UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Dewi Sartika jadi Sumber Inspirasi pada Hari Kartini

 [www.uinsgd.ac.id]—Aula UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada Senin, 23 april 2012 riuh rendah oleh mahasiswa dan dosen. Pasalnya disana sedang diselenggarakan seminar dalam rangka memperingati Hari Kartini yang jatuh pada hari Sabtu kemarin. Acara tersebut diselenggarakan oleh Women Study Centre. Seminar yang bertajuk “NEO KARTINI?” itu dihadiri oleh Rieke Dyah Pitaloka (aktivis perempuan dan anggota DPRRI) dan Yeni Hurui’n sebagai pembicara, dan dimoderatori oleh  Dodo Widardo Dosen Akidah Filsafat, dihadiri oleh sejumlah dosen dan mahasiswa dari semua jurusan. Dalam seminar ini pembahasan lebih difokuskan terhadap persamaan Hak Asasi antara laki-laki dan perempuan dalam masalah tata kehidupan.

Dalam sambutannya, Rektor UIN yang dibacakan oleh Ketua Pusat Studi Wanita, Dra. Endah Ratnawaty, M.Ag., M.Si menyampaikan bahwa perempuan sebagai pendukung keberhasilan seorang lelaki kini asasinya terus diabaikan,beliau berpesan supaya WSC sebagai wadah dari aspirasi perempuan yang ada di lingkungan kampus harus bisa mejembatani bagi para kaum kartini dalam menyampaikan aspirasi demi kamajuan kita bersama,khususnya bagi kaum perempuan sendiri.

“Saya disini bukan hanya bicara sebagai lelaki, tapi saya juga ingin menyampaikan bahwa pada zaman sekarang perempuan itu selalu di nomor duakan dalam semua aspek bahkan hak asasinya sudah hamper tidak diperdulikan. Semoga dalam kesempatan ini,melalui hari kartini ini,WSC sebagai wadah penampung aspirasi perempuan bisa ikut serta dalam memajukan kaum perempuan.”

Rieke Dyah Pitaloka selaku aktivis perempuan menuturkan bahwa perempuan adalah faktor pendukung dari keberhasilan laki laki. Pesoalan perempuan bukan persoalan dikotomi antara laki-laki dan perempuan tetapi masalah hakikat sebagai manusia ciptaan khalik-Nya yang sama-sama mencari keridaan Alloh. Pada zaman sekarang, terkadang perempuan sering diremehkan tanpa memperhitungkan keberhasilan yang telah dicapai olehnya. 

“Tokoh di Indonesia di Indonesia tidak hanya Kartini, seperti Cut Nyak Dien di Aceh dan Dewi Sartika di Jawa Barat. Perbedaan antara Kartini dan Dewi Sartika sama-sama menulis kalo Kartini hanya menulis hanya surat-surat, sementara Dewi Sartika menulis buku. Kartini orang tuanya konglomerat, sangat akomodatif dengan pemerintahan, sementara orang tuanya pemberontak. Pernah dalam satu suratnya Kartini menuliskan, alangkah lebih baiknya perempuan di Bandung karena Dewi Sartika mendirikan sekolah sendiri dan masuk Komite Penyelamat Pribumi dan menyuarakan penyakit masyarakat itu Poligami dan banyak anak serta memperjuangkan buruh,”Papar Rieke. 

“Kesadaran personal seorang perempuan itu penting, tetapi kesadaran bersama itu jauh lebih penting demi suatu politik yang menjunjug tinggi nilai-nilai asasi perempuan. Berbicara tentang perempuan,bukan bicara tentang persoalan objektif anatara lelaki an perempuan,tetapi berbicara tentang pola berfikir untuk berkembang demi kemajuan bersama. Kita sebagai perempuan memang memiliki kelemahan tetapi jagnganlah kelemahan tersebut membuat kita menjadi ciut. Ingatlah dengan keistimewaan yang kita miliki, kekuatan perempuan adalah kepekaan jiwa dan rasa yang tidak dimiliki oleh mahluk lainnya,”lanjutnya.

Ia berharap bahwa hadir Dewi Sartika yang tidak kalah hebatnya dari Kartini, “Mari kita sama-sama berjuaang bersama dengan laki-laki, salah satu contohnya masuk politik, struktur dan kekuasaan,”ujarnya.

Berpendapat tentang emansipasi perempuan, Rike berpandangan sebagai suatu pelecehan karena pada dasarnya laki-laki dan perempuan memiliki kesetaraan sebagai manusia dan bangsa. Sedangkan berkaitan dengan poligami ia berpandangan bahwa poligami merendahkan hak-hak kemanusiaan.

Rike mengakui bahwa keberadaannya di Parlemen adalah dalam rangka berpolitik untuk kemaslahatan bersama dengan memberikan hak politik perseorangan dan mendorong adanya RUU keseteraan.

Di temui pada tempat yang berbeda, ketua OC dari acara ini, Gaby Prihandani berharap agar kedepannya WSC bisa lebih baik lagi dan perempuan bisa bangkit dari keterpurukannya, bangkit dalam arti yang sebenarnya, mampu memperlihatkan kemampuan yang dimlikinya.***[Ibn Ghifarie, Dudi, Yaya]