UINSGD.AC.ID (Humas) — UIN Sunan Gunung Djati Bandung menjadi tuan rumah Visitasi Kepemimpinan Nasional (VKN) Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan XXI yang diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Kompetensi Manajemen, Kepemimpinan, dan Moderasi Beragama (Pusbangkom MKMB) Kementerian Agama RI, Jumat (25/9/2026).
Sebanyak 15 calon pimpinan tinggi pratama mendalami implementasi kepemimpinan adaptif, berdampak dan penguatan nilai humanis dalam agenda yang menempatkan UIN Bandung sebagai lokus percontohan “Kurikulum Berbasis Cinta”.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian PKN Tingkat II yang berlangsung secara blended learning pada 4 Agustus hingga 4 Desember 2026. Tahun ini, pembelajaran mengusung tema “Strategi Kepemimpinan Adaptif dalam Penguatan Kerukunan dan Cinta Kemanusiaan Berbasis Ekoteologi”.
Dengan mengusung subtema “Kepemimpinan Adaptif untuk Mendorong Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta” ini dibuka secara resmi oleh Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama RI, Prof. Dr. H. Muhammad Ali Ramdhani, S.TP., M.T.
Agenda dilaksanakan secara hibrid; sesi luring dipusatkan di Gedung O. Djauharuddin AR Kampus I UIN Bandung, sementara para peserta pelatihan menyimak secara daring melalui Zoom Meeting.
Turut hadir mendampingi secara luring dan menjadi narasumber: Wakil Rektor I Prof. Dr. H. Dadan Rusmana, M.Ag., Kepala Biro AUPK Dr. H. Ajam Mustajam, M.Ag., Direktur Eksekutif Rumah Moderasi Beragama Prof. Dr. H. Usep Dedi Rostandi, Lc., M.A., Kepala Balai Diklat Keagamaan (BDK) Bandung Agus Nasihatul Ahyar, S.Pd.I., serta para kepala bagian di lingkungan UIN Bandung.
Para peserta merupakan aparatur sipil negara yang dipersiapkan menduduki jabatan eselon II dan diarahkan menjadi ASN Berdampak, aparatur yang mampu menerjemahkan kompetensi teknis dan kewenangannya menjadi program nyata bagi masyarakat luas.

Kepemimpinan Berorientasi Dampak dan Pelayanan
Dalam sambutan arahannya, Kepala BMBPSDM Kemenag RI Prof. Muhammad Ali Ramdhani menjelaskan UIN Sunan Gunung Djati Bandung dipilih sebagai salah satu lokus pembelajaran karena dinilai memiliki pengalaman dalam mengembangkan transformasi kurikulum berbasis cinta.
“UIN Sunan Gunung Djati Bandung berada pada fase transformasi kurikulum berbasis cinta. Karena itu, kita ingin belajar secara nyata dari pengalaman praktis yang telah dibangun di sini,” ujarnya.
Kaban Dhani, sapaan akrabnya menjelaskan pembelajaran dalam PKN Tingkat II tidak cukup berhenti pada kemampuan peserta menyusun program. Para peserta perlu memahami bagaimana sebuah gagasan diterapkan dan menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan masyarakat.
Dengan mengutip arah kebijakan Menteri Agama Nasaruddin Umar yang menekankan bahwa setiap program kerja harus diukur tidak hanya dari input, proses, dan output, tetapi outcome, benefit, hingga impact.
“Ilmu tanpa amal tidak akan menghasilkan dampak. Karena itu, setiap program harus mampu mengubah lingkungan menjadi lebih baik dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat,” tegasnya.
Melalui visitasi ini, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai tata kelola perguruan tinggi. Mereka menggali praktik pengelolaan sumber daya manusia, kepemimpinan, serta implementasi kurikulum berbasis cinta yang dapat menjadi referensi dalam menyusun policy brief.
Kaban Dhani menilai, pembelajaran berbasis pengalaman seperti ini penting bagi calon pemimpin birokrasi karena memberikan kesempatan untuk melihat langsung bagaimana sebuah gagasan diterjemahkan menjadi praktik kelembagaan.
“Pengalaman empiris tersebut tidak berhenti hanya sebagai pengetahuan, melainkan menjadi bekal bagi para peserta dalam membangun kepemimpinan yang adaptif, kolaboratif, dan mampu menerjemahkan nilai-nilai kerukunan menjadi kebijakan yang berdampak di lingkungan kerja masing-masing,”
Dengan mengajak seluruh peserta memaknai kepemimpinan bukan semata-mata sebagai takhta atau jabatan administratif, melainkan amanah untuk melayani dan memberi maslahat konkret kepada publik.
Peserta PKN merupakan figur-figur yang sarat pengalaman dan kapasitas intelektual, sehingga bekal tersebut harus termanifestasikan ke dalam kebijakan substantif yang menyentuh persoalan riil. “Pada dasarnya, tidak ada yang namanya orang penting. Yang ada adalah orang yang memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat dan pemerintah Indonesia,” tegasnya.
Dengan mengingatkan pentingnya memadukan kapasitas intelektual dengan ketulusan, kepedulian, dan martabat kemanusiaan. Agar seluruh program kerja instansi pemerintah tidak berhenti pada tumpukan berkas administratif atau seremoni belaka.
“Setiap program kerja tidak boleh berhenti pada tataran program. Kita berharap apa yang kita lakukan kepada Allah SWT memberikan dampak yang nyata terhadap kehidupan masyarakat. Jadilah seorang pelayan yang mencintai,” pesannya.
Dalam perspektif ini, mari kita menempatkan Kurikulum Berbasis Cinta sebagai pendekatan mutlak dalam merespons krisis relasional modern, merekatkan kohesi sosial, serta membumikan nilai-nilai agama menjadi aksi nyata yang menyelesaikan masalah.

Model Kepemimpinan Transformatif dan Falsafah Asta Brata
Menyambut agenda visitasi ini, Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., menyampaikan apresiasi tinggi atas kepercayaan Kementerian Agama RI yang menunjuk UIN Bandung sebagai lokus kajian lapangan.
“Saya merasa tersanjung atas kepercayaan ini. Kami menyadari UIN Bandung belum menjadi yang terbaik, namun amanah ini menjadi motivasi besar bagi kami untuk terus berbenah, belajar, dan berikhtiar membangun ekosistem pendidikan yang memanusiakan,” ungkapnya.
Di hadapan para peserta, Rektor menguraikan model kepemimpinan adaptif yang diintegrasikan UIN Bandung guna mengawal Kurikulum Berbasis Cinta di tengah kompleksitas sivitas akademika dan pesatnya era digital:
1. Pondasi Transformasional dan Melayani (Servant Leadership). Kepemimpinan dibangun untuk melayani dan memfasilitasi, bukan memerintah. Pemimpin berperan membangun visi kolektif, menstimulasi intelektualitas warga kampus, serta menjadi teladan moral yang nyata dalam mendengarkan dan memberdayakan seluruh elemen.
2. Rekayasa Budaya: Otoritas Menuju Superteam Egaliter. Mengikis sekat hierarki instruksional-birokratis yang kaku dan feodalistik melalui kultur pintu terbuka. Kampus didorong menjadi superteam kolaboratif yang egaliter, tempat pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa bebas berdialog, saling memberi masukan, serta mengoreksi secara konstruktif.
3. Mikro-Habituasi Nilai (Budaya 5S). Nilai luhur kasih sayang dioperasionalkan secara konkret lewat pembiasaan harian 5S: Senyum, Sapa, Salam, Sopan, dan Santun. Budaya ini berfungsi sebagai jembatan relasi yang menumbuhkan rasa aman emosional dan rasa saling percaya.
4. Adaptasi Digital yang Humanistis. Integrasi teknologi dan literasi digital di kampus diarahkan untuk memudahkan tata kelola tanpa mereduksi kehangatan hubungan emosional antarpribadi. Keputusan strategis dirumuskan lewat identifikasi kebutuhan partisipatif dengan tetap memelihara komunikasi tatap muka yang kaya dan jujur.
5. Pengendalian Demokratis Berkelanjutan. Evaluasi dan pengawasan internal diposisikan bukan sebagai instrumen kontrol yang menakutkan, melainkan sarana refleksi bersama, pengelolaan perbedaan secara produktif, serta penjagaan martabat institusi secara humanis.
6. Integrasi Kearifan Lokal Asta Brata. Praktik tata kelola kampus menyerap nilai luhur kepemimpinan nusantara, khususnya Nilai Baruna (samudra berjiwa lapang yang menampung aneka perbedaan dan mengedepankan resolusi damai yang restoratif) serta Nilai Indra (pemimpin pelindung yang menghadirkan keteduhan, rasa aman, dan kehangatan).
“Kita harus bergerak dari ketergantungan pada figur atau otoritas menuju superteam. Keberhasilan Kurikulum Berbasis Cinta bergantung pada pergeseran paradigma kepemimpinan: pimpinan kampus bukan komandan, melainkan fasilitator empatik yang menjaga ekosistem cinta dan martabat kemanusiaan,” terangnya.
VKN ini menjadi bagian dari upaya PKN Tingkat II BMBPSDM untuk mempertemukan pembelajaran kepemimpinan dengan praktik nyata di lapangan. Hasil pembelajaran selanjutnya diharapkan dapat diterjemahkan peserta ke dalam rekomendasi kebijakan yang relevan dengan kebutuhan organisasi masing-masing.
Dengan adanya pelaksanaan VKN ini, UIN Bandung tidak hanya berbagi ruang diskusi teoretis, tetapi juga mendiseminasikan praktik baik tata kelola kelembagaan. Sinergi antara kepemimpinan adaptif dan Kurikulum Berbasis Cinta diharapkan dapat diadopsi oleh para peserta PKN Tingkat II guna melahirkan birokrasi yang cekatan, berdaya saing, dan berjiwa melayani di tempat tugas masing-masing.

