara yang benar, serta kesediaan menjaga manfaatnya. Marilah kita menjaga amanah sejak merancang gagasan hingga memelihara hasilnya. Natizah: Iman Menuntun Ilmu, Ilmu Menguatkan Pengabdian,
Jamaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah,
Ekoteologi dalam inovasi, pendidikan, dan pengabdian mengajak kita menyatukan kecerdasan dengan tanggung jawab, menguatkan kepedulian melalui pembiasaan, menumbuhkan kasih sayang terhadap sesama makhluk, dan menjaga keberlanjutan manfaat karya.
Di tangan pendidik, ilmu menjadi jalan membimbing generasi. Di tangan peneliti, ilmu menjadi ikhtiar memahami dan memperbaiki keadaan. Di tangan pemimpin, ilmu menjadi pertimbangan dalam menunaikan amanah. Di tangan peserta didik, ilmu menjadi bekal untuk berkarya dan mengabdi. Marilah kita memeriksa lingkungan terdekat. Adakah air yang terbuang dan dapat kita hentikan? Adakah tanaman yang membutuhkan perawatan? Adakah sampah yang dapat kita kelola dengan lebih baik? Adakah kegiatan yang perlu kita tuntaskan agar manfaatnya terus berlangsung?
Mulailah dengan pekerjaan yang mampu dilakukan. Kerjakan dengan niat yang lurus, pengetahuan yang memadai, dan kesungguhan yang terpelihara. Semoga dari kampus, madrasah, sekolah, dan pesantren tumbuh generasi yang cerdas, berakhlak, serta bertanggung jawab terhadap kehidupan. Semoga Allah menjadikan ilmu kita bermanfaat dan pengabdian kita sebagai amal yang diterima di sisi-Nya.
A. Rusdiana, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

