Model PKM “Sobat Seru” ala Mahasiswa Baru Aksyar UIN Bandung
UINSGD.AC.ID (Humas) — Tawa riang belasan anak memecah suasana Minggu (4/10/2026) pagi di Panti Asuhan Mizan Amanah. Di tengah-tengah kerumunan itu, sekumpulan anak muda berjaket almamater duduk melingkar, berbaur tanpa sekat. Pemandangan serupa tersaji di Panti Asuhan Ar-Rifqi dan PP. Oase Al-Qur’an.
Anak-anak muda itu bukanlah dosen, relawan profesional, melainkan mahasiswa baru Program Studi Akuntansi Syariah (Aksyar) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang tengah meredefinisi makna orientasi kampus.
Alih-alih mengurung diri dalam penatnya penugasan ospek di ruang kelas, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Akuntansi Syariah merombak tradisi Orientasi Jurusan (OSJUR) bertajuk INTERAKSI 2026 menjadi aksi nyata Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM). Mereka datang membawa misi hangat bernama “SOBAT SERU: Jaga Diri, Jaga Lisan, Jaga Teman”.
Ketua HMJ Akuntansi Syariah (Aksyar), Andri Suwendi, didampingi Ketua Pelaksana Salman Al-Farisi Okasah, Sekretaris Syauqa Bismi Alya, dan SC Umum Mohammad David Johari menjelaskan bahwa pembaruan sistem ini lahir dari kegelisahan untuk menciptakan mahasiswa yang tidak hanya tajam secara teoritis, tetapi harus memiliki kepekaan sosial.
“Ini merupakan tujuan dari HMJ Aksyar melakukan pembaruan sistem dari INTERAKSI 2026 yang fokus pada pengabdian kepada masyarakat. Mahasiswa baru diharapkan tidak hanya mengenal organisasi secara teoritis, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung dalam berorganisasi, memimpin, serta memberikan kontribusi nyata,” ungkap Andri.
Tiga Pilar Sobat Seru: Membentengi Generasi dari Perundungan
Di lingkungan panti asuhan yang heterogen, di mana rentang usia anak-anak bervariasi dari usia dini hingga remaja, dinamika interaksi sosial sering kali memunculkan tantangan seperti kebiasaan mengejek atau bahasa yang kurang santun. Sadar akan potensi perundungan tersebut, konsep “Sobat Seru” dirancang sebagai perisai edukasi yang inklusif dan menyenangkan.
Edukasi ini bertumpu pada tiga pilar utama. Pertama, Jaga Diri, yang mengajarkan anak-anak untuk memahami batasan pribadi dan menjaga kesehatan fisik serta mental dari pengaruh negatif. Kedua, Jaga Lisan, pembiasaan untuk bertutur kata jujur, santun, dan menghindari perundungan verbal. Ketiga, Jaga Teman, yang menumbuhkan rasa empati dan kepedulian tanpa memandang usia demi terciptanya keluarga panti yang harmonis.
Bagi mahasiswa baru Aksyar, turun langsung mengajarkan etika ini adalah bentuk implementasi nilai-nilai dasar disiplin ilmu mereka: amanah (dapat dipercaya), siddiq (jujur), dan muraqabah (kesadaran diri).
Kolaborasi, Donasi, dan Apresiasi
Praktik kepanitiaan ini melatih mahasiswa baru secara komprehensif. Mereka dibagi menjadi beberapa tim kerja yang mengurus perencanaan, hingga penggalangan dana. Hasilnya pun tidak mengecewakan. Dari inisiatif gotong royong mahasiswa baru, terkumpul donasi sebesar Rp3.987.300 yang disalurkan langsung untuk mendukung kebutuhan 62 anak di ketiga lokasi panti asuhan tersebut.
Model orientasi berbasis pengabdian ini mendapat sambutan hangat dari pihak kampus. Ketua Prodi Akuntansi Syariah, Mia Lasmi Wardiyah, S.P., M.Ag., CPRM., yang turut didampingi Sekretaris Prodi Fithri Dzikrayah, S.E., M.E., memberikan apresiasi tinggi terhadap inovasi HMJ Aksyar.
“Atas nama pimpinan, saya mendukung dan memberikan apresiasi. Mudah-mudahan kegiatan ini dapat memberikan manfaat yang nyata dan berkelanjutan, baik dalam membentuk karakter anak-anak di panti asuhan maupun mengasah empati sosial mahasiswa baru,” jelas Mia, Jumat (9/10/2026).
Dengan menambahkan bahwa langkah nyata ini merupakan pengejawantahan sejati dari visi kampus. “Ini sesuai dengan visi kampus yang menjadikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung unggul, kompetitif, dan inovatif berbasis rahmatan lil alamin. Sejalan dengan cita-cita Kemenag, Tri Dharma Perguruan Tinggi harus memberikan dampak langsung terhadap masyarakat,” tegasnya.
Dengan adanya program “Sobat Seru”, mahasiswa baru Akuntansi Syariah (Aksyar) angkatan 2026 telah membuktikan bahwa orientasi kampus bukan tentang senioritas, melainkan tentang seberapa cepat seorang akademisi muda bisa turun tangan, memeluk masyarakat, dan membawa perubahan yang menyejukkan.


