Refleksi Ibadah Umrah dan Kemerdekaan Bangsa

Ilustrasi gambar AI

UINSGD.AC.ID (Humas) — Momentum 17 Agustus selalu mengajak kita mengingat bahwa kemerdekaan bukan sekadar peristiwa masa lalu. Ia adalah pekerjaan yang belum tuntas. Karena itu, diusia ke delapan puluh satu tahun ini, sangat tidak relevan bila bertanya “sudahkah kita merdeka?”, Melaiankan “untuk apa kemerdekaan itu digunakan?”

Bila membaca ulang makna ibadah umrah, kita akan menemukan jawaban yang relevan untuk menjawab pertanyaan itu. Secara esensial umrah bukan sekedar perjalanan menuju Baitullah, melainkan juga perjalanan ke dalam diri. Seorang Muslim meninggalkan sementara atribut duniawi, mengenakan ihram, bertawaf mengelilingi Ka’bah, bersa’i antara Safa dan Marwah, lalu bertahallul. Setiap fase ritual menyimpan pesan tentang bagaimana manusia seharusnya menjalani kehidupan.

Ihram misalnya, adalah pelajaran tentang kesetaraan. Di hadapan Allah, manusia menanggalkan pakaian sosialnya: jabatan, kekayaan, gelar, popularitas, bahkan ego. Dalam pakaian yang sederhana, manusia belajar bahwa kemuliaan tidak ditentukan oleh apa yang melekat di tubuh, melainkan oleh kualitas pengabdian diri.

Dalam Bahasa Victor Turner pengalaman semacam ini disebut sebagai liminality: sebuah keadaan “di ambang”, ketika struktur sosial yang biasanya membedakan manusia untuk sementara dilebur dan melahirkan communitas, rasa kebersamaan yang egaliter.

Di tengah politik identitas, kesenjangan sosial, ujaran kebencian, korupsi, perebutan kepentingan, dan kecenderungan menempatkan perbedaan sebagai alasan untuk saling meniadakan, kita seperti kehilangan kemampuan mengenakan “ihram kebangsaan” yakni kesediaan menanggalkan dan meninggalkan ego kelompok demi kepentingan bersama.

Berikutnya, thawaf memberi pelajaran lain. Kita bergerak mengelilingi satu pusat: Ka’bah. Secara simbolik, hidup membutuhkan pusat yang menjadi orientasi. Dalam kehidupan berbangsa, pusat itu mestinya bukan kekuasaan, bukan kepentingan kelompok, apalagi keuntungan pribadi, melainkan keadilan, kemanusiaan dan kesejahteraan bersama.

Dalam hal ini, Durkheim melihat ritual keagamaan sebagai kekuatan yang dapat membangun solidaritas sosial. Ritual mempertemukan individu dalam kesadaran kolektif yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Maka, keberagamaan yang sehat semestinya tidak berhenti pada kesalehan personal; ia harus menjelma menjadi kesolehan sosial.

Sa’i bahkan lebih membumi. Ia adalah simbol perjuangan. Hajar tidak duduk menunggu pertolongan; ia bergerak mencari air. Dari Safa menuju Marwah, dari Marwah menuju Safa, ada pesan sederhana: kehidupan tidak boleh dijalani dengan pasrah. Harapan harus dijemput ikhtiar.

Di kutub inilah gagasan Ibn Khaldun tentang ‘asabiyyah menjadi relevan juga: sebuah masyarakat dapat bertahan ketika memiliki solidaritas sosial yang mengikat anggotanya. Indonesia membutuhkan solidaritas semacam itu, bukan solidaritas yang dibangun karena kesamaan kepentingan sesaat, melainkan karena kesadaran bahwa nasib bangsa adalah tanggung jawab bersama.

Umrah mengajarkan bahwa perjalanan menuju Tuhan selalu harus membawa manusia kembali kepada manusia. Setelah ihram, tawaf, sa’i dan tahallul, jamaah pulang bukan untuk menjadi manusia yang sama, melainkan manusia yang lebih rendah hati.

Demikian pula kemerdekaan. tidak cukup hanya dengan festivalisasi perayaan masa lalu. Ia harus terus melakukan tahallul kebangsaan: memotong kesombongan kekuasaan, menggunting ego kelompok, dan mencukur ambisi yang tumbuh tanpa batas.

Karena inti kemerdekaan bukan sekadar terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan adalah kemampuan sebuah bangsa untuk membebaskan dirinya dari segala sesuatu yang membuat manusia kehilangan martabatnya. Bangsa yang merdeka bukan bangsa yang paling keras meneriakkan “merdeka”, melainkan bangsa yang paling sungguh-sungguh membuat rakyatnya bermartabat. Semoga.

 

Aang Ridwan, Pembimbing Haji Khusus dan Umrah Khalifah Tour dan Dosen FDK UIN Bandung 

 

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *