Transformasi Pendidikan untuk Peningkatan Martabat Kehidupan Manusia
UINSGD.AC.ID (Humas) — Peringatan Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei 2026 ini jatuh dalam suasana batin yang penuh dinamika. Baru saja kita memperingati May Day (1 Mei), sebuah pengingat tentang martabat manusia yang sering kali tergerus oleh mesin dan modal.
Di tengah deru disrupsi teknologi yang kian kencang, kita seolah dipaksa menyaksikan fenomena “jati kasilih ku junti—saat nilai-nilai luhur dan kemanusiaan kita mulai tergeser oleh algoritma yang dingin dan tidak berperasaan.
Kita berdiri di ambang krisis semesta dan kemanusiaan, di mana manusia seharusnya memegang amanah sebagai “khalifatullah fil ardh” untuk menjaga keseimbangan alam, namun justru sering kali terjebak dalam ego kekuasaan.
Ironisnya, di tengah banjir informasi digital, wajah pendidikan kita masih muram oleh rendahnya kualitas literasi dan skill praktis.
Ketidakmampuan kita dalam melakukan “tadabbur”—merenung dan memaknai realitas secara mendalam—telah memicu krisis moral dan pendangkalan etika yang akut. Literasi yang rendah membuat kita mudah terombang-ambing oleh berita bohong dan kebencian.
Padahal, pendidikan sejatinya adalah proses “silih asah, silih asih, silih asuh” untuk membangun “kajembaran pangarti”, yakni keluasan ilmu yang dibarengi dengan kelapangan hati. Tanpa integritas moral atau “akhlakul karimah”, kecerdasan intelektual hanya akan melahirkan manusia yang pintar secara teknis namun hampa secara nurani.
Tantangan ini kian terasa nyata saat kita melirik ufuk geopolitik dunia. Bayang-bayang dampak perang Iran-Amerika Serikat bukan sekadar urusan jauh di sana, melainkan ancaman bagi ketahanan energi dan ekonomi yang bisa mengguncang akses pendidikan anak-anak bangsa.
Di sinilah urgensi “ukhuwah bashariyah” atau persaudaraan kemanusiaan universal diuji. Pendidikan harus mampu menjadi navigasi yang tangguh untuk mewujudkan “maslahah ammah” (kemaslahatan publik) di tengah badai krisis global. Kita tidak boleh membiarkan generasi mendatang lumpuh oleh ketakutan; mereka harus dididik untuk tetap tegar dan mampu membaca arah zaman.
Maka, momentum Hardiknas kali ini harus menjadi titik balik untuk mengembalikan pendidikan pada khitahnya: peningkatan martabat kehidupan manusia. Kita merindukan lahirnya generasi yang tidak hanya mahir mengoperasikan kecerdasan artifisial, tetapi juga sosok manusia yang “cageur, bageur, bener, pinter, tur singer”.
Inilah modal utama agar bangsa ini bisa tetap “nanjeur di buana”, berdiri tegak penuh martabat di panggung dunia, meski harus melewati kepungan disrupsi dan krisis yang mengepung semesta. Hanya dengan pendidikan yang memanusiakan manusia, kita bisa menjaga cahaya peradaban tetap menyala.
Dadan Rusmana, Wakil Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung