UINSGD.AC.ID (Humas) — Pelaksanaan Sistem Seleksi Elektronik (SSE) Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UMPTKIN) di UIN Sunan Gunung Djati Bandung berlangsung selama 4 hari mulai Senin tanggal 8 Juni 2026 sampai dengan Kamis tanggal 11 Juni 2026 di Lecture Hall.
Sebanyak 4.631 peserta berjuang memperebutkan kursi untuk daya tampung dari 33 Prodi Sarjana yang ditawarkan di UIN Sunan Gunung Djati Bandung melalui jalur UM-PTKIN sebanyak 2.375 orang.
Setiap harinya diselenggarakan tiga sesi ujian. Sesi pertama berlangsung pukul 07.20–09.30 WIB, sesi kedua pukul 10.20–12.30 WIB, dan sesi ketiga pukul 13.20–15.30 WIB.
Dalam setiap 1 sesi diikuti oleh 400 peserta yang ditempatkan pada 16 ruangan, ditambah 1 ruangan peserta berkebutuhan khusus. Kecuali sesi ke-12 jumlah peserta ditempatkan pada 10 ruangan.
Sejumlah orang tua tampak turut mendampingi dan mengantar anak mereka ke lokasi ujian. Kehadiran orang tua menjadi bentuk dukungan moral bagi peserta yang tengah berjuang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Salah satu orang tua peserta yang hadir adalah Deti Kurniasari asal Kabupaten Tasikmalaya. Deti menyampaikan dirinya telah merasakan ketegangan sejak beberapa hari sebelum ujian berlangsung.
Menurutnya, rasa gugup tersebut muncul karena ini merupakan kesempatan kedua bagi putrinya untuk mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi setelah sebelumnya mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).
Dengan harapan putrinya dapat memperoleh hasil yang lebih baik pada seleksi kali ini. “Yang pasti deg-degan. Bahkan dari beberapa hari sebelumnya saya sudah ikut deg-degan karena ini merupakan tes yang kedua kalinya bagi anak saya,” ujarnya, Rabu (10/06/2026).
Deti mengaku sengaja mengantar langsung putrinya, Suroya Nadira Rahel, hingga ke lokasi ujian untuk memberikan semangat. Ia menilai kehadiran orang tua dapat memberikan rasa nyaman dan meningkatkan kepercayaan diri anak saat menghadapi ujian yang menentukan masa depan pendidikan mereka.
Selain memberikan dukungan secara langsung, Deti melakukan berbagai persiapan sebelum hari ujian. Ia rutin mengingatkan putrinya untuk belajar dan mengikuti latihan soal. Untuk menghindari keterlambatan, mereka berangkat dari Tasikmalaya sehari sebelum ujian dan menginap di tempat kerabat yang berada di sekitar kampus.
“Saya ingin memberikan semangat dan biar dia merasa ada yang mendukung dari orang tuanya. Mudah-mudahan dengan saya datang ke sini dia bisa lebih tenang dan percaya diri,” katanya.
Menurut Deti, lingkungan UIN Sunan Gunung Djati Bandung memberikan kesan yang positif. Ia menilai suasana kampus cukup nyaman, aman, dan kondusif untuk pelaksanaan ujian. Kondisi tersebut dinilai mampu membantu peserta lebih fokus dan tenang saat mengerjakan soal.
“Tantangan terbesar sebagai orang tua adalah memperbaiki mental anak setelah gagal di seleksi sebelumnya. Kami harus terus memberi semangat dan meyakinkan dia untuk tetap berusaha,” ungkap Deti.
Ia berharap putrinya dapat memperoleh hasil terbaik dan lolos menjadi mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. (Sahara Putri Amiliana / Magang).