UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Persiapan Bekal Umrah

Awal Maret lalu, penulis mendapatkan amanah untuk mendampingi jamaah umrah sebanyak 44 orang. Jemaah dari berbagai profesi dan karakter telah berikrar untuk menunaikan secara maksimal ibadah umrah.Hal itu sebagaimana perintah Allah “dan sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah…” (al-Baqarah; 196).Asal jemaah umrah juga beragam, bukan hanya dari Priangan, bahkan jamaah sebagian jemaah ada yang dari tanah Palembang, Sumatera Selatan. Jemaah yang beragam secara tidak langsung mendorong antarjamaah untuk mempererat tali sillaturahmi.Ada empat bekal yang perlu disiapkan untuk melaksanakan ibadah umrah sebagai manifestasi dari makna mampu (istita’ah), seperti dalam QS Ali-Imran; 97, yakni bekal materi, bekal akal, bekal fisik dan bekal spititual.Bekal materi tentu telah dipersiapkan secara baik oleh setiap jamaah. Mulai dari pilihan paket umrah sampai dengan berbagai hal yang harus disiapkan secara pribadi. Dan tentu saja materi untuk “membeli” buah tangan bagi sanak keluarga, kolega dan kerabat. Pilihan paket umrah yang “murah meriah” terkadang menjebak para calon jamaah. Ada banyak informasi yang tidak tersampaikan kepada para calon jamaah, khususnya yang berkaitan dengan pelayanan selama di tanah haram.Fasilitas memang tidak ada dalam rukun dan syarat umrah. Akan tetapi, dengan biaya yang dikeluarkan, tentu saja menjadi hak jamaah untuk mengetahui secara benar apa yang akan didapatkannya. Perlu diketahui harapan kita tentang fasilitas hotel bintang lima akan didapatkan seperti layaknya kita menginap di negara selain Arab Saudi. Padahal, status bintang hotel di Mekkah dan Madinah ditentukan dari jauh atau dekatnya masjidilharam atau Nabawi.Perbedaan harga hotel akan ditentukan seberapa dekat hotel tersebut dengan Masjidilharam. Demikian pula bayangan kita tentang pelayanan para petugas hotel yang murah senyum dan lainnya, akan sedikit berbeda. Salah satu faktornya karena tiadanya kesepakatan bahasa apa yang menjadi alat komunikasi.Demikian pual dengan menghadapi petugas imigrasi yang kadang berbeda di Arab Saudi, termasuk di dalamnya ada kekhususan-kekhususan bagi orang-orang tertentu agar tidak perlu berlama-lama mengantre di imigrasi.Tim manajemen dari Qiblat Tour kerap mengingatkan tentang muhrim misalnya. Bagi wanita di bawah 45 tahun yang pergi sendirian, harus memiliki muhrim. Paling tidak maksud yang paling sederhana dari muhrim tersebut adalah siapa yang bertanggungjawab atas keamanan wanita tersebut.Manasik umrah yang senantiasa dilakukan oleh setiap manajemen pemberangkatan umrah dimaksudkan untuk memperkenalkan kultur, kebiasaan dan tipologi masyarakat Arab. Disamping itu, tentunya yang paling utama adalah persoalan fase-fase dari ibadah umrah itu sendiri.Allah Swt berfirman, “Hai manusia! Kami ciptakan kamu dari satu pasang laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu beberapa bangsa dan suku bangsa supaya kamu saling mengenal (bukan supaya saling membenci). Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di dalam pandangan Allah ialah orang yang paling bertakwa. Allah Maha Tahu, Maha Mengenal”. (Al-Hujurat: 13). Perbedaan-perbedaan yang ada pada bangsa Arab, adalah kepastian dari Allah Swt. Dengan demikian, secara tidak langsung, kita mengenal kebudayaan, karakter dan kepribadiannya masing-masing sebagai suatu khazanah.Akan tetapi, jika telah kita maksimal persiapan materi kita, tinggal kepada Allah kita berserah diri. Apakah kita dipermudah dalam menjalankan ibadah umrahnya? Atau Allah memberikan hal-hal lain agar kita senantiasa mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik.Dari empat bekal itu (materi, akal, fisik dan spiritual), bekal spiritual merupakan hal utama yang dimulai dari bersih harta dan bersih niat. Seperti jemaah umrah harus berniat ikhlas karena Allah sebab perintah untuk berhaji (termasuk umrah) diawali dengan kata lillahi, yakni karena Allah.Selamat berumrah dan menikmati jamuan Allah dan para Malaikat-Nya di Tanah Suci. Semoga kita bisa meraih umrah yang makbul dan mabrur sehingga bisa mengubah diri, keluarga, bahkan lingkungan menjadi lebih baik. WallahualamPenulis, pembimbing haji plus dan umrah Qiblat Tour Jln, Taman Cibeunying Selatan 15 Bandung dan dosen UIN SGD Bandung.Sumber, Pikiran Rakyat 27 Maret 2012

Awal Maret lalu, penulis mendapatkan amanah untuk mendampingi jamaah umrah sebanyak 44 orang. Jemaah dari berbagai profesi dan karakter telah berikrar untuk menunaikan secara maksimal ibadah umrah.Hal itu sebagaimana perintah Allah “dan sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah…” (al-Baqarah; 196).Asal jemaah umrah juga beragam, bukan hanya dari Priangan, bahkan jamaah sebagian jemaah ada yang dari tanah Palembang, Sumatera Selatan. Jemaah yang beragam secara tidak langsung mendorong antarjamaah untuk mempererat tali sillaturahmi.Ada empat bekal yang perlu disiapkan untuk melaksanakan ibadah umrah sebagai manifestasi dari makna mampu (istita’ah), seperti dalam QS Ali-Imran; 97, yakni bekal materi, bekal akal, bekal fisik dan bekal spititual.Bekal materi tentu telah dipersiapkan secara baik oleh setiap jamaah. Mulai dari pilihan paket umrah sampai dengan berbagai hal yang harus disiapkan secara pribadi. Dan tentu saja materi untuk “membeli” buah tangan bagi sanak keluarga, kolega dan kerabat. Pilihan paket umrah yang “murah meriah” terkadang menjebak para calon jamaah. Ada banyak informasi yang tidak tersampaikan kepada para calon jamaah, khususnya yang berkaitan dengan pelayanan selama di tanah haram.Fasilitas memang tidak ada dalam rukun dan syarat umrah. Akan tetapi, dengan biaya yang dikeluarkan, tentu saja menjadi hak jamaah untuk mengetahui secara benar apa yang akan didapatkannya. Perlu diketahui harapan kita tentang fasilitas hotel bintang lima akan didapatkan seperti layaknya kita menginap di negara selain Arab Saudi. Padahal, status bintang hotel di Mekkah dan Madinah ditentukan dari jauh atau dekatnya masjidilharam atau Nabawi.Perbedaan harga hotel akan ditentukan seberapa dekat hotel tersebut dengan Masjidilharam. Demikian pula bayangan kita tentang pelayanan para petugas hotel yang murah senyum dan lainnya, akan sedikit berbeda. Salah satu faktornya karena tiadanya kesepakatan bahasa apa yang menjadi alat komunikasi.Demikian pual dengan menghadapi petugas imigrasi yang kadang berbeda di Arab Saudi, termasuk di dalamnya ada kekhususan-kekhususan bagi orang-orang tertentu agar tidak perlu berlama-lama mengantre di imigrasi.Tim manajemen dari Qiblat Tour kerap mengingatkan tentang muhrim misalnya. Bagi wanita di bawah 45 tahun yang pergi sendirian, harus memiliki muhrim. Paling tidak maksud yang paling sederhana dari muhrim tersebut adalah siapa yang bertanggungjawab atas keamanan wanita tersebut.Manasik umrah yang senantiasa dilakukan oleh setiap manajemen pemberangkatan umrah dimaksudkan untuk memperkenalkan kultur, kebiasaan dan tipologi masyarakat Arab. Disamping itu, tentunya yang paling utama adalah persoalan fase-fase dari ibadah umrah itu sendiri.Allah Swt berfirman, “Hai manusia! Kami ciptakan kamu dari satu pasang laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu beberapa bangsa dan suku bangsa supaya kamu saling mengenal (bukan supaya saling membenci). Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di dalam pandangan Allah ialah orang yang paling bertakwa. Allah Maha Tahu, Maha Mengenal”. (Al-Hujurat: 13). Perbedaan-perbedaan yang ada pada bangsa Arab, adalah kepastian dari Allah Swt. Dengan demikian, secara tidak langsung, kita mengenal kebudayaan, karakter dan kepribadiannya masing-masing sebagai suatu khazanah.Akan tetapi, jika telah kita maksimal persiapan materi kita, tinggal kepada Allah kita berserah diri. Apakah kita dipermudah dalam menjalankan ibadah umrahnya? Atau Allah memberikan hal-hal lain agar kita senantiasa mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik.Dari empat bekal itu (materi, akal, fisik dan spiritual), bekal spiritual merupakan hal utama yang dimulai dari bersih harta dan bersih niat. Seperti jemaah umrah harus berniat ikhlas karena Allah sebab perintah untuk berhaji (termasuk umrah) diawali dengan kata lillahi, yakni karena Allah.Selamat berumrah dan menikmati jamuan Allah dan para Malaikat-Nya di Tanah Suci. Semoga kita bisa meraih umrah yang makbul dan mabrur sehingga bisa mengubah diri, keluarga, bahkan lingkungan menjadi lebih baik. WallahualamPenulis, pembimbing haji plus dan umrah Qiblat Tour Jln, Taman Cibeunying Selatan 15 Bandung dan dosen UIN SGD Bandung.Sumber, Pikiran Rakyat 27 Maret 2012

Awal Maret lalu, penulis mendapatkan amanah untuk mendampingi jamaah umrah sebanyak 44 orang. Jemaah dari berbagai profesi dan karakter telah berikrar untuk menunaikan secara maksimal ibadah umrah.Hal itu sebagaimana perintah Allah “dan sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah…” (al-Baqarah; 196).Asal jemaah umrah juga beragam, bukan hanya dari Priangan, bahkan jamaah sebagian jemaah ada yang dari tanah Palembang, Sumatera Selatan. Jemaah yang beragam secara tidak langsung mendorong antarjamaah untuk mempererat tali sillaturahmi.Ada empat bekal yang perlu disiapkan untuk melaksanakan ibadah umrah sebagai manifestasi dari makna mampu (istita’ah), seperti dalam QS Ali-Imran; 97, yakni bekal materi, bekal akal, bekal fisik dan bekal spititual.Bekal materi tentu telah dipersiapkan secara baik oleh setiap jamaah. Mulai dari pilihan paket umrah sampai dengan berbagai hal yang harus disiapkan secara pribadi. Dan tentu saja materi untuk “membeli” buah tangan bagi sanak keluarga, kolega dan kerabat. Pilihan paket umrah yang “murah meriah” terkadang menjebak para calon jamaah. Ada banyak informasi yang tidak tersampaikan kepada para calon jamaah, khususnya yang berkaitan dengan pelayanan selama di tanah haram.Fasilitas memang tidak ada dalam rukun dan syarat umrah. Akan tetapi, dengan biaya yang dikeluarkan, tentu saja menjadi hak jamaah untuk mengetahui secara benar apa yang akan didapatkannya. Perlu diketahui harapan kita tentang fasilitas hotel bintang lima akan didapatkan seperti layaknya kita menginap di negara selain Arab Saudi. Padahal, status bintang hotel di Mekkah dan Madinah ditentukan dari jauh atau dekatnya masjidilharam atau Nabawi.Perbedaan harga hotel akan ditentukan seberapa dekat hotel tersebut dengan Masjidilharam. Demikian pula bayangan kita tentang pelayanan para petugas hotel yang murah senyum dan lainnya, akan sedikit berbeda. Salah satu faktornya karena tiadanya kesepakatan bahasa apa yang menjadi alat komunikasi.Demikian pual dengan menghadapi petugas imigrasi yang kadang berbeda di Arab Saudi, termasuk di dalamnya ada kekhususan-kekhususan bagi orang-orang tertentu agar tidak perlu berlama-lama mengantre di imigrasi.Tim manajemen dari Qiblat Tour kerap mengingatkan tentang muhrim misalnya. Bagi wanita di bawah 45 tahun yang pergi sendirian, harus memiliki muhrim. Paling tidak maksud yang paling sederhana dari muhrim tersebut adalah siapa yang bertanggungjawab atas keamanan wanita tersebut.Manasik umrah yang senantiasa dilakukan oleh setiap manajemen pemberangkatan umrah dimaksudkan untuk memperkenalkan kultur, kebiasaan dan tipologi masyarakat Arab. Disamping itu, tentunya yang paling utama adalah persoalan fase-fase dari ibadah umrah itu sendiri.Allah Swt berfirman, “Hai manusia! Kami ciptakan kamu dari satu pasang laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu beberapa bangsa dan suku bangsa supaya kamu saling mengenal (bukan supaya saling membenci). Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di dalam pandangan Allah ialah orang yang paling bertakwa. Allah Maha Tahu, Maha Mengenal”. (Al-Hujurat: 13). Perbedaan-perbedaan yang ada pada bangsa Arab, adalah kepastian dari Allah Swt. Dengan demikian, secara tidak langsung, kita mengenal kebudayaan, karakter dan kepribadiannya masing-masing sebagai suatu khazanah.Akan tetapi, jika telah kita maksimal persiapan materi kita, tinggal kepada Allah kita berserah diri. Apakah kita dipermudah dalam menjalankan ibadah umrahnya? Atau Allah memberikan hal-hal lain agar kita senantiasa mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik.Dari empat bekal itu (materi, akal, fisik dan spiritual), bekal spiritual merupakan hal utama yang dimulai dari bersih harta dan bersih niat. Seperti jemaah umrah harus berniat ikhlas karena Allah sebab perintah untuk berhaji (termasuk umrah) diawali dengan kata lillahi, yakni karena Allah.Selamat berumrah dan menikmati jamuan Allah dan para Malaikat-Nya di Tanah Suci. Semoga kita bisa meraih umrah yang makbul dan mabrur sehingga bisa mengubah diri, keluarga, bahkan lingkungan menjadi lebih baik. WallahualamPenulis, pembimbing haji plus dan umrah Qiblat Tour Jln, Taman Cibeunying Selatan 15 Bandung dan dosen UIN SGD Bandung.Sumber, Pikiran Rakyat 27 Maret 2012

Awal Maret lalu, penulis mendapatkan amanah untuk mendampingi jamaah umrah sebanyak 44 orang. Jemaah dari berbagai profesi dan karakter telah berikrar untuk menunaikan secara maksimal ibadah umrah.Hal itu sebagaimana perintah Allah “dan sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah…” (al-Baqarah; 196).Asal jemaah umrah juga beragam, bukan hanya dari Priangan, bahkan jamaah sebagian jemaah ada yang dari tanah Palembang, Sumatera Selatan. Jemaah yang beragam secara tidak langsung mendorong antarjamaah untuk mempererat tali sillaturahmi.Ada empat bekal yang perlu disiapkan untuk melaksanakan ibadah umrah sebagai manifestasi dari makna mampu (istita’ah), seperti dalam QS Ali-Imran; 97, yakni bekal materi, bekal akal, bekal fisik dan bekal spititual.Bekal materi tentu telah dipersiapkan secara baik oleh setiap jamaah. Mulai dari pilihan paket umrah sampai dengan berbagai hal yang harus disiapkan secara pribadi. Dan tentu saja materi untuk “membeli” buah tangan bagi sanak keluarga, kolega dan kerabat. Pilihan paket umrah yang “murah meriah” terkadang menjebak para calon jamaah. Ada banyak informasi yang tidak tersampaikan kepada para calon jamaah, khususnya yang berkaitan dengan pelayanan selama di tanah haram.Fasilitas memang tidak ada dalam rukun dan syarat umrah. Akan tetapi, dengan biaya yang dikeluarkan, tentu saja menjadi hak jamaah untuk mengetahui secara benar apa yang akan didapatkannya. Perlu diketahui harapan kita tentang fasilitas hotel bintang lima akan didapatkan seperti layaknya kita menginap di negara selain Arab Saudi. Padahal, status bintang hotel di Mekkah dan Madinah ditentukan dari jauh atau dekatnya masjidilharam atau Nabawi.Perbedaan harga hotel akan ditentukan seberapa dekat hotel tersebut dengan Masjidilharam. Demikian pula bayangan kita tentang pelayanan para petugas hotel yang murah senyum dan lainnya, akan sedikit berbeda. Salah satu faktornya karena tiadanya kesepakatan bahasa apa yang menjadi alat komunikasi.Demikian pual dengan menghadapi petugas imigrasi yang kadang berbeda di Arab Saudi, termasuk di dalamnya ada kekhususan-kekhususan bagi orang-orang tertentu agar tidak perlu berlama-lama mengantre di imigrasi.Tim manajemen dari Qiblat Tour kerap mengingatkan tentang muhrim misalnya. Bagi wanita di bawah 45 tahun yang pergi sendirian, harus memiliki muhrim. Paling tidak maksud yang paling sederhana dari muhrim tersebut adalah siapa yang bertanggungjawab atas keamanan wanita tersebut.Manasik umrah yang senantiasa dilakukan oleh setiap manajemen pemberangkatan umrah dimaksudkan untuk memperkenalkan kultur, kebiasaan dan tipologi masyarakat Arab. Disamping itu, tentunya yang paling utama adalah persoalan fase-fase dari ibadah umrah itu sendiri.Allah Swt berfirman, “Hai manusia! Kami ciptakan kamu dari satu pasang laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu beberapa bangsa dan suku bangsa supaya kamu saling mengenal (bukan supaya saling membenci). Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di dalam pandangan Allah ialah orang yang paling bertakwa. Allah Maha Tahu, Maha Mengenal”. (Al-Hujurat: 13). Perbedaan-perbedaan yang ada pada bangsa Arab, adalah kepastian dari Allah Swt. Dengan demikian, secara tidak langsung, kita mengenal kebudayaan, karakter dan kepribadiannya masing-masing sebagai suatu khazanah.Akan tetapi, jika telah kita maksimal persiapan materi kita, tinggal kepada Allah kita berserah diri. Apakah kita dipermudah dalam menjalankan ibadah umrahnya? Atau Allah memberikan hal-hal lain agar kita senantiasa mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik.Dari empat bekal itu (materi, akal, fisik dan spiritual), bekal spiritual merupakan hal utama yang dimulai dari bersih harta dan bersih niat. Seperti jemaah umrah harus berniat ikhlas karena Allah sebab perintah untuk berhaji (termasuk umrah) diawali dengan kata lillahi, yakni karena Allah.Selamat berumrah dan menikmati jamuan Allah dan para Malaikat-Nya di Tanah Suci. Semoga kita bisa meraih umrah yang makbul dan mabrur sehingga bisa mengubah diri, keluarga, bahkan lingkungan menjadi lebih baik. WallahualamPenulis, pembimbing haji plus dan umrah Qiblat Tour Jln, Taman Cibeunying Selatan 15 Bandung dan dosen UIN SGD Bandung.Sumber, Pikiran Rakyat 27 Maret 2012

Awal Maret lalu, penulis mendapatkan amanah untuk mendampingi jamaah umrah sebanyak 44 orang. Jemaah dari berbagai profesi dan karakter telah berikrar untuk menunaikan secara maksimal ibadah umrah.Hal itu sebagaimana perintah Allah “dan sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah…” (al-Baqarah; 196).Asal jemaah umrah juga beragam, bukan hanya dari Priangan, bahkan jamaah sebagian jemaah ada yang dari tanah Palembang, Sumatera Selatan. Jemaah yang beragam secara tidak langsung mendorong antarjamaah untuk mempererat tali sillaturahmi.Ada empat bekal yang perlu disiapkan untuk melaksanakan ibadah umrah sebagai manifestasi dari makna mampu (istita’ah), seperti dalam QS Ali-Imran; 97, yakni bekal materi, bekal akal, bekal fisik dan bekal spititual.Bekal materi tentu telah dipersiapkan secara baik oleh setiap jamaah. Mulai dari pilihan paket umrah sampai dengan berbagai hal yang harus disiapkan secara pribadi. Dan tentu saja materi untuk “membeli” buah tangan bagi sanak keluarga, kolega dan kerabat. Pilihan paket umrah yang “murah meriah” terkadang menjebak para calon jamaah. Ada banyak informasi yang tidak tersampaikan kepada para calon jamaah, khususnya yang berkaitan dengan pelayanan selama di tanah haram.Fasilitas memang tidak ada dalam rukun dan syarat umrah. Akan tetapi, dengan biaya yang dikeluarkan, tentu saja menjadi hak jamaah untuk mengetahui secara benar apa yang akan didapatkannya. Perlu diketahui harapan kita tentang fasilitas hotel bintang lima akan didapatkan seperti layaknya kita menginap di negara selain Arab Saudi. Padahal, status bintang hotel di Mekkah dan Madinah ditentukan dari jauh atau dekatnya masjidilharam atau Nabawi.Perbedaan harga hotel akan ditentukan seberapa dekat hotel tersebut dengan Masjidilharam. Demikian pula bayangan kita tentang pelayanan para petugas hotel yang murah senyum dan lainnya, akan sedikit berbeda. Salah satu faktornya karena tiadanya kesepakatan bahasa apa yang menjadi alat komunikasi.Demikian pual dengan menghadapi petugas imigrasi yang kadang berbeda di Arab Saudi, termasuk di dalamnya ada kekhususan-kekhususan bagi orang-orang tertentu agar tidak perlu berlama-lama mengantre di imigrasi.Tim manajemen dari Qiblat Tour kerap mengingatkan tentang muhrim misalnya. Bagi wanita di bawah 45 tahun yang pergi sendirian, harus memiliki muhrim. Paling tidak maksud yang paling sederhana dari muhrim tersebut adalah siapa yang bertanggungjawab atas keamanan wanita tersebut.Manasik umrah yang senantiasa dilakukan oleh setiap manajemen pemberangkatan umrah dimaksudkan untuk memperkenalkan kultur, kebiasaan dan tipologi masyarakat Arab. Disamping itu, tentunya yang paling utama adalah persoalan fase-fase dari ibadah umrah itu sendiri.Allah Swt berfirman, “Hai manusia! Kami ciptakan kamu dari satu pasang laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu beberapa bangsa dan suku bangsa supaya kamu saling mengenal (bukan supaya saling membenci). Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di dalam pandangan Allah ialah orang yang paling bertakwa. Allah Maha Tahu, Maha Mengenal”. (Al-Hujurat: 13). Perbedaan-perbedaan yang ada pada bangsa Arab, adalah kepastian dari Allah Swt. Dengan demikian, secara tidak langsung, kita mengenal kebudayaan, karakter dan kepribadiannya masing-masing sebagai suatu khazanah.Akan tetapi, jika telah kita maksimal persiapan materi kita, tinggal kepada Allah kita berserah diri. Apakah kita dipermudah dalam menjalankan ibadah umrahnya? Atau Allah memberikan hal-hal lain agar kita senantiasa mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik.Dari empat bekal itu (materi, akal, fisik dan spiritual), bekal spiritual merupakan hal utama yang dimulai dari bersih harta dan bersih niat. Seperti jemaah umrah harus berniat ikhlas karena Allah sebab perintah untuk berhaji (termasuk umrah) diawali dengan kata lillahi, yakni karena Allah.Selamat berumrah dan menikmati jamuan Allah dan para Malaikat-Nya di Tanah Suci. Semoga kita bisa meraih umrah yang makbul dan mabrur sehingga bisa mengubah diri, keluarga, bahkan lingkungan menjadi lebih baik. WallahualamPenulis, pembimbing haji plus dan umrah Qiblat Tour Jln, Taman Cibeunying Selatan 15 Bandung dan dosen UIN SGD Bandung.Sumber, Pikiran Rakyat 27 Maret 2012