UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Ilmu dan Kesucian Jiwa

Kelebihan manusia yang paling utama itu ada dua: pertama, pengetahuannya yang kreatif dan berkembang; kedua, kesucian ruhnya karena ruh manusia pada hakekatnya adalah bagian dari ruh Tuhan. Dengan pengetahuannya yang kreatif dan berkembang, manusia mampu melebihi dan mengalahkan kemampuan binatang apapun. Bahkan, malaikat mengakui kehebatan manusia yang mampu menguasai nama-nama benda yang telah diajarkan oleh Tuhan kepadanya. Meskipun sebelumnya, malaikat meragukan i’tikad baik manusia, tetapi akhirnya malaikat menyatakan, shubhanaka lā ‘ilma lanā illā mā allamtanā innaka antal ‘alÄ«mul hakÄ«m (Maha Suci Engkau, tidak ada ilmu bagi kami kecuali ilmu yang Engkau telah ajarkan kepada kami, Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana).

Kelebihan kedua manusia adalah kesucian ruhnya yang ditiupkan oleh Allah dari sebagian ruh-Nya. Kesucian ruh manusia ini dalam perkembangannya terkontaminasi oleh lingkungan yang menyebabkannya “jatuh ke bumi”, yang dalam Alquran dinamakan hubÅ«th. Meskipun ruh manusia pada dasarnya bersifat suci (fithrÄ«), tetapi manusia juga memiliki kecenderungan menyimpang dari kesucian itu. Jika manusia mampu menjaga kesuciannya dan mampu menahan diri dari hawa nafsu (wa nahan nafsa ‘anil hawā), maka manusia akan meraih kesuksesan dan keberhasilan dengan mudah.

Jadi, ilmu pengetahuan manusia yang kreatif dan berkembang tidak dapat dipisahkan dengan kesucian ruh dan jiwanya karena dua-duanya merupakan modal dasar untuk keberhasilan dan kesuksesan manusia di masa depan. Oleh karena itu, Imam Muhammad b. Ismā’Ä«l al-Ju’fÄ« al-BukhārÄ« tidak pernah memisahkan ilmu dan kesucian ruhnya. Setiap hendak menulis hadis nabi SAW., ia berwudhu dan melakukan shalat dua rakaat lebih dahulu. Ilmu pengetahuan yang dibarengi dengan kesucian jiwa mampu membawa manusia pada kesuksesan lahir batin dan dunia akhirat. Sebaliknya, jika ilmu pengetahuan yang dikembangkan tidak dibarengi dengan kesucian jiwa dan tidak diniatkan atas nama Allah SWT., maka yang terjadi adalah seperti yang ramai diberitakan oleh televisi swasta belakangan ini di mana orang-orang yang diberi wewenang dan jabatan justru ia yang makan tanaman. Para pejabat tinggi negara melakukan korupsi dengan seenaknya, tanpa memikirkan dampaknya bagi masyarakat luas.

Sebaliknya, ilmu pengetahuan yang dibarengi dengan kesucian jiwa akan membuat manusia tidak hanya tahu, tetapi juga sadar akan kelebihan ilmu yang dimilikinya. Kesucian jiwa membuat manusia selalu waspada dan sadar, tidak lengah atau ghaflah. Mengenai ilmu pengetahuan dan kesadaran, AbÅ« Hāmid Muhammad b. Muhammad al-GhazālÄ« menyatakan bahwa manusia itu dibagi menjadi empat: 1. Orang yang tahu dan ia sadar bahwa ia tahu. Itulah orang ‘ālim, maka mintalah petunjuk kepadanya 2. Orang yang tahu, tapi ia tidak sadar bahwa ia tahu. Itulah orang yang tidur, maka bangunkanlah  3. Orang yang tidak tahu, tapi ia sadar bahwa ia tidak tahu. Itulah orang bodoh, maka ajarilah dan 4. Orang yang tidak tahu dan ia tidak sadar bahwa ia tidak tahu. Itulah orang dungu, maka jauhilah.

Oleh karena itu, seorang pencari ilmu diharapkan mampu menjaga kesucian niatnya dan jiwanya. Dengan itu, ilmu yang ia dapatkan dapat menjadi ilmu yang bermanfaat. Nabi SAW. mengajarkan kepada kita untuk mencari ilmu yang bermanfaat.Yang harus dicari bukanlah ilmu yang banyak, tetapi ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang banyak, tetapi tidak bermanfaat, maka ilmu itupun akan habis dan hilang karena lupa. Namun, ilmu yang bermanfaat meskipun sedikit, ia akan bertambah banyak. Karena itulah, diceritakan oleh Imam al-ZarnÅ«jÄ« dalam Ta’lÄ«m al-muta’allim, ada seorang ulama yang ketika dia mengkaji (muthāla’ah) kitabnya, ia berwudhu tujuh kali disebabkan karena ia batal tujuh kali. Ini dilakukannya karena ilmu itu cahaya dan wudhu itu juga cahaya. Apabila dua cahaya bertemu dan digabungkan, maka akan semakin terang cahaya itu. Dalam hal ini, patut direnungkan pernyataan Muhammad b.. IdrÄ«s al-Syāfi’Ä« ketika ia mengalami kesulitan dalam menghafal pelajaran, Syakawtu ilā wakÄ«’in sÅ«’a hifzhÄ«, fa arsyadanÄ« ilā tarkil ma’āshÄ«. Artinya, “Aku mengadu kepada guruku, Imam WakÄ«’, tentang kesulitan menghafal pelajaran, maka ia menunjukkan kepadaku untuk meninggalkan kemakshiyatan.”

Walhasil, ilmu pengetahuan manusia yang kreatif dan berkembang akan dapat berdaya guna dan bermanfaat bagi banyak orang, jika sang pencari ilmu (sālik, murÄ«d, muta’allim, mutarabbÄ«, muta’addib) dan yang mengajarkan ilmu (mursyid, mu’allim, murabbÄ«, mu’addib) berusaha dengan  sungguh-sungguh menjaga kesucian niat dan jiwanya. Dengan demikian, yang menjadi pokok adalah iman dan kesucian jiwa, sementara ilmu pengetahuan itu adalah pendukungnya. Maka, dalam ilmu hadis, ‘adalah (kejujuran) itu harus lebih didahulukan daripada al-dhabth (kekuatan hafalan) karena orang yang dhābith, tetapi tidak ‘adil/ jujur, orang semacam itu mungkin saja berbohong ketika menyampaikan hadis, tetapi orang yang ‘adil/ jujur, meskipun kedhābithannya tidak sempurna atau biasa-biasa saja, orang semacam  ini tidak akan berbohong ketika menyampaikan hadisnya.

Dengan ilmu pengetahuan yang kreatif dan berkembang dan dibarengi dengan iman yang kuat dan kesucian jiwa, manusia diharapkan mengalami kenaikan derajat dengan mudah dan derajat yang didapatkan, bukan hanya bersifat lahiriah, tetapi juga batiniah. Hal ini sesuai dengan Kalam Allah SWT, dalam surat al-Mujadalah: 11, yarfa’illahulladzÄ«na āmanÅ« minkum walladzÄ«na Å«tul ‘ilma darajāt (Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang telah diberi ilmu beberapa tingkatan).[]

 Ali Masrur, Dosen Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung.