• (022)7800525
  • info@uinsgd.ac.id
  • Jl. A.H. Nasution No.105, Cibiru, Bandung 40614
id Indonesian

Tiga Dimensi Iman Menghadapi Corona

Sudah beberapa bulan ini berada dalam suasana prihatin dan berakhirnya pun entah kapan. New normal memang sudah diterapkan, mengendorkan pembatasan sosial, agar sektor ekonomi mulai berjalan. Namun wabah corona masih mengancam, kasusnya masih belum landai dan dampaknya merata ke berbagai segi kehidupan.

Banyak kelas menengah yang tetiba bangkrut, jatuh miskin. Kaum lemah (dhuafa) semakin tak berdaya. Ibadah yang biasanya dilakukan di sarana ibadah bersama, ditiadakan sementara.

Bagi umat beragama, setiap peristiwa mengandung makna teologis, keimanan. Situasi ini tentu saja harus disikapi dengan tepat dan selalu dihiasi dengan harapan. Kekuatan dan keyakinan bahwa semua solusi persoalan pasti diadakan. Dengan harapan, bekal akan dicukupkan untuk melewati ujian. Buahnya adalah kemuliaan, semakin bertambah keimanan dan menebar kemanfaatan.

Hanya saja, di sisi lain, ironisnya dalam situasi seperti ini, setiap kebijakan pemerintah terkesan seolah tak saling mendukung satu sama lain. Polemik tentang kebijakan kerap membingungkan. Rakyat pun ngeyel menolaknya karena memang bingung dengan kebutuhan. Nekad abai dengan kehidupan demi kebutuhan.

Di sisi lain, perdebatan teologis muncul ke ruang publik melalui media sosial. Misalnya tentang tidak perlu takut dengan corona, jika berada di masjid. Bahwa sakit dan kematian sudah ditetapkan, tidak perlu takut. Menolak fatwa ulama untuk sementara tidak perlu shalat berjamaah dan shalat Jumat. Menuding ulama yang berfatwa kurang ilmu dan tidak beriman kepada takdir.

Apabila membaca sikap keberagamaan yang diungkapkan melalui media sosial tersebut, harus diakui bahwa  nalar keberagamaan umat Islam masih jauh dari tercerahkan. Ilmu pengetahuan belum menjadi panduan. Padahal Islam sejalan dengan ilmu pengetahuan. karena itu kita harus menguatkan tiga dimensi iman, yaitu iman individual, sosial dan rasional.

Iman Individual

Perlu dipahami bahwa qada dan qadar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan. Menekankan dua elemen penting saling terkait dan harus ada dalam membangun pemahaman tentang takdir. Qada ialah ilmu yang terdahulu, yaitu Allah Swt menghukumi sesuatu pada azali. Sedangkan qadar merupakan pelaksanaan perkara yang telah ditetapkan  atas makhluk. Artinya bahwa apapun  yang  terjadi  di  bumi  ini,  pasti  ada  sebabnya, termasuk kematian,  rezeki  dan jodoh  pun  tunduk  pada  hukum  ini. 

Hukum sebab akibat inilah yang kemudian disebut dengan sunnatullah. Dengan kata lain, qada adalah ketetapan yang sudah Allah Swt tentukan sebelumnya. Dalam prinsip Islam, segala  yang  ada  di muka  bumi  ini  mengikuti  sunnatullah,  aturan  Allah  Swt.   Sedangkan  qadar  merupakan  ukuran  dari  aturan- aturan  tersebut.  Besar  kecil ukuran usaha atau ikhtiar dalam mengikuti aturan tersebut akan menentukan hasil. Oleh karena itu, hasil dari usaha inilah yang disebut dengan takdir.

Dengan iman kepada qada dan qadar yang benar, akan terbangun sikap sabar dan tawakal.  Sabar merupakan salah satu modal internal yang dimiliki manusia. Sabar  dimaknai sebagai upaya  menahan  jiwa  dari  hal-hal  yang  tidak dapat  dibenarkan oleh  logika dan  wahyu. Bentuknya antara lain berupa ketabahan  menghadapi  musibah, menghadapi  godaan  hidup,   dalam  peperangan, menahan marah dan  dalam menghadapi  bencana  yang  mencekam. 

Dalam semua proses kehidupan, selain bersabar, setelah berjuang sekuat tenaga, manusia harus bertawakal. Berserah diri kepada Allah Swt setelah usaha maksimal.  Tawakal diharuskan ketika manusia sudah tidak mampu lagi mengendalikan keadaan.

Namun, terkadang banyak Muslim yang keliru dalam memaknai tawakal. Mereka menyerahkan segalanya kepada Allah Swt tanpa ada usaha sedikitpun. Padahal, tawakal diwajibkan ketika keadaan di luar kemampuan manusia untuk merubahnya dan tidak diharuskan tawakal ketika masih ada kemungkinan dan kemampuan untuk mengubahnya. Tiga dimensi iman secara individual yang dibutuhkan perlu dikuatkan, dipahami dan dilaksanakan dalam keseharian.

Iman Sosial

Tidak hanya dimensi individual, iman juga harus berdimensi sosial. Esensi ajaran Islam adalah keselamatan, yang salah satu aktualisasinya adalah peduli sesama. Kepedulian adalah kekuatan, bangunan yang saling mengokohkan. Tidak beriman seseorang jika tidak mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri.

Islam mengilustrasikan orang beriman itu satu kesatuan bangunan. Ketika salah satunya terganggu, akan rusak bagian lainnya. Solidaritas dikokohkan, dalam kondisi apapun. Memang untuk berbagi dan peduli tidaklah mudah. Diilustrasikan seperti mendaki, sangat berat dan lelah. Dalam situasi sempitpun kita diminta untuk tetap berbagi, bahkan pada saat kelaparan.  Bangun kesadaran, kaya dan miskin bukan untuk dipertentangkan, namun untuk dipertemukan dalam bingkai ta’awun.

Dimensi sosial keimanan lainnya adalah taat kepada ulama dan pemimpin. Memutus rantai wabah corona harus menjadi kesadaran bersama. Ulama telah memberikan panduan, pun demikian dengan pemerintah.

Pemerintah tentu diharapkan segera memperbaiki kebijakan agar corona segera berlalu. Perbaiki data dan komunikasi kebijakan agar tidak membingungkan. Ego sektoral lupakan, berpikirlah lebih luas untuk kebaikan bersama. Bukan soal panggung pencitraan, siapa yang bekerja, berjasa, tapi soal sikap dan langkah kepahlawanan. Mungkin ini harapan berlebihan, semoga saja nurani pemimpin negeri ini terketuk, lebih memilih bekerja dalam sunyi namun nyata, dibandingkan bersengketa kebijakan lalu rakyat menjadi korban.

Iman yang Rasional

Umat Islam di Indonesia membutuhkan iman yang rasional. Iman yang salah satu dasarnya ilmu pengetahuan. Tuna ilmu pengetahuan, menjadikan umat Islam mengalami keterbelakangan. Tuhan menjanjikan derajat yang lebih tinggi bagi mereka yang beriman, beramal saleh dan berilmu pengetahuan sebagaimana dinyatakan dalam surah al-Mujadalah ayat 11.

Sebagaimana yang dikhawatirkan Muhammad Abduh, kemajuan agama Islam itu  tertutup oleh umatnya sendiri. Dimana, ajaran Islam dihapalkan lafadznya, tapi tidak berusaha mengamalkan isi kandungannya. Antara kitab suci dan akal tak perlu dipertentangkan karena keduanya merupakan petunjuk Tuhan.

Iu Rusliana (Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dosen Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin UIN Bandung)

Sumber, Republika Rabu , 03 Jun 2020, 06:55 WIB

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Tinggalkan Pesanx
()
x