UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Berakhlak

Sadar dalam menjalankan perintah dan larangan Allah, sudah sangat akrab dengan ungkapan: “Rasulullah di utus Allah adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia”. Maka, bagi orang yang beriman, akhlak diyakini sebagai doktrin Islam yang harus dilaksanakan. Betapa aman, tertib, dan indahnya  dunia ini jika manusia berakhlak.   

Berakhlak bukan hanya berurusan dengan sesama manusia semata, tetapi berakhlak dengan Allah dan alam pun kita diharuskan. Sikap sombong, rakus kekuasaan, tidak amanah, zalim, dll, adalah indikator pribadi yang tidak berakhlak. Tidak sedikit orang sombong terhadap Allah, apalagi kepada manusia dan alam; tidak sedikit orang yang mengabaikan perintah dan larangan Allah, apalgi kepada  manusia dan alam. Bukankah peringatan Alqur’an bahwa alam ini rusak karena ulah manusia yang tidak berakhlak? Orang berakhlak tidak menumbuhkan benih-benih permusuhan, karena sadar dengan bermusuhan akan menghancurkan sistem kemasyarakatan. Orang berakhlak tidak akan membuang sampah dan kencing sembarangan, karena sadar akan menimbulkan penyakit, banjir, dll. Orang berakhlak tidak akan menebang pohon dan membuka lahan sembarangan, tidak akan mendirikan komplek perumahan sembarangan, karena sadar akan merusak lingkungan. Sampai-sampai cara-cara menyembelih hewan pun orang berakhlak diajarkan dan tahu caranya.

Untuk itulah, manusia melalui “tangan” Rasulullah akan disempurnakan akhlaknya. Gambaran orang berakhlak pada dasarnya mencerminkan citra Islam di alam semesta. Ia memiliki tujuan universal : ukhuwah insaniyah/persaudaraan universal, mencetak manusia terbaik diantara yang baik (beriman dan bertaqwa) dan membentuk pribadi yang ber al-akhlaq al-karimah. [Adeng Muchtar Ghazali]