UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Kampus Harus Jadi Etalase Pemikiran Islam

[www.uinsgd.ac.id] Civitas akademika UIN SGD Bandung mengapresiasi upaya yang dilakukan Fakultas Ushuludin dalam mengawinkan pemikiran antara Suni dan Syiah,  yakni pemikiran politik Imam Khomeini dan KH. Abdurrahman Wahid.”Kami sangat mengapresiasi apa yang dilakukan fakultas Ushuludin sekaligus memberikan pencerahan kepada kepada mahasiswa dan dosen,” kata Pejabat Pengganti Sementara (Pgs) Rektor UIN SGD Bandung, Prof. Dr. Muhtar Solihin M.Ag. saat membuka “Seminar Nasional Pemikiran Politik Imam Khomeini dan KH Abdurrahman Wahid” di Aula Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung lantai IV, Kamis (19/3).

Seminar yang menampilkan para nara sumber diantaranya KH. Dr. Jalaluddin Rakhmat Msc, Prof. Dr. Seyed Ahmad Habibnezhad (Tehran University), Ahmad Ali Nurdin MA., Ph.D (Wakil Dekan FISIP UIN SGD Bandung) dipandu oleh moderator Dr. Ali Masrur Condro M.Ag yang mendapat dukungan dari Kedubes RI, Iranian Corner, Fakultas Ushuludin UIN SGD Bandung yang dihadiri lebih dari dua ratus mahasiswa dan dosen.

Menurut Rektor, “Islam dan politik bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan bangsa dan negera. Karenanya, Islam dapat tegak berdiri dengan politik kekuasan seperti di Iran berkembang oleh Khomeini, Sedangkan di Indonesia politik Islam oleh Gus Dur,” tegas Guru Besar Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung.

“Keduanya mempunyai massa yang cukup fanatik bagi pengikutinya dimana Gus Dur lebih mengenalkan ahlus sunnah dan Imam Khomeini mengenalkan Syiah,”  katanya.

Bagi Dekan Fakultas Ushuluddin, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag menjelaskan kegiatan ini, sebagai usaha untuk membuka wawasan para dosen dan mahasiswa dalam mengenal khasanah pemikiran Islam. “Kampus harus menjadi  etalase pemikiran Islam karena khazanah Islam mempunyai sudut pandang lain dalam menyikapi persoalan Islam dan politik,” tegasnya.

Selama ini kita masih memiliki anggapan, Islam itu tidak bisa dihubungkan dengan politik. Begitu pula politik tak bisa dikatkan dengan Islam.Mengingat hubungan negara antara Indonesia dengan Iran sudah terjalin lama. “Untuk itu, antara Iran dan Indonesia punya sejarah yang panjang dalam membangun kebudayaan dan pemikiran Islam ini,” ungkap Konselor bidang Kebudayaan Besar Iran, Dr. Hujjatullah Ebrahimian.

“Untuk sosok Muhammad dan Al-Quran antara kedua negara ini sama. Apalagi di Indonesia memiliki Wali Songo yang jika dirunut nasabnya ada salah satu dari Wali ini berasal dari Kurosan atau Iran,” sambungnya.

Konselor berharap “Dengan adanya kegiatan ini bisa menjalin hubungan antara Indonesia dan Iran lebih baik dalam mengenalkan kebudayaan dan pemikiran Islam, khususnya belajar pemikiran Islam di bidang politik Islam dari Imam Khomeini dan K.H Abdurrahman Wahid,” pungkasnya. [Humas Al-Jamiah]