UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Guru Harus Cerdas IT

Dalam perkembangan zaman sekarang ini, tenaga pendidik dituntut untuk memiliki keterampilan berbagai hal terutama teknologi informasi (TI). Keterampilan tersebut bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan. Dengan kata lain, seorang guru tidak mungkin berbuat amal saleh jika tidak memiliki keterampilan di bidang TI.

“Jadi, bukan hanya NKRI harga mati. Tetapi kemampuan dalam bidang TI juga harga mati sebab kalau kita gagap teknologi atau gaptek, kita akan tertinggal jauh,” tegas Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. Mahmud, MSi, di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Kota Bandung, Jln. Desa Cipadung Cibiru Kota Bandung, Selasa (8/1).

Pada kesempatan tersebut dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (Mou) mengenai Pengembangan dan Peningkatan Layanan Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam Berbasis Madrasah Binaan (Center Of Excelent) di Kota Bandung antara Kemenag Kota Bandung dan UIN  SGD Bandung. Nota kesepahaman tersebut ditandatangani masing-masing oleh Rektor UIN SGD Dr. Mahmud, MSi dan Kepala Kemenag Kota Bandung, H. Yusuf, MoU dilakukan dalam upaya peningkatan kualitas di lingkungan madrasah Kota Bandung.

Menurut Mahmud, “Bidang TI jangan dianggap sederhana. Penguasaan terhadap bidang tersebut sangat penting karena itu pihaknya menginstruksikan civitas akademika di jurusan Pendidikan Agama Islam UIN SGD, agar lulusannya tidak hanya membawa ijazah tapi juga membawa satu flashdisk yang berisi kurikulum.”

Untuk lulusan PAI, lanjutnya, tidak hanya membawa ijazah tetapi harus  menyiapkan dan memiliki sebuah flashdisk yang berisi kurikulum, dilengkapi animasi dalam sejumlah bahasa. “Semua harus kita siapkan, harus kita hadapi. Dengan demikian kita bisa beramal dengan menguasai berbagai ilmu. Kita sebagai guru akan dimintai pertanggungjawaban nanti tentang apa yang sudah dilakukan,” jelasnya.  

Dikatakannya, “Saat ini dunia memasuki era revolusi industri versi 4.0. Banyak orang yang merasa was was dengan situasi dan kondisi sekarang ini. Padahal sebenarnya bagi umat Islam, situasi apapun bukan sebuah ancaman, termasuk dengan istilah revolusi industri 4.0. Hal itu biasa saja, karena Alquran sejak awal sudah mengingatkan melalui surat Al-Ashr, demi waktu. Sesungguhnya manusia rugi dengan waaktu, kecuali memiliki kualitas iman yang tangguh, juga kemampuan teknologi yang hebat.”

Kadar Ekstrim

Rektor UIN SGD juga berpesan kepada para guru agar anak didiknya lebih dikuatkan lagi dalam pemahaman agamanya, sehingga tidak akan lahir kader yang ekstrim, kader yang tidak moderat sikap dan pemikirannya dalam konteks berbangsa dan bernegara.

Dia menjelaskan, “Pada saat Nabi Muhammad akan hijrah dari Mekah ke Medinah, ketika sudah sudah mencapai 40 langkah, Rasulullah menengok ke belakang untuk melihat kota Mekah dan mengatakan Wahai kota Mekah andai aku tidak diusir, andai aku tidak dizalimi, berat rasanya aku meninggalkanmu”.

Hal itu bermakna, Rasulullah cinta terhadap tanah air. Ketika sudah berada di Madinah, Nabi menjadi pemimpin, membuat dan menciptakan program program unggulan. “Jangan lupa Nabi juga membuat program yang terkait dengan Kota Madinah, yaitu futuh Mekah, penaklukan Mekah. Ini menggambarkan, walaupun Nabi sudah sukses di Madinah tapi tetap mencintai tanah air. Hubbul wathon minal iman, mencinai tanah air bagian dari iman,” ungkapnya.

Mahfudz juga menitipkan pesan, “Jangan sampai ada guru madrasah yang mencaci maki dan benci kepada tanah air. NKRI itu harga mati sebuah keharusan untuk menjaga persatuan dan kesatuan.  Dengan cara itu bangsa ini akan berkembang lebih maju.” (Eva Nurwidiawati, Novam S)

Sumber, Kanwil Jabar Rabu, 09-01-2019 | 10:18:03