UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Mengkhawatirkan Partai Islam

Benarkah partai Islam akan merosot tajam raihan suaranya di pemilu 2014? Pertanyaan ini hanya bisa dijawab nanti di 2014. Sejumlah lembaga survei memprediksi partai-partai Islam akan anjlok di pemilu nanti. Banyak umat Islam yang merasa khawatir atas informasi tersebut. Akan tetapi, akuratkah hasil survei tersebut?

Saya pertanyakan akurat tidaknya hasil survei, mengingat hasil beberapa survei belakangan ini, seperti terkait elektabilitas calon kepala daerah, sering meleset. Sebagai contoh, untuk calon gubernur Jawa Barat, Sumatera Utara, termasuk sebelumnya Jakarta dan Sumedang.

Dalam kasus pilgub Jabar, seluruh lembaga survei memprediksi bahwa Dede Yusuf akan memenangi pilgub 2013 dalam satu putaran dengan persentase raihan suara melebihi dari tiga puluh persen. Namun, hasilnya jauh sama sekali  dari prediksi lembaga survei.

Betul dalam survei ada margin error yang ditolerir. Namun, kalau margin error terlalu besar, pasti ada masalah serius dalam survei tersebut, baik dalam hal metode, pendekatan, maupun kejujuran penyelenggara.

Pertanyaan saya selanjutnya, benarkah survei-survei  belakangan ini dilakukan secara faktual di lapangan dan bersentuhan langsung dengan responden? Pernah saya suuzhan, jangan-jangan angket itu hanya diisi oleh surveyor, tidak disebar secara benar kepada masyarakat (mudah-mudahan, suuzhan saya salah). Atau, umpanya untuk kasus calon kepala daerah, hanya didasarkan pada gencarnya pemberitaan media dan dugaan pelaku survei.

Saya tidak meragukan kemampuan lembaga survei dalam menguasai metode dan teknik survei. Dijamin mereka memahami dan menguasainya, ditambah alat bantu survei yang canggih dan modern. Namun, faktor akhlak surveyor merupakan bagian dari variabel yang berpengaruh.

Sehebat apapun metode dan pendekatan sebuah survei, ia tidak lantas terjamin menghasilkan data yang akurat, ketika para pelaksana teknis dan lapangan tidak jujur. Ketidakjujuran surveyor lebih berbahaya daripada kekeliruan metode dan pendekatan.

Termasuk berbahaya juga, ketika surveyor tidak independen. Ia tidak akan menghasilkan data yang valid, akurat, dan objektif. Surveyor yang tidak independen  tidak akan cermat dalam memeriksa dan mengidentifikasi dan menganalisis fakta-fakta berdasarkan cara yang benar. Hasil analisisnya akan dituangkan dalam sebuah laporan yang dipenuhi oleh interpretasi dan intervensi subjektif.

Saya hidup sudah masuk pada hitungan puluhan tahun dan bertempat tinggal tidak jauh amat dari lembaga-lembaga yang mengadakan survei. Sampai saat ini, satu kali pun belum pernah didatangi dan ditanya oleh lembaga survei, baik tentang calon kepala daerah atau partai politik.
Konon, partai-partai Islam disurvei tingkat elektabilitasnya oleh banyak lembaga survei. Hasilnya, tidak menggembirakan. Mereka tidak mampu bersaing dengan partai-partai nasionalis. Di 2014 nanti tidak ada satu partai Islam pun yang raihan suarannya mencapai lima persen.
Lagi-lagi, akuratkah hasil survei tersebut? Ya, nanti kita tunggu di 2014 akurat tidaknya.

Saya ingatkan, kenaikan kelas menengah ke atas yang terus menanjak jumlahnya belakangan ini di Indonesia harus menjadi pertimbangan serius dalam menelaah partai-partai Islam. Kenaikan kelas menengah di perkotaan saat ini banyak muncul dari kalangan mereka yang, dapat dapat diduga, kuat tingkat religiusitasnya. Saya menduga, kenaikan jumlah kelas menengah di perkotaan berefek positif bagi partai-partai Islam.

Alasannya kenapa? Jawaban pertanyaan ini tidak cukup disampaikan dalam kolom tulisan yang terbatas. Ada penjelasan ilmiah saya yang perlu didiskusikan cukup panjang.

Selain itu, menciutnya jumlah partai saat ini dari jumlah puluhan menjadi sepuluh juga harus diperhitungkan. Konstituen beberapa partai Islam yang menjadi konstestan di pemilu sebelumnya dimungkinkan akan mengalihkan pilihannya kepada partai-partai Islam saat ini, termasuk efek dari kisruh beberapa partai besar.

Betul, sebagian elit partai Islam, yang gagal verifikasi, bergabung dengan partai-partai nasionalis. Namun, pikiran dan kecendrungan konstituennya jangan disamakan. Boleh saja elit partainya bergabung dengan partai A, tetapi konstituennya bisa saja bergabung dengan partai Z.

Perilaku politik masyarakat belakangan ini sangat dinamis, sulit ditebak, dan cenderung silent dalam menentukan sikap. Saya menduga, keadaan ini akan memengarui hasil-hasil survei tentang elektabilitas partai di 2014 nanti. Tampaknya, berdasarkan feeling saya, partai Islam tidak akan sejeblok yang diramalkan oleh lembaga-lembaga survei.

Memang, dalam menulis tulisan ini saya dipengaruhi oleh sentimen akidah. Sebab, bagi saya menentukan pilihan partai memiliki hubungan horizontal dengan keyakinan dan anutan. Mungkin, pandangan ini akan dianggap kontroversi oleh sebagian orang. Tapi, itu keyakinan ilmiah dan akidah saya. 

Sumber, Pikiran Rakyat 13 Maret 2013