UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Modal Dasar Menjadi Manusia Terbaik

Apa modal kita untuk memberi manfaat kepada orang lain? : 1) meningkatkan keimanan kita kepada Allah swt. Amal tanpa pamrih adalah amal yang hanya mengharap ridho dan balasan Allah. Ketika iman kita tipis terkikis, tak mungkin kita akan bisa beramal ikhlas.Bilal bin Rabah bukanlah orang kaya. Ia hidup miskin. Namun kepadanya, Rasulullah saw. memerintahkan untuk bersedekah. Sebab, sedekah tidak menyebabkan rezeki berkurang. 2) menghilangkan sifat egois dan rasa serakah terhadap materi.

3)menanamkan suatu pemikiran atau logika bahwa sisa harta yang ada pada diri kita adalah yang telah diberikan kepada orang lain. Bukan yang ada dalam genggaman kita. Logika ini diajarkan oleh Rasulullah saw. kepada kita. Suatu ketika Rasulullah saw. menyembelih kambing. Beliau memerintahkan seorang sahabat untuk menyedekahkan daging kambing itu. Setelah dibagi-bagi, Rasulullah saw. bertanya, berapa yang tersisa. Sahabat itu menjawab, hanya tinggal sepotong paha. Rasulullah saw. mengoreksi jawaban sahabat itu. Yang tersisa bagi kita adalah apa yang telah dibagikan.Itulah milik kita yang hakiki karena kekal menjadi tabungan kita di akhirat. Sementara, daging paha yang belum dibagikan hanya akan menjadi sampah jika busuk tidak sempat kita manfaatkan, atau menjadi kotoran ketika kita makan. Begitulah harta kita. Jika kita tidak memanfaatkannya untuk beramal, maka tidak akan menjadi milik kita selamanya. Harta itu akan habis lapuk karena waktu, hilang karena kematian kita.

4) Berehan, suatu istilah Sunda untuk memaknai bagi orang yang mudah memberi manfaat tanpa pamrih. Logika umum,menanam kebaikan berbuah baik.Jika kita memuliakan tamu, maka seperti itu jugalah yang akan kita dapat ketika bertamu. Ketika kita pelit kepada orang lain atau tetangga, maka sikap seperti itu jugalah yang kita dari orang lain atau tetangga kita.5) memiliki “sesuatu” untuk memberi. Sesuatu itu dapat berupa finansial, pikiran, tenaga, waktu, dan perhatian. Jika kita punya air, kita bisa memberi minum orang yang haus. Jika punya ilmu, kita bisa mengajarkan orang yang tidak tahu. Ketika kita sehat, kita bisa membantu orang sakit atau yang tua. Luangkan waktu untuk bersosialisasi, dengan begitu kita bisa hadir dan bermanfaat  untuk orang-orang di sekitar kita.

Semua tindakan sosial yang tidak menyimpang dari aturan Allah, sudah dapat dipastikan bermanfaat bagi orang lain. Inilah essensi Ibadah. Bukan hanya semata-mata pergi ke mesjid untuk solat berjamaah, tapi pemaknaan solat itu dalam kehidupan sosial.  Yang dinilai Allah bukan “hasil” tapi “proses”. Bukan karena gelar ustadnya, guru besarnya, kayanya, miskinnya, hajinya, dan lain sebagainya, tapi bagaimana menjalani proses itu (muttaqien). Wallahu a’lam. [Adeng Muchtar Ghazali]