UINSGD.AC.ID (Humas) — Integrasi antara wahyu, ilmu pengetahuan, dan teknologi kembali ditegaskan dalam peringatan Dies Natalis ke-20 Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Kuliah Umum bertajuk “Rekonstruksi Integrasi Keilmuan di Era Transformasi Digital: Peran Fakultas Sains dan Teknologi PTKIN dalam Membangun Peradaban Berbasis Sains dan Nilai Keislaman”, yang berlangsung di Gedung Anwar Musaddad, Jumat (12/6/2026) ini menunjukkan bahwa pengembangan sains modern dapat berjalan harmonis dengan nilai-nilai keislaman untuk menghadirkan kemajuan yang berorientasi pada kemaslahatan dan pembangunan peradaban.

Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., menegaskan bahwa integrasi keilmuan merupakan fondasi utama pengembangan perguruan tinggi Islam. Menurutnya, integrasi bukan sekadar mempertemukan agama dan sains, tetapi menghadirkan ilmu yang tercerahkan oleh nilai-nilai ketuhanan demi kemaslahatan umat manusia.
“Oleh karena itu, pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat harus menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul dalam bidang sains dan teknologi, tetapi memiliki integritas moral serta tanggung jawab sosial dalam membangun peradaban,” tegasnya.

Dalam laporannya, Dekan Fakultas Sains dan Teknologi, Prof. Dr. Hasniah Aliah, M.Si., menjelaskan bahwa Dies Natalis ke-20 menjadi momentum penting untuk merefleksikan perjalanan fakultas sekaligus memperkuat arah pengembangan keilmuan yang integratif. “Sejak berdiri pada tahun 2006, FST terus berupaya mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berjalan selaras dengan nilai-nilai keislaman,” jelasnya
Komitmen tersebut diwujudkan melalui konsep “Wahyu Memandu Ilmu” yang selama ini menjadi landasan pengembangan fakultas. Filosofi itu tergambar dalam simbol Roda Ilmu yang menempatkan wahyu sebagai poros pengembangan berbagai disiplin ilmu agar menghasilkan manfaat nyata bagi kehidupan dan peradaban. Prof. Hasniah, konsep tersebut tidak hanya menjadi identitas akademik FST, tetapi tetap relevan dalam menghadapi berbagai tantangan ilmu pengetahuan dan transformasi digital saat ini.
Dalam dua dekade perjalanan FST menunjukkan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan dapat berjalan beriringan dengan nilai-nilai keislaman. “FST berkomitmen mencetak lulusan yang unggul, adaptif, inovatif, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan peradaban,” ujarnya.
Berbagai capaian akademik dan inovasi menjadi bukti nyata perkembangan FST selama dua dekade terakhir. Dalam lima tahun terakhir, FST mencatat 548 prestasi mahasiswa, 23 paten, dan 289 publikasi internasional. Pihak fakultas mengembangkan sejumlah inovasi seperti Qibla Finder Robot, Electronic Nose and Halal Technology, serta Islamic Humanoid Robot, di samping memperkuat tradisi akademik melalui penerjemahan kitab-kitab turats sains.
Berbagai capaian ini menunjukkan bahwa integrasi ilmu tidak berhenti pada tataran konsep, tetapi telah diwujudkan dalam karya nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat. “Dies Natalis ke-20 bukan hanya momentum mengenang perjalanan, tetapi memperkuat komitmen untuk terus melahirkan inovasi dan karya yang bermanfaat bagi masyarakat,” bebernya.
Pada sesi orasi ilmiah, Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, M.Pd., menegaskan bahwa integrasi agama dan ilmu pengetahuan merupakan keniscayaan dalam membangun peradaban. Mantan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang itu, Islam sejak awal telah mengajarkan keseimbangan antara dimensi spiritual dan intelektual. Agama berfungsi sebagai pemberi arah, sedangkan sains dan teknologi menjadi sarana untuk menghadirkan kemajuan dan kemaslahatan bagi kehidupan manusia. “Agama memberikan arah, sementara sains dan teknologi menjadi sarana untuk mewujudkan kemajuan dan kemaslahatan,” ujarnya.

Pandangan tersebut diperkuat oleh akademisi dan pakar robotika Indonesia, Mada Sanjaya WS, Ph.D., yang mengangkat tema “Dari Al-Khawārizmī ke Artificial Intelligence: Rekonstruksi Integrasi Keilmuan di Era Transformasi Digital”. Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) memiliki akar historis yang panjang dalam tradisi keilmuan Islam. Konsep algoritma yang menjadi fondasi AI modern berawal dari pemikiran ilmuwan Muslim Muḥammad ibn Mūsā al-Khawārizmī.
Karena itu, kemajuan teknologi digital saat ini dapat dipahami sebagai bagian dari kesinambungan tradisi intelektual yang telah dibangun para ilmuwan Muslim sejak berabad-abad lalu. “Algoritma yang dahulu digunakan untuk menyelesaikan persoalan matematika dan sosial kini berkembang menjadi fondasi berbagai sistem kecerdasan buatan modern,” paparnya

Suasana reflektif peringatan Dies Natalis ke-20 FST semakin terasa melalui pementasan angklung yang melibatkan dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, pimpinan fakultas, hingga dekan. Di bawah arahan seorang dirigen, civitas akademika FST memainkan lagu Rumah Kita yang dipopulerkan grup musik God Bless.
Penampilan tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan simbol kebersamaan dan penegasan identitas FST sebagai bagian utuh dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Melalui harmoni bunyi angklung dan lirik yang akrab di telinga masyarakat Indonesia, tersampaikan pesan bahwa ilmu-ilmu sains dan teknologi telah tumbuh dan berkembang sebagai penghuni resmi rumah besar UIN, berjalan seiring dengan ilmu-ilmu keislaman dalam membangun peradaban yang berlandaskan wahyu, ilmu pengetahuan, dan kemanusiaan.
Bagi Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. Bambang Q-Anees, M.Ag., peringatan 20 tahun FST bukan sekadar perayaan kelembagaan, melainkan pengingat atas mimpi besar yang melatarbelakangi transformasi IAIN menjadi UIN. Saat FST didirikan pada tahun 2006, konsep “Wahyu Memandu Ilmu” dirumuskan sebagai upaya membangun peradaban melalui integrasi berbagai disiplin ilmu yang berpusat pada wahyu.
Dua puluh tahun kemudian, berbagai capaian yang diraih menunjukkan bahwa mimpi tersebut terus bergerak menuju kenyataan, sekaligus menjadi bahan refleksi untuk menilai sejauh mana cita-cita besar itu telah diwujudkan.
Refleksi tersebut menemukan resonansinya pada generasi mahasiswa. Salah seorang peserta kuliah umum, Mega Chyntia Pratiwi, mengaku memperoleh perspektif baru mengenai hubungan erat antara Islam, sains, dan teknologi. Menurutnya, materi yang disampaikan para narasumber memperlihatkan bahwa Islam bukan hanya dipahami sebagai agama, tetapi menjadi fondasi lahirnya berbagai tradisi keilmuan dan peradaban dunia.
Melalui momentum Dies Natalis ke-20 ini, FST menegaskan kembali perannya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman, sains, dan teknologi untuk menjawab tantangan masa depan serta menyemai peradaban yang lebih maju, berkelanjutan, dan berkemaslahatan. (Fitri Awaliyah dan Sahara Putri Amiliana / Magang)
