UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Debat Calon Rektor

[www.uinsgd.ac.id] Forum Komunikasi Dosen UIN SGD Bandung yang dikomandoi oleh Moeflich Hasbullah menggelar Debat Calon Rektor. Dari keenam Bakal Calon Rektor UIN SGD Bandung periode 2011-2015 (Endin Nasrudin, Moh. Najib, Dedi Ismatullah, Agus Salim Mansur, Asep Seful Muhtadi dan I. Nurol Aen) hanya empat calon (Endin Nasrudin, Moh. Najib, Asep Seful Muhtadi dan I. Nurol Aen) yang ikut Debat Calon Rektor yang digagas oleh Forum Komunikasi Dosen UIN SGD Bandung di Aula Senat Universitas, Gedung Al-Jamiah lantai II, Senin (2/5).

Ketidak hadiran dua bakal calon Rektor itu, “Untuk Agus Salim Mansur tengah mengajar di Pascasarjana dan Deddy Ismatullah tengah mengadakan visitasi di tangeranga,” ungkap Cik Hasan Bisri selaku moderator Debat. Menurut Moeflich Hasbullah, terselenggaranya Debat ini, “Sesungguhnya bukan debat, karena terkesan negatif dan bernuansa debat kusir. Melainkan diskusi mencari gagasan, ide kepemimpinan Rektor,” katanya.

“Pada awalnya forum ini merupakan wadah sharing ide di maya untuk berbagi ide mengenai calon rektor ke depan agar ide-ide calon rektor dapat difahami bersama supaya tidak memunculkan masalah jika ada ide yang tidak terkomunikasikan,”lanjut Moeflich. “Keberanian untuk menyelenggarakan debat ini terdorong oleh pernyataan Pak Cik, yang mensuport sekaligus menjadi sponsor acara ini, apalagi Pak Cik menjamin akan langsung bertanggung jawab,”kilah Moeflich.

Ia berharap dengan adanya kegiatan ini menciptakan; Pertama, Komunikasikan ide, gagasan kepemimpinan mendatang. Kedua, Terbentuknya komitmen moral. Mudah-mudahan kedepanya terbentuk acara diskusi rutin untuk pemilihan Rektor, dekanat,” jelasnya.

Cik Hasan Bisri memberikan rambu-rambu debat bahwa yang dinilai adalah substansi ide bukan pujian-pujian, diantaranya adalah (1) Presentasi gagasan tentang kualitas akademik, (2) Calon mengkritisi presentasi calon lain, (3) Masing-masing calon mempresentasikan masalah kepegawaian, (4) Tanya jawab, dan (5) Memperesentasikan gagasan bagaimana membangun jaringan, baik di dalam atau pun ke luar.

Suasana ruangan debat cukp penuh sesak, hingga banyak hadirin yang berdiri. Tanpa memilah dan bermaksud memihak, Cik Hasan Bisri selaku Moderator memberikan kesempatan pertama untuk presentasi ide kepada Prof. Dr. Moh. Najib, M.Ag.

Paparan Prof. Najib menyangkut kualitas akademik berujung pada pengembangan UIN menjadi universitas riset. Sementara Prof. Asep mementingkan keotonomian ilmu sebagai ruh perguruan tingi. Sedangkan Prof. Nurol Aen, mengupayakan rasio dosen yang sangat kurang untuk pengembangan mahasiswa, dan terakhir Prof. Endin, menjamin kurikulum, sarana prasarana dan kualitias dosen dengan menyekolahkan dosen.

Dari keseluruhan Paparan tentang pengembangan kualitas akademik, Moderat[or menyimpulkan bahwa dari keempat calon menitikberatkan pada kualitas yang beragam. Pertama, Prof. Najib menitikberatkan pada pengembangan universitas riset, Prof. Samuh pada otonomi keilmuan, Prof. Nurol Aen pada idealitas Rasio antara mahasiswa dan dosen, sedangkan Prof. Endin pada dinamisasi kurikulum dan sarana penunjangnya.

Berkaitan dengan berbagai kepentingan akan kemajuan uin ke depan, respon hadirin cukup banyak, pada termin pertama ada sepuluh orang penanya yang diawali oleh seorang dosen kemudian pertanyaan dari mahasiswa.

[www.uinsgd.ac.id] Forum Komunikasi Dosen UIN SGD Bandung yang dikomandoi oleh Moeflich Hasbullah menggelar Debat Calon Rektor. Dari keenam Bakal Calon Rektor UIN SGD Bandung periode 2011-2015 (Endin Nasrudin, Moh. Najib, Dedi Ismatullah, Agus Salim Mansur, Asep Seful Muhtadi dan I. Nurol Aen) hanya empat calon (Endin Nasrudin, Moh. Najib, Asep Seful Muhtadi dan I. Nurol Aen) yang ikut Debat Calon Rektor yang digagas oleh Forum Komunikasi Dosen UIN SGD Bandung di Aula Senat Universitas, Gedung Al-Jamiah lantai II, Senin (2/5).

Ketidak hadiran dua bakal calon Rektor itu, “Untuk Agus Salim Mansur tengah mengajar di Pascasarjana dan Deddy Ismatullah tengah mengadakan visitasi di tangeranga,” ungkap Cik Hasan Bisri selaku moderator Debat. Menurut Moeflich Hasbullah, terselenggaranya Debat ini, “Sesungguhnya bukan debat, karena terkesan negatif dan bernuansa debat kusir. Melainkan diskusi mencari gagasan, ide kepemimpinan Rektor,” katanya.

“Pada awalnya forum ini merupakan wadah sharing ide di maya untuk berbagi ide mengenai calon rektor ke depan agar ide-ide calon rektor dapat difahami bersama supaya tidak memunculkan masalah jika ada ide yang tidak terkomunikasikan,”lanjut Moeflich. “Keberanian untuk menyelenggarakan debat ini terdorong oleh pernyataan Pak Cik, yang mensuport sekaligus menjadi sponsor acara ini, apalagi Pak Cik menjamin akan langsung bertanggung jawab,”kilah Moeflich.

Ia berharap dengan adanya kegiatan ini menciptakan; Pertama, Komunikasikan ide, gagasan kepemimpinan mendatang. Kedua, Terbentuknya komitmen moral. Mudah-mudahan kedepanya terbentuk acara diskusi rutin untuk pemilihan Rektor, dekanat,” jelasnya.

Cik Hasan Bisri memberikan rambu-rambu debat bahwa yang dinilai adalah substansi ide bukan pujian-pujian, diantaranya adalah (1) Presentasi gagasan tentang kualitas akademik, (2) Calon mengkritisi presentasi calon lain, (3) Masing-masing calon mempresentasikan masalah kepegawaian, (4) Tanya jawab, dan (5) Memperesentasikan gagasan bagaimana membangun jaringan, baik di dalam atau pun ke luar.

Suasana ruangan debat cukp penuh sesak, hingga banyak hadirin yang berdiri. Tanpa memilah dan bermaksud memihak, Cik Hasan Bisri selaku Moderator memberikan kesempatan pertama untuk presentasi ide kepada Prof. Dr. Moh. Najib, M.Ag.

Paparan Prof. Najib menyangkut kualitas akademik berujung pada pengembangan UIN menjadi universitas riset. Sementara Prof. Asep mementingkan keotonomian ilmu sebagai ruh perguruan tingi. Sedangkan Prof. Nurol Aen, mengupayakan rasio dosen yang sangat kurang untuk pengembangan mahasiswa, dan terakhir Prof. Endin, menjamin kurikulum, sarana prasarana dan kualitias dosen dengan menyekolahkan dosen.

Dari keseluruhan Paparan tentang pengembangan kualitas akademik, Moderat[or menyimpulkan bahwa dari keempat calon menitikberatkan pada kualitas yang beragam. Pertama, Prof. Najib menitikberatkan pada pengembangan universitas riset, Prof. Samuh pada otonomi keilmuan, Prof. Nurol Aen pada idealitas Rasio antara mahasiswa dan dosen, sedangkan Prof. Endin pada dinamisasi kurikulum dan sarana penunjangnya.

Berkaitan dengan berbagai kepentingan akan kemajuan uin ke depan, respon hadirin cukup banyak, pada termin pertama ada sepuluh orang penanya yang diawali oleh seorang dosen kemudian pertanyaan dari mahasiswa.

[www.uinsgd.ac.id] Forum Komunikasi Dosen UIN SGD Bandung yang dikomandoi oleh Moeflich Hasbullah menggelar Debat Calon Rektor. Dari keenam Bakal Calon Rektor UIN SGD Bandung periode 2011-2015 (Endin Nasrudin, Moh. Najib, Dedi Ismatullah, Agus Salim Mansur, Asep Seful Muhtadi dan I. Nurol Aen) hanya empat calon (Endin Nasrudin, Moh. Najib, Asep Seful Muhtadi dan I. Nurol Aen) yang ikut Debat Calon Rektor yang digagas oleh Forum Komunikasi Dosen UIN SGD Bandung di Aula Senat Universitas, Gedung Al-Jamiah lantai II, Senin (2/5).

Ketidak hadiran dua bakal calon Rektor itu, “Untuk Agus Salim Mansur tengah mengajar di Pascasarjana dan Deddy Ismatullah tengah mengadakan visitasi di tangeranga,” ungkap Cik Hasan Bisri selaku moderator Debat. Menurut Moeflich Hasbullah, terselenggaranya Debat ini, “Sesungguhnya bukan debat, karena terkesan negatif dan bernuansa debat kusir. Melainkan diskusi mencari gagasan, ide kepemimpinan Rektor,” katanya.

“Pada awalnya forum ini merupakan wadah sharing ide di maya untuk berbagi ide mengenai calon rektor ke depan agar ide-ide calon rektor dapat difahami bersama supaya tidak memunculkan masalah jika ada ide yang tidak terkomunikasikan,”lanjut Moeflich. “Keberanian untuk menyelenggarakan debat ini terdorong oleh pernyataan Pak Cik, yang mensuport sekaligus menjadi sponsor acara ini, apalagi Pak Cik menjamin akan langsung bertanggung jawab,”kilah Moeflich.

Ia berharap dengan adanya kegiatan ini menciptakan; Pertama, Komunikasikan ide, gagasan kepemimpinan mendatang. Kedua, Terbentuknya komitmen moral. Mudah-mudahan kedepanya terbentuk acara diskusi rutin untuk pemilihan Rektor, dekanat,” jelasnya.

Cik Hasan Bisri memberikan rambu-rambu debat bahwa yang dinilai adalah substansi ide bukan pujian-pujian, diantaranya adalah (1) Presentasi gagasan tentang kualitas akademik, (2) Calon mengkritisi presentasi calon lain, (3) Masing-masing calon mempresentasikan masalah kepegawaian, (4) Tanya jawab, dan (5) Memperesentasikan gagasan bagaimana membangun jaringan, baik di dalam atau pun ke luar.

Suasana ruangan debat cukp penuh sesak, hingga banyak hadirin yang berdiri. Tanpa memilah dan bermaksud memihak, Cik Hasan Bisri selaku Moderator memberikan kesempatan pertama untuk presentasi ide kepada Prof. Dr. Moh. Najib, M.Ag.

Paparan Prof. Najib menyangkut kualitas akademik berujung pada pengembangan UIN menjadi universitas riset. Sementara Prof. Asep mementingkan keotonomian ilmu sebagai ruh perguruan tingi. Sedangkan Prof. Nurol Aen, mengupayakan rasio dosen yang sangat kurang untuk pengembangan mahasiswa, dan terakhir Prof. Endin, menjamin kurikulum, sarana prasarana dan kualitias dosen dengan menyekolahkan dosen.

Dari keseluruhan Paparan tentang pengembangan kualitas akademik, Moderat[or menyimpulkan bahwa dari keempat calon menitikberatkan pada kualitas yang beragam. Pertama, Prof. Najib menitikberatkan pada pengembangan universitas riset, Prof. Samuh pada otonomi keilmuan, Prof. Nurol Aen pada idealitas Rasio antara mahasiswa dan dosen, sedangkan Prof. Endin pada dinamisasi kurikulum dan sarana penunjangnya.

Berkaitan dengan berbagai kepentingan akan kemajuan uin ke depan, respon hadirin cukup banyak, pada termin pertama ada sepuluh orang penanya yang diawali oleh seorang dosen kemudian pertanyaan dari mahasiswa.

[www.uinsgd.ac.id] Forum Komunikasi Dosen UIN SGD Bandung yang dikomandoi oleh Moeflich Hasbullah menggelar Debat Calon Rektor. Dari keenam Bakal Calon Rektor UIN SGD Bandung periode 2011-2015 (Endin Nasrudin, Moh. Najib, Dedi Ismatullah, Agus Salim Mansur, Asep Seful Muhtadi dan I. Nurol Aen) hanya empat calon (Endin Nasrudin, Moh. Najib, Asep Seful Muhtadi dan I. Nurol Aen) yang ikut Debat Calon Rektor yang digagas oleh Forum Komunikasi Dosen UIN SGD Bandung di Aula Senat Universitas, Gedung Al-Jamiah lantai II, Senin (2/5).

Ketidak hadiran dua bakal calon Rektor itu, “Untuk Agus Salim Mansur tengah mengajar di Pascasarjana dan Deddy Ismatullah tengah mengadakan visitasi di tangeranga,” ungkap Cik Hasan Bisri selaku moderator Debat. Menurut Moeflich Hasbullah, terselenggaranya Debat ini, “Sesungguhnya bukan debat, karena terkesan negatif dan bernuansa debat kusir. Melainkan diskusi mencari gagasan, ide kepemimpinan Rektor,” katanya.

“Pada awalnya forum ini merupakan wadah sharing ide di maya untuk berbagi ide mengenai calon rektor ke depan agar ide-ide calon rektor dapat difahami bersama supaya tidak memunculkan masalah jika ada ide yang tidak terkomunikasikan,”lanjut Moeflich. “Keberanian untuk menyelenggarakan debat ini terdorong oleh pernyataan Pak Cik, yang mensuport sekaligus menjadi sponsor acara ini, apalagi Pak Cik menjamin akan langsung bertanggung jawab,”kilah Moeflich.

Ia berharap dengan adanya kegiatan ini menciptakan; Pertama, Komunikasikan ide, gagasan kepemimpinan mendatang. Kedua, Terbentuknya komitmen moral. Mudah-mudahan kedepanya terbentuk acara diskusi rutin untuk pemilihan Rektor, dekanat,” jelasnya.

Cik Hasan Bisri memberikan rambu-rambu debat bahwa yang dinilai adalah substansi ide bukan pujian-pujian, diantaranya adalah (1) Presentasi gagasan tentang kualitas akademik, (2) Calon mengkritisi presentasi calon lain, (3) Masing-masing calon mempresentasikan masalah kepegawaian, (4) Tanya jawab, dan (5) Memperesentasikan gagasan bagaimana membangun jaringan, baik di dalam atau pun ke luar.

Suasana ruangan debat cukp penuh sesak, hingga banyak hadirin yang berdiri. Tanpa memilah dan bermaksud memihak, Cik Hasan Bisri selaku Moderator memberikan kesempatan pertama untuk presentasi ide kepada Prof. Dr. Moh. Najib, M.Ag.

Paparan Prof. Najib menyangkut kualitas akademik berujung pada pengembangan UIN menjadi universitas riset. Sementara Prof. Asep mementingkan keotonomian ilmu sebagai ruh perguruan tingi. Sedangkan Prof. Nurol Aen, mengupayakan rasio dosen yang sangat kurang untuk pengembangan mahasiswa, dan terakhir Prof. Endin, menjamin kurikulum, sarana prasarana dan kualitias dosen dengan menyekolahkan dosen.

Dari keseluruhan Paparan tentang pengembangan kualitas akademik, Moderat[or menyimpulkan bahwa dari keempat calon menitikberatkan pada kualitas yang beragam. Pertama, Prof. Najib menitikberatkan pada pengembangan universitas riset, Prof. Samuh pada otonomi keilmuan, Prof. Nurol Aen pada idealitas Rasio antara mahasiswa dan dosen, sedangkan Prof. Endin pada dinamisasi kurikulum dan sarana penunjangnya.

Berkaitan dengan berbagai kepentingan akan kemajuan uin ke depan, respon hadirin cukup banyak, pada termin pertama ada sepuluh orang penanya yang diawali oleh seorang dosen kemudian pertanyaan dari mahasiswa.

[www.uinsgd.ac.id] Forum Komunikasi Dosen UIN SGD Bandung yang dikomandoi oleh Moeflich Hasbullah menggelar Debat Calon Rektor. Dari keenam Bakal Calon Rektor UIN SGD Bandung periode 2011-2015 (Endin Nasrudin, Moh. Najib, Dedi Ismatullah, Agus Salim Mansur, Asep Seful Muhtadi dan I. Nurol Aen) hanya empat calon (Endin Nasrudin, Moh. Najib, Asep Seful Muhtadi dan I. Nurol Aen) yang ikut Debat Calon Rektor yang digagas oleh Forum Komunikasi Dosen UIN SGD Bandung di Aula Senat Universitas, Gedung Al-Jamiah lantai II, Senin (2/5).

Ketidak hadiran dua bakal calon Rektor itu, “Untuk Agus Salim Mansur tengah mengajar di Pascasarjana dan Deddy Ismatullah tengah mengadakan visitasi di tangeranga,” ungkap Cik Hasan Bisri selaku moderator Debat. Menurut Moeflich Hasbullah, terselenggaranya Debat ini, “Sesungguhnya bukan debat, karena terkesan negatif dan bernuansa debat kusir. Melainkan diskusi mencari gagasan, ide kepemimpinan Rektor,” katanya.

“Pada awalnya forum ini merupakan wadah sharing ide di maya untuk berbagi ide mengenai calon rektor ke depan agar ide-ide calon rektor dapat difahami bersama supaya tidak memunculkan masalah jika ada ide yang tidak terkomunikasikan,”lanjut Moeflich. “Keberanian untuk menyelenggarakan debat ini terdorong oleh pernyataan Pak Cik, yang mensuport sekaligus menjadi sponsor acara ini, apalagi Pak Cik menjamin akan langsung bertanggung jawab,”kilah Moeflich.

Ia berharap dengan adanya kegiatan ini menciptakan; Pertama, Komunikasikan ide, gagasan kepemimpinan mendatang. Kedua, Terbentuknya komitmen moral. Mudah-mudahan kedepanya terbentuk acara diskusi rutin untuk pemilihan Rektor, dekanat,” jelasnya.

Cik Hasan Bisri memberikan rambu-rambu debat bahwa yang dinilai adalah substansi ide bukan pujian-pujian, diantaranya adalah (1) Presentasi gagasan tentang kualitas akademik, (2) Calon mengkritisi presentasi calon lain, (3) Masing-masing calon mempresentasikan masalah kepegawaian, (4) Tanya jawab, dan (5) Memperesentasikan gagasan bagaimana membangun jaringan, baik di dalam atau pun ke luar.

Suasana ruangan debat cukp penuh sesak, hingga banyak hadirin yang berdiri. Tanpa memilah dan bermaksud memihak, Cik Hasan Bisri selaku Moderator memberikan kesempatan pertama untuk presentasi ide kepada Prof. Dr. Moh. Najib, M.Ag.

Paparan Prof. Najib menyangkut kualitas akademik berujung pada pengembangan UIN menjadi universitas riset. Sementara Prof. Asep mementingkan keotonomian ilmu sebagai ruh perguruan tingi. Sedangkan Prof. Nurol Aen, mengupayakan rasio dosen yang sangat kurang untuk pengembangan mahasiswa, dan terakhir Prof. Endin, menjamin kurikulum, sarana prasarana dan kualitias dosen dengan menyekolahkan dosen.

Dari keseluruhan Paparan tentang pengembangan kualitas akademik, Moderat[or menyimpulkan bahwa dari keempat calon menitikberatkan pada kualitas yang beragam. Pertama, Prof. Najib menitikberatkan pada pengembangan universitas riset, Prof. Samuh pada otonomi keilmuan, Prof. Nurol Aen pada idealitas Rasio antara mahasiswa dan dosen, sedangkan Prof. Endin pada dinamisasi kurikulum dan sarana penunjangnya.

Berkaitan dengan berbagai kepentingan akan kemajuan uin ke depan, respon hadirin cukup banyak, pada termin pertama ada sepuluh orang penanya yang diawali oleh seorang dosen kemudian pertanyaan dari mahasiswa.