UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Menjadi Manusia Terbaik

Oleh Adeng Muchtar Ghazali

Ada hadits pendek yang sarat makna dikutip Imam Suyuthi: “Khairun naasi anfa’uhum linnaas.” Terjemahan bebasnya: “sebaik-baik manusia adalah yang senantiasa dapat memberikan manfaat bagi orang lain”. Hadis ini menunjukkan, bahwa : 1)  Manusia tidak bisa hidup sendiri. Ia merupakan makhluk sosial, saling bergantung dan  membutuhkan satu sama lain. Pola hubungan dibangun berdasarkan rasa keadilan, sekaligus saling mengambil manfaat, ada yang memberi jasa dan ada yang mendapat jasa. Si pemberi jasa mendapat imbalan dan penerima jasa mendapat manfaat, bukan pd yg satu untung yg satu rugi. 2) sebaliknya, manusia yang paling buruk adalah jika ada orang yang mengambil terlalu banyak manfaat dari orang lain dengan pengorbanan yang amat minim, yaitu tidak memiliki rasa keadilan, berlaku curang,  selalu melanggar dan mengambil  hak orang lain.

Oleh karena itu, manusia yang baik adalah yang  selalu menginginkan pola hubungan  dengan cara yang baik. Ia bisa memberi manfaat sekaligus menerima manfaat. Kehadirannya memberi kenyamanan kepada orang lain. Sebaliknya, seburuk-buruk manusia adalah orang yang mengambil manfaat banyak dari diri kita maupun orang lain dengan cara yang salah, seperti menipu, mencuri, dan mengambil paksa, bahkan dengan kekerasan.

Yang paling baik diantara yang baik adalah jika orang lebih banyak memberi daripada mengambil manfaat. Seseorang disebut Dermawan manakala ia memberi dan melaksanakan sesuatu dengan Ikhlas, tanpa pamrih dan tidak punya vested interes. Itulah gambaran manusia yang selalu menebar kebaikan dan memberi manfaat bagi orang lain, yang disebut Rasulullah sebagai  sebaik-baik manusia. Para sahabat ketika ingin melakukan suatu kebaikan bertanya kepada Rasulullah, amal apa yang paling afdhol untuk dikerjakan ketika musim kemarau dan masyarakat kesulitan air, Rasulullah menjawab: membuat sumur adalah amal yang paling utama. Sementara, saat seseorang ingin berjihad sementara ia punya ibu yang sudah sepuh dan tidak ada yang merawat, Rasulullah menyebut berbakti kepada si ibu adalah amal yang paling utama.

Rasulullah saw. memberi empat alasan atau kategori manusia yang dipandang terbaik : 1) karena paling bermanfaat bagi orang lain, maka ia dicintai Allah swt,  2) ia selalu melakukan amal yang terbaik. Kaidah usul fiqih mengatakan, “kebaikan adalah yang amalnya dirasakan orang lain lebih bermanfaat ketimbang yang manfaatnya dirasakan oleh diri sendiri.” 3) memberi manfaat kpd orang lain jelas-jelas besar pahalanya. Rasulullah saw. berkata, “Seandainya aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi suatu kebutuhannya, maka itu lebih aku cintai daripada I’tikaf sebulan di masjidku ini.” 4)Krn memberi manfaat kepada orang lain tanpa pamrih.  Allah juga memberi persangkaan kepada hambaNya. Menurut pandangan orang yang beriman, amal seseorang itu baik, maka Allah pun menilai baik. Dalam suatu riwayat, pernah suatu ketika lewat orang membawa jenazah untuk diantar ke kuburnya. Para sahabat menyebut-nyebut orang itu sebagai orang yang tidak baik. Kemudian lewat lagi orang-orang membawa jenazah lain untuk diantar ke kuburnya. Para sahabat menyebut-nyebut kebaikan si mayit. Rasulullah saw. membenarkan. Inilah pernyataan Allah dlm surat At-Taubah ayat 105 yang intinya bahwa, “Allah swt. menyuruh Rasulullah saw. untuk memerintahkan kita, orang beriman, untuk beramal sebaik-baiknya amal agar Allah, Rasul, dan orang beriman menilai amal-amal kita. Di hari akhir, Rasul dan orang-orang beriman akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa kita seperti yang mereka saksikan di dunia.

Wallahu a”lam