UINSGD.AC.ID (Humas) — Rektor UIN Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., membuka secara resmi Monitoring Program KIP Kuliah Kemenag 2026 dan Literasi Inklusi Keuangan Syariah yang berlangsung di Auditorium Gedung Anwar Musaddad, Kampus I UIN Bandung, Kamis (24/9/2026).
Kegiatan kolaboratif antara Kementerian Agama RI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), PT Bank Syariah Indonesia (BSI) Tbk, dan UIN Bandung ini tidak hanya bertujuan memantau pelaksanaan Program KIP Kuliah, tetapi memberikan pembekalan literasi finansial agar mahasiswa mampu mengelola dana beasiswa secara bijak dan bertanggung jawab.
Turut hadir hadir dalam kegiatan itu dan memberikan opening speech disampaikan oleh Nasori, Funding & Transaction Business Deputy PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk; Kepala OJK Provinsi Jawa Barat Darwismam.
Dengan narasumber Dr. H. Amiruddin Kuba, S.Ag., MA., CWC, Team Head of Scholarship for Religious Education and Affirmation Kementerian Agama RI, dan Harsaid Yusuf Bakhtiar, VP Personal & Retail Institution PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk yang dipandu oleh Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin Dr. Radea Juli A. Hambali, M.Hum

Menjaga Amanah dan Bersyukur atas Beasiswa
Dalam sambutannya, Rektor Prof. Rosihon Anwar mengapresiasi kehadiran seluruh narasumber dan mitra perbankan. Dengan mengingatkan mahasiswa penerima beasiswa bahwa kesempatan memperoleh KIP Kuliah merupakan amanah besar yang wajib disyukuri, mengingat ketatnya proses seleksi.
“Hari ini kita berkumpul dengan rasa syukur atas anugerah luar biasa dari Allah SWT. Tidak semua yang mendaftar mendapat kesempatan ini. Manfaatkan beasiswa ini sebaik-baiknya untuk meraih cita-cita dan masa depan yang sukses,” tegasnya.
Guru Besar Ilmu Tafsir ini optimistis para penerima beasiswa KIP Kuliah UIN Bandung mampu menjadi teladan bagi mahasiswa lain, terlebih sebagian besar di antaranya memiliki latar belakang pendidikan pesantren dan fondasi keagamaan yang kuat.
Mengenai pengelolaan dana, Rektor menekankan pentingnya skala prioritas. “Besar atau sedikitnya dana yang diterima sangat bergantung pada cara mengelolanya. Karena itu, literasi keuangan menjadi sangat penting agar mahasiswa dapat membedakan kebutuhan dan keinginan,” imbuhnya.

Tiga Kunci Pengelolaan Finansial Mahasiswa
Funding & Transaction Business Deputy PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk, Nasori yang mengajak mahasiswa menjadikan penerimaan beasiswa sebagai momentum untuk mulai membangun kebiasaan finansial yang sehat.
Nasori mengawali pemaparannya dengan bertanya kepada mahasiswa siapa yang belakangan ini masih menunggu notifikasi pencairan beasiswa.
“Siapa yang belakangan ini menunggu notifikasi muncul, belum masuk?” tanyanya.
Kondisi ini cukup dekat dengan pengalaman mahasiswa penerima beasiswa. Ada mahasiswa yang sudah menunggu pencairan karena dana yang dimiliki sebelumnya telah habis sebelum beasiswa masuk.
Mengingat masih adanya mahasiswa yang baru membuka rekening ketika mendapatkan beasiswa. Padahal, rekening seharusnya tidak hanya dipandang sebagai tempat menerima dana, tetapi dapat menjadi bagian dari kebiasaan mengelola keuangan dan membangun perencanaan masa depan.
Nasori mengajak mahasiswa mengubah cara pandang tersebut dan menjadikan rekening sebagai bagian dari langkah awal membangun kemandirian finansial.
“Jadikan momentum bersejarah, rekening jadi modal masa depan. Dengan memiliki penampungan beasiswa untuk membangun masa depan lebih baik, lakukan secara bijak. Untuk itu BSI hadir menemani KIP, literasi, kelola keuangan secara bijak,” ujarnya.
Dengan memberikan tiga langkah sederhana yang dapat diterapkan mahasiswa dalam mengelola dana beasiswa.
Pertama, kelola perencanaan dengan matang. Mahasiswa perlu menyusun kebutuhan selama masa perkuliahan dan menentukan skala prioritas penggunaan dana.
Kedua, belanja dengan penuh kesadaran. Setiap pengeluaran perlu dipertimbangkan agar dana lebih banyak digunakan untuk kebutuhan yang benar-benar penting.
Ketiga, sisihkan dengan menabung untuk masa depan. Sebagian dana dapat disimpan sebagai cadangan sekaligus membangun kebiasaan finansial yang berkelanjutan.

Kolaborasi OJK dan Kemenag: Dorong Prestasi dan Mandiri Finansial
Dari sisi regulasi dan industri jasa keuangan, Kepala OJK Provinsi Jawa Barat, Darwisman, menggarisbawahi pentingnya literasi finansial guna menghindari jeratan ekonomi yang merugikan di masa depan.
“Mahasiswa cerdas kelola keuangan, masa depan lebih sejahtera. Kuncinya ada pada literasi keuangan, karena uang adalah instrumen vital dalam kehidupan. Cara mengubah nasib adalah dengan membaca, giat belajar, dan kerja keras, bukan bermalas-malasan,” tegasnya.
Dengan memegang teguh prinsip bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain, serta keyakinan bahwa tidak ada yang bisa mengubah nasib seseorang kecuali dirinya sendiri.

Monitoring Akademik Berkelanjutan
Di samping literasi keuangan, aspek evaluasi akademik tetap menjadi pilar utama. Rektor menjelaskan bahwa pihak kampus secara berkala memantau perkembangan akademik penerima beasiswa melalui Wakil Rektor III Prof. Dr. Husnul Qodim, S.Ag., M.A., dan Ketua Tim Bagian Kemahasiswaan dan Alumni H. Wawan Gunawan, MM.
Pemantauan mencakup keaktifan perkuliahan dan capaian Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Penurunan performa akademik akan langsung dievaluasi agar mahasiswa segera memperoleh pendampingan.
Dalam pemaparannya, Dr. Amiruddin menjelaskan Program KIP Kuliah Kemenag merupakan salah satu bentuk dukungan pemerintah dalam memperluas akses pendidikan tinggi bagi mahasiswa yang memiliki keterbatasan ekonomi.
“Melalui program ini, mahasiswa penerima tidak hanya mendapatkan dukungan pembiayaan pendidikan, tetapi diharapkan mampu mengembangkan kapasitas akademik dan potensi diri selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi,” jelasnya.
Dalam konteks ini, literasi inklusi keuangan syariah menjadi bagian penting untuk membekali mahasiswa agar memiliki pemahaman yang baik mengenai pengelolaan keuangan, layanan keuangan syariah, serta pemanfaatannya secara bijak dan bertanggung jawab.
Dengan adanya kegiatan ini, mahasiswa penerima KIP Kuliah Kemenag di UIN Sunan Gunung Djati Bandung diharapkan tidak hanya unggul dan berprestasi di ruang kelas, tetapi cakap dalam mengelola finansial demi menyongsong masa depan yang mandiri dan berdaya saing.


