Mama Rende dalam Bacaan Naratologis

Ilustrasi Notebooklm

Integritas Sunyi “Perlawanan Diam” Sang Penjaga Sanad

UINSGD.AC.ID (Humas) — Menempatkan Mama Rende atau KH Ahmad Zarkariya (w. 1983) dalam konstelasi sejarah intelektual Islam Nusantara bukan sekadar menyusun urutan kronologis yang linier, melainkan sebuah upaya melakukan pembacaan atas “istidlâl” (parateks) kehidupan yang sangat kaya. Setiap fragmen biografinya berfungsi sebagai ambang pintu menuju pemahaman teks keilmuan dan intelektualitas yang jauh lebih luas.

Mengikuti jejak pemikiran Oman Fathurahman, kita harus melihat beliau sebagai sebuah “manuskrip hidup” yang menyimpan “sanad” atau jaringan transmisi keilmuan yang kokoh. Kiprah dan intelektualismenya menghubungkan keheningan desa Rende di Cikalong Wetan (Bandung Barat) dengan pusat-pusat gravitasi intelektual di Tanah Suci (Makkah dan Madinah) dan pesantren-pesantren kutub di Jawa (Bangkalan, Gentur, Sempur, Cijerah, Cigondewah, dll).

Secara naratologis, meminjam pisau analisis Gérard Genette, eksistensi Mama Rende merupakan untaian sebuah “analepsis” sejarah yang panjang—sebuah kilas balik yang membawa kita pada kemegahan genealogi menak Sumedang melalui jalur Raden Demang Jayapertala hingga Syeikh Syarif Hidayatullah. Pada saat yang sama, pembacaan atas kirprahnya merupakan sebuah “prolepsis” atau jangkauan masa depan tentang bagaimana Islam yang berakar pada tradisi pesantren mampu bertahan di tengah gempuran modernitas.

Kiprah intelektualnya yang dimulai sejak kelahirannya di awal abad ke-20 (sekitar tahun 1900) tidaklah muncul dari ruang hampa, melainkan melalui proses “durasi” yang panjang dalam menuntut ilmu. Ia memulai “kesungguhan” pendalam ilmu pada usia yang tidak muda, yakni sekitar 50-60 tahunan; sebuah tempo naratif yang melambat namun sangat intens demi tercapainya kedalaman batin yang presisi.

Kemudian, ia memilih Rende sebagai tempat mengamalkan dan menyebarkan ilmu-amaliah-nya, sebuah tipografis wilayah yang mendukung pengembangan spiritaul, namun tetap dekat dengan masyarakat. Muhammad Sobary mungkin akan menyebutnya sebagai laku “prihatin” kaum “somah (wong cilik)” yang luhur budi, sebuah proses menempa diri yang melampaui sekadar kognisi.

Beliau melakukan pengembaraan spiritual yang bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan sebuah “fokalisasi” internal di mana ia menyerap saripati ilmu dari para guru agung. Beliau berguru kepada Mama Sempur atau KH Tubagus Ahmad Bakri (1839–1975) yang legendaris, serta mengasah ketajaman logika kepada Mama Gentur atau KH Ahmad Syathibi (w. 1946).

Di bawah bimbingan para raksasa ini, Mama Rende tidak hanya menghafal teks, tetapi melakukan “tahqiq” atau verifikasi mendalam terhadap setiap diksi dalam kitab kuning. Ini adalah bentuk literasi tingkat tinggi yang melampaui kemampuan membaca tekstual; ia adalah kemampuan menangkap “ruh” dari setiap “hypotext” (teks asal) para ulama salaf untuk kemudian diaktualisasikan menjadi “hypertext” yang relevan dan bernyawa bagi masyarakat Sunda di tengah gejolak zaman.

Dalam narasi hidupnya, “frekuensi” kehadiran Mama Rende di hadapan publik tidaklah bising, namun setiap kemunculannya memiliki resonansi yang sangat dalam. Sikapnya yang paling ikonik adalah apa yang bisa kita sebut sebagai “perlawanan diam” terhadap otoritas kekuasaan, baik pada masa Hindia Belanda (hingga 1942) hingga pendudukan Jepang (1942–1945), maupun di era pasca-kemerdekaan. Ini adalah sebuah bentuk narasi eksegetis tentang kemandirian pesantren yang tak tergoyahkan. Beliau secara sadar menciptakan jarak estetis dan politis dari panggung-panggung kekuasaan sekuler, sebuah tindakan yang oleh Genette mungkin dipandang sebagai penolakan untuk menjadi “objek” yang difokalisasi oleh tatapan kontrol negara.

Baginya, kedaulatan seorang ulama terletak pada kemampuannya menjaga jarak dari syahwat politik praktis demi menjaga kemurnian bimbingan umat. Kang Sobary akan melihat fenomena ini sebagai wujud integritas sunyi—sebuah pembangkangan budaya tanpa kepalan tangan, namun mampu meruntuhkan kewibawaan penguasa yang mencoba menjinakkan kebenaran agama demi kepentingan sesaat.

Kontribusi Mama Rende terhadap literasi Islam di Jawa Barat mewujud dalam jaringan murid-muridnya yang tersebar luas, menciptakan sebuah “intertekstualitas” budaya yang masif antara teks keislaman dan realitas sosial. Beliau tidak hanya mewariskan tumpukan kitab, tetapi sebuah metodologi berpikir yang sistematis dan beradab melalui pola pengajaran “sorogan” (personalized learning) yang intim.

Beliau memastikan setiap muridnya—termasuk tokoh-tokoh besar seperti Mama Sindangresmi—menjadi penjaga gawang tradisi yang kritis dan mandiri hingga beliau wafat pada tahun 1983. Inilah transformasi sosial yang sesungguhnya: meningkatkan derajat umat bukan dengan retorika kosong, melainkan dengan keteladanan dan penguasaan ilmu alat yang mumpuni.

Pada akhirnya, melalui sebuah “metalepsis” sejarah—di mana batas antara dunia teks masa lalu dan dunia nyata hari ini meluruh—sosok Mama Rende tetap hadir sebagai referensi abadi yang menegaskan bahwa integritas, ilmu, dan martabat adalah trilogi yang tak boleh terpisahkan dalam diri seorang intelektual.

 

Bandung, 20 April 2026

 

Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Sunan Gunung Djati Bandung 

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *