UINSGD.AC.ID (Humas) — Islam tidak pernah mempertentangkan iman dengan ilmu. Wahyu pertama adalah perintah membaca, Iqra’, bacalah. Ini menunjukkan bahwa peradaban Islam dibangun dengan tradisi membaca, berpikir, meneliti, dan mengembangkan ilmu.
Pernyataan itu disampaikan oleh Wakil Menteri Agama Republik Indonesia Dr. KH. Romo R. Muhammad Syafi’i, S.H., M.Hum., saat memberikan Kuliah Umum bertajuk “Peran Fakultas Sains dan Teknologi PTKIN dalam Membangun Peradaban Berbasis Sains dan Nilai Keislaman” yang berlangsung di Gedung Anwar Musaddad UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Kamis (3/9/2026).
Hadir dalam Kuliah Umum itu, Nona Gayatri Nasution, S.Si., (Staf Khusus Menteri Agama Bidang Pendidikan, Reformasi Birokrasi, dan Tata Kelola Kelembagaan), Junisab Akbar (Tenaga Ahli Menteri Agama Bidang Pengawasan dan Pengendalian ASN), H. Dudu Rohman, S.Ag., M.Si. (Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat), para Wakil Rektor, Kepala Biro, para Dekan dan Wakil Dekan.
Dalam Al-Qur’an digambarkan karakter Ulul Albab sebagai manusia yang mampu menggabungkan dzikir dan pikir. Allah berfirman “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Mereka adalah orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring, dan memikirkan penciptaan langit dan bumi.” (QS. Ali ‘Imran: 190 – 191)
“Inilah fondasi penting pendidikan Islam, Iman melahirkan rasa ingin tahu, dan ilmu memperkuat kesadaran kepada Allah. Fakultas Sains dan Teknologi memiliki tanggung jawab untuk melahirkan ilmuwan dan profesional di bidang sains dan teknologi, sekaligus memiliki integritas, moral, dan kesadaran akan untuk kemaslahatan manusia,” tegasnya.
Sejarah membuktikan bahwa ketika umat Islam menjadikan ilmu sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab peradaban, lahirlah ilmuwan-ilmuwan besar.
Kita mengenal Al-Khawarizmi (matematika dan aljabar); Ibnu Al-Haitsam (optika dan eksperimen); Jabir bin Hayyan (ilmu kimia); Al-Biruni (ahli astronomi, matematika, geografi, dan ilmu alam); Ar-Razi dan Ibnu Sina (ilmu kedokteran); Ibnu An-Nafis, (sirkulasi darah melalui paru-paru); dan Ibnu Khaldun (kajian sejarah, masyarakat, dan peradaban). “Mereka tidak melihat ilmu agama dan ilmu pengetahuan sebagai dua dunia yang terpisah,” jelasnya.
Fakultas Sains dan Teknologi di lingkungan PTKIN harus mengambil peran strategis, melahirkan ilmuwan muslim yang mampu menciptakan teknologi, mengembangkan kecerdasan buatan, menciptakan teknologi energi masa depan, serta menentukan arah perubahan zaman.
Pendidikan Islam tidak cukup hanya dengan menambahkan mata pelajaran agama ke dalam kurikulum. Pendidikan Islam harus menjadikan nilai-nilai Islam sebagai fondasi dan paradigma dalam seluruh proses pendidikan, bagaimana ilmu dicari, dikembangkan, digunakan, dan diarahkan.
“Hilangkan dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Kita harus melahirkan ilmuwan yang beriman, teknolog yang berakhlak, dan profesional yang memiliki tanggung jawab moral,” bebernya.
Integrasi ilmu tidak berarti setiap rumus matematika harus dipaksakan memiliki ayat Al-Qur’an. “Integrasi keilmuan adalah bagaimana wahyu memberikan arah, nilai memberikan batas, ilmu memberikan pengetahuan, dan teknologi memberikan kemampuan,” paparnya.
Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung terus menguatkan tata kelola dan budaya integritas sebagai bagian dari perjalanan. Salah satunya melalui pembangunan Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi.
Kemajuan ilmu tanpa integritas dapat menjadi ancaman. Pembangunan Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi bukan sekadar persoalan administratif. “Integritas harus menjadi budaya. Dalam penelitian, harus jujur. Dalam pelayanan, harus amanah. Dalam menggunakan kewenangan, harus bertanggung jawab. Dalam menghasilkan teknologi, harus memikirkan dampaknya bagi manusia dan lingkungan. Ilmu harus membuat manusia semakin bermanfaat, bukan semakin berbahaya,” ujarnya
Empat Perjuangan Mahasiswa
“Hari ini Saudara tidak hanya masuk ke sebuah fakultas. Saudara sedang memasuki medan perjuangan untuk menentukan masa depan Indonesia. Karena itu, saya titipkan empat perjuangan,” tuturnya.
Pertama, Kuasai Ilmu. Belajarlah sungguh-sungguh. Jadi ahli pada bidangnya. Jangan puas menjadi sarjana, tapi jadilah manusia yang kompeten.
Kedua, Cari dan Selesaikan Masalah. Lihat persoalan di sekitar: energi, pangan, lingkungan, kesehatan, pendidikan, kemiskinan, teknologi, dan lainnya. Jadikan persoalan sebagai bahan penelitian dan lahirkan solusinya.
Ketiga, Ciptakan, Jangan Hanya Menggunakan. Jangan hanya jadi pengguna teknologi, tapi pencipta. Ciptakan gagasan, teknologi, dan solusi. Kalau memungkinkan, bangun usaha sendiri. Buka lapangan kerja bagi orang lain.
Keempat, Perjuangkan Ilmu dengan Integritas. Jangan korbankan kejujuran demi nilai, keuntungan, atau popularitas. Jadilah ilmuwan terpercaya dan bermanfaat. Indonesia tidak kekurangan anak muda yang cerdas.
Jangan hanya bertanya “Apa yang akan saya dapatkan dari kampus? Tetapi Apa yang dapat saya berikan kepada Indonesia melalui ilmu saya?”
“Kuasai ilmu. Selesaikan masalah. Ciptakan teknologi. Bangun masa depan Indonesia. Abdikan untuk kemaslahatan. Itulah perjuangan Saudara,” pesannya.
Pendidikan bukan hanya untuk membuat manusia semakin pintar. “Pendidikan harus mengubah ilmu menjadi kebijaksanaan, kecerdasan menjadi tanggung jawab, dan teknologi menjadi kemaslahatan. Kuasai ilmu, ciptakan teknologi, teguhkan nilai, hadirkan kemaslahatan,” tegasnya.
“Wahyu memberi arah. Sains memberi pengetahuan. Teknologi memberi kemampuan. Akhlak menentukan penggunaannya dan kemaslahatan adalah tujuannya.”
Dahulu para ilmuwan Muslim memegang estafet peradaban. “Hari ini estafet itu berada di tangan kalian. Jangan hanya menjadi penonton kemajuan zaman. Jadilah ilmuwan. Jadilah pencipta. Jadilah manusia yang beriman, berilmu, dan bermanfaat,” ujarnya.
“Saya berharap FST UIN Sunan Gunung Djati Bandung menjadi pusat keunggulan yang membuktikan bahwa Islam tidak menghambat kemajuan ilmu pengetahuan, tetapi memberikan arah, nilai, dan tujuan bagi kemajuan tersebut. Mari kita bangun peradaban dengan ilmu, iman, teknologi, dan akhlak. Untuk Indonesia. Untuk umat. Untuk kemanusiaan. Semoga Allah SWT memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat dan kemampuan untuk menjadikannya jalan menuju kemaslahatan,” tandasnya.
Integrasi Keilmuan UIN Bandung
Dalam sambutannya, Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Kuliah Umum bersama Romo ini. Dari total 7.500 mahasiswa baru UIN Bandung, audiens pada kuliah umum ini khusus berasal dari Fakultas Sains dan Teknologi yang baru saja memulai perkuliahan pada 31 Agustus.
“Pertama, menghaturkan terima kasih kepada Romo beserta rombongan. Kita sangat berbahagia beliau di tengah kesibukan tetapi tetap hadir di tengah-tengah kita. Sekali lagi, Romo, terima kasih. Dan mahasiswa baru Saintek sangat berbahagia karena awal kuliah langsung mendapatkan wejangan dari Bapak Wakil Menteri Agama Republik Indonesia. Tidak semua mahasiswa baru bisa mendapatkan hal yang sama,” ujarnya.
Dalam konteks sejarah, paradigma integrasi keilmuan lahir seiring transformasi IAIN menjadi UIN pada tahun 2005. Untuk paradigma keilmuan mengusung model “Wahyu Memandu Ilmu” dengan analogi Roda Ilmu (Pedati Ilmu).
Tema integrasi keilmuan ini muncul seiring dengan transformasi kelembagaan IAIN menjadi UIN, dan UIN Bandung bertransformasi menjadi UIN pada tahun 2005. “Alhamdulillah kita sudah punya model paradigma keilmuan, mengintegrasikan antara ilmu agama dengan ilmu umum, yang tadi disebutkan oleh Ibu Dekan dengan paradigma “Wahyu Memandu Ilmu”, dengan prinsip atau filosofi Roda Ilmu atau Pedati Ilmu,” paparnya.
“Jadi kalau kita membayangkan ada roda, itu ada asnya. As roda (poros utama) itu Tauhidullah (Ketauhidan kepada Allah). Jari-jari dan lapisan luar itu cabang-cabang ilmu umum dan ilmu agama, yang itu ada koneksitas atau interkoneksitas antara keilmuan agama dengan ilmu umum,” jelasnya.
Perbandingan metafora, jika UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta memakai metafora Jaring Laba-laba dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggunakan Pohon Ilmu, maka UIN Sunan Gunung Djati Bandung mengusung metafora Roda atau Pedati Ilmu.
“Maka ini para mahasiswa baru, kalau ditanya filosofi atau ya filosofi interkoneksitas keilmuan UIN Bandung itu apa? Kalau jaring-jaring itu UIN Jogja, sementara Pohon Ilmu itu UIN Malang. Kalau UIN Bandung itu Roda atau roda pedati ya, as roda. Ada yang cahaya peradaban,” ujarnya.
Rektor berharap output lulusannya dapat mencetak sarjana yang al-‘Alim wal-‘Amil Ma’an, unggul dan ahli secara teknis, profesional di bidangnya, seperti informatika atau elektro, beramal nyata, berwawasan kekinian, berintegritas tinggi serta berpegang teguh pada nilai-nilai agama.
“Jadi intinya, visi UIN, visi luhur UIN Bandung itu adalah bagaimana antara ilmu agama dengan ilmu umum itu terkoneksi dengan baik. Nanti lahirlah sarjana-sarjana yang tidak saja handal dan pandai dalam kompetensi masing-masing. Kalau di Saintek kan ada ahli dalam bidang informatika, elektro, macam-macam, tapi pada saat yang bersamaan dia punya nilai integritas terhadap nilai-nilai keagamaan. Jadi kira-kira al-‘ālim wal-‘āmil ma’an. Dia berilmu, beramal, dan pada saat yang bersamaan dia memiliki literasi yang bagus terhadap perkembangan-perkembangan kekinian,” paparnya.
Bangun Peradaban Berbasis Sains dan Nilai Keislaman
Dalam laporannya, Prof. Dr. Hj. Hasniah Aliah, M.Si menjelaskan Kuliah umum semester ganjil tahun akademik 2026/2027 ini diikuti oleh seluruh mahasiswa FST. “Alhamdulillah, pada hari ini kita dapat bersama-sama mengikuti Kuliah Perdana dan Orasi Ilmiah dengan tema Peran Fakultas Sains dan Teknologi PTKIN dalam Membangun Peradaban Berbasis Sains dan Nilai Keislaman”
Atas nama keluarga besar Fakultas Sains dan Teknologi, kami menyampaikan selamat datang dan terima kasih kepada Bapak Wakil Menteri Agama yang telah berkenan hadir bersama kami.
“Bagi FST, kehadiran Bapak pada momentum kuliah perdana ini menjadi sebuah kehormatan sekaligus kesempatan bagi kami untuk mendapatkan pandangan tentang bagaimana sains dan teknologi dapat kita kembangkan bersama nilai-nilai Islam untuk memberikan kontribusi bagi peradaban,” jelasnya.
Tahun 2026 merupakan tahun yang istimewa bagi kami karena 20 tahun sudah Fakultas Sains dan Teknologi berdiri. Dalam perjalanan 20 tahun tersebut, FST terus berkembang. Dari 7 prodi awal yaitu Matematika, Biologi, Fisika, Kimia, Teknik Informatika, Agroteknologi dan Teknik Elektro, kini menjadi 9 prodi dengan dibukanya prodi Teknik Lingkungan dan S2 Informatika.
“Saat ini kami memiliki 3.883 mahasiswa, dengan dukungan 109 dosen dan 43 tenaga kependidikan. Sebagai fakultas umum yang lahir di PT Keagamaan Islam, FST UIN Bandung memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan distingsi yang menjadi karakter khas prodi-prodi umum di PTKI,” bebernya.
Distingsi tersebut dirumuskan melalui pengembangan ilmu dengan paradigma “Wahyu Memandu Ilmu”. Konsep ini menegaskan bahwa pengembangan sains dan teknologi tidak berjalan terpisah dari nilai-nilai keislaman, tetapi saling menguatkan.
“Karena itu, pendidikan, penelitian, dan pengabdian yang dilakukan bertujuan menghasilkan lulusan yang tidak hanya cerdas akalnya menguasai saintek namun juga baik akhlaknya. Inilah yang menjadi karakter FST,” ujarnya.
Implementasi Paradigma Wahyu memandu ilmu tersebut tidak berhenti pada tataran konseptual. Sejak tahun 2018, telah lahir lebih dari 90 judul buku yang mengkaji dan merekonstruksi warisan sains Islam klasik dalam bidang astronomi, matematika, optika, teknik mesin, robotika, instrumentasi, hingga teknologi modern.
Karya-karya dosen kami ini menjadi salah satu bentuk nyata upaya FST dalam mengembangkan integrasi antara sains dan Islam, sekaligus memperkuat identitas keilmuan FST UIN SGD Bandung. “Bagi kami, Wahyu Memandu Ilmu tidak hanya tercermin dalam ilmu dan karya, tetapi juga dalam cara kita bekerja dan mengelola institusi. Karena itu, FST terus menguatkan tata kelola dan budaya integritas sebagai bagian dari perjalanan kami,” ungkapnya.
Dalam 5 tahun terakhir, sebanyak 893 prestasi mahasiswa di tingkat nasional dan internasional, 78 orang mahasiswa mengikuti magang internasional serta 100 orang alumni melanjutkan studi di dalam dan luar negeri. Pada aspek mutu akademik, 6 dari 7 prodi awal di FST telah terakreditasi Unggul.
Dalam bidang riset dan inovasi, telah dihasilkan 289 publikasi internasional dan 23 paten dari total 25 paten UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Artinya, lebih dari 90 persen paten universitas lahir dari ekosistem riset FST, yang turut mengantarkan UIN Bandung menjadi PTKIN dengan jumlah paten terbanyak di Indonesia.
Di samping itu, dengan pembangunan ZI, kepercayaan dan kepuasan public juga tergambar dari Google Review, nilai Indeks Persepsi Anti Korupsi dan Indeks Persepsi Kepuasan Pelayanan. Berbagai capaian tersebut kami syukuri sebagai bagian dari perjalanan FST. Di balik capaian itu, ada ikhtiar untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan membangun budaya kerja yang berintegritas.
“llmu, karya, dan integritas perlu berjalan bersama agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas. Dan bagaimana semangat tersebut kita maknai dalam membangun peradaban berbasis saintek dan nilai keislaman, akan kita simak bersama melalui kuliah perdana dan orasi ilmiah yang disampaikan oleh Bapak Wakil Menteri Agama Republik Indonesia,” paparnya.
Kepada mahasiswa, “saya berharap kesempatan ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya. Mari kita simak dengan sungguh-sungguh apa yang akan disampaikan oleh Bapak Wakil Menteri Agama. Semoga dapat membuka cara pandang dan memberikan inspirasi bagi perjalanan akademik, pengembangan diri, dan karya kalian ke depan,” ujarnya.


