UINSGD.AC.ID (Humas) — Perubahan cepat di sektor keuangan syariah menuntut perguruan tinggi untuk terus memperbarui kurikulum agar selaras dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
Sebagai bagian dari upaya memperkuat capaian Akreditasi Internasional dan Akreditasi Unggul, lembaga sertifikasi internasional seperti International Boards of Standards (IBS), Google Certified Associate Cloud Engineer (ACE), Sertifikasi profesional bidang teknologi awan (cloud), Microsoft Office Specialist (MOS), Microsoft Certified Educator (MCE), yang diraih oleh mahasiswa, Program Studi Akuntansi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Focus Group Discussion (FGD) Review Visi, Misi, Kurikulum, dan Peningkatan Program Kerja dengan melibatkan regulator, industri, akademisi, alumni, dan mahasiswa.
Dengan menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, di antaranya Arif Mahendra Putra dari Bank Syariah Nasional (BSN), Eneng Nia dari PT Bank Syariah Indonesia (BSI) Tbk, Friska Magdalena dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dr. Ramadhani Irma Tripalupi, S.E., M.M., alumni Chefi Abdul Latif, serta Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilham Abdullah.

Ketua Jurusan Akuntansi Syariah, Mia Lasmi Wardiyah, M.Ag., CPRM., ACCA., CFA., CPA., didampingi Sekretaris Program Studi Fithri Dzikrayah, S.E., M.E., menjelaskan bahwa FGD ini merupakan bagian dari upaya peningkatan kualitas pendidikan, penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan industri keuangan syariah yang semakin dinamis.
Menurutnya, proses penyempurnaan kurikulum dilakukan secara berkelanjutan melalui tiga kali FGD. “Seluruh rangkaian FDG menjadi ruang strategis untuk menghimpun berbagai masukan terkait penguatan visi, misi, kurikulum, dan program kerja Prodi Akuntansi Syariah,” ujarnya, Selasa (26/5/2026).
Mia menegaskan bahwa penyesuaian kurikulum menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda agar lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan tuntutan pasar kerja. Oleh karena itu, sinergi antara perguruan tinggi dengan dunia usaha dan dunia industri harus terus diperkuat.
“Program ini dilaksanakan sebagai upaya link and match antara universitas dengan dunia usaha dan dunia industri. Kita harus adaptif dan selalu up to date dalam mempersiapkan lulusan sesuai kebutuhan pasar kerja,” paparnya.
Kurikulum yang relevan menjadi kunci dalam menghasilkan lulusan yang mampu menjawab tantangan zaman. Oleh karena itu, pembaruan kurikulum harus dilakukan secara berkelanjutan dengan mempertimbangkan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan industri.
“Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang relevan dengan zamannya. Karena itu, pembaruan harus terus dilakukan,” paparnya.
Prodi Akuntansi Syariah memiliki tiga misi utama, yaitu menghasilkan lulusan dengan kompetensi kuat di bidang ekonomi dan bisnis syariah, mencetak lulusan yang mampu menjadi penggerak ekonomi, serta menyiapkan lulusan yang siap menjadi pelaku utama dalam dunia ekonomi dan bisnis.
“FGD ini merupakan bagian dari hilirisasi tiga misi tersebut. Harapannya, kita dapat merumuskan penguatan kurikulum dan desain lulusan FEBI secara tepat, terukur, dan sesuai dengan kebutuhan masa depan,” jelasnya.
Dengan adanya pelaksanaan FGD yang melibatkan regulator, industri, akademisi, alumni, dan mahasiswa, Prodi Akuntansi Syariah FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan mutu pendidikan dan memperkuat daya saing lulusan di tingkat nasional maupun internasional.
“Prodi Akuntansi Syariah berkomitmen untuk terus meng-upgrade diri dan beradaptasi dengan dinamika persaingan kerja. Lulusan harus memiliki value yang menjadikannya unggul. Proses ini memang tidak mudah, baik bagi dosen, mahasiswa, maupun lembaga, tetapi menjadi keharusan demi mewujudkan ketangguhan SDM masa depan,” pungkasnya.