UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

BERBURU ENERGI SPIRITUAL THAWAF

Thawaf  adalah mengelilingi Baitullah (Kabah) dengan cara-cara yang ditentukan oleh syari’at sebanyak 7 kali putaran yang analisis ilmu pengetahuan merupakan langkah dan gerak anggota tubuh yang sejalan dengan gerak putaran alam. Putaran thawaf dari arah kanan ke kiri tidak berlaku sebaliknya.

Tawaf dimulai dan berakhir di rukun hajar aswad (sudut kabah yg dijadikan sebagai tempat penyimpanan batu hitam) dengan menjadikan Baitullah berada di sebelah kiri. Dalam praktik ibadah haji dan umrah, thawaf merupakan rukun yang tidak bisa ditinggalkan. Selain sebagai ibadah, thawaf memiliki keutamaan dan energi yang sangat dahsyat.  Dan sangat dianjurkan untuk memperbanyak thawaf sunnah (tathawu) karena keutamaannya.

Dikisahkan bahwa ibadah pertama kali yang dilakukan Nabi Adam setelah turun dari langit adalah thawaf. Lalu, para malaikat menemuinya sambil berkata, “Semoga ibadahmu mabrur wahai Adam, dan kami pun telah melakukan tawaf di Baitullah ini sejak dua ribu tahun sebelum kamu.”  Begitu pula ketika para malaikat merasa bersalah karena telah membantah Allah Swt., mereka segera melakukan thawaf untuk menebus kesalahannya. Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa melakukan thawaf di Baitullah maka Allah akan mencatat kebaikan dan menghapuskan satu keburukan bagi setiap langkahnya.” (HR. Al-Azraqy).

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa setiap hari Allah menurunkan 120 rahmat kepada orang yang berhaji ke rumah Allah yang suci: 60 untuk yang berthawaf, 40 untuk yang shalat, dan 20 untuk yang menyaksikannya (HR. Baihaqi).Thawaf  merupakan simbolisasi dari perjalanan hidup manusia yang seyogyanya dalam rangka mendekat kepada Allah. Sering disebut bahwa Allah merupakan asal dan akhir. Kita semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah Swt. Siapa saja yang mengorientasikan hidupnya kepada selain Allah, maka ia telah keluar dari orbit penciptaannya.

Dalam thawaf umat Islam mengelilingi Kabah. Ka’bah adalah kiblat umat Islam dalam beribadah yang terletak di tengah-tengah Masjidil Haram di kota Makkah. Ka’bah adalah tempat beribadah kepada Allah yang pertama kali dibangun manusia. Allah Swt. berfirman yang artinya: ”Sesungguhnya rumah yang pertama kali dibina untuk tempat beribadah bagi manusia adalah Baitullah di kota Makkah yang diberkati dan menjadi petunjuk bagi umat manusia “(QS. Ali Imran : 96 ).

Kabah adalah batu yang disusun berbentuk kotak yang dibina untuk tempat beribadah kepada Allah terletak di tengah Masjidil Haram. Umat islam melakukan thawaf, mengelilingi Ka’bah dan mengucup Hajar al Aswad bukan bermakna memuja dan menyembah batu. Ka’bah dan Hajar Aswad tersebut adalah batu sebagaimana batu biasa yang tidak dapat memberi manfaat dan mudharat bagi kehidupan.

Kita melakukan thawaf dan mengecup batu tersebut adalah karena diperintah oleh Allah dan mengikuti sunnah baginda Rasulullah. Itulah sebabnya Umar bin Khattab ra. berkata: ‘ Wahai batu Hajarul aswad  engkau adalah batu sebagaimana batu yang lain. Kalau bukan disebabkan oleh Rasulullah yang telah mengecupmu, maka aku tidak akan mengecupmu”.

Dengan demikian, mengecup batu bukan karena memuja dan kemuliaan batu atau untuk menyembah batu, tetapi disebabkan untuk mengikuti sunnah Rasulullah Saw. Thawaf melambangkan nilai-nilai tauhid. Dalam thawaf manusia diarahkan agar selalu mendekatkan diri kepada Allah sebagaimana dekatnya badan dengan Kabah. Mendekatkan diri kepada Allah bukan hanya satu kali saja, tetapi berulang kali dan setiap waktu dalam kehidupan, sebagaimana dilambangkan dalam ibadah thawaf yang dilakukan tujuh kali putaran. Ini melambangkan agar manusia selalu mendekatkan diri kepada Allah selama tujuh hari dalam seminggu, bermakna manusia harus dapat mendekatkan diri kepada Alah setiap saat dan setiap hari dalam kehidupan.

Pergerakan atau perputaran manusia mengelilingi Ka’bah merupakan sunnatullah dan gambaran kehidupan manusia. Manusia yang mengikuti sunnatullah dengan melaksanakan thawaf dalam garis yang sesuai maka dia akan selamat. Tapi jika manusia mencoba melawan arus perputaran thawaf, dipastikan orang itu celaka dan tidak selamat.

Demikian juga dengan kehidupan manusia yang berada dalam jalur yang sudah ditentukan Tuhan, yakni patuh pada agama, pasti akan selamat. Jika manusia sudah melawan agama, dipastikan celaka dan tidak akan selamat.Perputaran dari kiri ke kanan melawan arah jarum jam, merupakan petunjuk kepada kita agar melihat ayat-ayat Tuhan yang tersebar di alam jagat raya ini.

Rangkaian planet mengelilingi matahari dari kiri ke kanan, bintang-bintang mengelilingi porosnya dari kiri ke kanan, elektron-elektron, dan peredaran darah dari jantung ke seluruh tubuh dilakukan dari kiri ke kanan. Intinya banyak tanda-tanda kebesaran Allah yang ditunjukkan melalui berbagai rangkaian, termasuk thawaf, agar manusia mempu memikirkan dan mengambil makna terbaiknya.Ada ribuan orang bahkan jutaan yang pada waktu yang sama melakukan thawaf.

Ada rasa kekerdilan di dalam hati, takut dengan postur yang tidak terlalu tinggi dan bodi yang kurus untuk ‘memasuki’ putaran lautan manusia. Namun, keikhlasan untuk beribadah kepada sang pemilik Ka’bah, membuat ketakutan tersebut berganti dengan rasa kerinduan. Thawaf hanya bisa dimaknai oleh mereka yang melaksanakan thawaf itu sendiri, sehingga tidak jarang kita melihat para jamaah yang berthawaf menangis, mengalirkan air mata, seperti mengalirnya lautan manusia dalam mengitari Ka’bah.

Oleh karena itu, thawaf harus dilakukan dengan penuh penghayatan akan kehadiran Allah, berzikir , berdoa dan memohon ampun kepada-Nya. Ini melambangkan agar setiap manusia harus selalu beribadah kepada Allah dengan merasakan kehadiran Allah dalam setiap hari, mengingat kepada-Nya, berzikir, berdoa dan memohon ampun kepada-Nya. Tidak ada hari yang lepas daripada ibadah, zikir, berdoa dan memohon ampun. Inilah kehidupan beribadah seorang muslim. Maksud thawaf ini sesuai dengan lafadz doa iftitah yang dilakukan dalam shalat “inna shalaati wa nusuki wamahyaaya wa mamaati lillahi rabbil ‘alamin “, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku adalah untuk Allah, Tuhan seluriuh alam”. 

Thawaf adalah sesuatu yang harus kita lakukan di mana pun kita berada. Kita harus bergerak, mengelilingi pusat orbit untuk mencoba mendekatkan diri dengan mencoba memaknai kehidupan ini.Oleh karena itu, dalam melaksanakan thawaf selalu diiringi dengan membaca doa dan dzikir secara khusyu sekalipun pada dasarnya dalam pelaksanaan thawaf tidak ada doa-doa yang dikhususkan. Tidak pernah diriwayatkan dari Nabi bahwa di dalam thawaf terdapat doa khusus. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Dalam hal ini—yakni thawaf—tidak ada dzikir yang khusus dari Nabi, baik perintah atau ucapan. Beliau Saw. tidak mengajarkan hal itu. Namun demikian para ulama telah berijtihad untuk menyusun doa-doa khusus pada setiap putaran thawaf, yang dimaksudkan agar para jamaah haji dan umrah senantiasa mengumandangkan doa selama menjalankan ibadah umrah. 

Sekalipun tidak ada ketentuan dan keharusan untuk membaca doa-doa tersebut, namun setidaknya ada beberapa hikmah dan manfaat dari doa-doa tersebut, antara lain sebagai berikut:Pertama, Doa-doa yang disusun para ulama tersebut tersusun dengan rapi serta mudah untuk dibaca dan dilapalkan. Selain itu setiap putaran memiliki makna permohonan dan pernyataan diri secara tertentu yang jika dirangkaikan semuanya mengandung permohonan paripurna yang dibutuhkan manusia untuk meraih kebahagiaan dunia akhirat.

Kedua, doa thawaf juga bisa menjadi media pengingat agar tidak lupa jumlah putaran.  Dimaklumi bahwa dalam kondisi penuh sesak dan berdesakan tidak jarang orang lupa dan tidak ingat sudah berapa putaran dalam thawaf. Dengan adanya doa tiap putaran maka jamaah akan teringat tentang jumlah putaran thawaf yang sudah dialuinya. Wallahu a’lam

Sumber, Pikiran Rakyat 8 Mei 2012