UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Seremoni MTQ

Bengkulu akan menjadi sorotan umat Islam khususnya di Indonesia. Di kota tersebut, akan dilaksanakan perhelatan tahunan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Nasional XXIII. Sebanyak 2.420 orang kafilah dari 33 provinsi akan memeriahkan perhelatan nasional yang akan digelar pada Juni 2010 ini.Sejauh mana MTQ memberi peranan dalam penghayatan terhadap nilai-nilai yang dikandung Alquran? Sejauh mana MTQ memberi peranan dalam menyelesaikan krisis moral? Ini merupakan sebuah pertanyaan yang sangat penting untuk dijawab oleh siapa saja yang terlibat dalam penyelenggaraan MTQ, mulai dari tingkat desa sampai tingkat nasional.MTQ adalah lembaga keislaman di bidang seni baca dan penguasaan isi Alquran. Kelembagaannya dimulai sejak tahun 1962. Menteri agama telah menerbitkan keputusan No 70 Tahun 1962 tentang latihan membaca Alquran/MTQ. Keputusan menteri agama ini dimaksudkan untuk menyempurnakan tugas-tugas Jawatan Pendidikan Agama pada saat itu dalam menyelenggarakan pendidikan, khususnya dalam meningkatkan mutu membaca Alquran bagi murid-murid madrasah/sekolah.Kemudian, pada 1968 dilak-sanakan MTQ tingkat nasional yang pertama, khusus untuk golongan dewasa pria dan wanita. Kegiatan tilawatil Quran dengan berbagai aspeknya semenjak Orde Baru bertambah pesat dan tersebar ke seluruh pelosok tanah air. Sehingga, menjangkau lapisan masyarakat yang sangat luas dan menggema ke seluruh dunia. Hal ini dibuktikan dengan ikut sertanya Indonesia dalam berbagai Musabaqah Tilawatil Quran di luar negeri. Lahirnya Orde Baru telah memberikan angin segar bagi semaraknya Alquran, sebagaimana terbukti dengan diselenggarakannya MTQ secara nasional di Kota Ujung Pandang pada 1968.Dari tahun ke tahun, Tilawatil Quran ini makin melembaga dan memasyarakat sehingga sewindu kemudian, tepatnya pada tahun 1977, pemerintah membentuk Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ), baik di tingkat pusat maupun daerah di seluruh Indonesia sampai tingkat kecamatan.Penyelenggaraan MTQ memang merupakan sebuah keberhasilan umat Islam. Betapa tidak, perhelatan ini mendapat sokongan dari pemerintah daerah sampai pusat.Jadi, ada dua tujuan dasar dalam setiap penyelenggaraan MTQ Internalisasi nilai-nilai Alquran dan memupuk kecintaan generasi muda terhadap Alquran. Kedua tujuan ini seharusnya yang menjadi na-waytu (baca niat) pihak penyelenggara. Ini penting karena secara teologis nilai dari setiap aktivitas sangat bergantung pada niatnya. Bahwa menjadi juara merupakan sesuatu yangpenting, tetapi tidaklah menjadi tujuan yang primer, cukup hanya sekunder. Kedua tujuan di atas mendapatjustifikasi yang kuat dari banyak dalil, terutama yang mengingatkan umat Islam tentang pentingnya membaca Alquran dan meng-internalisasikan nilainya dalam kehidupan sehari-hari.Dalam keyakinan umat Islam, Alquran tidak saja enak untuk dibaca, tetapi juga kandungan-kandungannya mampu memberikan solusi bagi persoalan manusia (hudan linnas). Menyangkut peran yang substantif ini, kita mendapat kritik dari diri kita sendiri. Negara Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim dan yang- seharusnya- berpegang teguh terhadap Alquran, ternyata tidak memberikan andil yang memuaskan dalam menyelesaikan problem yang sedang dihadapi bangsa. Tentu saja kita tidak menggugat Alquran, karena secara operasional memang Alquran akan bermakna kalau isinya diimplementasikan oleh pembacanya.Tanpa itu, Alquran hanya merupakan bahan bacaan yang tidak memiliki tawaran pemecahan masalah. Inilah mungkin yang dimaksud oleh sabda Nabi, “Akan tiba suatu zaman saat tidak ada yang tersisa dalam Alquran kecuali tulisannya.” Jadi, persoalannya adalah bagaimana caranya berinteraksi dengan Alquran.Ada harapan besar yang kita berikan kepada penyelenggaraan MTQ kali ini. Hendaklah penyelenggaraan ini tidak sekadar seremonial, tetapi juga yang paling penting adalah menangkap substansinya, yakni kedua tujuan MTQ, seba-gaimana telah disebutkan di atas, yakni internalisasi nilai-nilai Alquran dan memupuk kecintaan generasi muda terhadap Alquran.Untuk mengubah paradigma ukuran kesuksesan MTQ dari seremoni ke substansi memang diperlukan perenungan yang mendalam. Tapi, yakinlah apa pun usaha ke arah itu-jika dilakukan dengan tulus-akan bernilai ibadah. Sebenarnya, ada beberapa lembaga yang dapat dilibatkan dalam perenungan ini. Di Indonesia, umpamanya memiliki Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ). Lembaga ini tentu berperan sebagai penyelenggara sekaligus peng-evaluasi setiap penyelenggaraan MTQ. Apalagi, tujuan pembentukan lembaga ini adalah mewujudkan penghayatan dan pengamalan Alquran dalam masyarakat Indonesia yang berdasarkan Pancasila, juga untuk memelihara dan meningkatkan mutu seni baca Alquran sebagai upaya pembentukan budaya nasional.LPTQ dapat dijadikan semacam pusat evaluasi dan pengembangan MTQ. Di sini dirumuskan berbagai indikasi keberhasilan sebuah penyelenggaraan MTQ sekaligus dipikirkan pengembangan-pengembangan baru tentang model penyelenggaraan yang baru. Model penyelenggaraan baru ini adalah yang berbasis substansi, di samping yang seremoni. Kita mengharapkan setiap penyelenggaraan MTQ memiliki nuansa religius yang tipikal, tidak begitu-begitu saja. Jadi, setiap penyelenggaraan memiliki semacam kurikulum tertentu.Sumber Republika, 14 Mei 2010

Bengkulu akan menjadi sorotan umat Islam khususnya di Indonesia. Di kota tersebut, akan dilaksanakan perhelatan tahunan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Nasional XXIII. Sebanyak 2.420 orang kafilah dari 33 provinsi akan memeriahkan perhelatan nasional yang akan digelar pada Juni 2010 ini.Sejauh mana MTQ memberi peranan dalam penghayatan terhadap nilai-nilai yang dikandung Alquran? Sejauh mana MTQ memberi peranan dalam menyelesaikan krisis moral? Ini merupakan sebuah pertanyaan yang sangat penting untuk dijawab oleh siapa saja yang terlibat dalam penyelenggaraan MTQ, mulai dari tingkat desa sampai tingkat nasional.MTQ adalah lembaga keislaman di bidang seni baca dan penguasaan isi Alquran. Kelembagaannya dimulai sejak tahun 1962. Menteri agama telah menerbitkan keputusan No 70 Tahun 1962 tentang latihan membaca Alquran/MTQ. Keputusan menteri agama ini dimaksudkan untuk menyempurnakan tugas-tugas Jawatan Pendidikan Agama pada saat itu dalam menyelenggarakan pendidikan, khususnya dalam meningkatkan mutu membaca Alquran bagi murid-murid madrasah/sekolah.Kemudian, pada 1968 dilak-sanakan MTQ tingkat nasional yang pertama, khusus untuk golongan dewasa pria dan wanita. Kegiatan tilawatil Quran dengan berbagai aspeknya semenjak Orde Baru bertambah pesat dan tersebar ke seluruh pelosok tanah air. Sehingga, menjangkau lapisan masyarakat yang sangat luas dan menggema ke seluruh dunia. Hal ini dibuktikan dengan ikut sertanya Indonesia dalam berbagai Musabaqah Tilawatil Quran di luar negeri. Lahirnya Orde Baru telah memberikan angin segar bagi semaraknya Alquran, sebagaimana terbukti dengan diselenggarakannya MTQ secara nasional di Kota Ujung Pandang pada 1968.Dari tahun ke tahun, Tilawatil Quran ini makin melembaga dan memasyarakat sehingga sewindu kemudian, tepatnya pada tahun 1977, pemerintah membentuk Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ), baik di tingkat pusat maupun daerah di seluruh Indonesia sampai tingkat kecamatan.Penyelenggaraan MTQ memang merupakan sebuah keberhasilan umat Islam. Betapa tidak, perhelatan ini mendapat sokongan dari pemerintah daerah sampai pusat.Jadi, ada dua tujuan dasar dalam setiap penyelenggaraan MTQ Internalisasi nilai-nilai Alquran dan memupuk kecintaan generasi muda terhadap Alquran. Kedua tujuan ini seharusnya yang menjadi na-waytu (baca niat) pihak penyelenggara. Ini penting karena secara teologis nilai dari setiap aktivitas sangat bergantung pada niatnya. Bahwa menjadi juara merupakan sesuatu yangpenting, tetapi tidaklah menjadi tujuan yang primer, cukup hanya sekunder. Kedua tujuan di atas mendapatjustifikasi yang kuat dari banyak dalil, terutama yang mengingatkan umat Islam tentang pentingnya membaca Alquran dan meng-internalisasikan nilainya dalam kehidupan sehari-hari.Dalam keyakinan umat Islam, Alquran tidak saja enak untuk dibaca, tetapi juga kandungan-kandungannya mampu memberikan solusi bagi persoalan manusia (hudan linnas). Menyangkut peran yang substantif ini, kita mendapat kritik dari diri kita sendiri. Negara Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim dan yang- seharusnya- berpegang teguh terhadap Alquran, ternyata tidak memberikan andil yang memuaskan dalam menyelesaikan problem yang sedang dihadapi bangsa. Tentu saja kita tidak menggugat Alquran, karena secara operasional memang Alquran akan bermakna kalau isinya diimplementasikan oleh pembacanya.Tanpa itu, Alquran hanya merupakan bahan bacaan yang tidak memiliki tawaran pemecahan masalah. Inilah mungkin yang dimaksud oleh sabda Nabi, “Akan tiba suatu zaman saat tidak ada yang tersisa dalam Alquran kecuali tulisannya.” Jadi, persoalannya adalah bagaimana caranya berinteraksi dengan Alquran.Ada harapan besar yang kita berikan kepada penyelenggaraan MTQ kali ini. Hendaklah penyelenggaraan ini tidak sekadar seremonial, tetapi juga yang paling penting adalah menangkap substansinya, yakni kedua tujuan MTQ, seba-gaimana telah disebutkan di atas, yakni internalisasi nilai-nilai Alquran dan memupuk kecintaan generasi muda terhadap Alquran.Untuk mengubah paradigma ukuran kesuksesan MTQ dari seremoni ke substansi memang diperlukan perenungan yang mendalam. Tapi, yakinlah apa pun usaha ke arah itu-jika dilakukan dengan tulus-akan bernilai ibadah. Sebenarnya, ada beberapa lembaga yang dapat dilibatkan dalam perenungan ini. Di Indonesia, umpamanya memiliki Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ). Lembaga ini tentu berperan sebagai penyelenggara sekaligus peng-evaluasi setiap penyelenggaraan MTQ. Apalagi, tujuan pembentukan lembaga ini adalah mewujudkan penghayatan dan pengamalan Alquran dalam masyarakat Indonesia yang berdasarkan Pancasila, juga untuk memelihara dan meningkatkan mutu seni baca Alquran sebagai upaya pembentukan budaya nasional.LPTQ dapat dijadikan semacam pusat evaluasi dan pengembangan MTQ. Di sini dirumuskan berbagai indikasi keberhasilan sebuah penyelenggaraan MTQ sekaligus dipikirkan pengembangan-pengembangan baru tentang model penyelenggaraan yang baru. Model penyelenggaraan baru ini adalah yang berbasis substansi, di samping yang seremoni. Kita mengharapkan setiap penyelenggaraan MTQ memiliki nuansa religius yang tipikal, tidak begitu-begitu saja. Jadi, setiap penyelenggaraan memiliki semacam kurikulum tertentu.Sumber Republika, 14 Mei 2010

Bengkulu akan menjadi sorotan umat Islam khususnya di Indonesia. Di kota tersebut, akan dilaksanakan perhelatan tahunan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Nasional XXIII. Sebanyak 2.420 orang kafilah dari 33 provinsi akan memeriahkan perhelatan nasional yang akan digelar pada Juni 2010 ini.Sejauh mana MTQ memberi peranan dalam penghayatan terhadap nilai-nilai yang dikandung Alquran? Sejauh mana MTQ memberi peranan dalam menyelesaikan krisis moral? Ini merupakan sebuah pertanyaan yang sangat penting untuk dijawab oleh siapa saja yang terlibat dalam penyelenggaraan MTQ, mulai dari tingkat desa sampai tingkat nasional.MTQ adalah lembaga keislaman di bidang seni baca dan penguasaan isi Alquran. Kelembagaannya dimulai sejak tahun 1962. Menteri agama telah menerbitkan keputusan No 70 Tahun 1962 tentang latihan membaca Alquran/MTQ. Keputusan menteri agama ini dimaksudkan untuk menyempurnakan tugas-tugas Jawatan Pendidikan Agama pada saat itu dalam menyelenggarakan pendidikan, khususnya dalam meningkatkan mutu membaca Alquran bagi murid-murid madrasah/sekolah.Kemudian, pada 1968 dilak-sanakan MTQ tingkat nasional yang pertama, khusus untuk golongan dewasa pria dan wanita. Kegiatan tilawatil Quran dengan berbagai aspeknya semenjak Orde Baru bertambah pesat dan tersebar ke seluruh pelosok tanah air. Sehingga, menjangkau lapisan masyarakat yang sangat luas dan menggema ke seluruh dunia. Hal ini dibuktikan dengan ikut sertanya Indonesia dalam berbagai Musabaqah Tilawatil Quran di luar negeri. Lahirnya Orde Baru telah memberikan angin segar bagi semaraknya Alquran, sebagaimana terbukti dengan diselenggarakannya MTQ secara nasional di Kota Ujung Pandang pada 1968.Dari tahun ke tahun, Tilawatil Quran ini makin melembaga dan memasyarakat sehingga sewindu kemudian, tepatnya pada tahun 1977, pemerintah membentuk Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ), baik di tingkat pusat maupun daerah di seluruh Indonesia sampai tingkat kecamatan.Penyelenggaraan MTQ memang merupakan sebuah keberhasilan umat Islam. Betapa tidak, perhelatan ini mendapat sokongan dari pemerintah daerah sampai pusat.Jadi, ada dua tujuan dasar dalam setiap penyelenggaraan MTQ Internalisasi nilai-nilai Alquran dan memupuk kecintaan generasi muda terhadap Alquran. Kedua tujuan ini seharusnya yang menjadi na-waytu (baca niat) pihak penyelenggara. Ini penting karena secara teologis nilai dari setiap aktivitas sangat bergantung pada niatnya. Bahwa menjadi juara merupakan sesuatu yangpenting, tetapi tidaklah menjadi tujuan yang primer, cukup hanya sekunder. Kedua tujuan di atas mendapatjustifikasi yang kuat dari banyak dalil, terutama yang mengingatkan umat Islam tentang pentingnya membaca Alquran dan meng-internalisasikan nilainya dalam kehidupan sehari-hari.Dalam keyakinan umat Islam, Alquran tidak saja enak untuk dibaca, tetapi juga kandungan-kandungannya mampu memberikan solusi bagi persoalan manusia (hudan linnas). Menyangkut peran yang substantif ini, kita mendapat kritik dari diri kita sendiri. Negara Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim dan yang- seharusnya- berpegang teguh terhadap Alquran, ternyata tidak memberikan andil yang memuaskan dalam menyelesaikan problem yang sedang dihadapi bangsa. Tentu saja kita tidak menggugat Alquran, karena secara operasional memang Alquran akan bermakna kalau isinya diimplementasikan oleh pembacanya.Tanpa itu, Alquran hanya merupakan bahan bacaan yang tidak memiliki tawaran pemecahan masalah. Inilah mungkin yang dimaksud oleh sabda Nabi, “Akan tiba suatu zaman saat tidak ada yang tersisa dalam Alquran kecuali tulisannya.” Jadi, persoalannya adalah bagaimana caranya berinteraksi dengan Alquran.Ada harapan besar yang kita berikan kepada penyelenggaraan MTQ kali ini. Hendaklah penyelenggaraan ini tidak sekadar seremonial, tetapi juga yang paling penting adalah menangkap substansinya, yakni kedua tujuan MTQ, seba-gaimana telah disebutkan di atas, yakni internalisasi nilai-nilai Alquran dan memupuk kecintaan generasi muda terhadap Alquran.Untuk mengubah paradigma ukuran kesuksesan MTQ dari seremoni ke substansi memang diperlukan perenungan yang mendalam. Tapi, yakinlah apa pun usaha ke arah itu-jika dilakukan dengan tulus-akan bernilai ibadah. Sebenarnya, ada beberapa lembaga yang dapat dilibatkan dalam perenungan ini. Di Indonesia, umpamanya memiliki Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ). Lembaga ini tentu berperan sebagai penyelenggara sekaligus peng-evaluasi setiap penyelenggaraan MTQ. Apalagi, tujuan pembentukan lembaga ini adalah mewujudkan penghayatan dan pengamalan Alquran dalam masyarakat Indonesia yang berdasarkan Pancasila, juga untuk memelihara dan meningkatkan mutu seni baca Alquran sebagai upaya pembentukan budaya nasional.LPTQ dapat dijadikan semacam pusat evaluasi dan pengembangan MTQ. Di sini dirumuskan berbagai indikasi keberhasilan sebuah penyelenggaraan MTQ sekaligus dipikirkan pengembangan-pengembangan baru tentang model penyelenggaraan yang baru. Model penyelenggaraan baru ini adalah yang berbasis substansi, di samping yang seremoni. Kita mengharapkan setiap penyelenggaraan MTQ memiliki nuansa religius yang tipikal, tidak begitu-begitu saja. Jadi, setiap penyelenggaraan memiliki semacam kurikulum tertentu.Sumber Republika, 14 Mei 2010

Bengkulu akan menjadi sorotan umat Islam khususnya di Indonesia. Di kota tersebut, akan dilaksanakan perhelatan tahunan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Nasional XXIII. Sebanyak 2.420 orang kafilah dari 33 provinsi akan memeriahkan perhelatan nasional yang akan digelar pada Juni 2010 ini.Sejauh mana MTQ memberi peranan dalam penghayatan terhadap nilai-nilai yang dikandung Alquran? Sejauh mana MTQ memberi peranan dalam menyelesaikan krisis moral? Ini merupakan sebuah pertanyaan yang sangat penting untuk dijawab oleh siapa saja yang terlibat dalam penyelenggaraan MTQ, mulai dari tingkat desa sampai tingkat nasional.MTQ adalah lembaga keislaman di bidang seni baca dan penguasaan isi Alquran. Kelembagaannya dimulai sejak tahun 1962. Menteri agama telah menerbitkan keputusan No 70 Tahun 1962 tentang latihan membaca Alquran/MTQ. Keputusan menteri agama ini dimaksudkan untuk menyempurnakan tugas-tugas Jawatan Pendidikan Agama pada saat itu dalam menyelenggarakan pendidikan, khususnya dalam meningkatkan mutu membaca Alquran bagi murid-murid madrasah/sekolah.Kemudian, pada 1968 dilak-sanakan MTQ tingkat nasional yang pertama, khusus untuk golongan dewasa pria dan wanita. Kegiatan tilawatil Quran dengan berbagai aspeknya semenjak Orde Baru bertambah pesat dan tersebar ke seluruh pelosok tanah air. Sehingga, menjangkau lapisan masyarakat yang sangat luas dan menggema ke seluruh dunia. Hal ini dibuktikan dengan ikut sertanya Indonesia dalam berbagai Musabaqah Tilawatil Quran di luar negeri. Lahirnya Orde Baru telah memberikan angin segar bagi semaraknya Alquran, sebagaimana terbukti dengan diselenggarakannya MTQ secara nasional di Kota Ujung Pandang pada 1968.Dari tahun ke tahun, Tilawatil Quran ini makin melembaga dan memasyarakat sehingga sewindu kemudian, tepatnya pada tahun 1977, pemerintah membentuk Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ), baik di tingkat pusat maupun daerah di seluruh Indonesia sampai tingkat kecamatan.Penyelenggaraan MTQ memang merupakan sebuah keberhasilan umat Islam. Betapa tidak, perhelatan ini mendapat sokongan dari pemerintah daerah sampai pusat.Jadi, ada dua tujuan dasar dalam setiap penyelenggaraan MTQ Internalisasi nilai-nilai Alquran dan memupuk kecintaan generasi muda terhadap Alquran. Kedua tujuan ini seharusnya yang menjadi na-waytu (baca niat) pihak penyelenggara. Ini penting karena secara teologis nilai dari setiap aktivitas sangat bergantung pada niatnya. Bahwa menjadi juara merupakan sesuatu yangpenting, tetapi tidaklah menjadi tujuan yang primer, cukup hanya sekunder. Kedua tujuan di atas mendapatjustifikasi yang kuat dari banyak dalil, terutama yang mengingatkan umat Islam tentang pentingnya membaca Alquran dan meng-internalisasikan nilainya dalam kehidupan sehari-hari.Dalam keyakinan umat Islam, Alquran tidak saja enak untuk dibaca, tetapi juga kandungan-kandungannya mampu memberikan solusi bagi persoalan manusia (hudan linnas). Menyangkut peran yang substantif ini, kita mendapat kritik dari diri kita sendiri. Negara Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim dan yang- seharusnya- berpegang teguh terhadap Alquran, ternyata tidak memberikan andil yang memuaskan dalam menyelesaikan problem yang sedang dihadapi bangsa. Tentu saja kita tidak menggugat Alquran, karena secara operasional memang Alquran akan bermakna kalau isinya diimplementasikan oleh pembacanya.Tanpa itu, Alquran hanya merupakan bahan bacaan yang tidak memiliki tawaran pemecahan masalah. Inilah mungkin yang dimaksud oleh sabda Nabi, “Akan tiba suatu zaman saat tidak ada yang tersisa dalam Alquran kecuali tulisannya.” Jadi, persoalannya adalah bagaimana caranya berinteraksi dengan Alquran.Ada harapan besar yang kita berikan kepada penyelenggaraan MTQ kali ini. Hendaklah penyelenggaraan ini tidak sekadar seremonial, tetapi juga yang paling penting adalah menangkap substansinya, yakni kedua tujuan MTQ, seba-gaimana telah disebutkan di atas, yakni internalisasi nilai-nilai Alquran dan memupuk kecintaan generasi muda terhadap Alquran.Untuk mengubah paradigma ukuran kesuksesan MTQ dari seremoni ke substansi memang diperlukan perenungan yang mendalam. Tapi, yakinlah apa pun usaha ke arah itu-jika dilakukan dengan tulus-akan bernilai ibadah. Sebenarnya, ada beberapa lembaga yang dapat dilibatkan dalam perenungan ini. Di Indonesia, umpamanya memiliki Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ). Lembaga ini tentu berperan sebagai penyelenggara sekaligus peng-evaluasi setiap penyelenggaraan MTQ. Apalagi, tujuan pembentukan lembaga ini adalah mewujudkan penghayatan dan pengamalan Alquran dalam masyarakat Indonesia yang berdasarkan Pancasila, juga untuk memelihara dan meningkatkan mutu seni baca Alquran sebagai upaya pembentukan budaya nasional.LPTQ dapat dijadikan semacam pusat evaluasi dan pengembangan MTQ. Di sini dirumuskan berbagai indikasi keberhasilan sebuah penyelenggaraan MTQ sekaligus dipikirkan pengembangan-pengembangan baru tentang model penyelenggaraan yang baru. Model penyelenggaraan baru ini adalah yang berbasis substansi, di samping yang seremoni. Kita mengharapkan setiap penyelenggaraan MTQ memiliki nuansa religius yang tipikal, tidak begitu-begitu saja. Jadi, setiap penyelenggaraan memiliki semacam kurikulum tertentu.Sumber Republika, 14 Mei 2010

Bengkulu akan menjadi sorotan umat Islam khususnya di Indonesia. Di kota tersebut, akan dilaksanakan perhelatan tahunan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Nasional XXIII. Sebanyak 2.420 orang kafilah dari 33 provinsi akan memeriahkan perhelatan nasional yang akan digelar pada Juni 2010 ini.Sejauh mana MTQ memberi peranan dalam penghayatan terhadap nilai-nilai yang dikandung Alquran? Sejauh mana MTQ memberi peranan dalam menyelesaikan krisis moral? Ini merupakan sebuah pertanyaan yang sangat penting untuk dijawab oleh siapa saja yang terlibat dalam penyelenggaraan MTQ, mulai dari tingkat desa sampai tingkat nasional.MTQ adalah lembaga keislaman di bidang seni baca dan penguasaan isi Alquran. Kelembagaannya dimulai sejak tahun 1962. Menteri agama telah menerbitkan keputusan No 70 Tahun 1962 tentang latihan membaca Alquran/MTQ. Keputusan menteri agama ini dimaksudkan untuk menyempurnakan tugas-tugas Jawatan Pendidikan Agama pada saat itu dalam menyelenggarakan pendidikan, khususnya dalam meningkatkan mutu membaca Alquran bagi murid-murid madrasah/sekolah.Kemudian, pada 1968 dilak-sanakan MTQ tingkat nasional yang pertama, khusus untuk golongan dewasa pria dan wanita. Kegiatan tilawatil Quran dengan berbagai aspeknya semenjak Orde Baru bertambah pesat dan tersebar ke seluruh pelosok tanah air. Sehingga, menjangkau lapisan masyarakat yang sangat luas dan menggema ke seluruh dunia. Hal ini dibuktikan dengan ikut sertanya Indonesia dalam berbagai Musabaqah Tilawatil Quran di luar negeri. Lahirnya Orde Baru telah memberikan angin segar bagi semaraknya Alquran, sebagaimana terbukti dengan diselenggarakannya MTQ secara nasional di Kota Ujung Pandang pada 1968.Dari tahun ke tahun, Tilawatil Quran ini makin melembaga dan memasyarakat sehingga sewindu kemudian, tepatnya pada tahun 1977, pemerintah membentuk Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ), baik di tingkat pusat maupun daerah di seluruh Indonesia sampai tingkat kecamatan.Penyelenggaraan MTQ memang merupakan sebuah keberhasilan umat Islam. Betapa tidak, perhelatan ini mendapat sokongan dari pemerintah daerah sampai pusat.Jadi, ada dua tujuan dasar dalam setiap penyelenggaraan MTQ Internalisasi nilai-nilai Alquran dan memupuk kecintaan generasi muda terhadap Alquran. Kedua tujuan ini seharusnya yang menjadi na-waytu (baca niat) pihak penyelenggara. Ini penting karena secara teologis nilai dari setiap aktivitas sangat bergantung pada niatnya. Bahwa menjadi juara merupakan sesuatu yangpenting, tetapi tidaklah menjadi tujuan yang primer, cukup hanya sekunder. Kedua tujuan di atas mendapatjustifikasi yang kuat dari banyak dalil, terutama yang mengingatkan umat Islam tentang pentingnya membaca Alquran dan meng-internalisasikan nilainya dalam kehidupan sehari-hari.Dalam keyakinan umat Islam, Alquran tidak saja enak untuk dibaca, tetapi juga kandungan-kandungannya mampu memberikan solusi bagi persoalan manusia (hudan linnas). Menyangkut peran yang substantif ini, kita mendapat kritik dari diri kita sendiri. Negara Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim dan yang- seharusnya- berpegang teguh terhadap Alquran, ternyata tidak memberikan andil yang memuaskan dalam menyelesaikan problem yang sedang dihadapi bangsa. Tentu saja kita tidak menggugat Alquran, karena secara operasional memang Alquran akan bermakna kalau isinya diimplementasikan oleh pembacanya.Tanpa itu, Alquran hanya merupakan bahan bacaan yang tidak memiliki tawaran pemecahan masalah. Inilah mungkin yang dimaksud oleh sabda Nabi, “Akan tiba suatu zaman saat tidak ada yang tersisa dalam Alquran kecuali tulisannya.” Jadi, persoalannya adalah bagaimana caranya berinteraksi dengan Alquran.Ada harapan besar yang kita berikan kepada penyelenggaraan MTQ kali ini. Hendaklah penyelenggaraan ini tidak sekadar seremonial, tetapi juga yang paling penting adalah menangkap substansinya, yakni kedua tujuan MTQ, seba-gaimana telah disebutkan di atas, yakni internalisasi nilai-nilai Alquran dan memupuk kecintaan generasi muda terhadap Alquran.Untuk mengubah paradigma ukuran kesuksesan MTQ dari seremoni ke substansi memang diperlukan perenungan yang mendalam. Tapi, yakinlah apa pun usaha ke arah itu-jika dilakukan dengan tulus-akan bernilai ibadah. Sebenarnya, ada beberapa lembaga yang dapat dilibatkan dalam perenungan ini. Di Indonesia, umpamanya memiliki Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ). Lembaga ini tentu berperan sebagai penyelenggara sekaligus peng-evaluasi setiap penyelenggaraan MTQ. Apalagi, tujuan pembentukan lembaga ini adalah mewujudkan penghayatan dan pengamalan Alquran dalam masyarakat Indonesia yang berdasarkan Pancasila, juga untuk memelihara dan meningkatkan mutu seni baca Alquran sebagai upaya pembentukan budaya nasional.LPTQ dapat dijadikan semacam pusat evaluasi dan pengembangan MTQ. Di sini dirumuskan berbagai indikasi keberhasilan sebuah penyelenggaraan MTQ sekaligus dipikirkan pengembangan-pengembangan baru tentang model penyelenggaraan yang baru. Model penyelenggaraan baru ini adalah yang berbasis substansi, di samping yang seremoni. Kita mengharapkan setiap penyelenggaraan MTQ memiliki nuansa religius yang tipikal, tidak begitu-begitu saja. Jadi, setiap penyelenggaraan memiliki semacam kurikulum tertentu.Sumber Republika, 14 Mei 2010

Bengkulu akan menjadi sorotan umat Islam khususnya di Indonesia. Di kota tersebut, akan dilaksanakan perhelatan tahunan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Nasional XXIII. Sebanyak 2.420 orang kafilah dari 33 provinsi akan memeriahkan perhelatan nasional yang akan digelar pada Juni 2010 ini.

Sejauh mana MTQ memberi peranan dalam penghayatan terhadap nilai-nilai yang dikandung Alquran? Sejauh mana MTQ memberi peranan dalam menyelesaikan krisis moral? Ini merupakan sebuah pertanyaan yang sangat penting untuk dijawab oleh siapa saja yang terlibat dalam penyelenggaraan MTQ, mulai dari tingkat desa sampai tingkat nasional.

MTQ adalah lembaga keislaman di bidang seni baca dan penguasaan isi Alquran. Kelembagaannya dimulai sejak tahun 1962. Menteri agama telah menerbitkan keputusan No 70 Tahun 1962 tentang latihan membaca Alquran/MTQ. Keputusan menteri agama ini dimaksudkan untuk menyempurnakan tugas-tugas Jawatan Pendidikan Agama pada saat itu dalam menyelenggarakan pendidikan, khususnya dalam meningkatkan mutu membaca Alquran bagi murid-murid madrasah/sekolah.

Kemudian, pada 1968 dilak-sanakan MTQ tingkat nasional yang pertama, khusus untuk golongan dewasa pria dan wanita. Kegiatan tilawatil Quran dengan berbagai aspeknya semenjak Orde Baru bertambah pesat dan tersebar ke seluruh pelosok tanah air. Sehingga, menjangkau lapisan masyarakat yang sangat luas dan menggema ke seluruh dunia. Hal ini dibuktikan dengan ikut sertanya Indonesia dalam berbagai Musabaqah Tilawatil Quran di luar negeri. Lahirnya Orde Baru telah memberikan angin segar bagi semaraknya Alquran, sebagaimana terbukti dengan diselenggarakannya MTQ secara nasional di Kota Ujung Pandang pada 1968.

Dari tahun ke tahun, Tilawatil Quran ini makin melembaga dan memasyarakat sehingga sewindu kemudian, tepatnya pada tahun 1977, pemerintah membentuk Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ), baik di tingkat pusat maupun daerah di seluruh Indonesia sampai tingkat kecamatan.Penyelenggaraan MTQ memang merupakan sebuah keberhasilan umat Islam. Betapa tidak, perhelatan ini mendapat sokongan dari pemerintah daerah sampai pusat.

Jadi, ada dua tujuan dasar dalam setiap penyelenggaraan MTQ Internalisasi nilai-nilai Alquran dan memupuk kecintaan generasi muda terhadap Alquran. Kedua tujuan ini seharusnya yang menjadi na-waytu (baca niat) pihak penyelenggara. Ini penting karena secara teologis nilai dari setiap aktivitas sangat bergantung pada niatnya. Bahwa menjadi juara merupakan sesuatu yangpenting, tetapi tidaklah menjadi tujuan yang primer, cukup hanya sekunder. Kedua tujuan di atas mendapatjustifikasi yang kuat dari banyak dalil, terutama yang mengingatkan umat Islam tentang pentingnya membaca Alquran dan meng-internalisasikan nilainya dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam keyakinan umat Islam, Alquran tidak saja enak untuk dibaca, tetapi juga kandungan-kandungannya mampu memberikan solusi bagi persoalan manusia (hudan linnas). Menyangkut peran yang substantif ini, kita mendapat kritik dari diri kita sendiri. Negara Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim dan yang- seharusnya- berpegang teguh terhadap Alquran, ternyata tidak memberikan andil yang memuaskan dalam menyelesaikan problem yang sedang dihadapi bangsa. Tentu saja kita tidak menggugat Alquran, karena secara operasional memang Alquran akan bermakna kalau isinya diimplementasikan oleh pembacanya.

Tanpa itu, Alquran hanya merupakan bahan bacaan yang tidak memiliki tawaran pemecahan masalah. Inilah mungkin yang dimaksud oleh sabda Nabi, “Akan tiba suatu zaman saat tidak ada yang tersisa dalam Alquran kecuali tulisannya.” Jadi, persoalannya adalah bagaimana caranya berinteraksi dengan Alquran.Ada harapan besar yang kita berikan kepada penyelenggaraan MTQ kali ini. Hendaklah penyelenggaraan ini tidak sekadar seremonial, tetapi juga yang paling penting adalah menangkap substansinya, yakni kedua tujuan MTQ, seba-gaimana telah disebutkan di atas, yakni internalisasi nilai-nilai Alquran dan memupuk kecintaan generasi muda terhadap Alquran.

Untuk mengubah paradigma ukuran kesuksesan MTQ dari seremoni ke substansi memang diperlukan perenungan yang mendalam. Tapi, yakinlah apa pun usaha ke arah itu-jika dilakukan dengan tulus-akan bernilai ibadah. Sebenarnya, ada beberapa lembaga yang dapat dilibatkan dalam perenungan ini. Di Indonesia, umpamanya memiliki Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ). Lembaga ini tentu berperan sebagai penyelenggara sekaligus peng-evaluasi setiap penyelenggaraan MTQ. Apalagi, tujuan pembentukan lembaga ini adalah mewujudkan penghayatan dan pengamalan Alquran dalam masyarakat Indonesia yang berdasarkan Pancasila, juga untuk memelihara dan meningkatkan mutu seni baca Alquran sebagai upaya pembentukan budaya nasional.

LPTQ dapat dijadikan semacam pusat evaluasi dan pengembangan MTQ. Di sini dirumuskan berbagai indikasi keberhasilan sebuah penyelenggaraan MTQ sekaligus dipikirkan pengembangan-pengembangan baru tentang model penyelenggaraan yang baru. Model penyelenggaraan baru ini adalah yang berbasis substansi, di samping yang seremoni. Kita mengharapkan setiap penyelenggaraan MTQ memiliki nuansa religius yang tipikal, tidak begitu-begitu saja. Jadi, setiap penyelenggaraan memiliki semacam kurikulum tertentu.

Sumber Republika, 14 Mei 2010