UINSGD.Ac.ID (Humas) — Kolom memang luar biasa. Banyak orang yang bisa menulis artikel, tapi tidak dengan menulis kolom. Kolom bukan sekadar tulisan opini. Ia adalah cara penulis berkomunikasi dengan publik dengan menggunakan akal sehat, pengalaman, dan keberanian berpikir.
Menulis kolom menuntut ketenangan membaca realitas, dan kejernihan menyusun gagasan. Kolom lazimnya lahir dari kepekaan, dan perenungan mendalam.
Penulis kolom level atas tidak menunggu isu besar datang kepadanya. Ia mampu menemukan makna dari peristiwa sehari-hari. Dari antrean panjang di layanan publik, percakapan di warung kopi, hingga konten media sosial. Semua itu dapat menjadi pintu masuk untuk menulis kolom.
Kolom bukan untuk memamerkan istilah rumit. Kekuatan kolom justru lahir dari kesederhanaan bahasa yang mampu menggerakkan pikiran pembaca. Tulisan yang baik bukan tulisan yang membuat orang berkata, “Hebat sekali penulisnya”, tetapi tulisan yang membuat pembaca berkata, “Saya baru sadar tentang hal itu.”
Penulis kolom harus memiliki keberanian berpendapat dan bersikap. Tetapi ia tetap mampu menjaga kejernihan argumentasi. Kritik tanpa data hanya akan menjadi kemarahan. Sebaliknya, data tanpa keberpihakan akan kehilangan daya hidup. Karena itu, kolom memerlukan keseimbangan antara logika, rasa, dan etika.
Di era digital hari ini, semua orang bisa menulis. Namun, tidak semua tulisan memiliki arah dan kedalaman. Kolom hadir bukan sekadar untuk menambah keramaian, melainkan memberi perspektif. Penulis kolom harus mampu menjadi penjernih di tengah kabut informasi.
Menulis kolom pada akhirnya adalah latihan intelektual, sekaligus latihan kemanusiaan. Ia mengajak penulis untuk terus membaca, mendengar, merenung, lalu menyampaikan pikiran dengan tanggung jawab. Pasalnya, kata-kata yang ditulis dengan kesadaran bukan hanya dibaca hari ini, dapat tinggal lama dalam ingatan pembaca.
Enjang Muhaemin, Sekretaris Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung

