UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Menebar Benih-benih Toleransi Ahmad Wahib

[www.uinsgd.ac.id] Upaya mengenalkan Ahmad Wahib beserta Catatan Harianya (Pergolakan Pemikiran Islam, Penerbit LP3ES tahun 1981) tentang toleransi, pluralisme dan perdamaian dikalangan pelajar dan mahasiswa se-Bandung Raya, Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK) UIN SGD Bandung bekerjasama dengan Forum Muda Paramadina menggelar Talk Show bertajuk “Mengenal Wahib, Menebar Toleransi” dengan menghadirkan narasumber Ihsan Ali Fauzi (Dosen Ilmu Politik dan Direktur Yayasan Wakaf Paramadina) yang dipandu oleh Husni Mubarok (Aktivis Forum Muda Paramadina) dan Slamet (Post Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman) di Auditorium Utama UIN SGD Bandung, Seni (28/11) siang

Menurut Salim Rosyadi, Ketua LPIK menjelaskan LPIK merupakan salah satu lembaga kajian yang berada di lingkungan UIN SGD Bandung dengan fokus studi pada filsafat, pemikiran islam, sosiologi, sastra yang memiliki tradisi membaca, diskusi, dan menulis “Pada kesempatan ini Ahmad Wahib menjadi kajian tokoh yang sangat penting kita kenalkan dan gagasan tentang toleransi, pluralisme untuk kita sebarkan. Mengingat tingkat kekerasan di Indonesia, khususnya Jawa barat sangat tinggi” tegasnya

Senada dengan Salim, Husni menambahkan dalam rangka menebarkan wawasan pluralisme dam toleransi di Indonesia, Wahib perlu diperkenalkan secara sistematis. Catatan hariannya adalah medium yang cukup bisa diakses siapa pun, termasuk anak-anak muda, untuk memasuki pemikiran dan renungan-renungannya tentang Islam yang plural dan toleran di Tanah Air.

“Mudah-mudahan dengan adanya Sayembara Esai, Video dan Blog Ahmad Wahib 2012 yang memperebutkan hadiah Juara 1 Rp. 10.000.000,- Juara II Rp. 7.0000.000,- dan Juara III Rp.5.000.000,- tiap kategori bisa memberikan simulasi dan menantang kita semua untuk mendorong terciptanya Islam yang plural dan toleran” paparnya

Ihwal catatan Ahmad Wahib “Hanya menjadi medium untuk katakan sesuatu dengan cara berbuat. Apakah melalui tulisan esai, video atau blog karena kita terlahir dari generasi digital native yang sangat penting dan tergantung pada Internet. Seakan-akan tidak membuat status di facebook pagi hari ada sesuatu yang kurang” jelasnya

Bagi Ihsan ketidaktahuan masyarakat luas tentang sosok Ahmad Wahib menjadi pemicu kekerasan di Indonesia yang terjadi pada anak muda “Pada kalangan mahasiswa hanya ada dua orang yang sama-sama mati muda dan meninggalkan catatan harian. Pertama, Ahmad Wahib dengan Pergolakan Pemikiran Islam. Kedua, Soe Hok Gie dengan Catatan Harian Seorang Demonstran” tegasnya

Diakuinya, Ahmad Wahib tak sepopuler Soe Hok Gie yang riwayat hidupnya sudah difilmkan berjudul Gie dengan disutradarai oleh Riri Reza. Wahib adalah satu ladang subur darimana ilham mengenai pemikiran-pemikiran Islam yang pluralis dan toleran bisa digali, dilanjutkan, diperkaya.

Talkshow dibagi ke dalam lima sesi; Pertama, Apa itu pluralisme? dengan memutar film Pluralism, Pancasila, dan Keragaman. Kedua, Agama dan kekerasan dengan menonton film bom Cirebon dan bom Norewegia. Ketiga, Islam dan Perdamaian dengan memutar film Apa itu Islam karya Hanung. Keempat, Ahmad Wahib dengan menonton film Wahib. Kelima, Pembacaan catatan Wahib.

Mengenai pluralisme, Abdullah mahasiswa Tasawuf Psikoterapi berkomentar “Keragaman itu indah dan sunatullah, maka hormatilah perbedaan itu”

Hasan, mahasiswa Manajemen Dakwah menambahkan “Keragaman suatu masyarakat harus menjadi kekuatan untuk menciptakan kehidupan yang selaran, harmonis” jelasnya

Bagi Boim, mahasiswa Sosiologi berpendapat pluralisme tidak hanya dimaknai sebagai memahami, mengakui perbedaan. “Akan tetapi harus bisa melakukan kerjasama dengan melihat persamaan, bukan perbedaan” katanya

Di mata Ihsan, pluralisme itu ibarat es campur yang terdiri dari beragam buah-buahan “Akan terasa nikmat jika sesuai dengan ketentuan dan tidak memasukan buah yang busuk pada es campur itu” komentarnya

Menanggapi pertanyaan Zaki, mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris “Siapa yang menentukan busuk tidakanya buah yang dimasukan ke dalam es campur itu? dan adakah jaminan kita supaya tidak meminum es campur yang busuk buahnya?”

Jawab Ihsan, “Ya. Dalam es campur manajernya. Untuk suatu negara adalah pemerintah dengan penegak aparatnya, polisi misalnya dan kita mengetahui es campur ada yang dimasukin buah busuk, tinggalkan lah” saranya

Ada banyak data dan fakta kekerasan atas nama agama, misalnya M Syarif pelaku bom bunuh diri di Cirebon dan Anders Behring Breivik pelaku boman mobil di Norwegia ini kata Ihsan menunjukkan “Kekeasan bisa terjadi pada agama apa saja. M Syarif orang Islam pelaku bom Cirebon, Breivik orang Kristen pelaku di Norwegia, di Thailand orang Budha melakukan bom bunuh diri, di India orang Hindu melakukan kekarasan dan bunuh diri” tuturnya

Melihat pelbagai fakta itu, setujukah kita dengan tindah kekarasan atas nama agama? Rizki, mahasiswa Humas mengeluhkan “Melihat pelaku kekerasan dan bom bunuh diri di Cirebon keselamatan apa yang diajarkan Islam itu? Benarkah Islam mengajarkan kekerasan” cetusnya

“Justru karena adanya klaim kebenaran semua orang melakukan kekerasan itu” kata Henderi mahasiswa Humas berpendapat atas maraknya kekerasan

Untuk meminimalisir tindakan kekerasan itu, Kuncinya “Jangan memaksa, menghargai pendapat, keyakinan orang lain, mari kita lihat segala kesamaan dan perbedaan dengan cara diperbaiki, diarahkan, bukan dengan cara kekerasan dalam menyelesaiakn segala urusan” ajakan Ihsan

Kuatnya citra Islam sebagai agen teroris, bunuh diri, pelaku kekerasan membentuk agama Islam itu tidak toleran, keji, beringas, tapi tidak kata Rohim, mahasiswa Perbandingan Agama “Islam itu tidak bengis, keji jika kita mau melihat persamaan di setiap agama untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Ibarat main gitar oleh yang tidak mahir akan terdengar sumbang. Akankah kita menyalahkan gitar?” keluhnya

Salah satu pelajar dari SMA Muhammadiyah menegaskan “Jangan salahkan Islamnya, tetapi orangnya yang memaknai Islam dengan cara kekerasan” tegasnya

“Oleh karena itu, jangan salahkan agamanya, tetapi dorong orang untuk ikut menghadiri acara tlak show, diskusi di LPIK, PSIK dan Forum Muda Paramadina menjadi penting untuk tidak menyebar benih-benih kebencian, tapi menciptakan islam yang damai, toleran, menghargai perbedaan dengan menjadikan catatan harian Ahmad Wahib sebagai mediasinya” saran Ihsan

Dalam kontek negara, “Melalui jalur Pemilihan Umum supaya negara tidak ikut campur lebih mendalam soal agama, kepercayaan dan keyakinan seseorang yang harus dijamin oleh negara” tambahnya.

Memang banyak tokoh yang mengajarkan perdamaian sebagai usaha untuk memutus mata rantai kekerasan, seperti yang dilakukan oleh Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, Malcolm X, Dalai Lama ke-14 Noam Chmsky, Gus Dur, Cak Nur dan Ahmad Wahib untuk Indonesia.

Ahmad Wahib lahir di Sampang, Madura, pada 1942 yang tumbuh dewasa dalam lingkungan yang kehidupan keagamaannya sangat kuat. Ayahnya seorang pemimipin pesantren dan dikenal luas dalam masyarakatnya yang berpikiran luas dan terbuka, yang mendalami secara serius gagasan pembaharuan Muhammad Abduh. Ia menolak objek-objek kultus yang menjadi sesembahan para leluhurnya. seperti tombak, keris, ajimat, dan buku-buku primbon.

Lulus dari SMA Pemekasan, Madura, bidang ilmu pasti, melanjutkan studinya pada Fakultas Ilmu Pasti dan Alam (FIPA) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Walaupun kuliah sampai tahun terakhir, tetapi tidak menyelesaikan kuliahnya, hingga mendapat gelar sarjana. Malahan aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Universitas Gadjah Mada. Meskipun harus keluar dari HMI karena alasan tidak sejalan.

Menanggapi catatan harian Ahmad Wahib yang menuai kontroversial, Slamet menuturkan, perlu diketahui dalam masyarakat Maduran keturunan kyai sangat dihormati dan akan terus dicium tanganya. Walapun merakukan kesalahan. “Senakal-nakalnya anak Kyia akan tetap dihormati dan dicium tangannya. Berbeda dengan keturunan biasa” jelasnya

Beberapa catatan harian Ahmad Wahib yang menegaskannya sebagai seorang pencari kebenaran yang tak kenal lelah. “Aku belum tahu apakah Islam itu sebenarnya. Aku baru tahu Islam menurut Hamka, Islam menurut Natsir, … Dan terus terang Aku tidak puas. Yang kucari belum ketemu, yaitu Islam menurut Allah, pembuatnya. Bagaimana? Langsung studi Al-Quran dan sunnah, akan kucoba. Tapi Orang-Orang lain pun akan menganggap bahwa yang kudapat itu Islam menurut aku sendiri. Tapi biar, yang penting adalah keyakinan dalam akal sehatku yang kupahami itu Islam menurut Allah. Aku harus yakin itu. Terus menurut didekati.”

Kita tahu betapa kritinya Wahib ingin tampil sebagai penganut agama dengan kekuatan pikirannya sendiri. Islam yang dicarinya adalah Islam yang dapat menopang Pluralisme Indonesia, negara yang sangat dicintainya. Sebuah Islam yang terbuka dan toleran kepada para penganut agama-agama lain.

“Bagi kita, theis dan theis bisa berkumpul. Muslim dan Kartini bisa bercanda. Artis dan Atlit bisa bergurau. Kafirin dan muttaqin bisa bermesraan. Tapi pluralis dan anti pluralis tidak bisa bersatu.”

Pradewi Tri Chatami menguraikan catatan harian Ahmad Wahib tidak semuanya di bukukan, “Salah satunya soal Menstruasi. Padahal jika dibolehkan shalat pada saat men akan terasa nikmat karena tidak memberikan beban” paparnya

Menjawab persoalan ada catatan harian Ahmad Wahib yang tidak di bukukan, Ihsan menjelaskan “Ya. Karena faktor tidak terbaca tulisanya. Perlu diketahui, sebelum mati catatan harian ini sudah dikumpulkan, rapi. Seakan-akan ingin dipublikasikan pengakuan Johan Effendi” ujarnya

Ia menghimbau kepada seluruh peserta talk show yang belum pernah membaca buku Pergolakan Pemikiran Islam; Catatan Harian Ahmad Wahib “Bacalah pada saat di angkot, rumah karena bagi saya buku ini suci sebab menjadi teman dialog, keluh kesah atas segala persoalan yang ada” kesannya

Bila kita tidak sepakat dengan segala kegelisahan Ahmad Wahib “Tuliskanlah dan ikuti Sayembara Esai, Video dan Blog Ahmad Wahib 2012. Jadilah orang pertama dari Bandung yang ikut Sayembara Ahmad Wahib 2012” saranya

Pembagian doorprize buku-buku terbitan Yayasan Wakaf Paramadina kepada 10 peserta; 5 orang dari mahasiswa UIN SGD Bandung dan 5 orang dari pelajar SMA se-Bandung Raya dan Live Performance dari Mapah Layung dan The Karl Marx menjadi penutup acara Talk Show Ahmad Wahib.*** [Ibn Ghifarie]