Arafah dan Euforia Hatrrick Persib

Ilustrasi Arafah dan Euforia Hatrrick Persib AI

UINSGD.AC.ID (Humas) — Ada dua momentum kolosal yang terjadi beriringan, keduanya menggerakkan jutaan manusia pada satu titik pusaran emosi yang membuncah. Di padang Arafah, tanggal 9 dzulhijjah jutaan jemaah haji menyatu dalam hamparan putih, menghentikan seluruh aktivitas fisik demi menghidupkan ruhani.

Sementara itu, beberapa hari sebelumnya, jalanan Kota Bandung menjadi lautan biru. Masyarakat tumpah ruah merayakan keberhasilan Persib Bandung meraih hatrrick di Liga Indonesia.

Sepintas, kedua peristiwa ini berada pada kutub yang berseberangan: yang satu sakral dan hening, yang lain profan dan bising. Namun, bila ditelaah dengan kacamata fenomenologi agama Mircea Eliade, kedua ruang kolosal ini sejatinya sedang mendirikan apa yang disebut sebagai Axis Mundi (Poros Dunia).

Bagi Eliade, sebagai homo religious, manusia selalu membutuhkan ruang sakral untuk terhubung dengan Yang Ilahi. Ruang sakral tidak melulu berupa bangunan fisik, melainkan sebuah titik di mana langit dan bumi bertemu, menjadi sacred canopy (langit suci) yang melindungi manusia dari kekacauan (chaos).

Wukuf, yang secara harfiah berarti “berhenti”, adalah momentum ketika dimensi ruang dan waktu yang profan diinterupsi. Di bawah sacred canopy langit Arafah, aktivitas fisik diredam, dan aktivitas ruhani dinyalakan. Jemaah melakukan i’tiraf, sebuah pengakuan jujur atas segala kedzaliman diri. Di titik inilah Arafah menjadi Axis Mundi. Ketika manusia mengakui kekosongan dan kehinaannya, di saat yang sama mereka mengkoneksikan diri dengan poros vertikal transendensi. Arafah menjadi pusat alam semesta, tempat di mana orientasi hidup yang sempat retak oleh urusan duniawi dirajut kembali.

Menariknya, struktur pencarian “pusat dunia” ini juga terbaca dalam fenomena sosiologis masyarakat Jawa Barat saat merayakan kemenangan Persib. Jalanan kota yang biasanya menjadi ruang profan, tempat kompetisi ekonomi, tiba-tiba mengalami sakralisasi sesaat. Konvoi bobotoh, kibaran bendera, dan nyanyian bersama menciptakan ruang komunal yang mengatasi sekat-sekat sosial.

Bagi para Bobotoh, momentum juara ini adalah epifani, yakni sebuah penampakan kegembiraan yang melampaui realitas keseharian. Kegembiraan yang membuncah di jalanan bukanlah sekadar hura-hura tanpa makna, melainkan sebuah bentuk ritus kolektif untuk mensyukuri kemenangan.

Dalam perspektif Eliade, ketika sebuah kelompok masyarakat larut dalam kegembiraan kosmik yang sama, mereka sedang menciptakan Axis Mundi mereka sendiri. Persib, dalam hal ini, bertindak sebagai poros yang menyatukan identitas, sementara jalanan Bandung berubah menjadi “langit suci” di mana rasa syukur dan kebahagiaan diekspresikan secara total.

Secara filosofis, ada benang merah yang mengikat kedua momentum ini: kerinduan manusia untuk keluar dari kedirian yang sempit (self-transcendence) dan melebur dalam sesuatu yang lebih besar. Wukuf di Arafah mencapainya melalui jalan asketisme, kesunyian, dan pertobatan vertikal. Sedangkan konvoi Bobotoh mencapainya melalui jalan estetisme komunitas, kegemparan, dan perayaan horisontal.

Wukuf mengajarkan kita tentang pentingnya beralih dari chaos batin menuju harmoni spiritual melalui i’tiraf. Sementara konvoi mengingatkan kita bahwa kegembiraan kolektif, jika diresapi dengan rasa syukur, juga memiliki getaran spiritualitasnya sendiri. Keduanya membuktikan bahwa manusia selalu mencari cara untuk mendirikan tenda suci di tengah dunia, baik itu di keheningan padang pasir maupun di tengah gemuruh jalanan kota.

Pada akhirnya, baik jemaah yang bersimpuh di Arafah maupun bobotoh yang konvoi di Bandung, sama-sama sedang merayakan kehidupan di bawah poros langit yang satu: mencari makna, merayakan eksistensi, dan mengoneksikan diri dengan Yang Ilahi. Semoga.

 

Aang Ridwan, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung

 

Sumber, Pikiran Rakyat 26 Mei 2026.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *