UINSGD.AC.ID (Humas) — Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat iman, Islam, kesehatan, serta kesempatan kepada kita sehingga pada hari ini kita masih diberi kekuatan untuk melaksanakan ibadah salat Jumat dengan penuh kekhusyukan. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjunan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Melalui mimbar Jumat yang mulia ini, khatib mengajak diri khatib pribadi dan seluruh jamaah sekalian untuk terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebab hanya dengan ketakwaan, manusia akan memperoleh keberkahan hidup, ketenangan jiwa, serta keselamatan dunia dan akhirat.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Momentum sejarah ini mengingatkan kita pada lahirnya organisasi Budi Utomo tahun 1908 yang menjadi tonggak kesadaran nasional bangsa Indonesia untuk bangkit dari keterbelakangan, perpecahan, dan penjajahan. Para pendiri bangsa menyadari bahwa kebangkitan tidak akan lahir tanpa persatuan, ilmu pengetahuan, dan semangat pengabdian kepada tanah air.
Dalam perspektif Islam, semangat kebangkitan menuju perubahan yang lebih baik merupakan bagian dari ajaran agama. Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).
Ayat ini mengandung pesan bahwa kemajuan bangsa tidak datang secara tiba-tiba, tetapi harus diwujudkan melalui kerja keras, pendidikan, persatuan, dan kesadaran moral seluruh masyarakat.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ada beberapa pelajaran penting yang dapat kita renungkan dalam momentum Hari Kebangkitan Nasional ini.
Pertama, Kebangkitan Bangsa Harus Dimulai dari Kebangkitan Ilmu Pengetahuan.
Islam adalah agama ilmu. Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah membaca. Karena itu, kebangkitan suatu bangsa sangat bergantung pada kualitas pendidikan dan ilmu pengetahuan masyarakatnya. Rasulullah SAW bersabda:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah).
Bangsa yang maju bukan hanya bangsa yang kaya sumber daya alam, tetapi bangsa yang memiliki generasi berilmu, berakhlak, dan mampu menghadapi tantangan zaman. Karena itu, umat Islam harus menjadi pelopor dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan pendidikan yang membawa kemaslahatan bagi umat manusia.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Kedua, Kebangkitan Nasional Harus Dibangun di Atas Moral dan Kejujuran.
Kemajuan tanpa moral hanya akan melahirkan kerusakan. Hari ini kita menyaksikan berbagai persoalan sosial yang muncul akibat hilangnya integritas, kejujuran, dan amanah. Padahal Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad).
Karena itu, kebangkitan bangsa tidak cukup hanya melalui pembangunan fisik dan ekonomi, tetapi juga harus dibarengi dengan pembangunan karakter, akhlak, dan kejujuran. Ketika masyarakat menjaga amanah, menjauhi korupsi, menghormati sesama, dan menebarkan kebaikan, maka bangsa akan menjadi kuat dan bermartabat.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ketiga, Persatuan dan Kepedulian Sosial adalah Fondasi Kebangkitan Bangsa.
Hari Kebangkitan Nasional mengajarkan pentingnya persatuan. Para pendiri bangsa mampu menanggalkan perbedaan demi cita-cita bersama. Islam pun mengajarkan ukhuwah dan persaudaraan. Allah SWT berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيْعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
Artinya: “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali agama Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103).
Persatuan bangsa harus dijaga melalui sikap saling menghormati, tolong-menolong, serta kepedulian terhadap sesama. Jangan sampai perbedaan pendapat, media sosial, ataupun kepentingan duniawi memecah persaudaraan di antara anak bangsa. Sebaliknya, mari kita jadikan keberagaman sebagai kekuatan untuk membangun Indonesia yang damai dan berkeadaban.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Keempat, Mengisi Kemerdekaan dengan Amal dan Pengabdian.
Para pahlawan bangsa telah berjuang mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan Indonesia. Tugas generasi sekarang bukan lagi mengangkat senjata, tetapi mengisi kemerdekaan dengan karya, prestasi, pendidikan, akhlak mulia, serta pengabdian kepada masyarakat. Rasulullah SAW bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad).
Hadis ini mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukan pada jabatan dan kekayaan semata, tetapi sejauh mana dirinya mampu memberi manfaat bagi orang lain, masyarakat, dan bangsa.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Pada akhirnya, Hari Kebangkitan Nasional mengajarkan kepada kita bahwa kebangkitan bangsa harus dimulai dari kebangkitan iman, ilmu, akhlak, dan persatuan. Semoga Indonesia menjadi negeri yang damai, maju, bermartabat, dan penuh keberkahan. Semoga pula kita semua mampu menjadi bagian dari generasi yang menjaga persatuan, menebarkan ilmu, serta mengabdikan diri demi kemaslahatan umat dan bangsa.
Marilah kita terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjaga persatuan, memperbanyak amal saleh, menebarkan akhlak mulia, dan membangun kepedulian sosial. Semoga semangat Hari Kebangkitan Nasional menjadi energi moral untuk membangun bangsa Indonesia yang lebih adil, maju, damai, dan diridhai Allah SWT.
A. Rusdiana, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung.