UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Diperlukan Manajemen Masjid

Diskusi mengenai fenomena munculnya benih Islam radikal di masjid mengarah pada wacana tentang masjid takwa dan masjid dhirar. Kedua kategori masjid ini memang dimunculkan dalam Alquran yang dapat dimaknai sebagai seruan bahwa semua pihak hendaklah mengelola masjid dengan dasar takwa dan untuk tujuan penyebaran spirit takwa bagi seluruh umat manusia.Apa kaitannya dengan masjid penyimpan benih Islam radikal? Tafsir atas masjid takwa terdapat dalam Alquran Surat At-Taubah:107 yang mengemukakan, “Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih patut kamu salat di dalamnya. Di dalam masjid itu terdapat orang yang membersihkan diri. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.”Para mufasir mengaitkan ayat ini dengan pembangunan Masjid Quba, sebuah tempat beberapa kilometer (dua farsakh) di selatan Madinah. Inilah masjid pertama yang dibangun (dalam konsep formalistik bangunan masjid) dalam Islam. Nabi saw., Abu Bakar r.a., dan para sahabat lain transit di tempat ini selama empat hari, untuk kemudian melanjutkan hijrahnya menuju Madinah.Kebalikan dari pembangunan masjid takwa adalah masjid tandingan yang dibangun musuh Nabi, yang juga diabadikan dalam Alquran Surat At-Taubah: 106. Masjid tandingan ini kemudian dinamai masjid dhirar ini.Masjid dhirar ini dalam sejarah dikaitkan dengan tokoh Abu Amir Ar-Rahib. Ia konon pernah bertemu Nabi dan kecewa akan hasil pertemuannya itu, kemudian pergi ke Syiria (Suriah) untuk bergabung dengan tentara Romawi dan bermaksud memerangi Madinah. Kaum munafik, para pembangun masjid dhirar ini menunggu kedatangannya dan berharap sang rahib ini menjadi imam masjid mereka. Namun, kenyataannya tidak demikian. Abu Amir mati di Syiria.Ada perbedaan mendasar dari kedua jenis masjid ini. Masjid Quba dibangun atas dasar takwa dan orang yang tulus hati demi kebersihan bersama, sementara masjid dhirar bercirikan sebagai penghadir kemudaratan di ruang publik, menolak (teladan) Nabi, dan memecah belah umat. Bila keduanya dijadikan parameter, kita sudah menemukan kacamata bahwa masjid yang tertutup pada kelompok tertentu, membuat umat terpecah belah, menghadirkan ancaman kemudaratan di ruang publik dapat dikategorikan dhirar. Namun sebaliknya, masjid yang tidak menghadirkan seluruh ciri dhirar itu, tetapi tidak menghasilkan masyarakat penuh ketulusan tidak serta-merta dapat disebut masjid takwa.Manajemen masjidSemakin gamblang bahwa asas pendirian dan pengelolaan masjid itu haruslah takwa. Pengelolaan masjid dengan demikian juga harus berbasis takwa. Apakah takwa itu? Alquran Surat Al-Baqarah di beberapa ayat pertama menyebutkan beberapa indikator takwa, yaitu beriman kepada yang gaib, mendirikan salat, berinfak, beriman kepada kitab suci termasuk kitab suci sebelumnya, dan beriman kepada hari akhir. Sejumlah indikator ini dapat dijadikan dasar bagi pengelolaan masjid sebagai pusat ketulusan sosial.Pertama, pengelolaan masjid harus didasari ketulusan dan kerja kreatif. Indikator beriman kepada yang gaib dapat dimaknai sebagai integritas untuk mengucapkan apa yang dilakukan dan melakukan apa yang diucapkan. Keimanan memang terus-menerus menuntut bukti, bahkan Alquran menegaskan tak dapat disebut beriman jika belum melewati ujian “tetap berada dalam kebaikan kerja kreatif dalam keadaan senang dan susah.”Kata gaib menurut Ibn Abbas adalah Allah, jadi beriman kepada yang gaib berarti menjadikan kerja kreatif Allah sebagai rujukan pengelolaan masjid. Maka, beriman kepada yang gaib berarti kesanggupan menghadirkan apa yang tak kasat mata sebagai motif dan tujuan dari tindakan, ketika yang tak kasat mata itu adalah Allah (Sang Kreator). Oleh karena itu, keimanan kepada yang gaib akan menghasilan manusia profesional yang bekerja atas kesadaran terus berada di bawah pengawasan dan bimbingan Tuhan.Kedua, memiliki misi transformasi sosial. Perintah mendirikan salat di dalam Alquran dikaitkan dengan kemampuan beramar makruf nahi mungkar. Salat yang benar dengan demikian dapat berarti sebagai salat yang berhasil melindungi pelakunya dari perbuatan fahsya dan mungkar (kejahatan yang ada pada dirinya dan kejahatan yang ada pada orang lain). Salat yang benar akan berfungsi menjadi benteng-holografis bagi dirinya dan orang lain. Masjid, dalam konteks ini, di samping menjadi ruang bersama bagi salat juga menjadi pusat nahi mungkar atau liberasi (terbebasnya ruang publik dari penyakit sosial), amar makruf atau humanisasi (menciptakan kebaikan bersama dalam ketulusan), dan transendensi.Ketiga, menjadi pusat distribusi kesejahteraan publik. Al-Baqarah ayat 3 menegaskan, ketakwaan ditentukan dari menginfakkan rezeki yang didapatkannya, maka masjid haruslah juga menjadi pusat penyebaran kesejahteraan ekonomi publik. Tak layak rasanya jika ada masjid mewah yang menyimpan uang infak sementara masyarakat sekitar masjid tidak memiliki rumah dan nelangsa.Nabi Muhammad saw. memiliki istilah menarik mengenai orang atau pihak yang tidak mau membelanjakan hartanya untuk kesejahteraan sosial, yaitu muhtakir. Dalam syarh hadis dijelaskan bahwa para muhtakir-lah yang telah menyebabkan keseimbangan supply-demand menjadi terganggu. Akibatnya, harga menjadi melambung tinggi dan barang menjadi langka. Lebih lanjut, situasi ini menyebabkan kebutuhan orang banyak pun menjadi terganggu. Sampai pada waktu tertentu, kemudaratan akan kembali kepada dirinya sendiri (Kahlany: 2002). Masjid yang tidak menjadi pusat kesejahteraan publik akan menciptakan masyarakat miskin yang semakin menjauhi masjid atau bahkan “meruntuhkan” masjid.Keempat, memiliki kesadaran untuk menjadi pusat teladan bagi perbaikan peradaban berbasis tradisi literasi. Al-Baqarah ayat 4 menegaskan tentang kategori takwa dengan kemampuan mengimani sumber pengetahuan dari seluruh tradisi kemanusiaan. Indikator takwa inilah yang telah menginspirasi sahabat Nabi dan tabi’in untuk terus belajar dan memburu ilmu. Masjid pada zaman Nabi dan para sahabat adalah ruang berbagi pengetahuan, menguji dan membuktikan formula perbaikan sosial. Khaled Abou El-Fadl (1999) pada the Confrence of Book memiliki istilah menarik bahwa Alquran adalah Kabah bagi semua buku dan seluruh kajian keilmuan yang dilakukan di masjid adalah buku yang terus bertawaf mengelilingi Kabah buku itu.Kelima, memiliki pola pergerakan yang “memulai dari yang akhir”. Konsep beriman pada hari akhir dapat diluaskan menjadi waktu setelah “sekarang”. Satu menit, satu jam, satu hari ke depan adalah “akhirat”, jika kita menyadari dan menghitungnya dari “sekarang”. Pengelolaan yang baik harus memiliki mimpi dan bayangan akhir yang baik, Alquran menyebut hasil akhir itu sebagai falah (kebahagiaan sejati dunia-akhirat). Oleh karena itu, hasil akhir yang harus diupayakan masjid haruslah menghadirkan kebahagiaan bagi ruang publik.Mengurangi “Dhirar”Masjid dhirar adalah masjid yang dikelola tanpa mempertimbangkan situasi ruang publik dan mementingkan kuasa diri. Abu Amir Ar-Rahib adalah orang yang merasa layak memimpin umat. Oleh karena itu, ia memprovokasi pembuatan masjid tandingan. Ar-Rahib menolak imam Masjid Quba, yakni Muhammad saw., karena merasa dirinya lebih berhak. Oleh karena itu, kehadiran masjid seperti ini akan tampak dari kemampuannya menghadirkan perpecahan di tengah masyarakat dan kemudaratan yang bersamaan dengan itu.Masjid dhirar bukan hanya masjid yang dikelola dengan niat tanpa ketulusan. Masjid dhirar juga tampil dari masjid yang tanpa pengelolaan yang jelas, asal dibangun dengan mimpi mendapat rumah di surga, atau dibangun untuk kepentingan “asal berbeda”. Pembangunan masjid memang dijanjikan pahala “dibangunkan rumah di surga oleh Allah”, tetapi dengan syarat mutlak jika masjid itu dapat menghadirkan “rumah surga” di tengah ruang publik. Wallahu a’lam. Dr. H. M. Anton Athoillah, peneliti pada Institute for Study of Islam, Cultural, and Public Affairs Pascasarjana UIN Bandung dan mahasiswa S-3 Ekonomi Terapan Unpad BandungSumber, Pikiran Rakyat, 4 Oktober 2010

Diskusi mengenai fenomena munculnya benih Islam radikal di masjid mengarah pada wacana tentang masjid takwa dan masjid dhirar. Kedua kategori masjid ini memang dimunculkan dalam Alquran yang dapat dimaknai sebagai seruan bahwa semua pihak hendaklah mengelola masjid dengan dasar takwa dan untuk tujuan penyebaran spirit takwa bagi seluruh umat manusia.Apa kaitannya dengan masjid penyimpan benih Islam radikal? Tafsir atas masjid takwa terdapat dalam Alquran Surat At-Taubah:107 yang mengemukakan, “Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih patut kamu salat di dalamnya. Di dalam masjid itu terdapat orang yang membersihkan diri. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.”Para mufasir mengaitkan ayat ini dengan pembangunan Masjid Quba, sebuah tempat beberapa kilometer (dua farsakh) di selatan Madinah. Inilah masjid pertama yang dibangun (dalam konsep formalistik bangunan masjid) dalam Islam. Nabi saw., Abu Bakar r.a., dan para sahabat lain transit di tempat ini selama empat hari, untuk kemudian melanjutkan hijrahnya menuju Madinah.Kebalikan dari pembangunan masjid takwa adalah masjid tandingan yang dibangun musuh Nabi, yang juga diabadikan dalam Alquran Surat At-Taubah: 106. Masjid tandingan ini kemudian dinamai masjid dhirar ini.Masjid dhirar ini dalam sejarah dikaitkan dengan tokoh Abu Amir Ar-Rahib. Ia konon pernah bertemu Nabi dan kecewa akan hasil pertemuannya itu, kemudian pergi ke Syiria (Suriah) untuk bergabung dengan tentara Romawi dan bermaksud memerangi Madinah. Kaum munafik, para pembangun masjid dhirar ini menunggu kedatangannya dan berharap sang rahib ini menjadi imam masjid mereka. Namun, kenyataannya tidak demikian. Abu Amir mati di Syiria.Ada perbedaan mendasar dari kedua jenis masjid ini. Masjid Quba dibangun atas dasar takwa dan orang yang tulus hati demi kebersihan bersama, sementara masjid dhirar bercirikan sebagai penghadir kemudaratan di ruang publik, menolak (teladan) Nabi, dan memecah belah umat. Bila keduanya dijadikan parameter, kita sudah menemukan kacamata bahwa masjid yang tertutup pada kelompok tertentu, membuat umat terpecah belah, menghadirkan ancaman kemudaratan di ruang publik dapat dikategorikan dhirar. Namun sebaliknya, masjid yang tidak menghadirkan seluruh ciri dhirar itu, tetapi tidak menghasilkan masyarakat penuh ketulusan tidak serta-merta dapat disebut masjid takwa.Manajemen masjidSemakin gamblang bahwa asas pendirian dan pengelolaan masjid itu haruslah takwa. Pengelolaan masjid dengan demikian juga harus berbasis takwa. Apakah takwa itu? Alquran Surat Al-Baqarah di beberapa ayat pertama menyebutkan beberapa indikator takwa, yaitu beriman kepada yang gaib, mendirikan salat, berinfak, beriman kepada kitab suci termasuk kitab suci sebelumnya, dan beriman kepada hari akhir. Sejumlah indikator ini dapat dijadikan dasar bagi pengelolaan masjid sebagai pusat ketulusan sosial.Pertama, pengelolaan masjid harus didasari ketulusan dan kerja kreatif. Indikator beriman kepada yang gaib dapat dimaknai sebagai integritas untuk mengucapkan apa yang dilakukan dan melakukan apa yang diucapkan. Keimanan memang terus-menerus menuntut bukti, bahkan Alquran menegaskan tak dapat disebut beriman jika belum melewati ujian “tetap berada dalam kebaikan kerja kreatif dalam keadaan senang dan susah.”Kata gaib menurut Ibn Abbas adalah Allah, jadi beriman kepada yang gaib berarti menjadikan kerja kreatif Allah sebagai rujukan pengelolaan masjid. Maka, beriman kepada yang gaib berarti kesanggupan menghadirkan apa yang tak kasat mata sebagai motif dan tujuan dari tindakan, ketika yang tak kasat mata itu adalah Allah (Sang Kreator). Oleh karena itu, keimanan kepada yang gaib akan menghasilan manusia profesional yang bekerja atas kesadaran terus berada di bawah pengawasan dan bimbingan Tuhan.Kedua, memiliki misi transformasi sosial. Perintah mendirikan salat di dalam Alquran dikaitkan dengan kemampuan beramar makruf nahi mungkar. Salat yang benar dengan demikian dapat berarti sebagai salat yang berhasil melindungi pelakunya dari perbuatan fahsya dan mungkar (kejahatan yang ada pada dirinya dan kejahatan yang ada pada orang lain). Salat yang benar akan berfungsi menjadi benteng-holografis bagi dirinya dan orang lain. Masjid, dalam konteks ini, di samping menjadi ruang bersama bagi salat juga menjadi pusat nahi mungkar atau liberasi (terbebasnya ruang publik dari penyakit sosial), amar makruf atau humanisasi (menciptakan kebaikan bersama dalam ketulusan), dan transendensi.Ketiga, menjadi pusat distribusi kesejahteraan publik. Al-Baqarah ayat 3 menegaskan, ketakwaan ditentukan dari menginfakkan rezeki yang didapatkannya, maka masjid haruslah juga menjadi pusat penyebaran kesejahteraan ekonomi publik. Tak layak rasanya jika ada masjid mewah yang menyimpan uang infak sementara masyarakat sekitar masjid tidak memiliki rumah dan nelangsa.Nabi Muhammad saw. memiliki istilah menarik mengenai orang atau pihak yang tidak mau membelanjakan hartanya untuk kesejahteraan sosial, yaitu muhtakir. Dalam syarh hadis dijelaskan bahwa para muhtakir-lah yang telah menyebabkan keseimbangan supply-demand menjadi terganggu. Akibatnya, harga menjadi melambung tinggi dan barang menjadi langka. Lebih lanjut, situasi ini menyebabkan kebutuhan orang banyak pun menjadi terganggu. Sampai pada waktu tertentu, kemudaratan akan kembali kepada dirinya sendiri (Kahlany: 2002). Masjid yang tidak menjadi pusat kesejahteraan publik akan menciptakan masyarakat miskin yang semakin menjauhi masjid atau bahkan “meruntuhkan” masjid.Keempat, memiliki kesadaran untuk menjadi pusat teladan bagi perbaikan peradaban berbasis tradisi literasi. Al-Baqarah ayat 4 menegaskan tentang kategori takwa dengan kemampuan mengimani sumber pengetahuan dari seluruh tradisi kemanusiaan. Indikator takwa inilah yang telah menginspirasi sahabat Nabi dan tabi’in untuk terus belajar dan memburu ilmu. Masjid pada zaman Nabi dan para sahabat adalah ruang berbagi pengetahuan, menguji dan membuktikan formula perbaikan sosial. Khaled Abou El-Fadl (1999) pada the Confrence of Book memiliki istilah menarik bahwa Alquran adalah Kabah bagi semua buku dan seluruh kajian keilmuan yang dilakukan di masjid adalah buku yang terus bertawaf mengelilingi Kabah buku itu.Kelima, memiliki pola pergerakan yang “memulai dari yang akhir”. Konsep beriman pada hari akhir dapat diluaskan menjadi waktu setelah “sekarang”. Satu menit, satu jam, satu hari ke depan adalah “akhirat”, jika kita menyadari dan menghitungnya dari “sekarang”. Pengelolaan yang baik harus memiliki mimpi dan bayangan akhir yang baik, Alquran menyebut hasil akhir itu sebagai falah (kebahagiaan sejati dunia-akhirat). Oleh karena itu, hasil akhir yang harus diupayakan masjid haruslah menghadirkan kebahagiaan bagi ruang publik.Mengurangi “Dhirar”Masjid dhirar adalah masjid yang dikelola tanpa mempertimbangkan situasi ruang publik dan mementingkan kuasa diri. Abu Amir Ar-Rahib adalah orang yang merasa layak memimpin umat. Oleh karena itu, ia memprovokasi pembuatan masjid tandingan. Ar-Rahib menolak imam Masjid Quba, yakni Muhammad saw., karena merasa dirinya lebih berhak. Oleh karena itu, kehadiran masjid seperti ini akan tampak dari kemampuannya menghadirkan perpecahan di tengah masyarakat dan kemudaratan yang bersamaan dengan itu.Masjid dhirar bukan hanya masjid yang dikelola dengan niat tanpa ketulusan. Masjid dhirar juga tampil dari masjid yang tanpa pengelolaan yang jelas, asal dibangun dengan mimpi mendapat rumah di surga, atau dibangun untuk kepentingan “asal berbeda”. Pembangunan masjid memang dijanjikan pahala “dibangunkan rumah di surga oleh Allah”, tetapi dengan syarat mutlak jika masjid itu dapat menghadirkan “rumah surga” di tengah ruang publik. Wallahu a’lam. Dr. H. M. Anton Athoillah, peneliti pada Institute for Study of Islam, Cultural, and Public Affairs Pascasarjana UIN Bandung dan mahasiswa S-3 Ekonomi Terapan Unpad BandungSumber, Pikiran Rakyat, 4 Oktober 2010

Diskusi mengenai fenomena munculnya benih Islam radikal di masjid mengarah pada wacana tentang masjid takwa dan masjid dhirar. Kedua kategori masjid ini memang dimunculkan dalam Alquran yang dapat dimaknai sebagai seruan bahwa semua pihak hendaklah mengelola masjid dengan dasar takwa dan untuk tujuan penyebaran spirit takwa bagi seluruh umat manusia.Apa kaitannya dengan masjid penyimpan benih Islam radikal? Tafsir atas masjid takwa terdapat dalam Alquran Surat At-Taubah:107 yang mengemukakan, “Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih patut kamu salat di dalamnya. Di dalam masjid itu terdapat orang yang membersihkan diri. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.”Para mufasir mengaitkan ayat ini dengan pembangunan Masjid Quba, sebuah tempat beberapa kilometer (dua farsakh) di selatan Madinah. Inilah masjid pertama yang dibangun (dalam konsep formalistik bangunan masjid) dalam Islam. Nabi saw., Abu Bakar r.a., dan para sahabat lain transit di tempat ini selama empat hari, untuk kemudian melanjutkan hijrahnya menuju Madinah.Kebalikan dari pembangunan masjid takwa adalah masjid tandingan yang dibangun musuh Nabi, yang juga diabadikan dalam Alquran Surat At-Taubah: 106. Masjid tandingan ini kemudian dinamai masjid dhirar ini.Masjid dhirar ini dalam sejarah dikaitkan dengan tokoh Abu Amir Ar-Rahib. Ia konon pernah bertemu Nabi dan kecewa akan hasil pertemuannya itu, kemudian pergi ke Syiria (Suriah) untuk bergabung dengan tentara Romawi dan bermaksud memerangi Madinah. Kaum munafik, para pembangun masjid dhirar ini menunggu kedatangannya dan berharap sang rahib ini menjadi imam masjid mereka. Namun, kenyataannya tidak demikian. Abu Amir mati di Syiria.Ada perbedaan mendasar dari kedua jenis masjid ini. Masjid Quba dibangun atas dasar takwa dan orang yang tulus hati demi kebersihan bersama, sementara masjid dhirar bercirikan sebagai penghadir kemudaratan di ruang publik, menolak (teladan) Nabi, dan memecah belah umat. Bila keduanya dijadikan parameter, kita sudah menemukan kacamata bahwa masjid yang tertutup pada kelompok tertentu, membuat umat terpecah belah, menghadirkan ancaman kemudaratan di ruang publik dapat dikategorikan dhirar. Namun sebaliknya, masjid yang tidak menghadirkan seluruh ciri dhirar itu, tetapi tidak menghasilkan masyarakat penuh ketulusan tidak serta-merta dapat disebut masjid takwa.Manajemen masjidSemakin gamblang bahwa asas pendirian dan pengelolaan masjid itu haruslah takwa. Pengelolaan masjid dengan demikian juga harus berbasis takwa. Apakah takwa itu? Alquran Surat Al-Baqarah di beberapa ayat pertama menyebutkan beberapa indikator takwa, yaitu beriman kepada yang gaib, mendirikan salat, berinfak, beriman kepada kitab suci termasuk kitab suci sebelumnya, dan beriman kepada hari akhir. Sejumlah indikator ini dapat dijadikan dasar bagi pengelolaan masjid sebagai pusat ketulusan sosial.Pertama, pengelolaan masjid harus didasari ketulusan dan kerja kreatif. Indikator beriman kepada yang gaib dapat dimaknai sebagai integritas untuk mengucapkan apa yang dilakukan dan melakukan apa yang diucapkan. Keimanan memang terus-menerus menuntut bukti, bahkan Alquran menegaskan tak dapat disebut beriman jika belum melewati ujian “tetap berada dalam kebaikan kerja kreatif dalam keadaan senang dan susah.”Kata gaib menurut Ibn Abbas adalah Allah, jadi beriman kepada yang gaib berarti menjadikan kerja kreatif Allah sebagai rujukan pengelolaan masjid. Maka, beriman kepada yang gaib berarti kesanggupan menghadirkan apa yang tak kasat mata sebagai motif dan tujuan dari tindakan, ketika yang tak kasat mata itu adalah Allah (Sang Kreator). Oleh karena itu, keimanan kepada yang gaib akan menghasilan manusia profesional yang bekerja atas kesadaran terus berada di bawah pengawasan dan bimbingan Tuhan.Kedua, memiliki misi transformasi sosial. Perintah mendirikan salat di dalam Alquran dikaitkan dengan kemampuan beramar makruf nahi mungkar. Salat yang benar dengan demikian dapat berarti sebagai salat yang berhasil melindungi pelakunya dari perbuatan fahsya dan mungkar (kejahatan yang ada pada dirinya dan kejahatan yang ada pada orang lain). Salat yang benar akan berfungsi menjadi benteng-holografis bagi dirinya dan orang lain. Masjid, dalam konteks ini, di samping menjadi ruang bersama bagi salat juga menjadi pusat nahi mungkar atau liberasi (terbebasnya ruang publik dari penyakit sosial), amar makruf atau humanisasi (menciptakan kebaikan bersama dalam ketulusan), dan transendensi.Ketiga, menjadi pusat distribusi kesejahteraan publik. Al-Baqarah ayat 3 menegaskan, ketakwaan ditentukan dari menginfakkan rezeki yang didapatkannya, maka masjid haruslah juga menjadi pusat penyebaran kesejahteraan ekonomi publik. Tak layak rasanya jika ada masjid mewah yang menyimpan uang infak sementara masyarakat sekitar masjid tidak memiliki rumah dan nelangsa.Nabi Muhammad saw. memiliki istilah menarik mengenai orang atau pihak yang tidak mau membelanjakan hartanya untuk kesejahteraan sosial, yaitu muhtakir. Dalam syarh hadis dijelaskan bahwa para muhtakir-lah yang telah menyebabkan keseimbangan supply-demand menjadi terganggu. Akibatnya, harga menjadi melambung tinggi dan barang menjadi langka. Lebih lanjut, situasi ini menyebabkan kebutuhan orang banyak pun menjadi terganggu. Sampai pada waktu tertentu, kemudaratan akan kembali kepada dirinya sendiri (Kahlany: 2002). Masjid yang tidak menjadi pusat kesejahteraan publik akan menciptakan masyarakat miskin yang semakin menjauhi masjid atau bahkan “meruntuhkan” masjid.Keempat, memiliki kesadaran untuk menjadi pusat teladan bagi perbaikan peradaban berbasis tradisi literasi. Al-Baqarah ayat 4 menegaskan tentang kategori takwa dengan kemampuan mengimani sumber pengetahuan dari seluruh tradisi kemanusiaan. Indikator takwa inilah yang telah menginspirasi sahabat Nabi dan tabi’in untuk terus belajar dan memburu ilmu. Masjid pada zaman Nabi dan para sahabat adalah ruang berbagi pengetahuan, menguji dan membuktikan formula perbaikan sosial. Khaled Abou El-Fadl (1999) pada the Confrence of Book memiliki istilah menarik bahwa Alquran adalah Kabah bagi semua buku dan seluruh kajian keilmuan yang dilakukan di masjid adalah buku yang terus bertawaf mengelilingi Kabah buku itu.Kelima, memiliki pola pergerakan yang “memulai dari yang akhir”. Konsep beriman pada hari akhir dapat diluaskan menjadi waktu setelah “sekarang”. Satu menit, satu jam, satu hari ke depan adalah “akhirat”, jika kita menyadari dan menghitungnya dari “sekarang”. Pengelolaan yang baik harus memiliki mimpi dan bayangan akhir yang baik, Alquran menyebut hasil akhir itu sebagai falah (kebahagiaan sejati dunia-akhirat). Oleh karena itu, hasil akhir yang harus diupayakan masjid haruslah menghadirkan kebahagiaan bagi ruang publik.Mengurangi “Dhirar”Masjid dhirar adalah masjid yang dikelola tanpa mempertimbangkan situasi ruang publik dan mementingkan kuasa diri. Abu Amir Ar-Rahib adalah orang yang merasa layak memimpin umat. Oleh karena itu, ia memprovokasi pembuatan masjid tandingan. Ar-Rahib menolak imam Masjid Quba, yakni Muhammad saw., karena merasa dirinya lebih berhak. Oleh karena itu, kehadiran masjid seperti ini akan tampak dari kemampuannya menghadirkan perpecahan di tengah masyarakat dan kemudaratan yang bersamaan dengan itu.Masjid dhirar bukan hanya masjid yang dikelola dengan niat tanpa ketulusan. Masjid dhirar juga tampil dari masjid yang tanpa pengelolaan yang jelas, asal dibangun dengan mimpi mendapat rumah di surga, atau dibangun untuk kepentingan “asal berbeda”. Pembangunan masjid memang dijanjikan pahala “dibangunkan rumah di surga oleh Allah”, tetapi dengan syarat mutlak jika masjid itu dapat menghadirkan “rumah surga” di tengah ruang publik. Wallahu a’lam. Dr. H. M. Anton Athoillah, peneliti pada Institute for Study of Islam, Cultural, and Public Affairs Pascasarjana UIN Bandung dan mahasiswa S-3 Ekonomi Terapan Unpad BandungSumber, Pikiran Rakyat, 4 Oktober 2010

Diskusi mengenai fenomena munculnya benih Islam radikal di masjid mengarah pada wacana tentang masjid takwa dan masjid dhirar. Kedua kategori masjid ini memang dimunculkan dalam Alquran yang dapat dimaknai sebagai seruan bahwa semua pihak hendaklah mengelola masjid dengan dasar takwa dan untuk tujuan penyebaran spirit takwa bagi seluruh umat manusia.Apa kaitannya dengan masjid penyimpan benih Islam radikal? Tafsir atas masjid takwa terdapat dalam Alquran Surat At-Taubah:107 yang mengemukakan, “Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih patut kamu salat di dalamnya. Di dalam masjid itu terdapat orang yang membersihkan diri. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.”Para mufasir mengaitkan ayat ini dengan pembangunan Masjid Quba, sebuah tempat beberapa kilometer (dua farsakh) di selatan Madinah. Inilah masjid pertama yang dibangun (dalam konsep formalistik bangunan masjid) dalam Islam. Nabi saw., Abu Bakar r.a., dan para sahabat lain transit di tempat ini selama empat hari, untuk kemudian melanjutkan hijrahnya menuju Madinah.Kebalikan dari pembangunan masjid takwa adalah masjid tandingan yang dibangun musuh Nabi, yang juga diabadikan dalam Alquran Surat At-Taubah: 106. Masjid tandingan ini kemudian dinamai masjid dhirar ini.Masjid dhirar ini dalam sejarah dikaitkan dengan tokoh Abu Amir Ar-Rahib. Ia konon pernah bertemu Nabi dan kecewa akan hasil pertemuannya itu, kemudian pergi ke Syiria (Suriah) untuk bergabung dengan tentara Romawi dan bermaksud memerangi Madinah. Kaum munafik, para pembangun masjid dhirar ini menunggu kedatangannya dan berharap sang rahib ini menjadi imam masjid mereka. Namun, kenyataannya tidak demikian. Abu Amir mati di Syiria.Ada perbedaan mendasar dari kedua jenis masjid ini. Masjid Quba dibangun atas dasar takwa dan orang yang tulus hati demi kebersihan bersama, sementara masjid dhirar bercirikan sebagai penghadir kemudaratan di ruang publik, menolak (teladan) Nabi, dan memecah belah umat. Bila keduanya dijadikan parameter, kita sudah menemukan kacamata bahwa masjid yang tertutup pada kelompok tertentu, membuat umat terpecah belah, menghadirkan ancaman kemudaratan di ruang publik dapat dikategorikan dhirar. Namun sebaliknya, masjid yang tidak menghadirkan seluruh ciri dhirar itu, tetapi tidak menghasilkan masyarakat penuh ketulusan tidak serta-merta dapat disebut masjid takwa.Manajemen masjidSemakin gamblang bahwa asas pendirian dan pengelolaan masjid itu haruslah takwa. Pengelolaan masjid dengan demikian juga harus berbasis takwa. Apakah takwa itu? Alquran Surat Al-Baqarah di beberapa ayat pertama menyebutkan beberapa indikator takwa, yaitu beriman kepada yang gaib, mendirikan salat, berinfak, beriman kepada kitab suci termasuk kitab suci sebelumnya, dan beriman kepada hari akhir. Sejumlah indikator ini dapat dijadikan dasar bagi pengelolaan masjid sebagai pusat ketulusan sosial.Pertama, pengelolaan masjid harus didasari ketulusan dan kerja kreatif. Indikator beriman kepada yang gaib dapat dimaknai sebagai integritas untuk mengucapkan apa yang dilakukan dan melakukan apa yang diucapkan. Keimanan memang terus-menerus menuntut bukti, bahkan Alquran menegaskan tak dapat disebut beriman jika belum melewati ujian “tetap berada dalam kebaikan kerja kreatif dalam keadaan senang dan susah.”Kata gaib menurut Ibn Abbas adalah Allah, jadi beriman kepada yang gaib berarti menjadikan kerja kreatif Allah sebagai rujukan pengelolaan masjid. Maka, beriman kepada yang gaib berarti kesanggupan menghadirkan apa yang tak kasat mata sebagai motif dan tujuan dari tindakan, ketika yang tak kasat mata itu adalah Allah (Sang Kreator). Oleh karena itu, keimanan kepada yang gaib akan menghasilan manusia profesional yang bekerja atas kesadaran terus berada di bawah pengawasan dan bimbingan Tuhan.Kedua, memiliki misi transformasi sosial. Perintah mendirikan salat di dalam Alquran dikaitkan dengan kemampuan beramar makruf nahi mungkar. Salat yang benar dengan demikian dapat berarti sebagai salat yang berhasil melindungi pelakunya dari perbuatan fahsya dan mungkar (kejahatan yang ada pada dirinya dan kejahatan yang ada pada orang lain). Salat yang benar akan berfungsi menjadi benteng-holografis bagi dirinya dan orang lain. Masjid, dalam konteks ini, di samping menjadi ruang bersama bagi salat juga menjadi pusat nahi mungkar atau liberasi (terbebasnya ruang publik dari penyakit sosial), amar makruf atau humanisasi (menciptakan kebaikan bersama dalam ketulusan), dan transendensi.Ketiga, menjadi pusat distribusi kesejahteraan publik. Al-Baqarah ayat 3 menegaskan, ketakwaan ditentukan dari menginfakkan rezeki yang didapatkannya, maka masjid haruslah juga menjadi pusat penyebaran kesejahteraan ekonomi publik. Tak layak rasanya jika ada masjid mewah yang menyimpan uang infak sementara masyarakat sekitar masjid tidak memiliki rumah dan nelangsa.Nabi Muhammad saw. memiliki istilah menarik mengenai orang atau pihak yang tidak mau membelanjakan hartanya untuk kesejahteraan sosial, yaitu muhtakir. Dalam syarh hadis dijelaskan bahwa para muhtakir-lah yang telah menyebabkan keseimbangan supply-demand menjadi terganggu. Akibatnya, harga menjadi melambung tinggi dan barang menjadi langka. Lebih lanjut, situasi ini menyebabkan kebutuhan orang banyak pun menjadi terganggu. Sampai pada waktu tertentu, kemudaratan akan kembali kepada dirinya sendiri (Kahlany: 2002). Masjid yang tidak menjadi pusat kesejahteraan publik akan menciptakan masyarakat miskin yang semakin menjauhi masjid atau bahkan “meruntuhkan” masjid.Keempat, memiliki kesadaran untuk menjadi pusat teladan bagi perbaikan peradaban berbasis tradisi literasi. Al-Baqarah ayat 4 menegaskan tentang kategori takwa dengan kemampuan mengimani sumber pengetahuan dari seluruh tradisi kemanusiaan. Indikator takwa inilah yang telah menginspirasi sahabat Nabi dan tabi’in untuk terus belajar dan memburu ilmu. Masjid pada zaman Nabi dan para sahabat adalah ruang berbagi pengetahuan, menguji dan membuktikan formula perbaikan sosial. Khaled Abou El-Fadl (1999) pada the Confrence of Book memiliki istilah menarik bahwa Alquran adalah Kabah bagi semua buku dan seluruh kajian keilmuan yang dilakukan di masjid adalah buku yang terus bertawaf mengelilingi Kabah buku itu.Kelima, memiliki pola pergerakan yang “memulai dari yang akhir”. Konsep beriman pada hari akhir dapat diluaskan menjadi waktu setelah “sekarang”. Satu menit, satu jam, satu hari ke depan adalah “akhirat”, jika kita menyadari dan menghitungnya dari “sekarang”. Pengelolaan yang baik harus memiliki mimpi dan bayangan akhir yang baik, Alquran menyebut hasil akhir itu sebagai falah (kebahagiaan sejati dunia-akhirat). Oleh karena itu, hasil akhir yang harus diupayakan masjid haruslah menghadirkan kebahagiaan bagi ruang publik.Mengurangi “Dhirar”Masjid dhirar adalah masjid yang dikelola tanpa mempertimbangkan situasi ruang publik dan mementingkan kuasa diri. Abu Amir Ar-Rahib adalah orang yang merasa layak memimpin umat. Oleh karena itu, ia memprovokasi pembuatan masjid tandingan. Ar-Rahib menolak imam Masjid Quba, yakni Muhammad saw., karena merasa dirinya lebih berhak. Oleh karena itu, kehadiran masjid seperti ini akan tampak dari kemampuannya menghadirkan perpecahan di tengah masyarakat dan kemudaratan yang bersamaan dengan itu.Masjid dhirar bukan hanya masjid yang dikelola dengan niat tanpa ketulusan. Masjid dhirar juga tampil dari masjid yang tanpa pengelolaan yang jelas, asal dibangun dengan mimpi mendapat rumah di surga, atau dibangun untuk kepentingan “asal berbeda”. Pembangunan masjid memang dijanjikan pahala “dibangunkan rumah di surga oleh Allah”, tetapi dengan syarat mutlak jika masjid itu dapat menghadirkan “rumah surga” di tengah ruang publik. Wallahu a’lam. Dr. H. M. Anton Athoillah, peneliti pada Institute for Study of Islam, Cultural, and Public Affairs Pascasarjana UIN Bandung dan mahasiswa S-3 Ekonomi Terapan Unpad BandungSumber, Pikiran Rakyat, 4 Oktober 2010

Diskusi mengenai fenomena munculnya benih Islam radikal di masjid mengarah pada wacana tentang masjid takwa dan masjid dhirar. Kedua kategori masjid ini memang dimunculkan dalam Alquran yang dapat dimaknai sebagai seruan bahwa semua pihak hendaklah mengelola masjid dengan dasar takwa dan untuk tujuan penyebaran spirit takwa bagi seluruh umat manusia.Apa kaitannya dengan masjid penyimpan benih Islam radikal? Tafsir atas masjid takwa terdapat dalam Alquran Surat At-Taubah:107 yang mengemukakan, “Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih patut kamu salat di dalamnya. Di dalam masjid itu terdapat orang yang membersihkan diri. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.”Para mufasir mengaitkan ayat ini dengan pembangunan Masjid Quba, sebuah tempat beberapa kilometer (dua farsakh) di selatan Madinah. Inilah masjid pertama yang dibangun (dalam konsep formalistik bangunan masjid) dalam Islam. Nabi saw., Abu Bakar r.a., dan para sahabat lain transit di tempat ini selama empat hari, untuk kemudian melanjutkan hijrahnya menuju Madinah.Kebalikan dari pembangunan masjid takwa adalah masjid tandingan yang dibangun musuh Nabi, yang juga diabadikan dalam Alquran Surat At-Taubah: 106. Masjid tandingan ini kemudian dinamai masjid dhirar ini.Masjid dhirar ini dalam sejarah dikaitkan dengan tokoh Abu Amir Ar-Rahib. Ia konon pernah bertemu Nabi dan kecewa akan hasil pertemuannya itu, kemudian pergi ke Syiria (Suriah) untuk bergabung dengan tentara Romawi dan bermaksud memerangi Madinah. Kaum munafik, para pembangun masjid dhirar ini menunggu kedatangannya dan berharap sang rahib ini menjadi imam masjid mereka. Namun, kenyataannya tidak demikian. Abu Amir mati di Syiria.Ada perbedaan mendasar dari kedua jenis masjid ini. Masjid Quba dibangun atas dasar takwa dan orang yang tulus hati demi kebersihan bersama, sementara masjid dhirar bercirikan sebagai penghadir kemudaratan di ruang publik, menolak (teladan) Nabi, dan memecah belah umat. Bila keduanya dijadikan parameter, kita sudah menemukan kacamata bahwa masjid yang tertutup pada kelompok tertentu, membuat umat terpecah belah, menghadirkan ancaman kemudaratan di ruang publik dapat dikategorikan dhirar. Namun sebaliknya, masjid yang tidak menghadirkan seluruh ciri dhirar itu, tetapi tidak menghasilkan masyarakat penuh ketulusan tidak serta-merta dapat disebut masjid takwa.Manajemen masjidSemakin gamblang bahwa asas pendirian dan pengelolaan masjid itu haruslah takwa. Pengelolaan masjid dengan demikian juga harus berbasis takwa. Apakah takwa itu? Alquran Surat Al-Baqarah di beberapa ayat pertama menyebutkan beberapa indikator takwa, yaitu beriman kepada yang gaib, mendirikan salat, berinfak, beriman kepada kitab suci termasuk kitab suci sebelumnya, dan beriman kepada hari akhir. Sejumlah indikator ini dapat dijadikan dasar bagi pengelolaan masjid sebagai pusat ketulusan sosial.Pertama, pengelolaan masjid harus didasari ketulusan dan kerja kreatif. Indikator beriman kepada yang gaib dapat dimaknai sebagai integritas untuk mengucapkan apa yang dilakukan dan melakukan apa yang diucapkan. Keimanan memang terus-menerus menuntut bukti, bahkan Alquran menegaskan tak dapat disebut beriman jika belum melewati ujian “tetap berada dalam kebaikan kerja kreatif dalam keadaan senang dan susah.”Kata gaib menurut Ibn Abbas adalah Allah, jadi beriman kepada yang gaib berarti menjadikan kerja kreatif Allah sebagai rujukan pengelolaan masjid. Maka, beriman kepada yang gaib berarti kesanggupan menghadirkan apa yang tak kasat mata sebagai motif dan tujuan dari tindakan, ketika yang tak kasat mata itu adalah Allah (Sang Kreator). Oleh karena itu, keimanan kepada yang gaib akan menghasilan manusia profesional yang bekerja atas kesadaran terus berada di bawah pengawasan dan bimbingan Tuhan.Kedua, memiliki misi transformasi sosial. Perintah mendirikan salat di dalam Alquran dikaitkan dengan kemampuan beramar makruf nahi mungkar. Salat yang benar dengan demikian dapat berarti sebagai salat yang berhasil melindungi pelakunya dari perbuatan fahsya dan mungkar (kejahatan yang ada pada dirinya dan kejahatan yang ada pada orang lain). Salat yang benar akan berfungsi menjadi benteng-holografis bagi dirinya dan orang lain. Masjid, dalam konteks ini, di samping menjadi ruang bersama bagi salat juga menjadi pusat nahi mungkar atau liberasi (terbebasnya ruang publik dari penyakit sosial), amar makruf atau humanisasi (menciptakan kebaikan bersama dalam ketulusan), dan transendensi.Ketiga, menjadi pusat distribusi kesejahteraan publik. Al-Baqarah ayat 3 menegaskan, ketakwaan ditentukan dari menginfakkan rezeki yang didapatkannya, maka masjid haruslah juga menjadi pusat penyebaran kesejahteraan ekonomi publik. Tak layak rasanya jika ada masjid mewah yang menyimpan uang infak sementara masyarakat sekitar masjid tidak memiliki rumah dan nelangsa.Nabi Muhammad saw. memiliki istilah menarik mengenai orang atau pihak yang tidak mau membelanjakan hartanya untuk kesejahteraan sosial, yaitu muhtakir. Dalam syarh hadis dijelaskan bahwa para muhtakir-lah yang telah menyebabkan keseimbangan supply-demand menjadi terganggu. Akibatnya, harga menjadi melambung tinggi dan barang menjadi langka. Lebih lanjut, situasi ini menyebabkan kebutuhan orang banyak pun menjadi terganggu. Sampai pada waktu tertentu, kemudaratan akan kembali kepada dirinya sendiri (Kahlany: 2002). Masjid yang tidak menjadi pusat kesejahteraan publik akan menciptakan masyarakat miskin yang semakin menjauhi masjid atau bahkan “meruntuhkan” masjid.Keempat, memiliki kesadaran untuk menjadi pusat teladan bagi perbaikan peradaban berbasis tradisi literasi. Al-Baqarah ayat 4 menegaskan tentang kategori takwa dengan kemampuan mengimani sumber pengetahuan dari seluruh tradisi kemanusiaan. Indikator takwa inilah yang telah menginspirasi sahabat Nabi dan tabi’in untuk terus belajar dan memburu ilmu. Masjid pada zaman Nabi dan para sahabat adalah ruang berbagi pengetahuan, menguji dan membuktikan formula perbaikan sosial. Khaled Abou El-Fadl (1999) pada the Confrence of Book memiliki istilah menarik bahwa Alquran adalah Kabah bagi semua buku dan seluruh kajian keilmuan yang dilakukan di masjid adalah buku yang terus bertawaf mengelilingi Kabah buku itu.Kelima, memiliki pola pergerakan yang “memulai dari yang akhir”. Konsep beriman pada hari akhir dapat diluaskan menjadi waktu setelah “sekarang”. Satu menit, satu jam, satu hari ke depan adalah “akhirat”, jika kita menyadari dan menghitungnya dari “sekarang”. Pengelolaan yang baik harus memiliki mimpi dan bayangan akhir yang baik, Alquran menyebut hasil akhir itu sebagai falah (kebahagiaan sejati dunia-akhirat). Oleh karena itu, hasil akhir yang harus diupayakan masjid haruslah menghadirkan kebahagiaan bagi ruang publik.Mengurangi “Dhirar”Masjid dhirar adalah masjid yang dikelola tanpa mempertimbangkan situasi ruang publik dan mementingkan kuasa diri. Abu Amir Ar-Rahib adalah orang yang merasa layak memimpin umat. Oleh karena itu, ia memprovokasi pembuatan masjid tandingan. Ar-Rahib menolak imam Masjid Quba, yakni Muhammad saw., karena merasa dirinya lebih berhak. Oleh karena itu, kehadiran masjid seperti ini akan tampak dari kemampuannya menghadirkan perpecahan di tengah masyarakat dan kemudaratan yang bersamaan dengan itu.Masjid dhirar bukan hanya masjid yang dikelola dengan niat tanpa ketulusan. Masjid dhirar juga tampil dari masjid yang tanpa pengelolaan yang jelas, asal dibangun dengan mimpi mendapat rumah di surga, atau dibangun untuk kepentingan “asal berbeda”. Pembangunan masjid memang dijanjikan pahala “dibangunkan rumah di surga oleh Allah”, tetapi dengan syarat mutlak jika masjid itu dapat menghadirkan “rumah surga” di tengah ruang publik. Wallahu a’lam. Dr. H. M. Anton Athoillah, peneliti pada Institute for Study of Islam, Cultural, and Public Affairs Pascasarjana UIN Bandung dan mahasiswa S-3 Ekonomi Terapan Unpad BandungSumber, Pikiran Rakyat, 4 Oktober 2010