UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Islam Itu Sunda, Sunda Itu Islam

[www.uinsgd.ac.id] Ada yang menarik dari acara sidang terbuka (sidang promosi) doktor Deni Miharja, salah seorang dosen Fakultas Ushuluddin UIN Bandung. Pada sidang promosi doktor tersebut, Deni Miharja berhasil mempertahankan disertasinya dengan judul Integrasi Agama Islam Dengan Budaya Sunda (Studi pada Masyarakat Adat Cikondang Desa Lamajang Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung).

Di antara yang menarik diperbincangkan dalam sidang promosi ini adalah slogan “Islam itu Sunda, Sunda itu Islam”. Ada beberapa yang mencoba menggugat slogan ini. Gugatan itu berangkat dari realita masyarakat Sunda zaman kiwari yang tidak mencerminkan slogan ini sama sekali. Kekerasan yang terjadi belakangan ini justru banyak terjadi di kalangan masyarakat Sunda yang katanya someah dan handap asor itu. Yang menarik, menurut beberapa sumber, aktor kekerasan melalui radikalisme agama di Indonesia justru terbanyak dilakukan di Jawa Barat, basis masyarakat Sunda. Lalu, di mana kebenaran slogan ini?

Ada juga yang mencoba menggugatnya dari logika berpikir. “Kalau Sunda itu Islam, berarti Jawa, Batak, Madura….bukanlah Islam.”

Ada juga yang mencoba menggugatnya dari sisi epistimologisnya, bagaimana Islam yang luhur dan sakral kemudian direduksi dan disejajarkan dengan Sunda yang duniawi dan profan?
Tanpa bertujuan menganggap sederhana terhadap gugatan-gugatan di atas, saya memandang yang menarik pertama kali dibicarakan adalah siapa yang membuat slogan itu? Kapan? Konteksnya apa? Ini perlu dijawab terlebih dahulu sebelum menggugat slogan ini. Sebab, jangan-jangan maksud slogan itu tidak seidealis sebagaimana bunyinya. Dalam teori Psikolinguistik, setiap ungkapan pasti berealisasi dengan konteks-konteks tertentu. Maka, tidaklah adil jika kita menggugat sebuah slogan tanpa memperhatikan latarnya, baik latar pengujar maupun latar wacananya.

Dalam kajian Alquran, latar belakang itu disebut asbabun nuzul. Para sarjana muslim memandang penting memperhatikan hal ini sebelum membuat penilaian atau kesimpulan dari satu ungkapan dalam Alquran.

Sayangnya, sejauh ini belum ditemukan catatan (jika tidak dikatakan tidak ada) yang menjelaskan bagaimana sejarah kemunculan slogan ini. Tapi—kalau tidak salah dengar dan perlu pembuktian lebih lanjut—slogan ini pertama kali diucapkan oleh H. Endang Saifuddin Anshari, M.A. (kita sebagai mahasiswanya memangginya AMA), yang dikemukakannya dalam Riungan Masyarakat Sunda di Bandung tahun 1967. Nah, jika ini benar, maka slogan ini dapat dilihat dari dua perspektif: Perspektif kedisanaan (keadaan masyarakat Sunda saat itu) dan perspektif pandangan hidup atau filsafat hidup orang Sunda.

Saya kira, masyarakat Sunda saat itu pasti lebih jauh bersahaja daripada masa sekarang. Dalam bayangan saya, prilaku masyarakat Sunda sangat mencerminkan nilai-nilai keislaman. Saya hanya dapat membayangkan karena baru lahir ke dunia ini tahun 1969. Tapi dari cerita-cerita orang tua saya, bayangan-bayangan itu bukan tanpa alasan sama sekali. Dalam banyak tulisan yang pernah saya baca, filsafat hidup orang Sunda memang selaras atau tercerahkan oleh nilai-nilai Islam. Itu misalnya tercermin pada beberapa ungkapan babasan-babasan Bahasa Sunda.

Saya tidak akan memperpanjang diskusi tentang raison d’etre slogan ini karena tentu untuk menjawabnya perlu ada penelitian yang mendalam. Atau, barang kali, tidak usah diteliti, karena slogan ini bukan ucapan Nabi atau Rasul, sehingga probabilitas kelirunya sangat mungkin terjadi. Tapi, setahu saya ada banyak juga yang mencoba menjelaskannya. Saya hanya ingin mengatakan bahwa slogan ini, terlepas tepat atau tidak, seharusnya menjadi pemicu masyarakat Sunda zaman kiwari untuk ngalarapkeun filsafat hidup Orang Sunda yang mencerminkan atau telah tercerahkan ajaran-ajaran Islam. Nah, saya kira wisdom slogan ini adalah sebuah nasehat, tinggal diwujudkan, bukan diperdebatkan. Buktikan kalau Sunda itu Islam.***[Prof.Dr. Rosihon Anwar, M.Ag]

Sumber: fu.uinbdg.ac.id