UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Rektor: UIN Harus Jadi Pusat Ilmu Hukum Islam

[www.uinsgd.ac.id] Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Dedy Ismatullah, SH., M.Hum berharap agar UIN ke depan menjadi pusat pembelajaran hukum Islam. Hal tersebut disampaikannya saat menyampaikan amanat dalam acara pelantikan sejumlah pejabat di lingkungan UIN, Kamis (21/3) siang.

“Selamat kepada para pejabat yang baru dilantik, wabilkhusus guru saya, Prof. Dr. H. Rakhmat Syafe’i, Lc., MA. Ia adalah ushuluyyin  pada masa kini setelah Prof. Dr. H. Acep Jazuli.

“Harapan saya Pasca Sarjana UIN bisa berkembang, nanti orang belajar hukum Islam tidak lagi ke Mesir, tetapi ke UIN,” harapnya.

“Kedua saya meminta agar ada peningkatan kualitas akademik, karena tahun ini peminat ke UIN mencapai 24000 lebih dari UIN Jakarta tidak sampai 20.000. Oleh karena itu, kita harus memberikan fasilitas akademik. Saya harap yang masuk harus difilter, karena nanti ada 4800 beasiswa, biarlah yang tidak difilter milik PTAIS,” ujarnya.

Ia menyampaikan bahwa hasil koordinasinya dengan Pemda dan para pimpinan Pondok Pesantren UIN harus menjadi pilar pembangunan dan keumatan di Jabar. Bahkan menurutnya, Rektor ITB menghubungi agar Rektor UIN menjadi koordinator 4 Perguruan Tinggi Negeri di Jawa Barat.

“Marilah kita ciptakan kampus yang berperadaban karena kita anak cucu Adam yang mewarisi paradigma Surgawi; paradigma Surgawi dan paradigma Nerakawi. Seorang dosen tidak boleh takut jika tidak punya duit, pejabat tidak boleh khawatir kehilangan jabatan, dan seorang mahasiswa jangan pernah minder menjadi mahasiswa UIN,” ajaknya.

Sedangkan paradigma nerakawi menurutnya selalu berprasangka “negatif, iri, dengki, jail kaniaya kalo kata bahasa Sundanya. Oleh karena itu kita harus menjadikan UIN menjadi pusat peradaban,” optimisnya.

“Ketiga kita bekerjasama dengan Kementrian Percepatan Desa Tertinggal untuk memajukan desa-desa menjadi desa peradaban di Jawa Barat. Membanu perbadaban itu harus berangkat dari masjid. Melalui penegakan sholat. Kalo sholat pake peci dan baju koko, maka peci dan baju kokonya harus buatan umat muslim.”tegasnya.

Menurut Ketua MUI Sukabumi tersebut, membangun Desa peradaban harus mulai dari Dekan sebagai Dandimnya jika di daerah. “maka seorang Dekan harus mengetahui segala masalah yang terjadi pada mahasiswanya,” imbuhnya.

Dalam persfektif lain, Rektor menyampaikan bahwa untuk membangun peradaban tersebut, ke 52 Program Studi yang ada di UIN harus menjadikan Al-Qur’an sebagai ruh. “Tahun ini ada 50 santri dari Pondok Pesantren yang akan masuk UIN dan mereka hapal 30 juz. Semoga kita semua dilindungi oleh Allah SWT,” pungkasnya. ***[Dudi, Ibn Ghifarie, Adeng M. Ghazali]