HomeBeritaBeritaPerkuat Pemahaman Psikoterapi Islam, Mahasiswa UIN Bandung Dalami Ruqyah Syar’iyyah

Perkuat Pemahaman Psikoterapi Islam, Mahasiswa UIN Bandung Dalami Ruqyah Syar’iyyah

Perkuat Pemahaman Psikoterapi Islam, Mahasiswa UIN Bandung Dalami Ruqyah Syar’iyyah

UINSGD.AC.ID (Humas) — Pembelajaran Ruqyah Syar’iyyah dalam mata kuliah Thibbun Nabawi membekali 100 mahasiswa Jurusan Tasawuf dan Psikoterapi, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dengan pemahaman praktis tentang ikhtiar spiritual berbasis ayat-ayat Al-Qur’an dan relevansinya dengan kesehatan psikis dalam perspektif Islam.

Melalui praktik langsung, mahasiswa mendalami prinsip ruqyah sesuai syariat, mengkaji hubungan keimanan dengan ketenangan jiwa, serta memahami batas pendekatan psikospiritual yang perlu berjalan beriringan dengan penanganan medis dan psikologis profesional. Kegiatan berlangsung di Aula Fakultas Ushuluddin Lantai 1 Kampus II UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Jumat (9/10/2026).

Mengusung tema “Manifestasi Iman dan Ketenangan Jiwa: Peran Ayat-Ayat Syifa dalam Intervensi Thibbun Nabawi”, kegiatan ini dirancang untuk menghubungkan pemahaman teoretis dengan pengalaman praktis. Mahasiswa mendapat kesempatan untuk mendalami prinsip, tujuan, dan tata cara ruqyah syar’iyyah sekaligus memahami penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dosen pengampu mata kuliah Thibbun Nabawi, Dodo Widarda, S.Ag., M.Hum., menjelaskan bahwa praktik tersebut merupakan bagian dari pembelajaran aplikatif untuk membekali mahasiswa dengan pemahaman mengenai pelaksanaan ruqyah secara benar, termasuk penerapannya secara mandiri.

“Manfaat kegiatan ini sebagai bentuk terapi, baik untuk kesehatan fisik maupun psikis. Selain itu, supaya para mahasiswa bisa mempraktikkan ruqyah mandiri, yakni ruqyah untuk diri sendiri ketika terserang penyakit,” ungkap Dodo.

Menurutnya, ruqyah syar’iyyah menekankan keterkaitan antara keimanan, ketenangan batin, dan ikhtiar spiritual. Dalam ajaran Islam, Al-Qur’an tidak hanya menjadi petunjuk hidup, tetapi juga dipahami sebagai syifa atau penawar bagi orang-orang beriman.

Dalam praktik yang diperkenalkan kepada mahasiswa, ruqyah dilakukan melalui pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an tanpa melibatkan perantara jin. Praktik ini menegaskan prinsip bahwa ikhtiar dilakukan melalui doa dan bacaan Al-Qur’an, sedangkan kesembuhan tetap disandarkan kepada Allah SWT.

“Ruqyah hanya lewat pembacaan ayat Al-Qur’an, tidak mempergunakan medium jin, dan menyandarkan kesembuhan pada kekuasaan Allah semata-mata,” tegasnya.

Menghubungkan Teori dengan Praktik Psikoterapi Islam

Pembelajaran ini memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengkaji hubungan antara nilai-nilai keagamaan, kesehatan spiritual, dan ketenangan jiwa. Dalam konteks keilmuan Tasawuf dan Psikoterapi, pengalaman praktik tersebut memperkaya pemahaman mengenai pendekatan psikospiritual dalam menghadapi kegelisahan, tekanan batin, dan persoalan kehidupan.

Dengan perpaduan materi teoretis dan praktik langsung, mahasiswa diharapkan mampu memahami ruqyah tidak hanya sebagai praktik keagamaan, tetapi juga sebagai bagian dari kajian psikospiritual Islam yang perlu dipahami berdasarkan prinsip, tujuan, dan batas penerapannya.

Direktur Iran Corner ini mengingatkan bahwa ikhtiar spiritual harus ditempatkan secara proporsional. Ruqyah dapat menjadi bagian dari ikhtiar keagamaan, tetapi tidak menggantikan pemeriksaan medis maupun penanganan profesional ketika seseorang mengalami gangguan kesehatan fisik atau psikologis.

Pemahaman ini menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran agar mahasiswa memiliki perspektif yang utuh ketika mengkaji hubungan antara agama, kesehatan jiwa, dan praktik psikoterapi. Dengan demikian, mahasiswa dapat mengembangkan pemahaman keilmuan yang berlandaskan nilai-nilai Islam dan memperhatikan kebutuhan penanganan kesehatan secara tepat.

Kegiatan yang dipandu Sekretaris Jurusan Tasawuf dan Psikoterapi, Dr. Dian Siti Nurjanah, serta dibuka oleh Ketua Program Studi, Dr. Cucu Setiawan, M.Ag., menjadi bagian dari upaya memperkuat pembelajaran aplikatif di lingkungan Fakultas Ushuluddin.

Dengan adanya pembelajaran ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami prinsip ruqyah syar’iyyah secara tepat, mendalami keterkaitan antara ikhtiar spiritual, ketenangan jiwa, dan kesehatan psikis dalam perspektif Islam, serta menempatkan pendekatan psikospiritual secara proporsional.

Pemahaman ini menjadi bekal bagi mahasiswa Tasawuf dan Psikoterapi untuk mengembangkan kompetensi keilmuan yang berlandaskan syariat, kritis terhadap batas penerapan praktik spiritual, dan tetap memperhatikan pentingnya penanganan medis maupun psikologis profesional. (Haryadi/ Kontributor)

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *