UINSGD.AC.ID (Humas) — Halal bihalal menjadi tradisi khas masyarakat Indonesia setiap momentum Idulfitri. Kegiatan ini identik dengan saling memaafkan, bersilaturahmi, dan mempererat hubungan sosial.
Namun, di balik praktik yang sudah mengakar ini, tersimpan sejumlah asal-usul unik yang menarik untuk diketahui.
Berikut lima asal-usul halal bihalal yang jarang diketahui:
1. Istilah yang Lahir dari Kreativitas Ulama Nusantara
Berbeda dengan istilah keislaman pada umumnya yang berasal dari bahasa Arab klasik, “halal bihalal” justru merupakan konstruksi khas Indonesia. Istilah ini diyakini muncul dari kreativitas ulama Nusantara untuk menggambarkan proses saling menghalalkan kesalahan antar sesama.
2. Dipopulerkan oleh KH Wahab Chasbullah
Sejarah mencatat bahwa halal bihalal mulai dikenal luas pada era awal kemerdekaan. KH Wahab Chasbullah mengusulkan konsep ini kepada Presiden Soekarno sebagai cara meredakan konflik politik saat itu. Sejak itulah halal bihalal menjadi tradisi nasional.
3. Berawal dari Upaya Meredakan Konflik Elite Politik
Pada masa pasca-kemerdekaan, Indonesia menghadapi banyak ketegangan politik. Halal bihalal pertama kali digelar di Istana Negara sebagai forum silaturahmi lintas kelompok. Tujuannya sederhana namun penting: mempertemukan pihak-pihak yang berselisih agar kembali rukun.
4. Tidak Ditemukan dalam Tradisi Timur Tengah
Meski berakar dari nilai Islam seperti silaturahmi dan saling memaafkan, praktik halal bihalal tidak dikenal di negara-negara Timur Tengah. Tradisi ini menjadi bukti bahwa Islam di Indonesia berkembang dengan pendekatan budaya yang khas dan inklusif.
5. Menggabungkan Nilai Agama dan Budaya Lokal
Halal bihalal bukan sekadar acara formal, tetapi juga bentuk akulturasi antara ajaran Islam dan budaya Nusantara. Tradisi ini memperkuat nilai gotong royong, kekeluargaan, serta harmoni sosial yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia.
Halal bihalal hari ini bukan hanya ritual tahunan, tetapi juga warisan budaya yang sarat makna.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, tradisi ini menjadi pengingat pentingnya merawat hubungan, membuka hati, dan memulai kembali dengan penuh keikhlasan. (AI)