5 Agenda Riset PTKIN untuk Mendukung Transformasi Indonesia

UINSGD.AC.ID (Humas) — Wakil Menteri Agama Republik Indonesia Dr. KH. Romo R. Muhammad Syafi’i, S.H., M.Hum., menegaskan integrasi ilmu bukan memaksakan ayat pada rumus saat memberikan Kuliah Umum bertajuk “Peran Fakultas Sains dan Teknologi PTKIN dalam Membangun Peradaban Berbasis Sains dan Nilai Keislaman” yang berlangsung di Gedung Anwar Musaddad UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Kamis (3/9/2026).

Integrasi ilmu tidak berarti setiap rumus matematika harus dipaksakan memiliki ayat Al-Qur’an. “Integrasi keilmuan adalah bagaimana wahyu memberikan arah, nilai memberikan batas, ilmu memberikan pengetahuan, dan teknologi memberikan kemampuan,” tegasnya.

Dengan demikian, seorang ilmuwan tidak hanya bertanya “Apakah sesuatu bisa dilakukan?” Tetapi juga bertanya: “Apakah sesuatu itu baik dilakukan? Untuk siapa? Dan untuk kemaslahatan apa?”

“Inilah distingsi penting FST di PTKIN. Artinya, FST PTKIN tidak boleh hanya menjadi PTU versi mini,” ujarnya.

Perguruan tinggi umum dapat menjawab pertanyaan: “Bagaimana melakukannya?” Tetapi FST PTKIN juga harus mampu menjawab: “Mengapa harus dilakukan?” dan: “Ke mana ilmu itu diarahkan?”

“Kita ingin melahirkan sains yang berjiwa, teknologi yang beretika, dan inovasi yang berpihak pada kemaslahatan,” ungkapnya.

Gagasan Besar Presiden Prabowo dan Lapangan Kerja Masa Depan

Presiden Prabowo ingin membangun Indonesia yang kuat, mandiri, dan berdaulat. Indonesia membutuhkan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, riset, inovasi, dan industri. Mahasiswa FST harus paham arah perkembangan ekonomi dan lapangan kerja masa depan.

Pertama, energi terbarukan dan teknologi hijau. Pengembangan energi surya, kendaraan listrik, baterai, dan teknologi ramah lingkungan akan membutuhkan insinyur, teknisi, peneliti, ahli energi, ahli elektronika, hingga tenaga manufaktur.

Kedua, digitalisasi dan kecerdasan buatan. Teknologi digital akan semakin masuk ke pendidikan, pertanian, kesehatan, industri, pelayanan publik, dan berbagai sektor kehidupan. Di sinilah dibutuhkan ahli teknologi informasi, pemrogram, pengolah data, pengembang kecerdasan buatan, dan ahli keamanan siber.

Ketiga, riset, hilirisasi, dan manufaktur berteknologi tinggi. Indonesia tidak boleh selamanya menjadi negara yang hanya menjual bahan mentah. Kita harus mampu mengolah, memproduksi, dan menciptakan teknologi sendiri. Termasuk di dalamnya semikonduktor, industri strategis, teknologi pertahanan, energi, kemaritiman, dan perkapalan.

Mahasiswa jangan hanya bertanya: “Setelah lulus, saya akan bekerja di mana?” Tetapi bertanyalah: “Setelah lulus, persoalan apa yang dapat saya selesaikan?” Karena orang yang mampu menyelesaikan masalah akan selalu dibutuhkan. Jangan hanya menjadi pencari kerja. Jadilah pencipta lapangan kerja.

Riset PTKIN untuk Mendukung Transformasi Indonesia

Riset di PTKIN tidak boleh berjalan sendiri tanpa hubungan dengan kebutuhan bangsa. Riset harus diarahkan untuk menjawab agenda besar Presiden Prabowo dalam membangun Indonesia yang mandiri, berdaulat, dan berdaya saing.

1. Riset Untuk Ketahanan Pangan
Kita membutuhkan riset tentang pertanian modern, teknologi pangan, peningkatan produktivitas, pengelolaan air, benih unggul, dan teknologi pascapanen. PTKIN harus ikut menjawab pertanyaan: Bagaimana Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya sendiri?

2. Riset Untuk Ketahanan dan Kemandirian Energi
Kembangkan riset energi surya, bioenergi, baterai, kendaraan listrik, penyimpanan energi, dan energi terbarukan. Indonesia memiliki sumber daya energi yang besar. Tantangannya adalah bagaimana sumber daya tersebut diolah dengan teknologi sendiri untuk memperkuat kemandirian energi nasional.

3. Riset Untuk Hilirisasi dan Industri Nasional
Riset PTKIN harus ikut mendorong pengolahan sumber daya alam menjadi produk bernilai tambah. Kita harus bergerak dari menjual bahan mentah menjadi menghasilkan produk, teknologi, dan industri. Karena itu, riset harus diarahkan pada teknologi manufaktur, material maju, elektronika, semikonduktor, teknologi kelautan, dan berbagai industri strategis nasional.

4. Riset Untuk Transformasi Digital dan Kecerdasan Buatan
Kecerdasan buatan, pengolahan data, robotika, keamanan siber, dan teknologi digital harus dikembangkan untuk menjawab kebutuhan pendidikan, kesehatan, pertanian, industri, pemerintahan, dan pelayanan masyarakat. PTKIN jangan hanya menjadi pengguna teknologi. PTKIN harus ikut menjadi pencipta teknologi.

5. Riset yang Berujung Pada Hilirisasi dan Kemaslahatan
Riset tidak boleh berhenti sebagai jurnal dan seminar. Kita harus membangun ekosistem:
Riset → Inovasi → Produk → Industri → Lapangan Kerja → Kemaslahatan.

“Inilah arah baru riset PTKIN. Kita ingin penelitian yang tidak hanya menghasilkan publikasi, tetapi menghasilkan solusi, teknologi, industri, lapangan kerja, dan manfaat nyata bagi masyarakat. Dengan demikian, kampus tidak berada di luar proses pembangunan nasional. Kampus harus menjadi bagian dari mesin transformasi Indonesia,” jelasnya.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *