HomeBeritaBeritaDosenEsensi Pemberdayaan pada Doa Minum Air Zamzam

Esensi Pemberdayaan pada Doa Minum Air Zamzam

Esensi Pemberdayaan pada Doa Minum Air Zamzam

Ilustrasi gambar AI

UINSGD.AC.ID (Humas) — Ada anekdot terkenal di kalangan masyarakat bahwa ada orang yang pulang dari haji atau umrah, marah karena tidak dipanggil Pak Haji atau Bu Haji. Senyatanya, fenomena ini ada di masyarakat, seolah sebutan itu wajib dicantumkan pada nama seseorang yang sudah berhaji.

Padahal dalam sejarah gelar itu hanya ada di Indonesia. Itupun saat Belanda menjajah Indonesia membuka konsulat jenderal di Arab Saudi pada tahun 1872 dan memerintahkan agar ada pencatatan, pengawasan dan penggunaan atribut haji bagi tokoh-tokoh yang dipandang kritis pasca haji.

Pada masa kemerdekaan Indonesia, jemaah haji sering memanfaatkan momentum ibadah haji juga untuk menimba ilmu dari para ulama yang berkumpul di Mekah dan Madinah. Sepulangnya ke tanah air, para alumni haji menjadi pembaharu yang menjadi motor penggerak perubahan sosial hingga pada saatnya kemerdekaan dapat diraih.

Sehingga tidak mengherankan jika Belanda mewaspadai para alumni haji dan memberikan atribut nama haji pada nama-nama alumni haji. Perubahan sosial pada masyarakat Indonesia pada masa itu menjadi perhatian serius umat Islam sepulang haji atau umrah.

John J. Macionis, sosiolog asal Amerika, menyebutkan bahwa perubahan sosial memiliki karakteristik. Pertama, perubahan sosial bisa terjadi di setiap masyarakat, namun yang membedakan hanya laju dan tantangan perubahan sosial tersebut. Setiap waktu dan di setiap tempat pada kumpulan manusia yang membentuk masyarakat dapat terjadi perubahan.

Kedua, beberapa perubahan dianggap lebih penting, bahkan mungkin genting dan memaksa seperti yang terjadi pada saat COVID-19. Ketiga, perubahan sosial dapat direncanakan dan spontan tanpa perencanaan. Keempat, perubahan sosial sering menciptakan kontroversi.

Dalam tiga tahun terakhir, data Sistem Komputerisasi Pengelolaan Terpadu Umrah dan Haji Khusus (SISKOPATUH) mencatat tren kenaikan jumlah jemaah umrah hingga tahun 2025 sebanyak 1,5 juta jemaah. Adapun jemaah haji tahun 1447 Hijriyah sebanyak 221.000 jemaah. Angka yang cukup fantastik, terlebih jika diuangkan, diperkirakan mencapai sekitar tujuh puluh triliun rupiah.

Modal sebesar ini diharapkan memberi dampak besar pula pada perubahan sosial bagi bangsa Indonesia. Jemaah haji dan umrah dinantikan buah tangannya, bukan hanya hampers dan air Zamzam, melainkan esensi dari doa minum air Zamzam yang memuat Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Ada tiga indikator IPM, yaitu melek huruf atau kualitas pendidikan, daya beli atau kualitas ekonomi, dan angka harapan hidup atau kualitas kesehatan.

Diriwayatkan oleh Daruquthni, bahwa Ibnu Abbas bin Abdul Muthalib saat minum air Zamzam berdoa dengan kalimat: Allahumma innii as aluka ‘ilmannafi’an wa rizqan wasyi’an wa syifaan min kulli daa in. Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang luas, dan kesembuhan dari segala penyakit”.

Tiga poin permintaan pada doa yang dicontohkan oleh Ibnu Abbas, selaras dengan tiga indikator IPM yang dapat mengukur keberdayaan masyarakat Indonesia. Kehadiran jemaah haji dan umrah sekembalinya di tengah masyarakat, diharapkan berkiprah menjadi motor penggerak perubahan sosial agar masyarakat di sekitarnya berdaya dari aspek pendidikan, ekonomi dan kesehatan. Doa minum air Zamzam menjadi buah tangan berharga, bukan hanya menghilangkan dahaga, tetapi juga secara esensial mendorong perubahan berupa keberdayaan masyarakat. Wallahu a’lam

Rohmanur Aziz, Pembimbing Tahliyah Tours & Travel, dan Ketua Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (Islamic Community Development) FDK UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *